
Malam ini Ranga yang sedang duduk di balkon kamarnya merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya, karena diam-diam Diana setiap mendapat telepon selalu menjauh darinya.
Pria itu mengusap air matanya, ia akui terlalu cengeng saat ini. Tak lama terdengar Diana memanggilnya.
"Mas, aku cari dari tadi," kata Diana sambil memeluk tubuh suaminya dari belakang.
"Ada apa?"tanya Ranga dingin.
Deg ,Diana tertegun kenapa suaminya? Dadanya terasa sesak. Diana mencoba untuk berpikir positif.
"Mas, kita istirahat yuk," ajak Diana sambil tersenyum menatap kedua netra pekat itu.
Ranga hanya mengganggu jujur ia tidak tega membuat mata istrinya berkaca-kaca akan sikapnya itu. Keduanya naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya yang begitu lelah karena seharian beraktivitas.
Saat Ranga akan menyimpan ponselnya ke nakas ponsel istrinya ada pesan masuk dari Deo, diliriknya Diana yang sudah terdengar dengkuran halusnya. Pria itu mengambil ponsel warna putih itu.
Perlahan pesan itu dibacanya, " Din, suami lo udah tidur belum?" isi dari pesan Deo. tangan Ranga mengepal rasanya ia ingin sekali memaki dan menelepon Deo dan memberikan pelajaran.
Ranga keluar kamar ia mengambil jaket dan saat akan turun tangga berpapasan dengan Bunda Fifi yang baru pulang.
"Mau kemana, Nak?" tanya Bunda melihat menantunya itu jalan buru-buru.
"Ada kerjaan bentar Bun," jawab Ranga langsung pamit kepada mertuanya itu.
Ranga mengemudikan mobilnya tak tentu arah, pria itu emosinya sudah sampai ubun-ubun dan akan siap meledak jika ia masih berada di dalam rumahnya.
Ranga menghentikan mobilnya di dekat arena balap liar, dimana dulu ia sering diajak Arga dan Satya untuk datang melihat kakaknya mengikuti lomba. Hingga Satya mengalami kecelakaan akhirnya Ayah Nugraha tahu jika motor sport yang dibelinya mereka gunakan untuk balap liar.
Sudah hampir dua tahun lebih ia tidak datang, tak lama ia melihat Faisal duduk di dekat motor besar tak jauh dari mobilnya berhenti.
Faisal yang melihat Ranga yang datang langsung memperhatikan sekeliling, karena selama ini dimana ada Ranga disitu akan ada Satya.
"Lo sendiri?" tanya Faizal.
"Hem," jawab Ranga.
"Apa ada masalah?" tanya Faisal lagi.
Ranga tak menjawab, ia begitu kesal kepada Faisal yang begitu cerewet itu, "lawan mana?"
"Time songong," jawab Fasial terkekeh.
__ADS_1
"Radit." Ranga terkejut.
Faisal hanya mengangguk, dilihatnya Radit menatap Ranga setelah itu ia menghampiri asisten dari Satya itu.
"Tumben," kata Radit.
"Lo nggak bawa uget?" tanya Ranga.
Radit hanya tersenyum getir, ia menatap lirih melihat anak-anak sedang ,menyiapkan motornya. Ketiganya hanya diam, karena mereka tahu pasti kalau datang ada masalah ditempat ini yang membuatnya nyaman daripada club malam.
"Satya nggak ikut, Ga?" tanya Radit.
Ranga hanya menggelengkan kepala, arena balap kian ramai karena makin malam semakin banyak yang datang untuk menyaksikan Radit yang kini akan melawan Ranga.
Fasial merasa ragu karena jalanan begitu licin karena habis turun hujan, dan berkata." Ga, lo yakin."
"Lo jangan kayak Satya dan Arga melarang gue untuk ikut seperti ini!" cibir Ranga.
"Lo pakai motor gue, udah siap di service," tawar Fasial.
Ranga langsung menuju ke motor Fasial, pria itu memakai helm dan langsung bergabung dengan peserta lainnya.
"Lo mundur, biar gue yang main," ujar Fasial.
Ranga tidak menjawab, pria itu ngegas motor ya hingga keluar asap dari knalpotnya. Sorak dan tepuk tangan penonton membuat malam kian ramai dan ada beberapa diantara mereka yang membawa minuman sambil taruhan .
Seorang gadis seksi berdiri berlenggak-lenggok mengibarkan bendera dan sekali bendara angkat suara mesin menggema bersamaan teriakan para penonton.
Ranga berusaha konsentrasi penuh, hingga bisa memotong motor milik Radit, melihat motor milik Ranga melaju dengan kecepatan tinggi Radit tidak mau kalah.
Radit mengejar dan ia mendengar benturan keras melihat tiga motor bertabrakan beruntun dan satu motor meledak membuat Radit dan peserta yang lainya panik.
"Ranga!" pekik Radit saat melihat motor yang terbakar adalah motor yang Ranga pakai membentur pohon besar.
"Ranga, bangun, gue mohon Ga!" teriak Radit histeris.
Informasi jika ada motor yang menabrak pohon langsung sampai dimana para penonton langsung bubar, karena mereka yakin jika sebentar lagi akan ada polisi jika tidak keburu pergi.
Radit meminta kepada anak buahnya untuk membersihkan semua jangan sampai ada yang tertinggal sedikitpun. Fasial membawa Ranga ke rumah sakit, karena kondisinya parah.
Radit mengikut mobil yang membawa Ranga menuju di mana rumah sakit terdekat, setelah menempuh waktu selama tiga puluh menit mobil yang dikemudikan oleh Fasial sampai depan UGD.
__ADS_1
Dua orang perawat langsung membantu mengangkat tubuh Ranga, Radit menunggu di luar bersama Fasial, walau ia dokter tidak sembarangan untuk masuk ke dalam.
"Lo udah hubungi bininya?" tanya Radit.
"Gue nggak tahu harus ngomong apa?" Faisal mengusap wajahnya kasar.
Faisal mengirim pesan kepada Satya untuk segera ke rumah sakit, yang ia share lokasinya. Sudah satu jam belum ada tanda dokter keluar dari ruang UGD.
Radit begitu khawatir karena Rangga tidak sendiri ada Radit ada istri yang ia jaga nanti, tak lama Satya m ayah Nugraha Bunda datang dengan wajah panik.
"Ada apa?" tanya Satya.
"Ranga," kata Fasial.
"Ranga," Bunda terkejut.
Radit menceritakan kepada Bunda dan Ayah Nugraha, apa yang sebenarnya terjadi, mendengar itu Bunda menangis histeris di pelukan Suaminya,. Satya mengepalkan kedua tangannya, dari dulu apa yang ditakutkan saat Ranga mengikuti lomba di arena balap liar.
"Kenapa enggak lo cegah!" kata Satya menatap Radit dan Faizal bergantian.
"kita udah ingatkan dia, pas lihat ia datang sendiri gue juga kaget," ujar Fasial.
"Sat, hubungi Leon untuk membawa Diana!" titah Ayah Nugraha.
Satya langsung mengirimkan pesan kepada Leon, tak alam ia mendapatkan balasan dari sepupu Diana itu.
Semua masih menunggu dengan was-was, bunda masih didekapannya suaminya sadari tadi, tubuhnya rasanya tidak bertulang saat mendengar kalau anaknya kecelakaan seperti apa yang Arga dan satya alami dulu.
"Sat, apa Ranga ada masalah?" tanya Feisal.
"Setahu gue enggak ada." Satay menjawab sambil berdiri menatap Bundanya yang menangis pilu itu. Tak lama pintu UGD terbuka bersamaan Diana dan yang lainnya datang.
"Bagaimana Dok?" tanya Ayah Nugraha.
Dokter itu menatap Ayah Nugraha, dan berkata." pasien mengalami benturan, itu ia beruntung helm di kepalanya tidak lepas."
"Maksud Dokter Ranga belum sadar." Fasial yang bisa membaca maksud dokter di depannya.
"Ada apa ini, siapa yang sakit?" tanya Diana sudah menangis karena tidak melihat suaminya.
bersambung ya
__ADS_1