PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 89


__ADS_3

Tak akan pernah ada yang tahu dari mana cinta datang dan menyambut rasa. Terkadang cinta bahkan datang melalui cara yang tidak pernah diduga sebelumnya. Namun, ketika cinta itu datang hati tidak akan bisa menghindari atau berlari menjauhinya.


Malam ini keduanya sibuk membersihkan dan membereskan butik yang lusa akan mulai buka, Diana tersenyum saat melihat Ranga sedang memasang pakaian di manaken ujung.


"Kak... enggak seperti itu," katanya sambil mengulum senyum.


Ranga menoleh dan langsung berhenti, ia memperhatikan hasil kerjanya perasaan tidak ada yang salah.


"Ada yang salah?" tanyanya sambil menatap wajah lelah Diana.


"Kalau bajunya warna biru, coba padukan dengan bawahan warna hitam," ujarnya.


Ranga segera menggantinya, dan hasilnya memang lebih manis saat ini. Ranga mengacungkan jempolnya ke arah Diana, kemudian keduanya duduk disofa karena sudah selesai menyusun pakaianya.


"Lapar," ucapnya


Diana langsung menoleh, ia segera kelantai dua menuju dapur. Karena Diana lama Ranga segera menyusulnya, ia melihat wanita itu sedang memasak.


"Masak apa?" tanya Ranga sambil berdiri disampingnya.


"Masak mie goreng sama telur ceplok mau!" kata Diana.


"Mau asal kamu yang masak," goda Ranga.


Diana segera memalingkan wajahnya malu, saat Ranga mulai melontarkan gombalannya lagi.


"Bunda mana?" tanya Ranga.


"Sudah tidur, mungkin kelelahan," jawabnya sambil membawa dua piring mie goreng.


Kini keduanya duduk lesehan dikarpet sambil menonton televisi, Ranga yang sudah lapar segera mengambil mie gorengnya dan langsung menyantapnya.


Diana tersenyum melihat Ranga makan dengan lahap, ia melihat telur dipiringnya Ranga sudah habis segera memindahkan telurnya kepiring lelaki yang kini duduk disampingnya.


Ranga seketika mengehentikan makannya, ia menoleh kearah gadis disampingnya.


"Makan saja Diana kurang suka telur," katanya.


Ranga tersenyum, ia segera mengambil telur dan mulai memakannya.


"Suatu saat kamu akan suka, apa lagi kalau kita menikah," kata Ranga santai.


Tetapi hal itu membuat Diana langsung tersedak, Ranga dengan cepat memberikan air putihnya.


"Hati-hati," katanya sambil mengusap punggung Diana.


"Huff...Kakak yang bikin aku tersedak," keluh Diana kesal.


Ranga hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita disampingnya, tanpa keduanya sadari Bunda Fifi melihat kejadian saat Ranga mengatakan menikah ke anaknya.


Bunda Fifi akan sangat senang seandainya Diana berjodoh dengan pria yang baik dan lebih dewasa dari putrinya.


Setidaknya nanti ada yang menjaga putri satu-satunya, saat ia tidak bisa lagi menjaganya.


Setelah selesai makan Ranga segera pamit karena malam sudah larut, Diana mengikutinya sampai di depan butik.


"Besok kuliah jam berapa?" tanya Ranga saat mau masuk mobil.


"Kuliah pagi, Kak," jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Besok tunggu Kakak jemput ya...," kata Ranga sambil tersenyum, kemudian ia segera masuk mobil.


Diana melambaikan tangannya, kemudian ia segera masuk untuk istirahat. Tidak lupa mengunci pintu, Diana berhenti saat melihat jas Ranga yang tertinggal.


Senyum mengembang saat ia mencium aroma maskulin dari jas yang dipegangnya, gadis itu segera masuk kamar untuk istirahat.


*******


Pagi harinya di kediaman Satya, seperti biasa Senja membantu Bik Sum dan bik Ida di dapur. Mereka kadang bercanda seperti biasa, Senja yang suka jahil dengan bik Sum terkadang membuat bik Ida ikut tertawa.


Satya yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya segera duduk dimeja makan, ia tersenyum melihat istrinya datang dengan membawakan secangkir kopi untuknya.


"Bagaimana, apa masih mual," katanya sambil menikmati kopi buatan istrinya.


"Tadi cuma muntah sekali, setelah minum teh udah enggak lagi," jawabnya.


"Sudah minum susunya?" tanya Satya.


Senja terdiam, bingung mau jawab apa melihat suaminya menatapnya lekat.


"Belum," jawabnya lirih.


Satya menghela nafas panjang, kemudian ia segera kedapur untuk membuat susu untuk istrinya.


Senja melihat itu hanya bisa menarik nafas panjang ingin rasanya ia kasih tahu suaminya, tapi dia juga tidak ingin membuat suaminya sedih sudah capek bikin.


Satya kembali dengan gelas susu coklat di tangannya, ia segera memberikan kepada istrinya.


Senja tersenyum saat aroma susu itu yang begitu menyengat Indra penciumannya, tapi ia segera meminumnya tak berselang lama dia segera berlari menuju kamar mandi dapur untuk memuntahkan susunya.


Bik Sum segera menyusul ke kamar mandi, ia memijat tengkuk Senja. Wanita paruh baya itu merasa kasihan, kenapa enggak mau berterus terang saja kepada suaminya kalau siap minum susu pasti muntah.


"Terus terang saja," katanya


Senja tersenyum ia bukan tidak mau, tapi tidak tega kepada suaminya saat ini begitu semangat membuatkan susu untuknya.


Satya melihat istrinya hanya bisa menarik nafas panjang, ia kemudian mengusap perut datar istrinya.


"Jangan bikin Umi susah ya," ucapnya sambil tersenyum.


"Bby...bisa aja," kata Senja sambil duduk disamping suaminya.


Bik Sum datang membawakan teh hangat untuk Senja, kemudian ia segera pergi meninggalkan suami istri itu untuk sarapan.


"Sayang hari ini ada kerja kelompok," katanya Senja sambil tersenyum.


"Tugas Bby kemarin," katanya.


"Iya, kenapa kemarin Bby yang menjadi bawa materinya?" tanyanya.


"Itu dosen killer yang meminta," kata Satya ikut memanggil Ibnu killer sambil tersenyum.


Senja hanya mengangguk, karena ia juga tidak terlalu perduli siapapun yang membawa materinya.


"Dimana kerja kelompoknya?" tanya Satya.


"Belum dipastikan, kalau yang lain minta dirumah," jawab Senja.


"Enggak maslah, Bby lebih suka kalau dirumah," ucapnya.

__ADS_1


Senja langsung menatap suaminya lekat, tapi ia bingung bagaimana kalau teman-temannya tahu kalau dialah istrinya Satya Nugraha.


"Bby..apa tidak masalah kalau mereka tahu tentang pernikahan kita," ucapnya.


"Nanti mereka akan tahu juga, saat perutmu mulai membesar sesuai umur bayi nanti," jawabnya.


"Baiklah kalau mereka sekekeh ingin di rumah tidak apa ya," katanya sambil tersenyum.


"Iya sayang ayo kita segera berangkat, nanti kamu telat," ucapnya sambil berdiri.


Kini keduanya sudah di dalam mobil, Satya segera mengemudikan mobilnya menuju kampus tempat istrinya menimba ilmu.


Setelah tiga puluh menit kini mobilnya sampai depan kampus, mata Satya seketika melebar saat melihat mobil Ranga didepanya berhenti.


Tak lama keluar wanita pakai jilbab warna biru, Satya yakin kalau itu Diana. Senja juga melihat bagaimana Ranga membukakan pintu untuk sahabatnya Diana.


"Romantis," ucapnya sambil tersenyum.


"Apa mereka jadian?" tanya Satya.


"Sepertinya cinta pada pandangan pertama," jawab Senja sambil tersenyum.


"Kalau kita apa?" tanya Satya.


"Tresno jalaran seko rumah sakit," jawab Senja terkekeh melihat suaminya cemberut.


"Ngak ada yang lebih gitu," katanya.


"Itu sesuai kenyataan, kita ciuman dirumah sakit," jawab Senja sambil mengingat kecerobohannya dulu.


Satya tersenyum, seingat dia mereka ciuman waktu Senja pingsan.


"Bby kenapa?" tanyanya sambil membenarkan tasnya.


"Ciuman kita terjadi bukan waktu dirumah sakit, sayang," jawabnya.


"Jadi?" tanyanya.


"Waktu kamu pingsan, dan suhu badanmu tinggi," katanya


Kemudian Satya menceritakan kepada istrinya, waktu dia meminumkan obat penurun panas.


Senja menutup mulutnya, ternyata Suaminya lebih dulu mengambil ciuman pertamanya.


"Dasar mesum," ucapnya sambil keluar dari mobil.


Satya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, melihat istrinya berjalan menuju ke kelasnya.


Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍


Vote


Jika suka berikan hadiahnya 🙏


Jangan lupa baca juga karya aku yang lain


🌾 Takdir Cinta Khansa


🌾 Menikah Muda

__ADS_1


✍️ cerpen


__ADS_2