
Di kediaman Rendy saat ini sedang serius dengan berkas yang dibawanya pulang, saat sedang asik ia dikejutkan dengan Yoga yang baru datang langsung menepuk bahunya.
"Kakak mana?" tanya Rendy karena tidak melihat Mentari.
"Masih di rumah Ayah. Ren, lo tahu Ilham anak baik yang selalu lindungi Senja?" tanya Yoga.
"Dulu ia, tetapi sekarang aku tidak tahu , Mas. Setiap orang bisa berubah," ujar Rendy.
Rendy menatap kakak iparnya itu, seakan sedang ada masalah. Pria itu pergi ke dapur membuat kopi untuk Yoga karena asistennya dan istri sedang beristirahat.
"Apa ada masalah, Mas?" tanya Rendy.
"Aku akan mengajaknya ke Jakarta, tapi tidak tinggal di rumah. Namun, Tari dan Senja keberatan," ujar Yoga.
"Apa alasan keduanya?" tanya Rendy.
Yoga menarik napas dalam karena ia ada rencana jika Ilham tidak akan mengganggu Senja dan Satya lagi, jika ia perhatikan pria itu menyukai Senja dari dulu. Namun, tidak bisa berbuat apa karena takut jika putri nya marah.
Pria itu bisa melihat putrinya bahagia saat bersama Satya merupakan kebahagiaan tersendiri untuknya, karena sudah lama mengenal Satya. Namun, keputusannya untuk membawa Ilham di tentang istri, anak dan menantunya.
Yoga sadar sedari dulu ia tidak bersama dengan putrinya, Ilhamlah yang ada dan Bik Sum selalu ada untuk putrinya itu.
"Apa yang membuat Mas si kekeh untuk mengajak Ilham?" tanya Rendy menatap Kakak iparnya itu.
"Untuk kebaikan rumah tangga Satya dan Senja, Kita lelaki tahu jika seseorang mencintai wanita. Itu sudah lama," ujar Yoga.
"Jangan suudzon, Mas. kita tahu Satya dan Senja itu saling mencintai walau keduanya terpaksa menikah waktu itu Senja karena desakan Papa, sedangkan Satya karena Bunda akan bunuh diri jika putranya tidak mau menikah dengan Senja." Rendy mengingat apa kata Ayah Nugraha waktu itu.
Yoga hanya diam, pria itu merasa tidak berlebihan. Buka ia tidak percaya kepada Satya dan putrinya. Namun, badai rumah tangga itu bisa menimpa siapa saja.
"Apa menurutmu aku batalkan saja, terus apa alasannya?" tanya Yoga.
"Awasi Satya dan Senja," jawab Rendy.
__ADS_1
Yoga ingin sekali memukul adik iparnya itu yang memberikan ide tidak sehat itu dan berkata."Sekalian saja aku suruh jagain Jingga."
Rendy langsung tergelak, ia tidak habis pikir dengan Kakak Iparnya. Pria itu mendengar seseorang menuruni tangga dan senyum mengembang menatap siapa yang datang.
"Cakra lihat itu Ayah Yoga lagi galau," kata Rendy sambil terus tertawa membuat Yoga semakin kesal karena ulah adiknya itu.
"Mas!"seru Popy yang melihat kakak iparnya sudah terlihat kesal karena ulah suaminya.
Rendy menggigit bibirnya untuk menghalau tawanya. Yoga yang kesal beranjak dari duduknya menuju ke kamarnya.
"Mas Yoga kenapa?" tanya Popy yang melihat pria itu kesal.
"Dia takut Ilham mengganggu rumah tangga Senja," jawab Rendy sambil menggelengkan kepalanya.
Popy terdiam, ia tidak mengenal Ilham. Namun, jika waktu Mentari cerita baginya jelas jika sahabat Senja itu memiliki perasaan lebih.
"Menurut Mas?" tanya Popy.
Rendy menaikan bahunya dan berkata."Senja tidak akan berpaling jika Satya tidak macam-macam, begitu juga Satya ."
"Aku rasa mereka akan baik-baik saja," ujar Popy.
"Iya, Aku juga mikir itu. Namun, entah kenapa Mas Yoga berpikir lain." Rendy memeluk istrinya dari samping.
Popy tersenyum, suaminya itu walau banyak kurangnya. Namun, kadang sok bijak dalam menanggapi masalah yang ada. Wanita itu tidak menyangka akan menikah dengan bosnya Sendiri, bukan ia tidak tahu jika dulu suaminya berhubungan dengan Merry. Namun, harus kandas karena perjodohan.
****
Di kediaman Leon.
Ferdi duduk menatap taman yang kini bunganya sedang bersemi, pria itu tidak bisa banyak berbuat dengan apa yang menimpa Diana begitu juga dengan Leon. Namun, melihat Fifi sang istri yang menangis setiap malam itu membuatnya berpikir keras untuk menemui Nugraha dan membicarakan tentang hubungan Ranga dan Diana.
Leon melihat Papanya yang sedang melamun menghampirinya dan bertanya."Papa nggak temani Bunda?"
__ADS_1
Ferdi menaikan bahunya, di satu sisi ingin mendampingi istrinya. Namun, ia begitu muak melihat Diana karena ulahnya itu membuat malu keluarga. Jujur sampai sekarang ia belum bisa bertemu dengan Nugraha.
"Apa Papa akan ikut campur?" tanya Leon karena ia juga sudah tidak enak untuk kalau harus mendatangi Ranga lagi meminta untuk menemani adiknya.
"Papa Belum ada muka untuk menemui mereka secara pribadi," ujar Ferdi kepada putranya itu.
Leon hanya mengangguk, jujur kalau ia dalam posisi Ranga sekarang mungkin sudah meninggalkan Diana karena akan mencoba membuat keluarganya berantakan. Apalagi setelah ia tahu dari Satya jika Diana berani mengancam bunda untuk melakukan niat jahatnya itu.
Leon beranjak dari duduknya, melihat itu Ferdi bertanya."Mau kemana?"
"Gantikan Bunda, pasti begitu lelah karena sedari kemarin sendiri," ujar Leon.
"Papa ikut, biar Bunda pulang sama Papa nanti," ucap Ferdi.
Leon hanya mengangguk, pria itu tahu jika Papanya begitu kecewa dengan apa yang terjadi. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak karena begitu tahu sifatnya.
Leon masuk mobil di ikuti oleh Ferdi, selama menempuh perjalanan kedua pria beda generasi itu hanya diam. Larut akan pikirannya masing-masih. Hingga mobil sampai depan rumah sakit. Leon memarkirkan mobilnya dan keluar tanpa mematikan mesin, sedangkan Ferdi keluar dari mobil lalu berputra masuk dan duduk di belakang kemudi. Pria itu menunggu istrinya, dari jauh ia bisa melihat Fifi yang begitu terlihat lelah dengan mata sembab dan kantung mata sudah seperti panda.
Sesampainya di mobil Fifi hanya menarik napas dalam, suaminya itu bersikap dingin saat apa yang menimpa Diana. Ia tidak bisa menyalahkan Ferdi karena rasa kecewanya. Namun, ia sebagai Ibu sebesar apa pun kesalahan yang diperbuat anaknya akan tetap merangkulnya.
"Mas kalau sibuk aku bisa naik taksi," kata Fifi.
Ferdi hanya diam, setelah istrinya sudah duduk dan memakai ikat sabuk pengamannya. Pria langsung mengemudikan mobilnya. Ia yakin jika istrinya itu belum makan hingga pria itu menghentikan mobilnya depan restaurant.
"Mas kok ke sini?" tanya Fifi karena suaminya menghentikan mobilnya di depan restaurant.
"Aku belum makan dari pagi, "jawab Ferdi datar membuat sang istri menatapnya sendu.
Kini keduanya duduk.
"Maaf ya Mas, gara-gara aku jagain Diana kamu jadi tidak terurus," ucap Diana iba.
Ferdi hanya tersenyum tipis dan berkata."Kamu juga belum makan, kita makan sama-sama ya."
__ADS_1
Ferdi tidak ingin istrinya sampai sakit karena menjaga Diana, walau ada rasa marah ia tidak akan tega mengabaikan istrinya itu.