
Siang ini di kampus, Sari yang sedang duduk sendiri sambil menunggu sahabatnya datang sibuk fokus ke ponselnya, sampai dia tidak menyadari kalau Dosen killernya ada di belakangnya.
Sesekali gadis itu terkekeh saat sedang menonton salah satu aplikasi di handponenya, Ibnu hanya menggelengkan kepalanya begitu serius calon istrinya itu sampai mengabaikannya.
"Lagi ngapain, Neng," katanya.
"Apaan sih.... jangan ganggu kalau enggak ingin gue bikin bonyok lo!" gertak Sari langsung membalikkan badannya.
Seketika matanya melotot melihat seseorang yang begitu ia rindukan itu, ingin rasanya ia memeluk pria yang kini berdiri di depannya. Namun, otaknya masih sadar tak mungkin dia melakukannya.
Gadis itu hanya meremes jarinya yang saling bertautan, tapi ia merasakan ada yang beda pada lelaki di depannya.
"Kenapa lihatin kayak gitu?" tanya Ibnu.
"Kangen, tapi mau peluk malu," katanya dengan polos.
Ibnu terkekeh mendengarnya, di acaknya rambut kekasihnya itu dengan gemes.
"Tadi papa telepon," kata Ibnu.
"Papa siapa?" tanya Sari sambil menatap wajah tampan yang kini duduk di sampingnya.
"Papa Erlangga," jawab Ibnu sambil tersenyum.
Mata Sari langsung melotot, ia yakin ada masalah.
"Ayo sekarang kita butik Diana," ajaknya.
Sari hanya menurut saat tangannya di tarik oleh killernya, kini keduanya sudah ada di mobil.
Ibnu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia menoleh ke sampingnya.
"Lagi mikirin apa, yang,” tanya Ibnu yang melihat Sari terlihat resah.
Sari tersenyum yang terlihat kalau di paksakan, tapi ia kembali menatap Ibnu.
"Mas, tadi Papa bicara apa?" tanyanya.
Ibnu tersenyum, ia menarik nafas panjang.
"Minggu besok kita akan menikah, karena Minggu depannya sudah puasa," jawab Ibnu.
"Kenapa enggak mundur saja?" tanya Sari
Ibnu langsung menoleh kearah kekasihnya, "nanti tanya sama Papa," kata Ibnu.
Sari hanya cemberut menatap kekasihnya itu, apa susahnya tinggal bilang saja kepadanya. Namun, kenapa harus menyuruhnya tanya sama Papa Erlangga.
__ADS_1
Tak lama mobil yang dikendarai oleh Ibnu sampai ke butik Diana, berlahan keduanya keluar dan langsung masuk ke butik.
Diana yang melihat kedatangan Sari tersenyum, kemudian ia mempersilahkan Sari untuk duduk di sofa sebentar.
Diana memanggil Bundanya untuk mengukur tubuh Sari, karena sebelumnya Pak Ibnu sang dosen telah menghubunginya untuk menyiapkan baju pengantin untuk dipakai seminggu lagi.
Bunda Fifi tersenyum saat melihat sepasans calon pengantin baru itu sedang duduk di sofa, kemudian Diana datang membawakan teh untuk sahabat dan dosennya itu.
"Ayo minum dulu, nanti baru ukur bajunya," katanya dengan tersenyum.
Kini keduanya duduk santai sambil meminum teh dan memakan cemilan yang telah dihidangkan oleh Diana.
Setelah selesai meminum tehnya Sari segera berdiri mengikuti bunda Fifi untuk mengukur badannya.
Diana segera memanggil Ibnu, untuk melihat Sari memakai gaun pengantin apakah sudah cocok atau belum?
Saat Ibnu sampai di kamar ganti matanya terbelalak, melihat Sari memakai baju seksi hanya sebatas dada. Apa lagi lengannya tidak ada penutupnya.
Melihat itu Ibnu langsung menggelengkan kepala tanda tidak setuju. Hal itu membuat bunda Fifi terkekeh.
Sari terlihat cemberut saat calon suami yang tidak setuju dengan gaun pengantin pilihannya.
Kemudian Ibnu berjalan mendekati beberapa manekin yang ada gaun pengantinnya, matanya menatap satu gaun pengantin yang tertutup sehingga bisa dipakaikan hijab saat nanti Ijab Kabul.
"Yang pakai yang ini!" kata Ibnu menunjuk salah satu gaun pengantin.
Ibnu menghampiri Sari dan memegang kedua tangan kekasihnya. Ditatapnya bola mata bulat itu sambil tersenyum.
"Yang ijab kabul itu adalah acara yang sakral, alangkah baiknya kalau kamu nanti saat ijab kabul memakai hijab. Aku tidak ingin banyak lelaki yang menatapmu dengan pandangan yang lain, ini demi kebaikanmu bisa mengerti enggak!" titah Ibnu.
Sari terdiam dia mencerna apa yang dikatakan oleh calon suaminya itu, setelah ia mengerti barulah ia menyuruh Diana untuk mengambil gaun pengantin yang ditunjuk oleh calon suaminya tadi.
Sari dibantu Bunda Fifi dan Diana mencoba gaun pengantin tadi dengan memakai hijab yang sudah disediakan oleh bunda Fifi.
Setelah selesai memasang jilbab dan gaun pengantinnya, Sari dipapah oleh Dian untuk keluar ruangan ganti. Sejenak Ibnu menatapnya dengan tertegun tak lama senyum tersungging di bibirnya, Ibnu saat melihat istrinya begitu cantik dan mempesona inilahah Bidadari Surgaku yang diciptakan oleh Allah SWT.
"Inilah tulang rusukku yang selama ini kucari," batin dalam hati.
Setelah selesai mencoba gaun pengantin Sari dibantu oleh Diana melepaskan gaunnya, kemudian ia pamit kepada Bunda Fivi dan Diana untuk segera pulang.
Sari begitu penasaran apa alasannya pernikahannya tidak dimundurkan, tapi malah dimajukan oleh kedua orang tuanya.
Setelah di dalam mobil Sari dan Ibnu diam, ia tidak mau mengganggu kekasihnya yang sedang melamun entah apa yang dipikirkan oleh Sari.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Ibnu sampai di depan gerbang rumah Sari.
Pria itu buru-buru tidak Jadi singgah karena sudah di telepon mama Tika, Sari hanya cemberut saat melihat calon suaminya pergi meninggalkan kediaman rumahnya.
__ADS_1
Setelah kepergian mobil Ibnu, Sari segera masuk.
"Assalamualaikum Papa, Mama Sari pulang," katanya dengan langkah gontai
"Waalaikumsalam," jawab Papa dan Mama Sari serempak
"Baru pulang Nak, bukannya kamu tadi dijemput Ibnu?" tanya papa Erlangga kepada anak gadis satu-satunya itu.
"Ada tadi diajak fitting baju di butik Diana," jawabnya sambil duduk bersandar di bahu Mamanya.
"Pah, Kenapa pernikahannya enggak dimundurkan saja? kenapa dimajukan?" tanya Sari kepada orang tuanya.
Papa Erlangga tersenyum mendengar pertanyaan anaknya itu, sebenarnya Sari belum siap tapi entah kenapa ia minta kado menikah muda pada umur yang 19 tahun ini.
Sebenarnya papa Erlangga sangat senang saat Sari memutuskan untuk menikah muda dengan Ibnu, ia yakin pria itu bisa menjaga dan mendidiknya.
Apa lagi ia dan istrinya sangat jarang sekali pulang ke tanah air, keduanya sibuk untuk mengurusi bisnisnya yang berada di luar negeri.
Saat papa Erlangga bertemu dengan keluarga Ibnu dia langsung menyetujui, ia sangat menyukai keluarga Ibnu saat datang siang kemarin.
"Kamu ini bagaimana sih Sari? Bukannya kamu yang minta nikah muda," jawab mama sambil menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya itu
Tapikan enggak harus maju Mah, kenapa sih harus maju kalau emang minggu depan bulan puasa sebaiknya, kan bisa habis lebaran nikahnya," ucap Sari sambil cemberut.
"Sini anak Papa sayang, dengar baik-baik ya Nak. Minggu depan adalah Minggu bulan Romadhon Yang pertama, apa salahnya kalau kita sama-sama buka puasa bersama dan tarawih bersama dengan keluarga baru dan sebagai istri seorang Ibnu dosen killermu," ujar ayah Erlangga sampai terkekeh.
Mata Sari membulat saat mendengar Papanya memanggil calon suami dengan dosen killer, "Papa tahu dari mana sih, kok manggil Mas Ibnu dosen killer," tanyanya penasaran.
"Tadi siang kami ketemu dengan mertuamu, Mama Tika cerita kalau kamu yang memberi julukan kepada Ibnu dosen killer, sehingga semua teman-teman di kelasmu semua ikut memanggil killer," jawab Mama sambil tersenyum.
Sari langsung menutup mulutnya tidak percaya, kalau mama Tika menceritakan kepada kedua orang tuanya. Karena dialah yang memberi julukan kepada Ibnu sang dosen killer
"Tapi mama Jangan manggil dosen killer ya," katanya dengan memasang wajah cibinya.
Melihat tingkah anaknya itu Papa dan Mama tersenyum di acaknya rambut Sari dengan gemas.
"Kamu ini bagaimana sih, udah mau menikah masih manja begini,” kata Mama Seruni sambil tersenyum.
“Enggak harus berubah setelah kita menikah, mau bagaimana lagi. Ya begini Sari apa adanya mau terima sukur kalau enggak ya udah cari wanita lain!" jawabnya dengan jutek
Mendengar ucapan Sari, mama Seruni melotot menatap anaknya.
"Husttt....kamu itu mana boleh bicara seperti itu, itu doa tahu sayang." Kata Mama Seruni mencubit pinggang anaknya.
"Mama sakit!" teriaknya sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas.
Mama Seruni hanya cuek sambil memalangkan ke kamarnya.
__ADS_1
Selamat berbuka puasa untuk semua yang menjalankannya.