
Sari yang sedang naik taksi langsung mematikan ponselnya, dia tidak ingin pulang karena merasa tidak dianggap oleh suaminya.
Wanita itu rencananya akan pergi ke Bandung ke tempat sahabatnya yang tak lain kakaknya Deo.
Sari ingin tahu sebesar apa kehilangannya Ibnu saat tahu dirinya pergi.
Sari juga sudah menghubungi nomor Dea untuk merahasiakan kalau dia akan ke rumahnya. Mobil taksi yang dinaiki Sari sudah sampai di depan rumahnya.
"Pak tunggu sebentar ya," kata Sari langsung masuk rumah.
Wanita itu langsung ke kamar dan mengemasi pakaiannya. Dia juga mengemasi baju lainnya yang akan dikirimkan ke rumah orang tuanya.
Setelah selesai Sari langsung mengeluarkan tas dan kopernya. Hal itu membuat asisten di rumahnya bingung.
"Non, mau ke mana?" tanya Bik Imah.
"Bibik jangan bilang apa-apa ya, anggap saja tidak tau," kata Sari.
"Tapi Non," kata Wanita paruh baya itu.
"Untuk apa aku ada di sini, Bik. Aku seperti orang bodoh karena enggak dianggap," kata Sari langsung pecah tangisnya.
"Non," kata Bik Imah yang tau pertengkaran sepasang suami istri itu.
"Aku pergi ya Bik, itu sopir papa sudah datang juga dia akan mengambil barang-barang Sari," ujarnya sambil mengusap air matanya.
Bik Imah tak kuasa lagi menahan air matanya. Wanita paruh baya itu sudah menganggap Sari seperti anaknya sendiri.
Mobil yang dinaiki Sari dan sopir keluar besarnya sudah pergi, wanita itu segera menutup pintu.
"Pak, langsung ke bandara ya," kata Sari.
"Iya, Non!" kata Sopir itu.
Sari menatap jalanan yang dipenuhi lalu lalang mobil dan motor, lagi-lagi air matanya mengalir di kedua pipinya. Selama ini dia diam, tapi suaminya semakin menjadi.
Tak lama Sari sampai ke Bandara supaya tak terlacak memakai nama yang dikasih Dea kepadanya.
Tak lama ada panggilan untuk penumpang yang menuju ke Bandung, Sari menarik koper dan tidak lupa masker serta kacamata hitam yang menutupi wajah sembabnya.
Sesampainya di Bandung Sari di jemput oleh Dea kembaran dari Deo. Keduanya berpelukan erat.
"Ingat kamu hutang penjelasan," kata Dea langsung mengajak Sari untuk masuk ke mobilnya.
"Hah, untuk apa diceritakan, gue kesini mau happy," kata Sari tersenyum walaupun terlihat dipaksakan.
Mobil yang dinaiki Sari dan Dea langsung meluncur ke kos-kosan Dea, karena dia tahu Sahabatnya itu butuh ketenangan untuk kemelut rumah'.tangganya.
Mobil sudah sampai di depan rumah yang terlihat sederhana, tapi terlihat begitu asri
"Lo tinggal sendiri?" tanya Sari.
"Iya dan sekarang sama lo," jawabnya terkekeh.
Keduanya masuk setelah tuan rumah membuka pintu.
"Ini kamar lo, dai itu kamar gue," kata Dea sambil tersenyum.
"Sari, gue tinggalin enggak apa-apa ya," kata Dea karena dia ada kuliah sore.
__ADS_1
"Santai saja, gue juga mau istirahat," jawab Sari tersenyum.
Dea segera keluar dari rumah dan masuk ke mobilnya, Sari yang ikut mengantar segera masuk rumah setelah mobil Dea tidak terlihat lagi.
"Dek, kita berdua saja ya, Ayah tidak sayang sama Bunda, tapi Bunda yakin Kalau Ayah sayang sama kamu," ujar Sari sambil mengusap perut besarnya.
***
Di Surabaya.
Ibnu yang sudah sampai ke bandara menjemput Mamanya, wanita sudah berkacak pinggang karena datang sendirian.
"Mama bilang ajak Sari, Ibnu!" seru wanita paruh baya itu sambil menarik telinga putranya.
"Aduh ampun, mama malu diliatin orang," kata Ibnu sambil mengusap telinganya yang terasa panas.
"Biarin saja," omel Mama.
Ibnu berjalan sambil memegang tangan Mamanya, kedua berjalan menuju ke mobil Ibnu.
"Sari di rumah,kan?" tanya Mamanya.
"Dirumah Senja, aku tinggalkan di sana," jawab Ibnu.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, putranya itu benar-benar enggak ada akhlak.
"Sekarang kita jemput Sari dulu!" Kata Mama.
"Iya," jawab Ibnu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah kemacetan kota Surabaya.
Ibnu dan Mamanya langsung masuk sambil mengucapkan," Assalamualaikum," kata keduanya kompak.
"Waalaikumsalam warahmatullahi Wabarakatuh," kata Bik Sum mantap Ibnu dan wanita yang diyakini orang tua dosen itu.
"Siapa bik?"tanya Satya.
"Mama," kata Satya langsung memeluk wanita yang dianggap seperti ibunya sendiri itu.
"Gue mau jemput bini, gue," kata Ibnu membuat Satya dan Bik Sum saling pandang.
"Mama duduk saja dulu, Satya pinjam Ibnu dulu," kata Satya langsung menuju ke ruang kerjanya.
"Duduk!" Kata Satya dingin.
"Ada apa, Bro?" tanya Ibnu seperti ada hal penting kalau melihat dari gelagat Satya.
"Siapa wanita yang Lo jemput ke bandara?" tanya Satya.
"Mama," jawab Ibnu.
"Di kampus ada dosen baru, siapa dia?" tanya Satya.
"Sari cerita apa?" tanya Ibnu sinis.
"Sekarang jawab siapa dia?" tanya Satua Terdengar dingin.
Ibnu menarik napas dalam, dia Desti Adiknya Rahma," jawab Ibnu.
__ADS_1
"Apa lo ada jelasin ke bini Lo siapa dia?" tanya Satya.
"Enggak,"jawab Ibnu.
"Gue hanya sebagai teman sebaiknya lo jelaskan kepadanya semau ke Sari," saran Ibnu.
"Dahlan gue mau pulang, bini gue ada dikamar Senja,kan?" tanya Ibnu.
"Lo masih ingat kalau ada bini?" tanya Satua sinis.
"Maksudnya?" tanya Ibnu.
"Sari pergi dari dua jam yang lalu, dia terlihat kecewa karena enggak lo anggap dia ada," kata Satya.
"Gue pulang," pamit Ibnu langsung menghampiri Mama yang sedang mengobrol dengan Bunda.
"Mama, kita pulang," ajak Ibnu terlihat panik.
"Ada apa?" tanya dua wanita itu bersamaan.
"Bunda kami pulang," kata Ibnu sambil berjalan dengan langkah lebar.
Ibnu yan sudah masuk mobil, kesal saat melihat mamanya hanya berdiri diteras.
"Mama Ayo," kata Ibnu dari jendela mobil.
"Mantu Mama mana?" tanyanya.
"Di rumah," jawab Ibnu.
Mama langsung pamit kepada Satya dan Bundanya.
Sampai di mobil wanita itu memukul bahu anaknya karena kesal tidak kasih tahu dari tadi.
Ibnu hanya bisa menangis, perasaannya dari tadi enggak enak, ia sengaja tidak membawa istrinya supaya bisa kangen-kangenan sama Senja.
Tetapi apa daya semua sesuai dengan apa yang dia pikirkan, sari lebih memilih pulang sendiri.
Mobil Ibnu sampai di kediamannya bik Imah membuka pintu disambut senyum dari Nyonya yang baru datang
"Bik Sari mana?" tanya Mama mantap sekelilingnya.
Bik Imah hanya diam, Ibnu langsung melewati mama dan Bik Imah, pria itu buru-buru menuju kamarnya di lantai dua.
Pintu kamar langsung didorongnya, tapi Sang istri tidak ada, pria itu langsung mengeceknya di kamar mandi dan di balkon kamarnya juga tidak ada.
Ibnu turun dari tangga mencari Bik Imah, dilihatnya wanita itu sudah menangis terisak.
"Ada apa ini?" tanya Ibnu.
Plak….
Ibnu terkejut saat ditampar oleh wanita yang sudah melahirkannya.
"Mama tidak pernah mengajarkan untuk tidak peduli dengan istrimu, sekarang lihat Sari keluar dari rumah karena merasa kamu abaikan!" teriak mama sambil menangis.
Tubuh Ibnu luruh ke lantai, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Mamanya.
"Anak bodoh, sana cari mantu dan cucu mama!" seru mama yang melihat anaknya kembali lagi terpuruk seperti saat lima tahun yang lalu.
__ADS_1