PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Ranga manja


__ADS_3

Diana melihat suaminya diejek seperti itu hanya tersenyum, ia baru tahu kalau pria yang kini sudah menjadi suaminya ternyata begitu manja dengan Bunda dan Ayah Nugraha. Mentari melihat mata Ranga sudah berkaca-kaca langsung mencubit pinggang suaminya.


"Aduh, sakit," kata Yoga sambil mengusap pinggangnya.


"Kamu itu usil!" seru Mentari.


Arga dan Suci tersenyum sedangkan Ranga langsung beranjak berdiri meninggalkan  ruang keluarga. Melihat itu Bunda hanya tersenyum, dulu saat Rangga begitu ia akan menyusulnya dan membujuk, tapi kini putranya itu sudah memiliki istri.


Diana menatap Bunda, seakan memberi kode untuk menyusul suaminya. Melihat mertuanya itu mengangguk Diana langsung berdiri dan berjalan menuju kamar Ranga yang terletak di lantai bahan dekat dengan tangga.


Diana perlahan pembukaan pintu, wanita itu menghela napas panjang saat melihat suaminya telungkup di ranjang dengan tubuh yang bergetar.


"Mas," panggil Diana lembut.


Ranga sebenarnya malu saat seperti ini istrinya melihatnya betapa manjanya dirinya, harusnya tadi bunda yang masuk tentu ia tidak akan malu. Diana mengusap air mata suaminya yang sudah membanjiri kedua pipinya.


"Maaf," kata Ranga sambil menunduk.


Diana tersenyum, ia lebih suka melihat suaminya dari sisi lain seperti ini begitu menggemaskan. Diusapnya punggung tangan Ranga dengan lembut, melihat itu Ranga memeluk istrinya sambil terisak.


"Si tua itu dari dulu seperti itu," adu Ranga.


Diana hanya tersenyum saat suaminya kini sedang mengadu persisi seperti anak berumur lima tahun yang pulang bermain sambil menangis karena diganggu temannya.


"Yang, apa kamu malu dan menyesal melihat aku yang kayak gini," kata Ranga lirih.


Diana tersenyum, entah mengapa tidak ada sama sekali rasa malu akan sikap suaminya saat ini. Wanita itu menerima Ranga dari kekurangan dan akan ia jadikan itu sebagai kelebihannya.


Diana tersenyum saat mendengar dengkuran suaminya, perlahan ia membaringkan tubuh suaminya.


Setelah itu Diana keluar kamar membiarkan Ranga tidur. Sampai di dapur Bunda melihat menantunya itu sudah ke luar tersenyum.


"Apa sudah tidur, Nak?" tanya Bunda .

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah Bun," jawab Diana.


Bunda mengajak Diana untuk mengobrol di taman belakang. Keduanya duduk sambil bersantai.


"Apa kamu terkejut melihat sikap Ranga tadi di kamar?" tanya  Bunda sambil menarik napas panjang.


"Tidak. Itu saya lihat jadi semakin gemes, Bun," jawab Diana terkekeh.


Bunda tersenyum, wanita itu merasa lega karena Diana mau mengerti. Ia menceritakan kalau Ranga itu sejak kecil kurang kasih sayang ibu kandungnya karena kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya.


Diana meneteskan air matanya, ia sudah besar saja kehilangan Ayahnya begitu terpukul, apa lagi suaminya yang masih kecil. Bunda memeluk Diana erat, wanita itu merasa bersyukur karena Diana paham arti kehilangan yang sesungguhnya.


"Sedang mengobrol apa?" tanya Ayah Nugraha.


"Ini putra Ayah tadi mulai lagi, biasa ulah Yoga," ujar Bunda.


Ayah Nugraha hanya tersenyum, ia tahu kalau istrinya itu sedang menjelaskan kepada Diana , kini ketigaan duduk bersama membahas kuliah dan rencana kedepannya.


"Iya, Yah. Bunda sekarang hanya desain saja yang lainya Diana yang mengurus," ujar Diana.


Ayah Nugraha tersenyum, ia percaya kalau Diana menantu yang bisa dipercaya karena sesungguhnya Ranga itu belum bisa mandiri karena itu dijadikan asisten Satya berbeda dengan Arga yang lebih dewasa mungkin karena pengaruh Satya dan Yoga.


Bunda meminta Diana untuk istirahat, karena nanti kalau Ranga bangun pasti akan panik kalau tidak ada istrinya..


***


Di Rumah yang begitu terlihat kotor dan sudah bisa dipastikan sudah lama tidak ditempati, Seorang wanita terlihat sedang duduk sambil menatap kosong. Desti memilih kabur karena tidak ingin berada di rumah sakit itu. Ia bukan gila seperti yang lain.


Desti begitu benci dengan Sari istri dari Ibnu itu, gara-gara wanita itu  pria yang dari dulu ia cintai kini begitu cepat menjauhinya.


"Kak Rahma, walau kau sudah tiada, aku tidak mudah untuk mendapatkannya, nyatanya dia sudah menikah dengan wanita lain," kata Desti sambil terisak.


Desti kini untuk bertemu dengan Ibnu rasanya tidak mungkin, pastinya ia akan dikembalikan ke rumah sakit jiwa lagi. Tak lama senyum mengembang di bibir tipisnya.

__ADS_1


"Kalau aku tidak bisa memilikinya, siapapun akan mengalami hal sama!" seru Desti sambil tertawa.


Desti berpikir jika tidak dapat memiliki Ibnu, Sari dan wanita manapun tidak bisa memilikinya. Wanita itu tersenyum sinis dan beranjak dari duduknya. Ia akan kembali ke apartemennya. Banyak barang-barangnya di sana.


Desti memakai topi berjalan menuju apartemennya, mau naik ojek uang tidak ada di tangan, tetapi ia masih ada tabungan dan perhiasan peninggalan Rahma. 


Sesampai lobby apartemen Desti berhenti sebentar, matanya menatap nanar sekeliling. Ia takut ada petugas atau polisi yang ingin menangkapnya. Merasa semua aman tanpa menunggu lama langsung masuk lift. Selama di dalam hanya ada dia dan dua orang pria yang pakaian formal.


Bunyi pintu lift terbuka, Desti langsung masuk apartemen, dengan sigap ia mengemasi barang-barangnya. keputusannya untuk segera pindah hari ini karena tidak ingin kembali ke rumah sakit jiwa.


Selama dua jam Desti baru selesai membereskan semua barang-barang berharganya, wanita itu menatap sekeliling. ia ingat kemarin menyimpan senjatanya. Perlahan dibukanya pintu kamar mandi, ini waktunya ia menjadi orang yang kejam. Jangankan membunuh orang lain. Kakak kandungnya saja sanggup melakukannya.


Desti berjalan ke arah kloset  dibukanya kota yang berada di atasnya, sebuah pistol yang berisi peluru penuh.


"Siapapun yang memiliki Ibnu harus mati!" kata Desti sambil tersenyum sinis.


Desti keluar dari apartemen dengan jaket warna hitam dan koper besar berisi barang-barangnya. Wanita itu menghentikan taksi yang melintas di depannya.


"Mau kemana, Neng?" tanya sopir taksi itu.


"Ke jalan cendrawasih, Pak," jawab Desti tersenyum.


Taksi itu langsung menuju jaman cenderawasih, di mana dulu Desti tinggal. Ingatannya menerawang saat sang kakak meminta tolong melepaskan cekikikan tangannya. Masih di ingatannya Rahma meregang nyawa karena ulahnya.


Desti tersenyum mengingat saat ia meminta biak-baik kepada Rahma untuk memutuskan Ibnu, tetapi kakaknya tak mengindahkan apa ancamannya. 


Setelah menempuh empat puluh menit taksi itu sampai di depan rumah yang menyimpan kenangan begitu manis saat ia kecil dulu. Sopir taksi membantu mengeluarkan koper, Desti segera membayarnya. Gadis itu membuka pagar rumahnya.


Desti menatap ayunan yang ada di depan garasi mobilnya, di situ Rahma selalu menjaganya begitu hati-hati. Namun, dengan kejam ia renggut nyawa kakaknya.


"Kak, aku pulang. Jangan marah jika aku akan mencelakai istri Ibnu nanti!" kata Desti dengan tatapan membunuh menatap ayunan di depannya seakan Rahma sedang duduk di sana,


Bersambung ya

__ADS_1


__ADS_2