PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
kemarahan Ranga ke Sasa


__ADS_3

Setelah dirawat  selama empat hari Diana diperbolehkan untuk pulang. Ranga sampai meminta  sang istri untuk pakai kursi  roda. Walau  awalnya  Diana menolak. Namun, akhirnya  mau juga dari pada di rumah sakit terus lama-lama  merasa bosan.


"Yang, selama masih belum fit, kamu jangan jalan," ujar Ranga saat sudah berada di rumah Ayah Nugraha. 


Diana dan Ranga pindah karena Bunda Fifi sebentar lagi akan menikah. 


"Mas," panggil Diana saat Ranga akan keluar kamar.


"Apa?"tanya Ranga sambil menghampiri  sang istri.


"Aku mau duduk di depan," ucap Diana dengan wajah memelas.


Ranga menarik  napas dalam, pria itu mengangkat  tubuh istrinya  dan mendudukkannya di kursi roda. 


Senja yang melihat Diana datang tersenyum. Ia begitu senang  karena tidak akan kesepian  lagi.


"Ingat jangan capek-capek," kata Senja.


Diana hanya tersenyum. Namun, ia begitu penasaran  akan Sasa karena tidak ada kabar.


"Senja, Kira-kira Sasa di hukum nggak?" tanya Diana sambil berbisik karena ada suaminya dengan Ayah Nugraha  sedang  mengobrol.


"Hari ini dipanggil, begitu juga orang tuanya," jawab Senja.


"Pak Ibnu mana mau cerita  sama Sari kalau masalah  gituan." Diana hanya mendesah bagaimana  suami sahabatnya  itu begitu dingin.


"Coab nanti aku tanyakan Ke Mas Satya," ucap Senja.


"Kalau sampai dikeluarkan  kasihan," ujar Diana.


Senja  hanya diam, tapi kalau dibiarkan Sasa dan gengnya akan semakin membahayakan  orang lain.


"Kita lihat aja, apalagi Sasa hampir membuat kamu kehilangan  janin, Diana." Senja  amnesia sahabatnya itu.


"Buktinya kandunganku  baik-baik  saja," ujar Diana.


Senja yang tidak ingin ribut, hanya diam. Tidak lama Bunda datang bersama Bunda Fifi.


"Kok cepat Bun?" tanya Senja.


"Iya Nak, karena kami spesial, "jawab Bunda.


Ayah Nugraha tersenyum mendengar jawaban istrinya itu, sedangkan Ranga melihat Diana yang berdiri karena ingin melihat kebaya untuk Bundanya.


"Sayang duduk saja," kata Ranga.


"Maaf," kata Diana lupa jika suaminya berubah posesif kepadanya.


"Ranga kamu nggak ke kantor 'kan?" tanya Bunda.


"Enggak Bun," jawab Ranga.


"Kamu bantuin Arga ya ke hotel, ada yang harus di buat seperti ini. Nanti kamu awasi para wonya," ujar Bunda menjelaskan kepada putranya itu.


"Iya Bun," jawab Ranga yang sudah paham.

__ADS_1


"Diana kamu sama Senja di rumah tidak apa'kan, Nak?" tanya Bunda menatap menantunya itu.


"Iya Bun, enggak apa-apa," jawab Diana.


"Senja kamu awasi Diana, jangan sampai tidak pakai kursi roda." pesan Ranga.


"Iya Om," jawab Senja kesal.


Ranga hanya tersenyum, karena ia tahu kalau Senja masih kesal dan berkata."Maaf," 


"Sudah telat," ujar Senja menatap kesal pria yang sudah membentaknya itu.


Diana yang tidak tahu apa-apa hanya menatap suami dan sahabatnya itu. Merasa penasaran wanita itu bertanya."Mas salah apa?"


Ranga mengaruk kepalanya dan menceritakan kepada istrinya mendengar itu dari suaminya Diana melotot dan berkata."Mas ini main tuduh saja."


"Mas minta maaf, Yang," bela Ranga.


"Sudahlah Diana ayo naik lantai dua," goda Senja.


"What? tidak boleh!"seru Ranga.


Ayah Nugraha hanya mengusap dadanya karena  terkejut, sedangkan Bunda menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ranga dan Senja.


"Ayo," ajak Arga kepada Adiknya.


"Kak Suci nggak ikut?" tanya Senja.


"Enggak, biar di rumah saja," sahut Arga tersenyum menatap istrinya yang terlihat lelah karena ulahnya itu.


"Nona, Ada yang cari," kata Bik Ida.


"Siapa Bik?" tanya Senja.


"Teman Non satu kampus," kata Bik Ida.


Senja dan Diana saling pandang karena keduanya sama-sama tidak ada janji, Senja memberikan  Jingga kepada Bunda.


Senja ditemani Suci berjalan menuju ruang tamu, ibu satu anak itu terkejut saat melihat Sasa dan wanita yang seusia ibunya duduk menatapnya.


"Maaf ada apa?" tanya Senja,


"Apa kamu yang namanya Senja?" tanya wanita yang tidak lain Ajeng Mamanya Sasa.


"Iya Tante, saya Senja," jawab Senja menatap Sasa dan bergantian kepada wanita yang ia yakini itu mamanya Sasa.


"Kedatangan kami ke sini mau meminta maaf atas apa yang dilakukan Sasa kepadamu, Nak. Tante Akui selama ini tidak tahu akan sikap Sasa jika di luar rumah," ujar Ajeng.


"Tante harusnya Sasa meminta maaf kepada Diana karena anak Tante ia hampir kehilangan janinnya," ujar Senja.


"Astagfirullah, kenapa tadi saat di kampus tidak ada yang kasih tahu," ujar Ajeng.


"Lalu bagaimana keadaannya, Nak?" tanya Ajeng yang terlihat shock.


"Mam," kata Sasa.

__ADS_1


"Diam kamu!" kata Ajeng kepada putrinya.


Bunda membawa Diana keluar menuju ruang tamu, Ajeng yang melihat siapa wanita itu terkejut dan langsung menghampirinya.


"Mbak apa kabar?" tanya Ajeng kepada Bunda karena mengenal kakak kelasnya dulu.


"Alhamdulillah, jadi Sasa itu anak kamu, Jeng?" tanya Bunda.


Ajeng menatap sendu Sasa, kemudian menatap Bunda yang merasa mengenal wajah Sasa dan berkata."Jeng."


"Iya Mbak," jawab Mama Sasa.


Bunda menarik napas panjang, ada rasa iba karena sudah tahu siapa Sasa. anak yang di temukannya dan kini dirawat oleh Ajeng dan suaminya. 


"Apa sudah tahu?" tanya Bunda.


"Beluam Mbak," jawab Ajeng sambil tersenyum.


"Ini Tante Diana yang di dorong oleh Sasa," kata Senja.


Ajeng menatap sek sama kepada Diana yang wajahnya tidak asing itu, seakan Ajeng mengenalnya dan berkata."Nak, maafkan Sasa. Tante sebagai Mamanya akan bertanggung jawab."


Sasa yang dari tadi mendengar apa kata Mamanya akhirnya tangisnya pecah, apa lagi Mamanya berlutut di depan Diana untuk meminta maaf.


"Cukup Mam, jangan lakukan lagi!"seru Sasa dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Sasa beranjak dari duduknya, gadis itu berlutut di depan Diana dan berkata."Di, Maafin gue. selama ini banyak kesalahan yang gue lakukan kepada lo dan Senja."


Diana meneteskan air matanya, wanita itu tahu sebenarnya Sasa itu anak baik. Namun, karena terlalu dimanjakan akhirnya mejadi egois dan suka memerintah.


"Sasa gue sudah maafkan lo, lagian anak gue kuat." Diana mengusap perutnya yang masih rata.


Diana memeluk Sasa, ia berharap sahabatnya benar-benar berubah, saat Diana sedang memeluk Sasa  tiba-tiba."Lepaskan bini gue!"


Semua mata menoleh ke arah asal suara di mana ada Ranga, Satya dan Arga. Mata Ranga menatap tajam kepada wanita yang memeluk  istrinya itu.


"Ranga," kata Bunda.


"Harusnya kamu dipenjara!" teriak Ranga menatap penuh emosi.


"Ga," kata Arga supaya adiknya tenang.


"Keluar lo dari rumah ini!" usir Ranga kepada Sasa.


Ayah Nugraha yang sedari tadi diam mengendong cucunya akhirnya keluar dan berkata."Tenangkan hatimu, Nak."


"Yah, wanita itu hampir membunuh anak Ranga, cucu Ayah," kata Ranga.


"Ayah tahu, Nak. Coba lihat Diana baik-baik saja." Ayah Nugraha mengusap bahu putranya supaya tenang.


"Maafkan putri saya, Nak." Ajeng kembali berlutut di depan kaki Ranga.


"Ajeng hentikan!"


bersambung ya….

__ADS_1


__ADS_2