
Semuanya terlihat cemas menunggu di luar, Mama Marni menangis dipelukan Mentari. Satya menenangkan Istrinya yang terus menangis.
Rendi terlihat mondar-mandir di depan pintu ruang rawat Papa Robi, Yoga hanya berdiri bersandar di dinding sambil sesekali mengusap wajahnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Mam, kenapa Papa sampai terkena serangan jantung?" tanya Mentari saat melihat Mama Marni sudah lebih tenang.
Senja yang mendengar ibunya menanyakan apa yang terjadi, kemudian dia bersujud di kaki Mentari untuk meminta maaf.
Yoga segera mendekati anaknya ditariknya Senja ke dalam pelukannya, Ia merasakan hatinya begitu sakit melihat anak dan istrinya bersedih.
"Ini bukan salahmu, Nak. Kita doakan semoga Kakek tidak apa-apa," ucap lelaki yang begitu menyayangi anak semata wayangnya.
Yoga membantu senja untuk duduk di samping Satya, dia begitu tidak tega melihat anaknya yang selalu merasa bersalah, karena Kakeknya menjadi seperti ini karena ulahnya.
Mentari menghampiri Senja diusapnya kepala Anaknya dengan lembut, berharap dia berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
Tak Berapa lama Dokter Intan keluar, menatap semua yang ada di situ dengan tatapan yang susah diartikan.
"Bagaimana dengan Papa Dok?" tanya Randy yang langsung menghampirinya.
Dokter Intan hanya menunduk setelah itu ditatapnya wajah Rendy.
"Maaf, Pak Roby kembali kritis sebaiknya kita pindahkan kembali ke ruang ICU," ucap Dokter Intan.
"Baik Dok berikan perawatan yang terbaik buat Papa saya," jawab Rendy.
Kemudian Suster dan Dokter Intan memindahkan Papa Roby ke ruang ICU, mereka semua berpindah ke ruang tunggu depan ruang ICU.
"Kak, sebaiknya Kakak pulang dulu sama Mama dan Mas Yoga untuk istirahat." kata Rendy.
Mama Marni hanya terdiam sambil menunduk, terlihat raut kesedihan dimatanya. Namun, Ia tetap bertahan untuk tetap berada di rumah sakit.
Yoga melihat Mama mertuanya yang tidak mau diajak pulang untuk istirahat segera menghampirinya, kemudian dia berjongkok didepan Mama Marni.
"Mama tidak ingin' kan, waktu Papa sadar melihat Mama sakit," kata Yoga.
Mama Marni hanya menggelengkan kepalanya, membuat Yoga tersenyum.
"Baiklah Mama ikuti pulang, Rendy tolong kasih kabar Mama kalau Papa sudah sadar." ujar Mam Marni.
"Pasti Mam," ucap Rendy sambil memeluk Mamanya.
Satya segera menghampiri istrinya, karena melihat istrinya yang begitu lelah.
"Mmy, pulanglah Nenek dan Ibu sekarang membutuhkan' mu," ucap Satya.
Senja yang mengerti maksud Suaminya hanya mengangguk, kemudian mereka pergi meninggalkan ruang ICU.
__ADS_1
Satya duduk di samping Rendy, keduanya saling diam sibuk dengan pikirannya masing-masing, Tak lama datang wanita cantik memakai baju kantoran mendekat ke arah keduanya.
"Maaf Pak," ucap Popy sambil duduk di samping Rendy sambil membawa berkas yang sangat penting untuk segera ditanda tangani oleh Bosnya.
"Tidak apa-apa, sayang." jawab Rendy sambil mengambil berkas dari tangan Popy.
Satya menatap keduanya sambil mengerutkan keningnya, Rendy yang menyadari kalau Ponakannya itu sedang memperhatikannya tersenyum.
"Kalian?" ucap Satya berhenti.
"Kenapa lo kaget?" tanya Rendy
Satya tersenyum, merasa bahagia akhirnya wanita yang dulu dekat dengannya sekarang menjalin hubungan dengan lelaki yang baik seperti Rendy.
"Selamat ya, Om Rendy dan Tante Popy," kata Satya sambil terkekeh.
Rendy hanya menghela nafas, saat Satya mengucapkan selamat kepadanya.
"Tolong lo rahasiakan dulu tentang hubungan ini," ucap Rendy.
"Kenapa?" tanya Satya.
"Papa dan Mama belum tahu," jawab Rendy.
Satya kembali melihat kearah Rendy dan Popy, dipandangnya bergantian sepasang kekasih yang ada di depannya.
Rendy tersenyum lebar ketika Satya mengatakan kalau Popy wanita yang lembut, tapi Rendy akui itu dulu. Sekarang Popy wanita dingin dan acuh.
Tak lama Popy yang habis melihat Papa Roby di ruang ICU izin kembali ke kantor, Rendy segera berdiri untuk mengantarkan kekasihnya sampai parkiran.
Satya hanya tersenyum, ia tidak menyangka kalau Popy menjadi pribadi yang tertutup sekarang.
Satya berdiri didepan pintu ruang ICU, dilihatnya Kakek Roby berbaring dengan tubuh dipenuhi alat medis. Sebenarnya waktu itu Satya tidak ada niat untuk bicara kasar dengan Kakek, tapi ucapan Kakek saat itu membuatnya emosi.
"Cepat sembuh, Kek" ucap Satya lirih
Kemudian Satya kembali lagi duduk sambil mengecek email yang dikirimkan Arga dan Ranga.
...💞💞💞💞...
Di kediaman Kakek Roby.
Mentari dan Senja sudah sampai depan rumah Kakek Robby mereka masuk rumah, Mentari mengantar Mamanya untuk istirahat di kamar.
Senja dan Yoga masih duduk di ruang keluarga mereka hanya diam, Senja mulai menyalakan televisi untuk menonton acara favoritnya.
"Ayah, apa menurutmu Kakek akan baik-baik saja," tanya Senja.
__ADS_1
"Bantu doa sayang, semoga Kakek segera sadar, dan melewati masa kritisnya," jawab Yoga sambil mengusap kepala anaknya.
"Ia Ayah," jawab Senja sambil menyandarkan kepalanya di bahu lelaki yang sangat dirindukannya bertahun-tahun itu.
Tak lama Mentari menghampir suami dan anaknya, dia tersenyum saat melihat Senja tertidur sambil bersandar di bahu Yoga.
"Sayang biarkan seperti ini, dulu Mas sangat menginginkannya." kata Yoga.
"Ia Mas, dia dulu lucu dan menggemaskan," ucap Mentari sambil duduk disamping Suaminya.
Yoga tersenyum, tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur karena bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya lagi.
"Mas...," panggil Mentari sambil menyandarkan kepalanya di bahu suami.
"Hemmm...," jawab Yoga.
"Semoga Papa cepat melewati masa kritisnya, Mentari ingin minta Maaf dan mohon restu untuk rumah tangga kita," ujar Mentari sambil mengusap air matanya.
"Iya, kita doakan supaya Papa cepat sadar." jawab Yoga.
"Amiin," jawab Mentari.
Mereka larut dalam keheningan, Yoga bagai mimpi bisa kembali kerumah yang sudah 18 tahun Ia tinggalkan. Tidak banyak yang berubah dari rumah ini.
Seulas senyum saat matanya melihat tangga, dulu sering kejar-kejaran bersama istrinya yang akhirnya di marahi oleh Papa Roby.
Menikah saat masih kuliah, dan sering dapat sindiran dari mertuanya membuat Yoga ingin mempunyai usaha sendiri dengan meninggalkan anak dan istrinya atas permintaan Papa Roby.
Sering mendapatkan ancaman Papa Roby, membuat Yoga menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah untuk membangun perusahaan sendiri atas bantuan Satya dan Ayah Nugraha.
Tidak mudah bagi Yoga untuk mencapai kesuksesan sekarang ini, selalu hidup dalam bayang-bayang mertuanya. Namun, dirinya selalu dikelilingi orang-orang yang mendukungnya saat dirinya donw.
Mentari melihat suaminya yang termenung menjadi khawatir, diusapnya pipi Yoga dengan lembut membuat Yoga menatapnya dengan pandangan yang susah diartikan.
"Mikirin apa Mas?" tanya Mentari lembut.
"Tidak ada sayang, sebentar ya Mas pindahin anak manja ini dulu," kata Yoga kemudian mengangkat tubuh Senja.
Mentari hanya tersenyum melihat punggung Suaminya yang mulai menaiki tangga, tapi ada yang menggangu pikirannya saat ini.
Tiba-tiba handphonenya berdering ada panggilan dari Rendy, Mentari menarik nafas panjang sebelum mengangkat teleponnya.
"Halo," kata Mentari sambil menutup mulutnya saat mendengar apa yang di sampaikan oleh adiknya dari seberang sana, air matanya mengalir tanpa ia sadari handpone ditangannya terjatuh ke lantai. saat tubuhnya merosot ke lantai segera ditangkap oleh Yoga.
Bersambung ya...
jangan lupa tinggalkan jejak,.💞💞🌹🌹
__ADS_1