PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 138


__ADS_3

Bik Sum yang reflek langsung menarik Yoga untuk ikut tiarap di lantai, yang lebih menggelikan buat Satya Yoga menurut saja ikut tiarap.


Mentari yang melihat anaknya berjongkok sedangkan Bik Sum dan suaminya tiarap seperti adegan film yang baisa di tonton oleh suaminya.


Satya yang tak tahan lagi langsung tertawa lepas, apa lagi saat Bik Sum menarik Yoga untuk ikut tiarap seakan akan ada bom yang meledak.


Mentari yang tahu ini pasti ulah anaknya segera duduk di samping Senja, tanpa di duga Mentari menarik telinga Senja.


"Au, Ibu Sakit. ampun janji enggak ulangi lagi," katanya sambil menangkupkan kedua tangannya dada.


Satya tak bisa berbuat apa-apa saat mertuanya menarik telinga istrinya, karena ia tahu bukan hanya kali ini saja Senja melakukannya.


"Kamu selalu janji tidak akan melakukan lagi, tapi apa buktinya, hah!" bentak Mentari.


Yoga hanya bisa mengusap wajahnya menyadari hal konyol yang baru saja ia lakukan dengan Bik Sum, apa lagi sampai istrinya melihat semuanya, ada rasa kesal dan malu yang ia rasakan sekarang.


Yoga segera pergi meninggalkan semuanya menuju lantai dua, ia tak tahu apa yang akan di katakan kepada Mentari? belum sanggup bicara dengan istrinya saat ini seumur hidup baru sekali ini dia merasa melakukan kebodohan menurutnya.


Bik Sum yang merasa bersalah hanya menatap Yoga saat menaiki tangga, sedangkan Mentari masih menatap Senja dengan menggelengkan kepalanya.


"Satya sebaiknya kamu bawa istrimu untuk istirahat!" titah Mentari tanpa menatap anak dan menantunya.


"Baik Bu."


Senja hanya menurut saja saat suaminya berdiri sambil mengulurkan tangannya, Senja menyambut tangan Satya kemudian keduanya berjalan menuju ke kamarnya yang terletak di lantai dua.


Sesampainya di kamar Senja langsung naik ke ranjangnya sambil bersandar headboard ranjangnya.


"Apa Bby juga mau marah padaku?" tanyanya sambil menatap suaminya yang baru keluar dari kamar mandi.


Satya menghampiri wanita yang kini sedang mengandung darah dagingnya itu, di usapnya kepala Senja dengan lembut kemudian ia mendaratkan kecupan kepala istrinya.


"Aku suamimu, bukan berarti kalau kamu salah hanya ku diamkan saja. Sebelumnya Bby sudah pernah mengatakan jangan kamu kerjain Bik sum lagi, kasihan dia sudah tua. Ya, Alhamdulillah beliau sekarang tidak apa-apa, tapi sempat terjadi apa-apa bagaimana?" tanya Satya sambil menatap istrinya tak lupa pria itu mengusap punggung tangan wanita yang begitu di cintainya.


"Maaf," kata Senja dengan lirih.

__ADS_1


Satya tersenyum, di peluknya tubuh istrinya dari samping, tangannya sambil mengusap perut Senja.


"Nanti mintalah maaf kepada Bik Sum, Ayah dan Ibu. Buktikan ke mereka kalau kamu tidak akan usil lagi kepada Bik Sum!" titah Satya sambil mengecup bibir istrinya sekilas.


Senja hanya menganggukkan kepalanya, wanita itu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Ia dapat merasakan aroma maskulin dari tubuh Satya, pria itu hanya tersenyum saat istrinya mulai mencium dadanya.


"Buka bajunya boleh, Mmy suka aroma tubuh Bby," ucapnya sambil memohon.


Satya hanya mengangguk kemudian ia melepaskan kaos nya, melihat pemandangan di depannya mata Senja begitu berbinar tanpa menunggu lama ia langsung mengendus aroma tubuh suaminya.


Saat Senja mencium ketiak Satya, pria itu terkejut.


"Sayang itu bau," ucapnya yang akan menyingkirkan kepala istrinya.


"Mmy suka aromanya," jawabnya sambil mengendus ketiak Satya.


Satya terkejut, apa ini bawakan bayinya karena baru sekali ini Senja bertingkah aneh seperti ini, Satya segera menarik tubuh istrinya ke pangkuannya supaya lebih mudah menjangkau dada dan ketiak nya.


Ada rasa geli dan desiran yang membuat Satya memejamkan matanya saat istrinya kadang gemes mencubit dadanya.


Namun lama-lama Satya tak tahan juga di pegangnya dagu istrinya dengan lembut tak lama ia langsung menyesap bibir merah alami milik istrinya. Senja yang tahu suaminya menginginkan lebih dari itu segera membalasnya.


Di kamar itu menjadi saksi panasnya olah raga kedua insan yang sedang meluapkan rasa cinta dan sayangnya, Satya tersenyum sambil mengecup kening istrinya setelah itu ia menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya yang kini merasa lelah karena olah raga sore.


"By, langsung mandi aja sebentar lagi magrib," kata Senja sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Satya langsung bangun dan berjalan tanpa menutupi tubuh polosnya menuju kamar mandi, Senja yang melihat itu hanya bisa menelan salvianya. wanita itu merasa aneh setelah kehamilannya memasuki usia enam bulan hasratnya semakin tinggi saat melihat suaminya.


Senja langsung menggelengkan kepalanya, apa ini pengaruh hormon kehamilannya atau hanya pikiran mesumnya saja.


Satya yang sudah selesai membersihkan tubuhnya keluar hanya menggunakan handuk yang di lilit kan di pinggangnya. Senja yang melihat itu langsung memukul kepalanya sendiri untuk membuang pikiran kotornya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Satya panik saat melihat Senja memukul kepalanya sendiri.


Senja yang terkejut hanya tersenyum menatap suaminya, " ah ... enggak apa-apa, Sayang."

__ADS_1


Satya yang melihat istrinya menutup pintu kamar mandi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pria itu segera memakai baju, kemudian sambil menunggu azan magrib dia duduk di sofa kamarnya.


Setelah lima belas menit Senja selesai membersihkan tubuhnya, dia segera mengambil pakaian. Tanpa Senja Sadari Satya memperhatikan istrinya.


Pria itu merasa ada yang berubah dari sang istri selama dirinya sampai di Jakarta. Satya mulai memperhatikan wanita yang kini sedang menyisir rambutnya yang di biarkan basah.


"Sayang, kamu nanti akan masuk angin kalau rambutmu tidak di keringkan," kata Satya mengingatkan istrinya sambil melangkah ke arah laci meja rias untuk mengambil hairdryer.


Satya membantu sang istri mengeringkan rambutnya, sebenarnya Senja kurang suka menggunakan hairdryer karena terasa panas di kulit kepalanya. wanita itu lebih suka mengeringkan rambutnya dengan kipas kecil saat di rumah suaminya.


Setelah memastikan rambut istrinya kering Satya ,menghentikan tangannya kemudian menyimpan hairdryer itu ke tempat semula.


Tak lama terdengar azan magrib, keduanya sholat berjamaah di rumah. setelah selesai menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim sepasang suami istri itu kemudian keluar kamar untuk makan malam.


Yoga yang melihat anak dan menantunya menuruni tangga sambil berpegangan tangan terlihat begitu bahagia.


"Ayah , Ibu. Maafin Senja ya, janji enggak akan kerjain Bik Sum lagi," ucapnya sambil memeluk kedua orang tuanya yang sedang duduk berdampingan di meja makan.


Yoga hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Kakek pasti sedih kalau kamu masih suka jahil kepada Bik Sum," kata Mentari supaya anaknya tak mengulangi kesalahan yang sama kepada wanita yang telah merawatnya dari kecil itu.


Tak lama Bik Sum datang membawa sop yang masih terlihat asapnya ,mengepul. Satya yang melihat istrinya akan menghampiri wanita paruh baya itu langsung mencekal tangan istrinya.


Senja terkejut saat Satya mencekal tangannya walau tidak sakit, tapi ia hanya diam dan kembali lagi duduk di kursinya.


Setelah Bik Sum meletak kuah sop di atas meja, barulah Satya melepaskan tangan istrinya.


Senja yang baru menyadari tujuan suaminya hanya tersenyum, kemudian ia berdiri langsung memeluk wanita paruh baya itu dari samping hingga membuatnya terkejut.


"Eh ...keong racun," latahnya sambil cemberut menatap Nona kecilnya itu.


Mentari dan Yoga serta Satya hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Senja mengejutkan Bik Sum lagi.


Tak lama Senja kembali lagi duduk di samping suaminya. kini mereka makan bersama hanya terdengar dentingan sendok dan garpu saat mereka makan.


Jangan lupa kasih like dan komen, votenya

__ADS_1


__ADS_2