
Suara Ibnu yang lantang membuat Desti terkejut, air matanya mengalir begitu saja. Gadis itu tidak menyangkan pria yang dulu begitu hangat berubah hanya karena istrinya yang tidak peka itu. Desti berjalan perlahan mendekati Ibnu, tapi kalah cepat dengan Sari. Wanita yang sedang hamil enam bulan itu langsung berdiri tempat di depan Suaminya sambil berkacak pinggang membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut.
"Mau apa lagi, hah! belum mengerti kata pergi dari suamiku!"bentak Sari.
"Mas, apa maksudnya ini. Bukankah kamu selama ini bilang kalau-," Ibnu langsung menyela ucapan Desti.
"Aku sudah bilang, jangan salah paham dengan kedekatan kita!" seru Ibnu dingin.
Desti menggelengkan kepalanya, ia kira selama satu bulan ini bisa menarik perhatian Ibnu, itu artinya pria itu sudah menerima dan menyukainya, tapi sayangnya dia salah.
"Kamu jahat, Mas! Desti mengusap air matanya dan kini menatap Sari tajam.
"Apa lihat-lihat!" kata Sari sinis.
Desti hanya diam, gadis itu meremas bajunya itu tandanya dia sedang tidak baik-baik saja. Ibnu yang berdiri di belakang Sari sempat khawatir, jika penyakit gadis itu mulai kambuh stresnya.
Ibnu berjalan dia melindungi istrinya, tapi pria itu lebih dulu menelpon pihak rumah sakit jiwa. Desti meremas kedua tangannya semakin cepat, mata gadis itu menatap Sari seperti melihat musuhnya.
"Aku akan membunuhmu, seperti aku mencekik kak Rahma!" kata Desti dengan tergelak.
Sari langsung mundur, begitu juga Mama Tika, Desti berjalan ke arah Sari tiba-tiba wanita itu mengeluarkan pisau lipatnya dan melangkah dengan cepat ke arah Sari. Alan Dan Leo sedari tadi memperhatikan dari balik pintu dengan gerakan cepat langsung mengamankan wanita gila itu.
"Ikat tangannya!" perintah Ibnu.
"Kenapa kamu sudah tahu dia stres kamu terima di kampus, hah!" terika mama Tika.
"Dia dinyatakan sembuh, Mam. Ada suratnya, "jawab Ibnu.
Ibnu terlihat begitu frustasi, tak lama pihak rumah sakit jiwa datang dan langsung membawa Desti gadis itu berontak dan selalu berteriak, "Kubunuh, Ibnu hanya miliku!"
Mama Tika mengusap air matanya , ia mengingat Rahma dulu. Wanita yang begitu dicintai oleh putranya . Sari yang masih terlihat shock hanya bisa bengong. Alan dan Leo menghampiri Sari langsung berhambur di pelukan Leo, sedangkan Alan mengusap punggung Sari. Namun, tiba-tiba tubuh gadis itu lunglai Sari pingsan dipeluk kedua sahabatnya.
"Sari!" teriak kedua pria itu.
Ibnu yang sedang berbicara dengan penjaga rumahnya langsung lari masuk ke rumah. Wajah pria itu begitu panik saat melihat tubuh istrinya di baringkan Alan dan Leo di sofa.
"Ibnu telepon Faisal, Nak!" perintah Mama Tika.
__ADS_1
Setelah menghubungi Faisal, Ibnu mengambil Minyak kayu putih dan memoleskan di hidung dan kedua kaki Sari yang terasa dingin jika sentuhnya.
Setelah dua puluh menit Faisal datang dengan tatapan kesal kepada Ibnu, pria itu segera memeriksa Sari, setelah selesai ia berjalan menghampiri Ibnu dan Mama Tika.
"Bagaimana?" tanya Ibnu
"Dia hanya shock, ada sebelumnya?" tanya Faisal.
Ibnu menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu, hal itu membuat dokter muda itu hanya mengusap wajahnya kasar menatap geram pria yang sebentar lagi akan menjadi Ayah itu.
"Kalau gue kakak Sari udah gue suruh ninggalin lo!" sentak Faisal kesal kepada Ibnu.
Pluk, pukulan langsung mendarat di punggung Ibnu, dan Mama Tika sang pelaku melotot menatap Faisal.
"Mulutmu itu dari dulu lames, untung enggak salah mendiagnosa pasien," kata Mama Tika membuat kedua pria itu tersenyum.
Feisal setelah selesai langsung pamit pulang karena masih ada pasien, Ibnu mengangkat istrinya membawa ke kamar. Sedangkan Leo membawa infus Sari.
"Jadi itu dosen gila, Bang?" tanya Leo.
"Sudah tahu kayak gitu Abang terima juga," ucap Leo.
Ibnu hanya diam sambil menatap istrinya yang belum sadar juga, perlahan diciumnya kening istrinya setelah kedua pria itu keluar dari kamarnya.
"Maafkan aku, Yang. Gara-gara aku hampir membuatmu celaka," ujarnya.
Ibnu begitu menyesal, andai waktu bisa diputar pasti tidak akan percaya begitu saja. Dia dulu hanya ingin memberi kesempatan kepada gadis itu, untuk membuktikan kalau dia bisa sembuh, tapi ternyata ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Ibnu tak sedetik pun meninggalkan istrinya, tapi ada sesuatu yang ia rasakan lain. Pria itu berjalan ke arah balkon. Matanya melebar saat membaca pesan dari nomor pihak rumah sakit memberi tahu kalau Desti kabur.
Ibnu mengambil ponselnya, pria itu ingin mengkonfirmasi pihak rumah sakit, dan ternyata benar Desti kabur dari rumah sakit .Kini pria itu sedang mengawasi rumahnya. ia mengepalkan kedua tangannya.
Ibnu pergi keluar kamar dan mencari Mamanya yang kebetulan ada di ruang keluarga. Pria itu berkata, "Ma, kunci pintu semua Desti kabur dari rumah sakit."
"Astagfirullah kenapa bisa?" tanya Mama Tika terkejut.
Ibnu tidak menjawab, pria itu menyuruh penjaga untuk tetap menjaga rumahnya, jangan biarkan orang lain masuk begitu saja. Apalagi wanita kemarin. Bagi pria itu keselamatan keluarga itu hal utama.
__ADS_1
Ibnu kembali ke kamarnya setelah selesai memberitahu pihak penjaga, sampai di kamar kebetulan dengan Sari mulai membuka matanya. Pria itu begitu senang, ia hampir istrinya yang sedang memijat keningnya.
"Sayang," sapa Ibnu.
"Mas," panggil Sari lemah.
"Jangan banyak bergerak, cairan infusnya belum habis, Yang," kata Ibnu.
Sari memperhatikan sekelilingnya, tapi ini masih di kamarnya. Wanita itu mulai mengingat apa yang terjadi tadi, ditatapnya suaminya yang terlihat begitu lelah.
"Mas, apa dia sudah pergi?" tanya Sari.
Ibnu yang tahu siapa yang dimaksud istrinya hanya menganggukan kepalanya, walaupun ada hal yang mengganjal di hatinya karena sampai sekarang perempuan itu belum ditemukan.
"Mas kenapa?" tanya Sari merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya.
"Sayang, Desti kabur dari rumah sakit. Sebaiknya kamu jangan ke mana-mana dulu," kata Ibnu.
Sari membetulkan bantalnya, wanita yang sedang hamil itu bersandar di headboard. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi kepalanya masih begitu pusing. Tidak lama pintu terbuka muncul Mama Tika membawakan bubur untuk menantu kesayangannya.
"Sayang, kamu makan dulu ya," kata Mama Tika.
Sari hanya tersenyum, saat seperti ini seharusnya dia mendapatkan kasih sayang dari Mama Seruni, tapi sayang wanita itu selalu mengikuti suaminya untuk mengembangkan bisnisnya. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya membuat Ibnu dan Mama Tika panik.
"Sayang, apa ada yang sakit?" tanya Ibnu.
Sari hanya menggelengkan kepalanya, Mama Tika tahu kalau menantunya itu pernah bercerita begitu merindukan kedua orang tuanya, biasa mereka tiga bulan sekali pulang, tapi semenjak Sari menikah dengan putranya besannya itu sama sekali tidak pernah pulang ke tahan Air.
Bersambung.
Assalamualaikum, selamat sore. kakak-kakak silahkan mampir ke cerita satu lagi, PERNIKAHAN ALIANSI,
jangan lupa dukung PERNIKAHAN ALIANSI dengan cara like, favorit dan komentarnya. semoga saya bisa melanjutkan misi dari editor Noveltoon/Mangatoon.
sebelumnya saya ucapkan terima kasih 🙏
__ADS_1