PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 118


__ADS_3

Ibnu melihat reaksi dari Sari terkekeh, gadis itu bukannya menyuruh tamunya masuk malah asik mematung di depan pintu.


Mama Tika ikut tersenyum saat melihat calon menantunya itu hanya mematung.


Dari lantai dua mama Seruni melihat anaknya berdiri di depan pintu merasa heran.


"Siapa sayang," katanya dengan lembut.


"Ini Mam, Mas Ibnu dan keluarganya," jawabnya sambil salah tingkah saat mamanya menepuk pundaknya.


"Astagfirullah kenapa enggak kamu suruh masuk!" katanya sambil memukul lengan anaknya.


"Maaf ya Mbak, Mas...," kata Mama Seruni begitu malu karena ulah anaknya.


"Iya enggak apa-apa," jawabnya sambil tersenyum.


Kini mereka duduk di ruang tamu, Sari masih menunduk saat Papa Erlangga datang.


Mereka saling bersalaman, Papa Erlangga menatap tamunya satu persatu kemudian ia tersenyum.


"Maaf kalau saya mendadak menyuruh Sari untuk menghubungi Ibnu tadi," katanya sambil tersenyum.


"Saya Erlangga, dan ini Seruni isteri saya."


"Maksud saya mengundang Nak Ibnu tadi, karena anak saya minta kado ulang tahun yang membuat saya dan istri saya spot jantung kemarin," ujarnya sambil terkekeh.


"Baiklah sekarang giliran saya memperkenalkan keluarga saya, ini bidadari surga saya Tika dan saya sendiri Bagas," ucapnya sambil tertawa.


Susana terlihat begitu hangat, tidak seperti yang Sari bayangkan tadi. Apa lagi saat melihat keakraban dari Papa Bagas dan Erlangga begitu terlihat seperti sudah mengenalnya dari dulu.


Begitu juga dengan mama Seruni dan mama Tika keduanya malah membicarakan konsep seperti apa pernikahan kedua anak mereka nanti.


"Perasaan belum ada lamaran deh?" Tanya Satya saat mendengar percakapan antara keluarga Sari dan Ibnu.


"Gue enggak ada lamaran, tapi langsung nikah," jawab Ibnu tersenyum.


"Cih sombong lo!" Kata Satya mencibir.


Setelah selesai obrolan mereka kini makan siang bersama-sama, tapi ada yang berbeda dengan raut wajah Papa Erlangga saat ini membuat Sari menjadi resah.


Mereka makan dengan hikmat tanpa ada yang berbicara hanya terdengar dentingan sendok dan garpu.

__ADS_1


Setelah selesai makan mereka kini duduk di ruang keluarga, papa Erlangga lagi-lagi terdengar menarik nafas panjang.


"Sebaiknya dua Minggu lagi saja di adakan pernikahannya, karena saya tidak bisa lama di sini," ujarnya dengan tenang walau dalam hati ada rasa tidak rela melepaskan anak satu-satunya menikah di usia muda.


"Baiklah jika itu keputusanmu," jawab Papa Bagas sambil tersenyum.


Sari baru bisa bernafas lega saat mendengar ucapan dari kedua pihak keluarga, ada rasa yang tak mampu diungkapkan saat ini.


Bahagia, terharu menjadi satu dalam hatinya. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh Ibnu, rasa yang selama ini tidak pernah ia rasakan.


Setelah tanggal sudah ditetapkan, kini papa Bagas dan keluarga pamit. Begitu juga dengan Satya dan istrinya, tapi saat Satya akan masuk mobil di hentikan oleh papa Erlangga.  


"Apa kabar dengan orang tuamu, Nak?" Tanyanya sambil tersenyum.


"Alhamdulillah baik, Om," jawabnya sambil tersenyum begitu juga dengan Senja ikut tersenyum saat mereka memilih mengobrol.


"Sampaikan salam om untuk Ayahmu" katanya sambil menepuk bahu Satya.


Kemudian Satya dan Senja Segera masuk mobil. Senja melambaikan tangannya saat mobil mulai meninggalkan kediaman keluarga Erlangga.


Setelah kepergian Satya, Papa Erlangga menemui Sari di kamarnya.


"Boleh papa masuk," ucapnya saat melihat Sari yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya.


"Banyak tugasnya, Nak?" tanya Papa Erlangga sambil mengusap kepala putrinya yang dulu sering di gendongnya kini akan menikah.


"Sudah selesai, Pa," jawabnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Papanya.


"Kamu ini sudah mau menikah masih saja manja," ledeknya sambil terkekeh.


Sari hanya tersenyum menanggapi ucapan lelaki yang begitu ia inginkan untuk selalu ada di rumah, kini di tatapnya wajah lelaki yang masih terlihat gagah walau umurnya sudah tidak muda lagi itu.


"Pa.... terimakasih," ucapanya sambil tersenyum menatap wajah papa Erlangga.


"Terimakasih untuk apa, Sayang," jawabnya sambil mengacak rambut panjang putrinya dengan gemes.


"Terimakasih papa mau merestui hubungan Sari dengan Mas Ibnu," jawabnya sambil tersenyum malu.


"Sudah pasti papa restui, karena dia anak yang bisa bertanggung jawab dan melindungimu," ujarnya.


"Apa papa sebelumnya kenal dengan mereka?" tanya Sari.

__ADS_1


"Tidak, tapi Papa bertanya kepada sahabat papa yang tak lain mertua dari sahabatmu," jawabnya sambil tersenyum.


Sari terkejut, berarti Papanya tahu kalau Satya dan Senja juga menikah Muda.


"Kenapa kamu terkejut begitu?" tanya Papa.


Sari hanya tersenyum, pantas papanya langsung merestui hubungannya dengan killer.


Ia juga heran kenapa orang tuanya lebih percaya dengan mertua Senja dari pada dirinya, baginya yang penting sekarang restu dari kedua orang tuanya.


"Astagfirullah dari tadi mama cari rupanya asik di sini," kata Mama Seruni sambil duduk di samping suaminya.


"Anak kita yang dulu cengeng sekarang sudah mau menikah," kata Papa Erlangga.


"Semoga nanti semua lancar ya, Pa," ucapnya sambil tersenyum.


"Amiin," jawab ketiganya bersamaan.


Mama Seruni langsung memberikan wejangan untuk sang putri, bagaimana menjadi seorang istri dan melayani semua kebutuhan suaminya.


Kewajiban istri terhadap suami selanjutnya adalah menjaga harta, rumah, dan kehormatan suami. ...


Menjaga kehormatan suami adalah tidak membeberkan aib suami pada orang lain, tapi hal ini secara tidak langsung menunjukkan kelemahan istri yang tidak bisa menjaga rahasia keluarga.


Sari mencerna apa yang di sampaikan mamanya, hal itu membuatnya harus lebih menyiapkan diri.


Apa lagi nanti ia akan tinggal dengan suaminya saja, hal itu akan membuatnya harus lebih belajar untuk menjadi seorang istri yang baik buat Ibnu.


"Ingat ya Nak, dengan menikah kamu tidak hanya memiliki satu keluarga tapi dua keluarga yang di satukan," kata Papa Erlangga.


"Iya....Pa, insyaallah Sari akan adil dengan papa maupun mertua Sari nanti," ucapanya sambil tersenyum.


"Selalu jaga silaturahmi dengan mereka ya, jadi tidak hanya Ibnu saja yang kamu terima," ujarnya sambil tersenyum.


"Kamu juga harus menerima keluarganya, begitu juga harapan Papa dan Mama. Ibnu tidak hanya menerima kamu, tapi juga akan menerima kami berdua," ucapannya sambil tersenyum menatap wajah cantik putrinya.


Sari begitu terharu dengan segala perhatian kedua orang tuanya, kenapa baru sekarang saat ia akan menikah. Gadis itu tak kuasa menahan bulir-bulir bening dari matanya, rasa haru, sedih dan bahagia menjadi satu.


Terkadang rasa itu membuncah, tapi ia tidak bisa mengungkapkan apa yang sekarang ia rasakan.


Seandainya dari dulu kedua orang tuanya memberikan perhatian setiap hari seperti ini, ia yakin tidak akan merasa kesepian di rumah.

__ADS_1


Sari tak memungkiri selama ini ia memendam perasaan, disaat melihat orang tua mengantarkan anak-anaknya ke sekolah atau berlibur bersama saat weekend.


__ADS_2