PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
keisengan Leon


__ADS_3

Ferdinand membukakan pintu untuk Fifi, hal itu membuat wanita  itu tersenyum  dan mengucapkan  terimakasih. 


Mobil melaju dengan kecepatan sedang,  Ferdinand  membawa Fifi menuju  ke kantornya. Bahkan pria itu tidak peduli apa yang nanti dikatakan oleh karyawannya.


Mata Fifi membulat saat mobil memasuki gerbang perusahaan  pria di sampingnya itu.


"Mas, kenapa kita ke sini?" tanya Fifi merasa tidak nyaman. 


Ferdinand  tersenyum,  ia tahu kalau wanita itu merasa tidak nyaman, walau tidak akan ada yang mengenali nantinya.


"Ada yang harus aku tanda tangani," ujar Ferdinand langsung keluar mobil. Kemudian  dibukakannya pintu, melihat  Fifi agak ragu  pria itu mengulurkan tangannya, mau tak mau wanita itu keluar juga sambil menggenggam tangan Ferdinand. Jimmy asistennya  Leon terkejut  dengan apa yang dilihatnya.  Pria itu tidak lama mengabadikan momen itu, dan mengirimkan  ke Bosnya.


Ferdinand menggenggam tangannya Fifi untuk masuk ke perusahan, wajah kaku dan dingin itu sama sekali tidak terlihat di mata Karyawan  lainnya.


Fifi yang malu hanya berjalan menunduk mengikuti kemana kakak iparnya itu membawanya. 


Ferdinand sampai  di depan ruangan, Jimmy melihat itu menunduk hormat, dan membukakan  pintu untuk kedua  pasang  kekasih itu. Jimmy yakin kalau bos besarnya itu sedang  jatuh cinta lagi semenjak  Mamanya Leon meninggal. Baru pertama  kali pria itu membawa wanita  ke kantor.


Ferdinand sedari tadi tidak ada melepaskan  tangan Fifi, hingga keduanya  sampai  di sofa, barulah tangan itu terlepas. 


"Kamu siapkan dulu, aku tanda tangan sebentar ya," pamit Ferdinand sambil beranjak dari duduknya menuju meja kerjanya.


Sudah satu jam lebih Ferdinand berjibun dengan berkas-beras di atas mejanya, seakan pria itu lupa kalau ada orang lain yang sedang menunggunya.


Fifi melihat jam sudah menunjukan pukul satu lewat, ia lalu berjalan menuju meja kerja milik kakak iparnya itu. Ia juga tidak lupa membawa piring yang berisi makanan untuk Pria itu.


"Mas, ini makannya sudah mau jam dua," kata Fifi dengan lembut.


Ferdinand terkejut, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar kenapa bisa lupa kalau ada orang lain di dalam ruangannya.


"Maaf, aku lupa kalau ada kamu di sini, kamu juga belum makan'kan?" tanya Ferdinand sambil berjalan menghampiri wanita yang sedari tadi ia acuhkan itu.


Pria itu terlihat begitu merasa bersalah, ia merasa seperti orang bodoh dan kini keduanya duduk.


"Mas, ini sudah dingin kalau enggak beli saja, biar ini di buang," kata Fifi sambil tersenyum dan terlihat raut wajah kecewa di matanya.


"Jangan dibuang, aku mau," kata Ferdinan merasa bersalah.


Fifi terkejut karena dari cerita suaminya kalau pria yang kini menatapnya itu tidak suka dengan makanan dingin.

__ADS_1


"jangan, nanti kamu sakit," ujar Fifi.


Ferdinand mengambil makanan yang sudah dingin dari tangan Fifi, ke, kemudian memakannya dengan lahap karena ia juga suda begitu lapar. 


Fifi hanya diam memperhatikan pria itu, Ferdinand yang merasa diperhatikan mengangkat kepalanya.


"Kenapa?" tanya Ferdinand sambil mengunyah makanannya.


"Jangan sampai sakit," kata Fifi.


Ferdinand tersenyum lalu meminum air yang sudah disediakan oleh wanita di depannya itu. Fifi dengan gerakan cepat mengemasi rantang, lalu ia berdiri karena hari sudah mau sore takut kalau Diana mencarinya.


"Mas aku pamit ya," kata Fifi.


"Mau kemana, nanti aku antar," ucap Ferdi tanpa penolakan.


"Tapi-," kata-katanya terhenti saat Ferdinand menutup mulut Fifi dengan jari telunjuknya.


"Tunggu aku sebentar lagi," kata Ferdinand sambil mengambil berkas dan laptopnya di meja kerjanya untuk dibawa ke meja dekat sofa.


"Kenapa dipindahkan?" tanya Fifi.


Fifi menunduk malu, ia juga merasa senang saat pria itu memperhatikannya. Kini Ferdinand mulai fokus lagi ke berkas di atas mejanya.


****


Di rumah sakit Leon yang sedang asik mengobrol dengan Ranga yang baru datang dikejutkan dengan dering ponselnya. Dilihatnya asistenya mengirimkan video dan foto, perlahan dibukanya mata pria itu melebar saat melihat Papanya bergandengan tangan dengan Bunda Fifi. Beberapa foto juga dilihatnya hal serupa saat masuk lift.


Leon menatap Diana yang sedang mengupas buah di dekat suaminya, ia bingung apa harus memberi tahu sepupunya itu atau tidak.


"Dian, kalau Bunda menikah lagi apa kamu setuju?" tanya Leon yang mengejutkan Diana.


"Kakak ada-ada saja, mana ada Bunda mau menikah lagi," ujarnya.


Leon memberikan ponselnya kepada adik sepupunya yang sudah duduk di dekat Ranga itu, mata Diana melebar saat melihat Video itu. Dilihatnya senyum bahagia di raut wajah Bunda dan Papa Ferdinand terlihat jelas.


"Ini kapan?" tanya Diana.


"Hari ini, coba kamu telepon Bunda!" titah Ranga.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Diana sambil menaikan kedua alisnya.


"Enggak ada, jika Bunda dan Papa berjodoh apa kamu mau menerimanya?" tanya Leon.


Diana terdiam, ia merasa tidak mungkin karena setahunya kalau Bunda dan Papa Ferdi tidak pernah teguran dan selalu tidak menyukai Bundanya. Ada rasa ragu di hatinya, tetapi jika Bunda berjodoh dengan Papa Ferdi ia tidak masalah.


"Aku ikut saja, Kak." Diana tersenyum menatap suami dan Kakaknya.


Leon merasa lega, karena hari kian sore Ranga dan Diana pulang tinggallah Leon sendiri. Dilihatnya lagi video yang dikirimkan oleh asistennya itu.


Pikiran Leon kemana-mana, semenjak Mamanya meninggal Papanya itu berubah menjadi dingin dan kejam. Namun, hari ini apa yang dilihatnya begitu berbeda.


Saat sedang berkecamuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba pintu terbuka. Papa Ferdi datang membawa makanan untuk putranya itu.


"Kamu belum makan?" tanya Ferdi sambil membuka bungkusan yang kalau diperhatikan bukan dari beli melainkan dari rumah.


"Papa minta Mbak masak?" tanya Leon penuh selidik.


Ferdi menghentikan gerakan tangannya sambil menatap putranya itu, lalu kembali memindahkan nasi dan lauk ke piring. Melihat Papanya hanya diam saja membuat Leon merasa curiga apalagi saat melihat menu yang ada di depannya tidak asing.


"Papa terlihat senang kali?" tanya Leon.


Ferdi hanya tersenyum, ia diam sambil berkirim pesan kemudian senyum-senyum saat membacanya.


"Papa kayak orang jatuh cinta saja!" cibir Leon.


Ferdi menatap putranya yang sedang makan dengan lahapnya karena ia tahu itu masakan buatan Bunda Fifi. 


"Apa kamu marah kalau papa mau menikah lagi?" tanya Ferdi sambil menatap putranya itu.


"Enggak, itukan Papa nanti yang jalani. Kalau bisa jangan sekarang karena Leon sedang membantu rekan bisnis untuk dekat dengan Bunda Fifi!" goda Leon sambil menahan senyumnya.


"Apa kamu bilang? lagi membantu pria untuk dekat dengan Fifi?" tanya Ferdi dengan sorot mata yang marah.


"Iya, semoga Bunda enggak keberatan!" kata Leon.


"Batalkan itu!" perintah Ferdi tegas.


Leon rasanya sudah tidak tahan lagi untuk tidak tertawa, tetapi sebisa mungkin ia tahan karena ingin melihat sejauh mana reaksi dari Papanya itu.

__ADS_1


bersambung ya….


__ADS_2