PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Desti pura-pura gila


__ADS_3

Ranga yang terkejut melihat wanita yang suka memakai baju kekurangan  bahan itu ada di depannya  dengan  tertawa yang tiada hening. 


"Kau!" seru Ranga.


"Lo kenapa sih bawaannya kesel mulu sama gue?" tanya Merry  dengan mengusap perutnya  yang besar.


Ranga tak menjawab, ia langsung membalikan badannya . Namun, langkahnya terhenti begitu saja saat Merry  mengatakan." Apa yang terjadi saat syukuran anak Satya itu adalah karya."


Ranga langsung menghadap wanita itu dengan tajam, karena ia ingat Radit dan ugetnya tidak datang, karena hanya orang tua Radit saja yang hadir Itu pun pulang cepat.


"Tau dari mana kamu!" seru Ranga dengan raut wajah datar.


"Ranga, asal kamu tahu kalau Desti itu sepupu jauhku, ia itu hanya pura-pura gila supaya saat membunuh kakaknya tidak masuk penjara," kata Merry sambil menyalakan rekaman di ponselnya.


Mata Rangga melebar, jadi selama ini Desti membohongi semua orang. Merry hanya tersenyum saat melihat pria yang selalu marah padanya itu terlihat terkejut.


"Gue udah kirim di ponsel lo, terserah mau percaya atau tidak," kata Merry lalu pergi begitu saja meninggalkan Rangga yang masih terlihat shock.


Ranga menatap kepergian Merry, setelah itu ia menuju lift dengan pikiran yang tidak menentu, sesampai ia di lobby langsung menuju ke mobilnya.


"Gila itu cewek, pura-pura gila hanya supaya bebas dari penjara," kata Ranga lirih sambil mengemudikan mobilnya menuju ke arah kantor grup Nugraha.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit mobil memasuki area basement grup Nugraha, Ranga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Satya, apalagi hari ini Yoga ikut ke kantor untuk membahas kerja sama.


Satya yang sedang membicarakan hal serius dengan Ayah Nugraha dan Yoga di kejutkan suara pintu yang dibuka paksa.


"Ranga!" seru Satya dengan tatapan tajam.


Ranga hanya cengengesan melihat semua menatapnya dengan tatapan yang kesal.


"Maaf," kata Ranga langsung duduk di samping Satya.


"Lo to kebiasaan!" kata Satya dengan raut wajah jengkelnya.


"Iya gue udah minta maaf lagi," ujar Ranga dengan cemberut.


Ayah Nugraha hanya bisa menarik napas melihat putranya yang selalu bertengkar enggak di rumah dan enggak di kantor semuanya sama saja.


"Gue pinjam laptop bos," izin Ranga.


"Buat apa?" tanya Satya yang hendak meraih benda pipinya itu.


"Gue ada kabar yang mengejutkan," kata Ranga sambil mengotak-atik  laptopnya  Satya. Tak lama ia memutar rekaman yang dikirimkan oleh Merry tadi.


Semua saling pandang, Satya merasa tidak asing dengan suara itu. Ia mencoba mengingatnya, tetapi tidak mengingat ya sama sekali.


"Itu Desti dengan siapa?" tanya Satya.


Ranga dan Yoga saling pandang, dan Yoga berkata." Lo mentang-mentang udah nikah sama anak gue langsung lupa mantan."


"Mantan?"tanya Ayah Nugraha menatap putranya karena ia tahu anaknya hanya punya mantan istri.


"Si uget," kata Ranga.


"Kalau kata Senja, tante kurang bahan," ucap Yoga.


Satya langsung menatap tajam kedua pria itu ia kesal karena Ranga dan Yoga tidak menyebutkan langsung nama Merry, hingga ia harus berpikir keras untuk itu.


Ayah Nugraha hanya tersenyum karena Satya kesal jika sudah menyebut mantannya itu. Tak lama Yoga yang merasa penasaran bertanya." Lo dulu pisah sama Merry karena apa sih, Sat?"


Ranga dan Satya saling tatap, Ayah Nugraha juga sebenarnya juga penasaran. Karena setahunya karena merasa tidak cocok, dua hari menikah langsung menjatuhkan talak tiga.


"Enggak perlu dibahas," kata Satya tak acuh.


"Apa benar karena kamu selingkuh?" tanya Ayah Nugraha.

__ADS_1


"Bukan, Yah. Sorry bro sudah waktunya Ayah dan yang lainnya tahu," ujar Ranga.


Satya hanya diam, baginya yang penting tidak semua tahu dari mulutnya, orang akan tahu dari versi apa kata Ranga karena saat itu ia juga ada di sana.


Ranga mulai menceritakan  apa yang sebenarnya terjadi, di saat Satya mengatakan akan mulai belajar untuk mencintai Merry, hingga keduanya pulang  ke rumah yang di tempati oleh Merry.


Hingga keduanya melihat Merry dan Radit sedang melakukan hubungan yang  hanya akan dilakukan oleh suami istri.


Ayah Nugraha mendengar itu langsung mengusap dadanya, baginya wajar kalau Satya langsung menceraikan istrinya saat itu juga. Tapi yang membuat Ayah Nugraha begitu bangga kepada putranya saat sidang perceraian ia menutupi aib Merry dan Radit.


"Gila bener, apa mereka mabuk?" tanya Yoga yang terkejut saat apa yang dialami Satya dan Merry hanya menikah dalam dua hari langsung bercerai itu.


"Gue aja ingin sekali menghajar Radit, tapi pria tua itu melarang," ujar Ranga.


"Sialan lo bilang gue tua!" kata Satya kesal sambil melempar pena ke arah asistennya itu.


"Jadi lo dapat pemandangan gratis," goda Yoga.


"Gue lihat aja ogah," sahut Ranga.


"Sudah jangan dilanjutkan lagi," kata Ayah Nugraha sambil mengusap bahu Satya.


Satya hanya tersenyum, ia tidak mau memikirkan itu hanya masa lalunya saja, yang sekarang menjadi prioritasnya hanya keluarganya saja, karena ada Senja dan Jingga yang harus ia pikirkan masa depan dan kebahagiaannya.


"Ini rekaman bagaimana?" tanya Ranga.


"kirim ke Ponsel Ayah, biar nanti langsung diurus. Apa Merry mau jadi saksi nantinya?" tanya Ayah Nugraha.


"Mau, katanya kalau butuh bantuan jangan lupa untuk menghubunginya," jelas Ranga.


"Lo ada nomornya?" tanya Satya.


"Ada, jangan malu kalau mau minta!" goda Ranga sambil mengedipkan matanya ke arah Satya.


"Buka itu." Satya mendorong Ranga yang mendekatkan wajahnya ke arahnya.


Ayah Nugraha hanya tersenyum saja, karena baik Ranga dan Yoga tidak berhenti menggoda Satya. Hingga ketukan pintu membuat mereka terdiam semuanya.


Ibnu masuk bersama Sari karena di suruh Ayah Nugraha datang, Satya merasa tidak ada memanggil sahabatnya itu hanya menaikan kedua alisnya.


"Ada apa?" tanya Satya.


"Ayah yang menyuruhnya datang," sahut Ayah Nugraha sambil menatap Satya dan bergantian ke arah Ibnu.


"Sebaiknya kamu buat laporan begitu juga dengan Leon nanti," ujar Ayah Nugraha.


"Laporan apa, Yah?" tanya Ibnu.


Ranga langsung mengirimkan Video percakapan Desti dengan Merry, Ibnu membukanya tak lama tangannya mengepal setelah tahu kenyataannya. Sari yang duduk samping Ibnu langsung mengusap lengan suaminya supaya tenang.


"Kamu harus bisa kontrol emosi, Nak. Ingat istrimu sedang hamil."Ayah Nugraha mencoba menenangkan Ibnu.


"Banyak kesalahannya, Yah. Rahma meninggal karenanya!" kata Ibnu.


Deg, Sari merasakan dadanya sesak saat suaminya begitu sedih saat menyebut nama mantannya yang sudah tiada itu. Perlahan Sari melepaskan lengan Ibnu. Melihat istrinya menunduk dan Satya sudah melotot ke arah sahabatnya itu.


Ibnu menyadari kesalahannya langsung menggenggam tangan istrinya dan berkata, "Maaf, bukan maksudku untuk-."


"Tidak apa-apa, "jawab Sari sambil tersenyum getir.


"Yang, maaf. percayalah hanya kamu dan anak kita sekarang yang aku pikirkan," ujar Ibnu sambil bersujud di depan istrinya. 


Sari membantu suaminya untuk duduk, melihat itu Ayah Nugraha hanya tersenyum, ditinggalkan orang yang dicintai memang membekas seumur hidup, bahkan untuk kembali lagi membuka hati saja begitu susah.


Walaupun itu sudah takdir yang sudah digariskan NYA  semua akan terjadi. Ayah Nugraha ingat waktu Ibnu begitu terpuruk dan hanya putranya yang selalu mengajaknya mengobrol. Hingga ia mau bekerja menggantikan Satya di kampus karena putranya harus memimpin perusahan grup Nugraha.

__ADS_1


"Kalau sampai Desti bebas, ia akan mencelakakan keluarga kita lagi," ujar Satya.


"Iya gue akan bawa kasus ini," jawab Ibnu sambil mengusap tangan istrinya.


"Ingat ini buat menjaga keluargamu, buka karena Rahma!" goda Ranga.


"Ranga!" seru Ibnu membuat yang lain langsung tertawa.


*****


DI kediaman Ayah Nugraha.


Senja yang baru siapa memberikan asi kepada putrinya, kini langsung berjalan menuju dapur karena air putihnya sudah habis. Mentari kadang heran melihat tingkah putrinya, selesai memberikan asi pasti langsung kehausan.


"Minum dulu baru kasih asi, Senja," kata Mentari yang gemes melihat putrinya itu.


"Hai, El. Ibu selalu marah-marah sama Kakak," kata Senja sambil tersenyum mencium adiknya yang kini sedang dibaringkan lesehan di karpet.


"Jangan dengar, Nak, Kakakmu itu yang bandel," sahut Mentari yang kini di tertawakan oleh Bunda yang asik dengen majalahnya.


"Bun, kenapa semuanya pergi tadi?' tanya Senja.


Bunda hanya tersenyum, Arga kemarin langsung membawa istrinya pulang ke Jakarta karena Afkar keteteran sendiri.. Rumah menjadi sepi sedangkan seminggu lagi mentari Akan pulang juga ke Jakarta. 


Semenjak kejadian tertinggal pesawat itu Yoga menjadi takut untuk meninggalkan istri dan anaknya. Ia merasa itu adalah teguran untuknya, karena sebelumnya meninggalkan Senja waktu kecil.


Yoga tidak ingin lagi mengulangi hal yang sama, Mentari kini duduk di samping Bunda. Wanita itu menatap dengan sendu harusnya saat seperti ini ada Mama Marni, tapi sayang mama Marni harus mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukan di masa lalunya.


"Jangan terlalu dipikirkan, jika nanti mau berangkat jenguk dulu Mama Marni, Nak!" kata Bunda sambil mengusap punggung tangan Mentari.


Tak lama Bik Sum datang bersama Rendy dan Popy, melihat itu Mentari dan Senja begitu senang.


"Eh, ada Kakek Rendy," kata Senja sambil terkekeh karena merasa geli.


"Cih panggil Ayah sajalah, kaya tua banget gue dipanggil Kakek," tolak Rendy.


"Mana bisa panggil Ayah sih, Om," kata Senja.


Popy hanya tersenyum mendengar pertengkaran yang terjadi antara suami dan keponakannya itu, Bunda hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Rendy yang tidak mau kalah jika sudah berdebat sama Senja.


"Popy, kapan kata dokter HPLnya, Nak?" tanya Bunda lembut.


"Akhir Desember, Bun," jawab Popy.


"Rendy apa masih takut lihat perut besar?" tanya Bunda.


"Masih, kalau lihat aku pakai daster di rumah teriak-teriak enggak jelas," kata Popy sambil menatap kesal kepada suaminya.


"Bukannya sudah konsultasi?" tanya Mentari.


"Sudah Kak, tapi hanya sekali saja," kata Popy.


"Cih, itu buat niat mau sembuh, Om!" cibir Senja.


"Banyak sekali pertanyaannya, capek gue jawabnya!" gerutu Rendy.


Mentari hanya menggelengkan saja melihat sikap adiknya itu, tetapi ia bersyukur setidaknya ia bisa menjadi suami siaga.


"Apa kamu enggak kerja, Nak?" tanya Bunda sambil mengambil minum yang baru diambilkan oleh bik Ida.


"Kerja, Bun. Hanya kangen saja sama El," jawab Rendy.


"Kakek Rendy jahat enggak kangen sama Jingga," kata Senja sambil menirukan anak kecil menangis.


"Eh, dasar bocah!" seru Rendy melihat Senja yang mencebik di depanya.

__ADS_1


Rendy jadi serba salah karena tujuannya dari kantor karena rindu dengan Jingga, ia ingat waktu Senja masih bayi yang ditinggalkan Yoga.


__ADS_2