PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
curiga


__ADS_3

Senja mengusap bahu Ranga yang kini terlihat begitu sedih akan apa yang terjadi kepada istrinya itu. Satya menghampiri istri dan adiknya dan berkata." kita sebaiknya pulang karena Diana Baru."


Semua menatap ke arah Satya dan mengangguk, sedangkan Ranga masih ingin tinggal. Ayah Nugraha mengusap bahu putranya.


"Kita pulang, biar Diana ditangani perawat di sini, Nak." Ayah Nugraha mengusap bahu putranya untuk memberikan kekuatan.


Ranga mengangguk, kini mereka berjalan beriringan melewati lorong. Sampai parkiran Ayah Nugraha menjumpai Ferdi dan istrinya.


"Kalau ada kabar jangan lupa bagi kami juga dan sebaliknya karena kalau tidak Leon, Ranga yang akan dihubungi pihak rumah sakit!" kata Nugraha menatap Fifi sendu.


"Iya, kami duluan," pamit Ferdi langsung mengajak istrinya masuk mobil yang begitu juga Leon.


Satya membawa mobil Ranga karena ia khawatir kalau nanti ada apa-apa dengan adiknya itu. Sedangkan Arga satu mobil dengan Ayah dan Bundanya.


Yoga dan Rendy langsung pergi ke kantor karena masih ada kerjaan, ketiga mobil itu berjalan beriring-iringan meninggalkan rumah sakit.


Arga kini fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan Ayah Nugraha dan istrinya diam. Terlalu banyak yang terjadi dalam kehidupan Ranga saat ini. Ada rasa khawatir dan merasa salah andai dulu tidak merestui hubungan mereka tidak mungkin hal ini akan terjadi.


Melihat istrinya mengusap air matanya Pria baya itu mengemgam tangan istrinya, Arga hanya bisa menarik napas dalam seharusnya di masa tuanya asik bermain dengan cucunya. Namun, sekarang harus memikirkan masalah anak-anaknya.


Setelah menempuh satu jam lebih mobil yang dikemudikan oleh Arga sampai di kediaman Ayah Nugraha, tidak lama di susul mobil Satya.


Ranga yang terlihat begitu lelah, melihat itu Senja berkata."Kakak istirahat ya."


"Ranga hanya mengangguk, pria itu langsung naik ke atas ke kamar Satya. Arga melihat itu menatap sang adik dengan tatapan yang berbeda.


"Ayah, apa sebaiknya saya bawa Ranga ke Jakarta saja," ucap Arga karena tidak enak kalau terus membuat kedua orang tuanya itu repot karena adiknya.


"Kita tanya Ranga, Ayah harap adik kalian jangan sampai tahu jika Diana pernah menyakiti Bunda sampai harus masuk rumah sakit," ujar Ayah Nugraha kepada anak dan menantunya itu.


Tanpa mereka Ranga begitu shock mendengar apa kata Ayahnya itu, pria itu hendak keluar kamar untuk mengambil minum. Namun, kenyataan ada fakta yang selama ini tidak diketahui. Rasa bersalah kian dalam saat wanita yang dari kecil menjaganya setulus hati harus diperlakukan begitu kejam oleh istrinya sendiri.


"Aku takut kalau Diana pura-pura gila," ucap Senja.


Semua mata menatap  ke arah Senja, membuat wanita itu menutup mulutnya karena dari awal ia curiga jika Diana tidak benar-benar gila. 


"Senja, tidak baik sejon sayang," ujar Bunda mengingatkan menantunya itu.

__ADS_1


"Bun, Senja kenal betul. Waktu datang ke rumah meminta maaf terlihat tidak ada Rasa bersalah waktu itu. Malah yang terlihat terlalu lebay," ujar Senja mengingat bagaimana mimik wajah Diana dulu.


"Kenapa tidak ada yang cerita kepadaku, "sahut Ranga.


Deg, semua menatap asal suara. Di tangga Ranga sudah terlihat begitu dingin ada rasa kecewa dalam hatinya karena semua menyembunyikan darinya.


"Sayang, Bunda bisa jelaskan Nak," ujar Bunda tidak ingin melihat putranya terpuruk.


"Sebelum kejadian hari ini Ranga mau mentalak Diana, tapi melihat keadaannya seperti itu mana bisa," ucap Ranga sambil menyugar rambutnya.


"Kalau Diana memang benar pura-pura gila pasti ada yang membantunya," ujar Satya.


Ayah Nugraha menarik napas dalam dan menatap ketiga putranya dan berkata."Dari awal Ayah curiga dengan Leon."


"Maksud Ayah?" tanya Arga.


"Ayah pernah mendengar ia begitu marah pada seseorang dari telpon kenapa Senja bisa lolos," jelas Ayah Nugraha.


Satya mendengar itu begitu terkejut dan bertanya."Kapan itu, Yah?" 


"Waktu Salsa meninggal kalau tidak salah atau sesudahnya, Nak. Awalnya Ayah rasa salah dengar, tapi saat Senja pergi dari rumah Diana menghubungi Seseorang meminta tolong untuk mengikuti kemana Senja pergi." Ayah Nugraha sambil memijat pelipisnya mencoba mengingatnya.


Senja menatap Suci, istri Arga itu mengangguk karena paham apa yang ditakutkan oleh ibu satu anak itu.


"Waktu di malang, Mas siapa yang kasih tahu kalau aku ada di sana?" tanya Senja.


"Ilham," jawab Satya.


"Brengsek, jadi selama ini tinggal di sana sengaja membocorkan keberadaanku!"umpat Senja terlihat geram.


"Sayang, atas di tutup ini kenapa asik bicara kasar, hem." Satya mengingatkan istrinya.


"Maaf Mas, dikhianati itu sakit," ucap Senja.


Satya hanya diam, karena ia lebih dulu merasakan saat akan membuka hatinya untuk Merry. Namun, saat pulang melihat istrinya berhubungan intim dengan pria yang tidak lain rivalnya saat kuliah dulu.


Walau sama-sama di khianati. Namun , rasanya berbeda kalau istrinya merasa dikhianati oleh sahabatnya sedangkan dirinya oleh istri.

__ADS_1


Satya tidak menyesali akan apa yang terjadi padanya karena pengkhianatan itu ia bisa mendapatkan istri yang membuatnya sekarang merasakan muda lagi walau melalui rintangan karena wanita yang dinikahinya memilih kabur dari rumah dari pada menikah dengannya.


"Mas," panggil Senja membuat Satya terkejut.


"Apa?" tanya Satya karena tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan keluarganya karena ia asyik melamun.


"Lo pasti melamun kotor ' kan! ngaku nggak lo!" sentak Arga yang sudah tahu akan sifat mesum saudaranya itu.


"Apaan sih lo, ganggu suudzon aja sama gue!"kata Satya kesal.


Senja hanya menarik napas kasar karena kalau sudah berdebar jarang kali bertengkarnya. Melihat Arga dan Satya cekcok yang lainnya satu persatu meninggalkan ruang keluarga untuk istirahat di kamar.


Setelah tiga puluh menit keduanya baru sadar jika yang lainnya sudah pergi, Satya langsung beranjak dari duduknya lalu meninggalkan Arga yang hanya menatap kakaknya itu kesal.


"Udah tua nggak mau ngalah!"umpat Arga.


"Sama-sama tua jangan berantem, Den," sahut bik Jum yang sedari tadi mendengar pertengkaran Satya dan Arga.


"Bibik suka nguping," ujar Arga.


"Lah orang saya duduk di sana," bela Jum.


Bik Sum dan Bik Ida yang sudah menyelesaikan  membersihkan dapur melihat Jum sedang ribut dengan Arga hanya bisa berbicara."Gantian."


"Bibik kenapa jadi nyebelin sih!"kata Arga langsung berdiri dan masuk kamar dengan wajah masamnya.


Bik Jum yang tidak bersalah hanya duduk santai di ruang keluarga, melihat itu Bik Sum langsung menghampirinya dan berkata."Jum,ayo katanya mau kerokan."


"Lah lama-lama aku di sini kerokan tiap hari di mana-mana ac," gerutu Jum.


"Dasar orang kampung kena ac masuk angin," ledek bik Sum.


Jum, hanya diam saat adiknya itu meledaknya. Bik Ida yang duduk di samping Bik Sum hanya mendengar apa yang di ocehkan kakak beradik di sampingnya.


"Sum, masa ia Non Diana pura-pura gila?" tanya Bik ida lirih.


"Menengo Ida nanti ada yang dengar kamu kena di curigai juga," ujar Bik Jum.

__ADS_1


Bika Sum hanya diam, mana mungkin Ilham menghianati Senja, Satya pasti salah. Jujur rasanya wanita itu tidak terima karena tahu jika Ilham anak baik.


bersambung ya.


__ADS_2