
Sore ini Satya bersama Pak Yanto ingin menjemput Paman Angkasa dan Tante Mela.
Satya yang sedang turun tangga terkejut, karena melihat lelaki dan wanita paruh baya duduk di ruang tengah.
Ayah Nugraha yang melihat anaknya menuruni tangga tersenyum, kemudian Satya menghampiri kedua orang tuanya di ruang tengah.
"Nak, kenalkan ini Om Angkasa dan Tante Mela," kata Ayah Nugraha.
Kemudian, Satya mengulurkan tangannya untuk menyalami kedua orang paruh baya itu sambil tersenyum.
"Kamu sudah besar sekarang ya, Sat," ucap Om Angkasa.
" Ya, besar dong, kan' dikasih makan kamu gimana sih," sahut Bunda.
Mereka semua tertawa bersama, menanggapi ucapan Bunda.
"Ranga dan Rendy di mana,Yah?" tanya Satya.
"Mereka istirahat di kamar tamu, sepertinya mereka sangat kecapean." jawab Bunda.
Setelah itu, Bunda menyuruh Om Angkasa dan Tante Mela untuk istirahat terlebih dahulu. Mereka juga pastinya sangat lelah.
Setelah kepergian Tante Mela dan Om Angkasa, Satya menatap Ayahnya. Ayah Nugraha yang merasa diperhatikan oleh anaknya, hanya menaikkan bahunya.
Bunda memincingkan matanya, ke arah kedua lelaki di depannya. Sangat mencurigakan.
"Apa? ada yang kalian sembunyikan dari Bunda, hah!" selidik Bunda sambil menatap tajam ke arah Anak dan Suaminya.
Satya dan Ayah Nugraha seketika tertawa lepas, melihat Bunda yang tiba-tiba marah kepadanya.
"Bunda itu terlalu percaya diri," ledak Satya.
Mendengar itu Bunda langsung meradang, ia berdiri sambil berkacak pinggang menatap Satya.
Satya yang melihat emosi Bundanya, segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Satya...!!," teriak Bunda dengan suara yang melengking.
Ayah Nugraha yang tahu Istrinya akan berteriak segera menutup telinganya.
Di kediaman Kakek Roby.
Suasana rumah begitu sepi, karena Rendy belum pulang. Mama Marni terlihat begitu gelisah, sambil menggenggam handphonenya.
Kakak Robby hanya memperhatikan tingkah istrinya itu, entah apa yang membuatnya begitu gelisah.
“Mama, sini duduk," kata Papa Roby.
Mama Marni hanya melihat suaminya sebentar, kemudian ia jalan mondar-mandir sambil melihat pintu depan.
Papa Roby semakin pusing, melihat istrinya mondar-mandir tidak jelas.
__ADS_1
Namun, ia tidak ingin memarahi istrinya. Dibiarkannya saja istrinya sesuka hatinya.
"Papa, kapan Rendy pulang? Mama begitu khawatir kepadanya." kata Mama Marni.
"Kalau tidak salah, Rendy pulangnya lusa, Mah," jawab Papa Roby.
"Memangnya apa yang Mama khawatirkan, Rendy sudah dewasa, Mah. Dia juga pergi dengan Satya dan Rangga." ujar Papa Roby.
Mama Marni hanya mengangguk, tapi entah mengapa perasaannya tidak enak. Tiba-tiba handponenya bergetar tanda ada pesan masuk dari anak buah Ronald.
Wajahnya seketika menegang, pesan itu yang mengatakan besok persidangan pertama Ronald. Namun, ia segera pergi meninggalkan ruang keluarga.
Hari ini dia harus mencari pengacara buat kekasih gelapnya itu, keduanya menjalin hubungan saat Marni mengetahui perselingkuhan Roby dengan sekretarisnya.
Mama Marni saat tahu kalau suaminya berselingkuh, iapun membalasnya dengan hal yang sama. Namun, ia selingkuh dengan asisten suaminya yang sudah mempunyai istri.
Dari hasil perselingkuhannya lahirlah Rendy, anak yang begitu dibanggakan oleh Roby.
Setelah usahanya gulung tikar, Ronald bergitu terobsesi dengan harta kekayaan dari Papa Roby. Kemudian ia sengaja memberitahu Marni kalau Roby selingkuh.
Saat Marni terpuruk, Ronald selalu ada untuknya. Keduanya akhirnya menjalin hubungan terlarang sampai lahirlah Rendy.
Kedua merencanakan untuk menguasai kekayakan Roby, dan Ronald selalu menghasud dan memberikan laporan palsu tentang gugurnya anak yang di kandung oleh sekretarisnya.
Kakek Roby begitu mempercayai apa yang dikatakan oleh Ronald, sampai tanpa ia sadari sudah menyiksa anak dan menantunya dengan cara memisahkan keduanya.
Mama Marni saat melihat suaminya masuk kamar, ia segera buru-buru pergi meninggalkan rumah untuk mencari seorang pengacara.
Karena ia begitu yakin, tidak ada bukti yang memberatkan Ronald. Mobil yang dikendarainya meluncurkan membelah jalanan Surabaya.
Satya yang sedang mengecek data yang dikirim oleh Romi di emailnya begitu tertegun.
Rendy dan Arnold ternyata saudara beda Ibu, ia menggelengkan kepalanya bagaimana santunnya Nenek Marni.
Satya mengerutkan dahinya, saat membaca kalau Ayahnya adalah orang yang harus disingkirkan selanjutnya oleh Ronald.
Satya menyimpan lektopnya, sebenarnya ia penasaran untuk mengikuti sidang besok pagi. Namun, Ayah Nugraha sudah lebih dulu melarannya.
Apalagi semenjak ada Om Angkasa dan Tante Mela, Ayah Nugraha sediilkit waspada akan sesorang yang mencurigakan di sekitarnya.
Satya melirik Istrinya yang baru bangun, ia tersenyum segera menghampiri wanita yang begitu berarti untuknya.
"Mau mandi?" tanya Satya.
"Ia, tapi tanpa oleh raga sore," jawab Senja.
Seketika tawa Satya pecah, Istrinya begitu mengemaskan baru bangun tidur ia sudah bisa membaca pikirannya.
"Ia sayang, Bby janji enggak ada oleh raga sore," ucap Satya.
keduanya pun memutuskan untuk mandi bersama, bukan Satya namanya kalau ia tidak bisa naik-naik kepuncak gunung.
__ADS_1
Senja hanya bisa pasrah, saat suaminya memulai olahraga sorenya. harusnya mandi hanya lima belas menit menjadi satu jam, karena Satya selalu minta naik-naik kepuncak gunung.
(Wkwkwk ngakak Authornya membayangkan naik-naik kepuncak gunung)
Setelah selesai mandi, keduanya segera turun menuju ruang keluarga. Senja tertegun melihat Wanita yang begitu mirip dengan Suci.
Bunda yang melihat anak mantunya memandang lekat sahabatnya itupun tersenyum.
"Sini sayang, kenalkan ini Om Angkasa dan Tante Mela mereka orang tua dari sahabatmu Suci," kata Bunda.
"Ia Bunda, mereka seperti dua generasi yang begitu mirip." jawab Senja
"Kamu sangat cantik sayang, mirip dengan Mentari," kata wanita yang duduk di kursi roda itu.
"Tante..eh... maksudnya..." Senja bingung mau panggil apa soalnya ia memanggil Ronald dengan Opa.
"Kamu boleh panggil, Oma atau Mama,"
jawab Mela.
"Maaf, panggil Mama saja ya, kan Mamanya kak Suci," jawab Senja.
Setelah itu Senja duduk disamping Bundanya, Mela memperhatikan Senja. Kemudian ia tersenyum.
"Kamu sedang hamil, Nak?" tanya Mama Mela.
"Eh...siapa Mam, Senja maksudnya," ucap Senja yang terkejut.
Begitu juga dengan Satya, dan yang lainnya. Mereka semua menatap Senja dengan penuh harap. Namun, senja yang diperhatikan menjadi gelisah.
Bunda tersenyum, diusapnya kepala Senja dengan lembut.
"Kapan kamu terakhir datang bulan, Nak," kata Bunda.
Senja merasa malu, saat ditanya seperti itu oleh Bundanya. Wajahnya memerah, ini baru pertama kalinya ada yang menanyakan hal sensitif baginya.
"Jawablah sayang," ucap Satya yang menghampirnya.
"Kalau tidak salah sebelum kita menikah," Jawab Senja sambil menunduk.
"Lebih jelasnya dibawak periksa," kata Mama Mela
Satya tersenyum sangat bahagia, seandainya Istrinya benar-benar hamil anaknya. Ia memeluk istrinya, kemudian dia mengecup keningnya Senja.
"Besok pergi periksa, tapi Bunda mau ikut," kata Bunda dengan semangat.
Ayah Nugraha hanya tersenyum,menanggapi Istrinya yang begitu bahagia.
"Bunda, tapi jangan kecewa ya... jika hasil tidak sesuai dengan yang kita inginkan," ucap Senja.
"Tidak apa-apa sayang, Bby masih bisa membuatnya lagi," jawab Satya yang langsung dicubit pingangnya oleh Senja.
__ADS_1
Bersambung ya...
Maaf yang merasa bingung, dengan cerita ini. saya masih belajar membuat cerita yang penuh mesteri dan susah ditebak. maaf kalau mengecewakan 🙏