
Sore ini cuaca begitu panas, Yoga yang baru sampai dirumah segera membersihkan diri. Ia membuka kamar pelan-pelan, tapi Istrinya tidak ada. Hanya terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Pria berbadan kekar itu yang tahu betul kebiasaan Istrinya saat mandi, segera melepaskan seluruh pakaiannya. Berlahan dibukanya pintu kamar mandi, kemudian tersenyum saat melihat wanita yang sangat dicintainya sedang berendam.
Mentari yang sedang memejamkan mata, tidak menyadari kedatangan suaminya. Suara air dari shower yang tidak ia matikan membuatnya lebih menikmati berendamnya.
Tiba-tiba ia merasa sentuhan dibahunya, Mentari yang merasakan ada orang lain selain dirinya segera membuka mata. Dia begitu terkejut saat melihat suaminya hanya melilitkan handuk dipinggangnya.
"Mas...ih... kebiasaan deh," katanya sambil cemberut.
Yoga menyentil kening istrinya, "yang kebiasaan tidak mengunci kamar mandi siapa!" kata Yoga.
"Hehehe....maaf," ucapnya
"Kamu itu yang sembrono, kamar mandi tidak dikunci. Lihat shower juga enggak kamu matikan" ucap Yoga.
"Ia...maaf," jawab Mentari lagi.
"Tapi ingat sebagai hukumannya kita mandi berdua ya," rayu Yoga.
Mentari hanya bisa pasrah, saat suaminya ikut masuk dalam bathtub. Keduanya tidak hanya mandi, tapi juga melakukan olahraga sore.
Setelah satu jam kini keduanya sama-sama keluar dari kamar mandi, Mentari segera mengambilkan pakaian untuk suami dan dirinya.
"Mas.. tumben pulang cepat, bukannya tadi Mas akan lembur?" tanya Mentari.
"Ia sayang, tapi ada yang harus membuatku pulang cepat," kata Yoga sambil tersenyum.
"Udah deh... jangan mulai!" kata Mentari yang tahu arah pembicaraan suaminya.
Yoga hanya terkekeh, kemudian ia menepuk sofa kosong disampingnya. Bagaimana pun juga istrinya harus tahu yang sebenarnya, Mentari kini duduk sambil menatap wajah suaminya.
"Ada apa, Mas?" tanya Mentari yang merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Yoga.
"Sayang, apapun yang aku sampaikan nanti. Jangan terlalu banyak pikiran yang akan mempengaruhi kondisimu," ucap Yoga.
"Ia Mas," jawab Mentari yang begitu penasaran.
Yoga mulai menceritakan semuanya kepada istrinya, kalau Om Ronald dan Mama Marni sudah berkerja sama untuk menguasai Perusahaan Papa Roby.
Mentari terdiam, ia begitu shock mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Mamanya tega melakukan hal itu kepada Papanya, Mentari mengusap air matanya yang masih berlinang.
"Mas, Papa pasti sangat kecewa," ucap Mentari.
"Ia sayang, dan ada lagi yang harus kamu ketahui." kata Yoga.
__ADS_1
"Apa lagi, Mas? Katakan saja apapun yang terjadi Aku harus mengetahuinya," ucap Mentari.
Yoga menarik nafas panjang, kemudian ia menceritakan kalau Mama Marni mempunyai hubungan dengan Om Ronald. Dari hubungan lahirlah Rendy.
Mentari lebih terkejut, ia menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Mamanya melakukan hal menjijikkan itu, dia ingat kalau Mama Marni paling tidak suka dengan penghianatan.
Yang lebih membuatnya shock, kalau Rendy adalah anaknya Ronald. Mentari begitu sedih kenapa masalah keluarganya semakin runyam, Yoga yang melihat istrinya begitu terpuruk mendengar kabar yang baru ia sampaikan.
Dipeluknya Istrinya, karena tangis Mentari begitu pilu. Ia membenamkan kepala wanita yang begitu berarti ke dada bidangnya.
"Sekarang bagaimana dengan mereka Mas?" tanya Mentari.
"Kamu harus kuat sayang, Mama kini ditahan dan Rendy ikut sama Papa Roby.
"Aku ingin pulang ke Surabaya," kata Mentari sambil terisak.
" Ia kita besok pagi pulang ya," jawab Arga.
Mentari menganguk, ia memeluk suaminya begitu erat. Dipejamkannya matanya ia begitu lelah memikirkan masalah dalam keluarganya.
Tak berapa lama Mentari sudah tertidur karna kelelahan akibat olahraga sore ditambah menangis.
Yoga segera memindahkan Istrinya ke ranjang dengan pelan-pelan, kemudian ia keluar kamar menuju ruang kerjanya.
Dikediaman rumah Ayah Nugraha, malam ini setelah selesai makan malam seperti biasanya mereka berkumpul di ruang keluarga.
Bunda juga meminta Satya dan istrinya untuk menginap beberapa hari di rumahnya, walau sebelumnya Satya keberatan.
"Nak, apa Mentari sudah tahu, masalah keluarganya?" tanya Ayah Nugraha.
"Kemarin siap sidang Satya suduh hubungi Yoga, Yah," jawabnya.
"Syukurlah, semoga Mentari bisa menerima kenyataan yang ada," jawab Ayah Nugraha sambil mengusap wajahnya.
"Tapi Yah, Senja belum tahu!" kata Satya sambil cengengesan.
"Astagfirullah, kamu ini seharusnya istrimu dulu tahu." kata Ayah sambil menggelengkan kepalanya.
"Kemarin sudah mau cerita, tapi maaf siap acara bakar-bakar Satya memenuhi kewajiban sebagai suami," kata Satya sambil menggeser duduknya dari Ayahnya.
Ayah Nugraha terkejut, tapi saat ia akan melemparkan bantal sofa ke Satya, anaknya sudah duduk disamping Bunda dengan terkekeh.
Bunda melihat Satya dan suaminya hanya menggelengkan kepalanya, Satya walau sudah menikah ia selalu manja dengan Bundanya.
Karena malam sudah larut, satu-persatu mulai pamit untuk istirahat. Namun, Senja dan Satya masih duduk diruang tengah.
__ADS_1
Ayah Nugraha melihat lampu masih menyala segera berjalan keruang tengah, tapi langkahnya terhenti saat mendengar Senja menangis.
Satya dengan lembut menenangkan Istrinya, Arga dan Ranga yang melihat itu merasa iba. Ayah Nugraha duduk disamping Senja yang kini sedang menangis dipelukan suaminya.
"Nak, Ayah yakin semua akan baik-baik saja," kata Ayah Nugraha.
"Bagaimana dengan Ibu," kata Senja.
"Besok Ayah dan Ibu datang ikut penerbangan pagi, kita harus menghibur Kakek dan Om Rendy," kata Satya.
"Bby tidak marah sama Kakek?" tanya Senja.
"Tidak sayang, kita jangan ikut menghakimi mereka atas kesalahannya," jawab Satya.
Ayah Nugraha tersenyum memang benar apa yang dikatakan anaknya, jangan pernah menilai seseorang dengan keburukan dan kesalahannya. Namun, lihat juga kebaikannya dan cara ia memperbaiki kesalahannya.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan dalam hidup, karena tidak ada manusia yang sempurna. Kesalahan bisa menjadi bahan untuk instropeksi diri," kata Ayah Nugraha menambahi sambil tersenyum menatap menantunya.
Arga merasa sangat beruntung bisa menjadi salah satu bagian dari keluarga Ayah Nugraha, dia selalu mengingatkan kepada anak-anaknya untuk tidak menilai seseorang dari Baik atau buruk, benar atau salah keputusan yang diambil seseorang. Namun, bukan hak kita untuk memberikan penghakiman. Sebab kita tidak pernah tahu apa saja yang sudah pernah mereka lalui dalam hidup.
Arga juga yakin, Rendy dan Mentari pasti bisa melalui hal yang kini menerpa keluarga besarnya.
Ia juga melihat bagaimana terpuruknya Rendy, saat mengetahui kalau dirinya bukan anak dari Papa Roby.
Ranga yang melihat saudara kembarnya melamun, hanya menarik nafas panjang.
"Bang...," panggil Ranga.
"Apa?...tumben lo panggil gue Bang!" kata Arga.
"Yeilah... Bang...gitu Amir!" kata Ranga sambil melempar bantal sofa kearah Arga.
"Aduh... Om Ranga Yang ada gitu amat," sela Senja.
"Amat lagi pulang kampung!" jawab Ranga sambil tertawa.
"Arga...," panggil Ayah Nugraha.
"Ia Yah, ada apa?" kata Arga merasa ada sesuatu yang akan Ayah Nugraha sampaikan.
"Kapan kamu rencana menikah dengan Suci?" tanyanya.
Arga tersenyum menatap lelaki paruh baya yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri, karena semenjak kedua orang tuanya meninggal Ayah dan Bundalah yang merawatnya dan Ranga tanpa membedakan dengan Satya.
Bersambung ...jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1