PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 31


__ADS_3

Semua yang ada di ruangan terlihat tegang, kecuali Senja yang sibuk melukis di punggung Satya.


Arnold memberi kode jangan sampai ada yang bersuara, semua yang ada di situ menganggukkan kepalanya tanda mengerti, sedangkan Satya membisikkan sesuatu kepada istrinya supaya tidak bersuara, Senja hanya mengangkat tangan membentuk Oke.


"Halo, Assalamualaikum Pak," kata Arnold saat mengangkat telepon dari Pak Roby.


"Bagaimana, apa Satya ada di rumah Yoga?" tanya Pak Roby kepada Arnold dari seberang sana.


"Sekarang saya sudah mengawasi rumah Yoga Pak, tapi belum ada yang keluar rumah," jawab Arnold.


"Hufff...., Nenekmu itu selalu membuatku kesal, setiap di suruh selalu menangis!" kata Pak Roby terdengar menghela nafas panjang.


"Nanti saya coba hubungi Nenek, Pak," jawab Arnold.


Setelah itu sambungan telepon di matikan oleh Pak Roby, sekarang semua mata menatap ke arah Nenek Wati, membuat Nenek Wati menjadi gugup dan salah tingkah.


"Nenek, katakan apa yang Papa katakan?" tanya Mentari dengan lembut.


Nenek Wati tiba-tiba menangis, membuat Mentari jadi bingung, Senja memeluk Nenek Wati untuk menenangkannya.


"Nenek jangan takut, Insyaallah kami akan melindungi Nenek," ujar Senja sambil melepaskan pelukannya.


"Tadi Pak Roby menyuruh saya untuk, masuk kamar nak Yoga, untuk mengambil dokumen yang di butuhkan Pak Roby," jawab Nenek sambil terisak.


"Dokumen apa maksudnya, Nek?" tanya Yoga.


"Dokumen, rumah dan perusahaan Nak," jawab Nenek.


Yoga terduduk di sofa dengan lemas, di pejamkan matanya untuk mengontrol emosi yang siap meledak, atas ulah mertuanya. Menteri menangis mendengar ucapan Nenek Wati.


"Kenapa Papa lakukan itu, apa dengan kita berpisah Papa akan berhenti menganggumu, Mas," ucap Mentari yang malu dengan sikap orang tuanya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja, makanya kita harus bisa mengimbangi Papa," ucap Yoga sambil memeluk tubuh langsing Istrinya.


Senja melihat kedua orang tuanya sangat sedih, apa lagi saat mendengar suara Kakek Roby tadi, ada rasa yang susah di ungkapkan oleh Senja, kalau di bilang kangen tentu saja itu dirasakannya.


Satya yang menyadari Istrinya sedang melamun tersenyum sambil mengusap punggung tangan Senja dengan lembut.

__ADS_1


"Jangan terlalu di fikirkan, Mmy," ucap Satya lembut.


"Bby, Mmy takut Kakek semakin nekat," ucap Senja sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Sayang, percayalah sama Bby," jawab Satya kemudian mengecup kening Senja.


Sedangkan di sofa sebrang Yoga, Arnold sedang menenangkan Neneknya, Arnold begitu sedih melihat Nenek yang sudah usia tua, masih di bebani oleh anak dan cucunya.


"Nenek aman di sini, nanti Arnold akan membawa Suci untuk menjenguk Nenek, sekarang Suci sedang kuliah Nek," ucap Arnold sambil mengusap dengan lembut tangan yang sudah keriput di makan usia, andai Ibunya masih ada, mungkin Arnold tidak akan mengalami hal seperti ini.


Ayah Ronald yang seharusnya menjadikan panutan, semenjak Ibunya meninggal mulai berubah tidak acuh kepada keluarganya. terlebih lagi Ronald jarang pulang kerumahnya waktu masih menetap di Surabaya.


Arnol tersenyum setelah melihat wanita yang begitu berjasa merawatnya sudah mulai tenang.


Senja melihat itu berdiri menghampiri Nenek Wati.


"Nek, Nenek istirahat saja, ayo Senja antar," ucap Senja sambil membantu Nenek Wati berdiri, Senja berjalan sambil memapah Nenek Wati dengan hati-hati.


Arnold melihat itu tersenyum, ternyata Mentari tidak salah mendidik anaknya. Satya melihat sahabatnya memperhatikan Istrinya sampai masuk kamar tamu langsung melempar bantal sofa ke arah Arnold.


Arnold yang tidak menyadari ada bantal melayang tepat mengenai wajahnya terkejut, dan menatap tajam ke Satya.


Mendengar ucapan Satya, Arnold baru menyadari kalau Satya tahu dirinya sedang memperhatikan Senja, pada hal sejujurnya Arnold kagum dengan ketegaran Senja.


"Lo kira gue perhatiin bini lo!" jawab Arnold tidak kalah sengit menatap Satya.


Senja yang baru datang melihat Arnold sedang menatap suaminya menjadi geram, Senja yang tahu kelemahan Arnold, langsung berhambur memeluk Satya membuat tubuh Satya terdorong menjadi bersandar di sofa, melihat posisi Satya seperti itu, Senja duduk di pangkuan suaminya. Membuat Arnold dan Yoga yang sedang menenangkan Istrinya melebarkan matanya.


"Woi..., kekamar sana kalau mau mesra-mesaran!" teriak Arnold, yang membuat Mentari menoleh ke Arnold.


Mentari terkejut melihat posisi Senja dan Satya, di saat sedang ada tamu, Mentari yang yakin ini ulah anaknya segera berdiri menghampiri Senja.


"Auuuu..., Ibu ampun," ucap Senja yang merasa kesakitan, karena Mentari lagi-lagi menjewer telinga Senja.


"Kamu itu ya! enggak ada sopan-sopannya sama tamu, kamu juga Satya sebagai suami harus tegas!" bentak Mentari kepada Satya dan Senja.


Semua yang ada di situ terkejut, Senja yang sudah turun dari pangkuan Satya, kini duduk di samping Ibunya, Satya mengusap wajahnya dengan kasar merasa emosi akan meledak, karena baru kali ini ada wanita yang membentaknya, kalau saja bukan mertuanya entah apa yang akan Satya lakukan tadi.

__ADS_1


"Gue keluar bentar!" ucap Satya dingin, yang langsung pergi keluar membuat yang lain terdiam.


Yoga yang tahu betul bagaimana Satya hanya bisa memijat pelipisnya, Yoga yakin Satya berusah menahan emosinya tadi. Senja yang masih menunduk akhirnya meninggalkan ruang tamu menuju kekamarnya.


Arnold yang melihat suasana sudah tidak kondusif pamit pulang kepada Yoga yang hanya ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Yoga.


Yoga pergi meninggalkan Mentari di ruang tamu sendirian menuju ke ruang kerjanya, supaya Mentari bisa menenangkan dirinya. Mentari yang tinggal sendiri menyadari kesalahannya, tapi itu tidak sepenuhnya kesalahannya karena Senja dan Satya sudah keterlaluan tidak tahu tempat melakukannya.


Sedangkan Satya yang sedang melajukan mobilnya Yoga dengan kecepatan tinggi membelah jalan sepi di area balap, suara rem mobil berdecit saat Satya yang sedang melaju dengan kencang langsung mengerem mendadak membuat mobil susah di kendalikan akhirnya keluar jalur terdengar suara yang kuat.


Brakkkk mobil yang dikemudikan Satya yang hilang kendali menabrak pohon besar sejauh 100 meter dari area balap. melihat itu seorang lelaki paruh baya segera memanggil rekan-rekannya untuk membantu korban.


Sedangkan di kediaman Yoga, Senja yang haus menuju kedapur untuk minum, saat sedang memegang gelas tiba-tiba gelasnya terjatuh.


Prang! suara gelas yang terjatuh membuat Mentari yang masih berdiam diri di ruang tamu terkejut, segera melihat kedapur apa yang terjadi.


Mentari melihat Senja mematung menatap gelas yang sudah hancur terburai terkejut.


"Sayang," ucap Mentari kemudian menghampiri Senja dan memeluknya dengan erat.


Yoga berlari menuruni tangga saat mendengar benda pecah, sampai ujung tangga, Yoga melihat Mentari memeluk Senja, sedangkan Senja hanya diam dengan tatapan kosong kedepan.


Tak lama handphonenya Yoga berdering, ada Nomer yang tidak di kenalnya, Yoga mengabaikan panggilan tersebut, memilih menghampiri anak dan Istrinya.


Yoga melihat pecahan gelas berserak di dekat kaki Senja, merasa bingung apa yang terjadi pada anaknya.


"Sayang, ayo kita ke ruang keluarga," ucap Yoga kemudian memapah Senja di bantu oleh Mentari.


"Apa yang terjadi?" tanya Yoga kepada Mentari.


Mentari hanya menggelengkan kepalanya, karena saat dia datang Senja sudah berdiri mematung melihat gelas yang sudah tak berbentuk lagi.


Bersambung ya....


Jangan lupa dukung Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like 👍 dan votenya, kalau suka silahkan berikan hadiahnya.🙏


Jangan lupa baca juga karya Aa yang berjudul MENIKAH MUDA, dengan cara klik profil Aa ya

__ADS_1



__ADS_2