
Satya hanya menatap Yoga kesal, pria itu ingin cepat mengikuti istrinya mandi dan bertanya." Masih ada yang mau diomongin lagi nggak?"
"Lo mau kemana?" tanya Yoga.
Satya lagi-lagi hanya mendengus dan berkata," Mau ikut Senja mandi."
Satya langsung mematikan panggilan teleponnya ia tidak peduli jika Yoga akan marah saat bertemu nanti.
Satya keluar dari kamar, pria itu menatap Bik Sum dan Bik Jum yang sedang asik menonton televisi. Perlahan papa Jingga itu mengetuk pintu, Senja yang mengira yang mengetuk pintu adalah Bik sum atau bik Jum tanpa bertanya langsung membukanya.
"Mas Satya!"seru Senja lirih
"Ayo mandi," ajak Satya.
Senja tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan suaminya, sudah jelas kamar mandi cuma satu dan itu depan dapur. Bika Sum yang tahu bagaimana mesumnya Satya mengajak Bik Jum untuk main di teras saja.
"Kamu ini kenapa sih Sum, itu lo sinetron kesukaanku!"seru Bik Jum yang begitu kesal dengan adiknya itu karena tiba-tiba mengajaknya keluar.
Bik Sum hanya tersenyum, saat Bik Jum mematikan televisi keduanya saling tatap karena ada suara ribut di kamar mandi.
Bik Sum langsung menghidupkan televisinya dan membesarkan Volumenya, sedangkan bik Jum masih diam mematung dengan mata menatap ke arah kamar mandi.
"Ayo keluar aja," ajak Bik Sum.
"Kok aku yang deg-degan ya, Sum," kata Bik Jum saat ini sambil mengusap dadanya.
"Kenapa?" tanya Bik Sum.
"Kayak mau pecah perawan lagi," jawab Bik Jum yang langsung kena pukul sama Bik Sum.
Kini keduanya duduk di samping rumah sambil makan cemilan yang dibelikan Senja, kedua wanita itu hanya diam dengan pikiran yang berkelana.
"Sum, ngintip yuk," Ajak bik Jum.
"Astagfirullah, Jum!" teriak bik Sum.
__ADS_1
Bik Jum langsung tergelak karena melihat Bik Sum yang begitu marah karena ucapannya dan berkata."Aku hanya canda, lah dengar itu saja rasanya udah dosa banget, Sum."
Bik Sum hanya diam, tapi matanya menatap tajam Jumiati. Kini keduanya hanya diam, jujur Bik Sum tidak habis pikir dengan pasangan itu. Setelah satu jam Senja yang sudah siap mandi keluar dari kamar dengan wajah yang terlihat kesal karena dari kamar mandi masih berlanjut di kamar.
Satya yang melihat istrinya kesal mengambil alih Jingga karena sudah merengek minta ditidurkan, ia menimang sang putri hingga tidak lama terlelap.
"Yang, jangan marah lagi," bujuk Satya sambil memeluk pinggang istrinya.
"Aku malu, Mas. Pasti Bik Sum dan Bik Jum dengar tadi," ujar Senja.
Satya beralih menatap bik Jum yang hanya mengedipkan matanya membuat Satya merinding, melihat itu Senja menahan tawanya karena bik Jum lebih geresek jika dibanding dengan Bik Sum.
"Kenapa?" tanya Senja.
"Bik Jum sakit mata," jawab Satya datar yang langsung disambut gelak tawa oleh Senja.
"Jadi apa rencananya, Den?"tanya Bik Sum.
"Rencana mau bulan masuk, Bik," jawab Satya.
"Mas!" seru Senja.
"Yang mau ya." ajak Satya.
"Enggak Mas!" tolak Senja.
Mendengar itu Satya begitu kecewa, wajahnya langsung terlihat begitu dingin. Pria masuk ke kamar dan langsung membaringkan tubuhnya. Apa ia begitu egois sekarang karena hanya ingin menikmati waktu hanya berdua saja dengan istrinya. Namun, Senja seakan tadi menolaknya.
Satya menutup wajahnya dengan bantal, ia merasa jika istrinya tidak mau mengerti perasaannya dan tidak lama pintu kamar terbuka. Muncul sosok yang begitu dicintai selama ini tersenyum menatap dirinya.
"Jangan marah gitu nanti akunya jadi enggak suka," goda Senja yang langsung menyerang suaminya karena hanya ini pria yang sedang marah itu akan menjadi baik.
Satya merasa begitu bodoh hanya karena istrinya yang melakukan lebih dulu membuatnya terlena dengan apa yang dilakukan istrinya kepadanya.
"Mas kita pulang ya, anak Bunda cuma kita. Apalagi sekarang sedang dirawat," ujar Senja.
__ADS_1
Satya hanya bisa mengangguk karena apa yang dikatakan istrinya itu ada benarnya, harusnya sekarang ia dan Senja yang menemani Bunda. Bukan membiarkan sendiri walau sudah ada Arga dan Ranga.
Satya membantu Senja untuk membereskan pakaiannya, sebenarnya ia sedih harus meninggalkan bik Jum sendiri. Namun, wanita itu selalu menolaknya karena ia begitu yakin jika kekasihnya akan kembali suatu saat hingga ia memilih untuk tidak menikah.
Senja, Bik Sum dan Satya pamit, mereka saling berpelukan saat tidak dihadapkan Satya Bik Jum menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bik kami pamit," ucap Satya membuat Senja dan Bik Sum tersenyum karena Bik Jum kecewa Satya tidak memeluknya.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Satya mengemudikan dengan kecepatan sedang hingga perjalanan yang seharusnya 3-4 jam kini ia tempuh selama lima jam karena tidak ingin istri dan anaknya kenapa-napa.
Tujuan Satya ke rumah Rendy, kini keduanya masuk di mana Yoga sedang mengobrol dengan Rendy dan istrinya.
Mentari melihat anak dan cucunya langsung memeluk anak dan cucunya, kini Satya duduk santai di depan Yoga kedua matanya beradu.
"Gue sudah bilang kalau Rendy-," kata Yoga langsung berhenti saat Senja memeluk sang Ayah karena ia tidak ingin suaminya dan Ayahnya berantem.
"Bu, aku dan Mas Satya akan ke rumah sakit buat jenguk Bunda, apa tidak masalah kalau Jingga Senja tinggal," ujar Senja.
"Harus tinggal karena rumah sakit bukan tempat yang terbaik buat cucunya, melihat itu Satya begitu bahagia karena ia bisa berduaan dengan Istrinya.
Senja berjalan mendekati Bik Sun dan berkata," Bik aku jenguk Bunda dulu."
"Iya Non, biar Jingga sama saya," ujar bik Sum.
Senja segera menuju ke dapur untuk minum air putih, dilihatnya Ayah dan suaminya sedang berbincang serius hal itu membuat Senja tanpa ragu langsung masuk ke mobil samanya. Rendy yang juga mau pergi langsung mencegahnya dan berkata."Kalian mau kemana/"
"Rumah sakit, Om," jawab Senja.
Rendy menatap Satya dan berkata, Senja Om pinjam suamimu dulu."
Senja hanya menarik napas dalam karena melihat tingkah om dan papa nya jingga yang begitu menggemaskan.
Di sela-sela kedatangannya ia tidak melihat Diana dan Ranga, Melihat itu Satya langsung menggenggam tangan masing-masih.
Mentari yang melihat putrinya hanya diam sambil menatap ke arah pintu ruang kerja suaminya akhirnya yang ditunggu keluar begitu juga diikuti Rendy dan Yoga.
__ADS_1
Senja segera mengajak suaminya untuk pergi saat sampai depan pintu tiba-tiba Yoga bertanya." Lo mau ke rumah sakit atau ke hotel?"
Satya menarik napas dalam, kini tubuhnya berbalik menatap santai mertuanya dan berkata."Gue ke rumah sakit sama bini gue!"