PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 109


__ADS_3

Melihat ayahnya kesal Satya segera menceritakan semuanya, hal itu membuat yang lain lega. Tak lama pintu terbuka Ranga menatap satu persatu semua yang ada, ia masih bingung kenapa semuanya berkempul disini.


“Ada apa ini?” tanya Ranga merasa curiga pasti ada yang tidak ia ketahui.


“Ga, tolong lo hubungi sekretaris Pak Kusuma kalau pertemuan makan siangnya di tunda,” ucap Satya


“What gila lo ya….ini sudah jam 11,30!” katanya yang kesal kenapa tidak dari pagi tadi di batalkan.


“Tolong Nak, kita ada pertemuan keluarga yang akan ikut semuanya,” ucap bunda lembut.


Ranga kalau sudah perintah sang bunda ratu tidak bisa menolaknya hal itu membuat Satya dan yang lainnya tersenyum.


Satu lagi seperti rencanakan hari ini semua ikut makan siang bersama-sama, Satya yang sudah menyuruh Ranga untuk membatalkan makan siangnya dengan Kusuma hal itu dilakukan demi istrinya.


Kini mereka sudah sampai di restoran Ayah Nugraha sengaja memesan menu kesukaan anak-anaknya sehingga mereka bisa makan dengan senang dan tidak terlalu memikirkan apa yang mau dipesan.


Sambil menunggu pesanan datang Yoga kini sedang mengobrol dengan Satya yang terlihat begitu serius.


“Gue harap setelah gue pulang ke Jakarta lo benar-benar menjaganya!” perintah tapi masih seperti mengingatkan menantunya itu.


“Iya pasti gue akan jaga,” jawab Satya.


“Gue percaya, tapi ingat jangan bikin dia lelah,” godanya sambil tersenyum karena Bunda cerita kalau Senja sempat flek karena Satya terlalu kuat goyangnya.


“Gue normal!” katanya dengan kesal.


Senja yang melihat wajah suaminya kesal merasa heran karena suami dan Ayahnya duduk bersebelahan, sedangkan Ayahnya kini sedang senyum-senyum sambil menatap Satya.


Senja bisa menebak kalau keduanya pasti saling ledek, dan tak diragukan lagi kalau suaminya yang di sudutkan.


“Baru kali ini ada mertua dan menatu saling ledek!” kata Ranga sambil mencibirkan bibirnya.


“Makanya cari mertua sana cepat!” katanya ketus


“Cih mertua gue wanita yang lemah lembut,” jawab Ranga.


“Siapa?” tanya Yoga yang sudah malai kepo.


“Bunda Fifi,” sahut Senja.

__ADS_1


Semuanya menatap Senja, sedangkan yang ditatap terlihat cuek. Satya terkekeh melihat Ranga kesal pasalnya dia belum menjawab, tapi sudah kedahuluan Senja.


Tak lama hidangan datang, yang lain terkejut karena menu yang di pesan oleh Ayah Nugraha begitu lengkap hingga mereka bisa saling comot sana sini. Terkadang mereka berebut hal itu membuat Ayah dan bunda tersenyum, Mentari hanya menggelang saat melihat suaminya berebut daging dengan Satya.


Tak sampai situ Ranga yang suka iseng suka mengambil daging milik Rendy, Rendy yang tahu langsung mengambilnya balik.


Senja hanya baru kali ini melihat sisi kocak Ayah dan suaminya saat saling berebut makanan, Bunda hanya tersenyum melihat Mentari dan Senja melihat tingkah suami mereka masing-masih.


“Ini yang Ayah dan bunda rindukan, mereka dulu sering begitu,” ucapnya sambil tersenyum saat Satya mengambil  ikan bakar milik Rendy.


Popy yang tak terkejut lagi melihat tingkah mereka, karena  memang seperti itu saat bertemu.


Setelah selesai menyantap makan siang mereka melanjutkan obrolannya, hal itu yang membuat selalu ada pertengkaran kecil antara Ranga dan Satya dan sebaliknya Satya dengan Ayah mertuanya.


Karena waktu sudah menujukan pukul 14:00 kini semua pulang terpisah Senja ikut suaminya untuk kembali lagi ke kantornya sedangkan Ranga mengantarkan ayah Nugraha dan bunda pulang ke rumah karena mobil Ayahnya  di pakai oleh Yoga.


Setelah sampai di ruangannya Satya langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang kerjanya, tak jauh bedan dengan istrinya. Kedua kekenyangan karena habis dikerjain oleh Ranga dan Yoga.


Kini keduanya hanya saling pandang dan tersenyum mengingat ke seruan tadi di restaurant, Senja yakin dulu ayah dan suaminya begitu menyenangkan.


Apa lagi ia bisa melihat ayahnya tertawa lepas saat dengan keluarga mertuanya,  bisa jadi karena dari bayi ayahnya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya, karena nenek Senja meninggal saat melahirkan ayahnya.


Satya terkekeh mendengarnya, tapi ia tidak boleh tidur waktu jam kerja. Bisa-bisa kinerjanya selama ini buruk di nilai karyawan yang lain nanti. Tak lama Satya mendengar dengkuran halus dari istrinya yang sudah terlelap,


Satya segera mengangkat tubuh istrinya ke ruang pribadinya yang terletak di belakang  lemari buku.


Satya kembali lagi menuju meja kerjanya, kini ia mulai berkutik dengan berkas yang tertunda karena acara makan siang tadi.


Ranga yang baru sampai langsung membawa beberapa berkas dan lektopnya ke arah  sofa, Satya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ranga yang punya meja sendiri kini memilih pindah ke ruang kerjanya .


“Apalagi alasanya?” tanyanya,.


“Gue ngantuk,” jawabnya santai.


“Tidur,” jawabnya singkat


Hal itu membuat Ranga mencibirkan bibirnya, kalau kerjakan sedikit pastinya ia akan tinggal tidur, tapi ini kerjaan banyak. bisa-bisa nanti dirinya lembur berjamaah, pada hal ia ada janji untuk antar ****** Diana pagi dan sorenya. Kini keduanya sibuk masing-masing sambil memperhatikan lektopnya


****

__ADS_1


Sementara di kediaman Ibnu.


Ibnu yang kini tengah duduk santai di ruang keluarga di temani secangkir kopi, tangannya sibuk dengan laporan kerjaan bengkelnya yang dari dulu ia kelola. Sebenarnya itu usahanya Satya tapi karena Satya di suruh memimpin


perusahan ayahnya mau tak mau sekarang di pegangnya.


“Ibnu….” Panggilnya sambil duduk di samping anaknya.


“Apa sih Mama?” tanyanya.


“Kapan kamu akan membawa Sari ke rumah sini lagi!” katanya bukan seperti bertanyaan tapi seperti perintah.


Ibun hanya menarik nafas dalam, ini yang ia takutkan kalau sari sering ke sini, tidak saja hanya mamanya yang khilaf, dirinya juga bisa khilaf.


“Hari ini ia ada janji dengan teman-temannya,” jawabnya enteng padahal Ibnu tahu kalau kekasihnya itu sedang ada di rumah dan akan siap-siap ke rumahnya.


“Huff….ini rumah makin sepi kapan ada suara anak kecil lagi di rumah ini,” sindirnya kepada anaknya.


“Besok kita suruh anak tetangga main ke rumah ya Mam.” Jawab Ibnu sambil tersenyum.


“Dasar anak enggak peka,” gerutu mamanya


Ibnu hanya terkekeh mendengarnya, ia tahu jawabannya nanti pasti akan membuat mamanya menjadi protes dan kesal kepadanya.


Tak lama ada suara yang tak asing bagi Ibnu.


“Assalamualaikum,” ucap Sari sambil tersenyum menatap Ibnu sang dosen killer dan calon mertuanya yang super kece.


“Waalaikumsalam,” kata mama dengan terkejutnya pasalnya lagi-lagi dirinya di kerjain oleh anaknya,


“Ibnu!” teriaknya yang melihat anaknya itu langsung membawa Sari ke lantai dua.


“Mama tenang saja nanti biar ada suara anak kecil yang sesuai Mama inginkan,” jawabnya sambil tersenyum memeluk pinggang Sari.


“Dasar anak pikirannya  mesum mulu!” teriaknya


Sari merasa malu dengan sikap Dosennya saat ini karena dia tidak memberi waktu dirinya untuk menyapa mamanya. Sari sampai di ruang kerja Ibnu cemberut, melihat itu Ibnu tahu alasannya kekasihnya itu marah padanya.


“Jangan marah-marah nanti aku cium,” ancamnya yang membuat Sari melotot!

__ADS_1


__ADS_2