PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Mengintai sang istri


__ADS_3

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita tengah menatap pemandangan yang begitu indah, cuaca yang begitu sejuk membuatnya beberapa kali memeluk tubuhnya sendiri. Ya, Senja saat ini sedang merenung akan hidupnya. 


"Nak, ayo masuk," ajak bik Sum karena takut jika Senja sakit.


"Bik, Apa Mas Satya sekarang sedang panik atau marah karena aku pergi tanpa pamit," ucap Senja menunduk.


"Non, Bibik tidak membenarkan jika tiba-tiba pergi meninggalkan rumah di saat ada masalah. Namun, tujuan Non pergi karena ingin melindungi Jingga dan nyawa sendiri InshaAllah Den Satya tidak akan marah," ujar bibik.


Senja meneteskan air matanya ia begitu merindukan suaminya saat ini, tapi untuk sementara ia harus berpisah karena kalau masih berada di rumah itu ia akan lebih hancur karena ada Diana yang selalu melaporkan kepada wanita kejam Yona.


Senja menepuk dadanya yang sesak, ia sendiri tidak tahu sampai kapan  akan berada di kota ini. Wanita itu ingat jika Rendy akan ada acara. Namun, kali ini ia tidak bisa ikut hadir. 


"Bik, apa yang akan dilakukan Mas Satya ya?" tanya Senja.


Bik Sum tersenyum, wanita paruh baya itu menatap wanita muda yang dari kecil ia urus, Senja bukan hanya wanita yang kuat dalam menjalani hidup. Namun, ia terbiasa mandiri walau kadang ada rasa yang membuatnya akan menangis seorang diri.


"Non, Bagaimana rasanya saat harus dibilang tidak ada Ayah. Apa Non juga akan egois jika Jingga tidak memiliki sosok Ayah saat ia besar nanti. Bukankah Non tidak ingin apa yang dialami dulu terjadi lagi kepada putrimu. Saran Bibik jangan lama-lama, pasti mertua Non akan menjelaskan apa yang terjadi melihat Diana yang sedang hamil lemah tiba-tiba turun dari ranjang karena merasa bersalah. Bibik Rasa ini hanya kesalahpahaman saja." Bik Sum menjelaskan dan memberi perhatian kepada  Senja.


Senja tertegun, tapi dalam hatinya tidak ada membenci dan sakit hati kepada Bundanya, apa lagi kepada yang lainnya. Ia hanya kecewa kenapa Diana tega melakukan itu hanya untuk melindungi Bundanya, sedangkan ada nyawa lain yang akan terancam.


Kini keduanya masuk, Bik Jum yang sedang menggoreng pisang sambil bernyanyi lagu dangdut hanya tersenyum menatap Senja. Istri Satya itu begitu merindukan suaminya. Ia masuk kamar dilihatnya putrinya sedang tertidur seakan begitu damai dan tidak perlu memikirkan dunia lain.


"Jingga maafkan mama ya, untuk sementara harus berpisah dengan Papa dulu sampai hati mama tenang," ucap Senja lirih karena ia begitu erat memeluk anaknya.  


Senja menyalakan ponselnya banyak pesan masuk dari Suaminya yang menanyakan sedang di mana dan Jingga rewel nggak, air mata Senja mengalir begitu saja. Suaminya tidak marah sekarang sedang mencarinya.


Ada pesan masuk dari Ilham yang mengatakan ia akan aman selama masih bersama bi Jum dan Sum. Senja hanya tersenyum tipis, Ilham tahu ia ada di mana, tapi pria itu tetap merahasiakan keberadaannya.

__ADS_1


Senja akan mengirimkan pesan kepada Ayahnya jika ia sekarang sedang menenangkan diri dan tidak usah mencarinya karena ia dan Jingga baik-baik saja. ,Namun, saat akan mengirimkan pesan wanita itu melihat ada panggilan dari Ayah Nugraha.


Senja mendiamkan untuk sesaat, hingga panggilan itu berakhir. Setelah lima menit mertuanya menghubungi lagi Senja merasa kasihan ia mengangkatnya.


"Halo, Assalamualaikum Yah," ucap Senja.


"Waalaikumsalam sayang, kamu di mana pulanglah, Nak. Apa Ayah jemput?" tanya Ayah Nugraha.


"Ayah izinkan Senja sendiri dulu, nanti pasti aku kembali, sudah dulu  Yah, Wasaalamualaikum." Senja langsung mengakhiri panggilannya. 


"Maaf Yah, bukan aku tidak ingin sopan. aku hanya takut semua ikut menjadi tidak tenang," kata senja lirih.


Senja beranjak dari ranjangnya, wanita itu menatap bik Jum yang sedang menyapu dan bertanya."Bik, Buk Sum kemana?"


"Kamu itu ya suka buat saya kaget," omel Bik Jum kepada Senja membuat ibu muda itu terkekeh.


"Mau kemana? nanti kalau anak buahnya orang gemblung itu melihat kamu bagaimana?" tanya Bika Jum.


"Aku mau beli pakaian muslim BIk, setidaknya saat jauh dari suamiku aku bisa menjaga diri dari tatapan lelaki," ujar Senja.


"Menutup Aurat juga kewajiban setiap muslim, Nak. Kalau itu keputusanmu Bibik akan mendukung," jawab Bik Jum tersenyum menatap Senja.


"Terimakasih ya, Bik. " Senja memeluk Bik Jum erat.


"Iya sama-sama, Nak. Kamu mau pergi sekarang biar Jingga sama kami," kata Bik Jum.


"Iya selagi masih sore," ucap Senja.

__ADS_1


Senja masuk rumah ia mengganti pakaiannya dengan baju yang tertutup, serta jilbab segi empat yang ia bawa waktu itu, Sebenarnya sudah lama ia berniat untuk menutup auratnya.


Bik Sum yang melihat Senja sudah rapi dengan kepala yang ditutup hijab membuat wanita itu tidak seperti ibu yang memiliki anak satu.


"Bik aku pergi ya," pamit Senja mengendarai mobil milik suaminya.


Senja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, tanpa ia sadari jika yang mengikuti mobilnya. Satya yang sudah tahu di mana istrinya berada lewat GPS yang ada pada mobil Sport yang di bawa Senja.


Satya tersenyum saat melihat istrinya keluar dari rumah sudah mengenakan hijab, terlihat lebih cantik dan ada rasa takut jika sang istri akan berpaling darinya.


Satya terus mengikuti mobil Sport warna putih, Senja memarkirkan mobilnya  wanita itu berjalan masuk salah satu mall terbesar di kota Malang. Satya mengikuti sang istri, pria itu memakai masker dan jaket hitam karena ia ingin mengikuti apa maunya Senja untuk menenangkan diri.


Senja berjalan dan masuk toko di mana khusus baju muslim, Senja merasa ada yang mengikuti langsung menoleh di belakang. Namun, tidak ada yang mencurigakan.


"Apa ini hanya perasaanku saja," batin Senja.


Setelah mendapat beberapa baju dan jilbab berbagai model, Senja keluar dari toko. kemudian ia masuk di toko yang menyediakan baju anak-anak. Wanita itu tidak lupa membelikan  baju untuk Bik Sum dan Bik Jum.


Senja juga masuk dalam minimarket untuk membeli kelengkapan Jingga dan kebutuhan lainnya. Wanita itu terkekeh karena melihat keranjangnya yang penuh. Senja membawa belanjaannya ke area parkir dan memasukkannya belanjaannya.. 


Satya yang baru melihat istrinya belanja begitu banyak hanya tersenyum, yang membuat Satya heran kenapa istrinya tidak belanja mewah  seperti wanita-wanita yang lain. Saat mobil yang dikemudikan Senja mulai keluar dari Area parkir. Satya langsung mengikutinya.


"Kamu tidak berubah walau jauh dariku, Yang." Satya merasa bangga dengan istrinya.


Satya menyipitkan matanya, saat ada mobil mengikuti mobil Senja. Satya mencengkeram  kemudinya. Ia tidak habis pikir kenapa kemana istrinya pergi ada yang mengikutinya. Satya yakin sang istri sadar kalau ada dua mobil yang mengikutinya. Hingga Senja yang harusnya belok ke kanan, kini mengambil arah ke kiri.


Bersambung ya...

__ADS_1


__ADS_2