
Ferdi memesan ruangan Vip, ia tidak ingin diganggu siapapun. Dadanya rasanya begitu sesak. Ia ingat terakhir ke tempat lambat ini waktu Mamanya Leon pergi untuk selamanya.
Ia begitu menyesal saat itu, tidak pernah memberikan perhatian kepada istrinya. Ferdi menikahi Vera karena ingin membuat Fifi cemburu. Namun, itu sia- sia karena wanita itu begitu bahagia saat dirinya menikahi sahabatnya itu.
Minum pesan Ferdi datang, pria itu langsung meneguknya. Ia akan melupakan apa yang terjadi barusan ditolak oleh Fifi rasanya begitu sakit.
Ferdi sudah habis lima botol dalam waktu tiga puluh menit, kepalanya sudah ia letakkan di atas meja, sedangkan mulutnya meracau memanggil nama Fifi.
Jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari, Ferdinand sudah terkapar di atas karet. Melihat itu seorang pelayan yang mengenalinya segera menghubungi asistennya.
"Halo pak Jimmy, ini Tuan besar Ferdinand mabuk, sekarang tidak sadarkan diri," kata salah satu pelayan.
"Tolong jaga dulu, sebentar lagi saya sampai," kata Jimmy.
Jimmy hanya bisa menarik napas dalam, kalau tidak ingat balas budi rasanya malas sekali harus berurusan dengan orang mabuk.
Jimmy segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, malam jalanan Surabaya tidak macet dan terlihat begitu lengan.
Hanya butuh waktu dua puluh lima menit ia sampai depan club tempat langganan ayah angkatnya itu.
Jimmy langsung menuju ruangan yang sudah disebutkan pelayan tadi, kini ia segera membuka pintu, matanya langsung melebar saat melihat ada hampir sepuluh botol yang kosong.
Jimmy dengan cepat menekan denyut nadi Ferdinand, tubuh pria itu sudah dingin. Dengan cepat ia dibantu oleh pelayan membawa ayah angkatnya ke mobil, setelah dirasa aman Jimmy memberikan tips ke pelayan itu lalu melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat, setelah mengemudi selama dua puluh menit ia menghentikan mobilnya di depan UGD melihat dua orang perawat langsung membantu Jimmy untuk mengeluarkan tubuh Ferdinand dari mobil dan memindahkan ke atas berangkat.
"Tuan tunggu di sini saja, "kata salah satu perawat menahan Jimmy untuk ikut masuk.
Jimmy hanya mengangguk, tetapi terlihat dari wajahnya begitu khawatir.
Seorang dokter wanita keluar dan tersenyum menatap Jimmy.
"Keluarga dari pasien Tuan Ferdinand?" tanya dokter itu.
"Iya, bagaimana kondisinya?" tanya Jimmy.
Dokter menjelaskan kalau sampai sekarang Ferdinand belum sadar. Namun, ada yang mengkhawatirkan karena lambungnya terluka. Jadi harus dirawat secara insentif.
Jimmy hanya mengangguk dan langsung mengurus ruang rawat untuk Tuan Ferdinand disebelah ruang rawat milik Leon.
"Enggak anak dan bapak selalu membuat gue pusing!" seru Jimmy yang sedang berjalan menuju ruangan Papa angkatnya itu.
Jimmy keluar sebentar, dilihatnya kamar rawat milik Leon. Bosnya itu belum tidur atau baru bangun, ia kurang tahu. Namun, akhirnya ia masuk ruang rawat Leon.
__ADS_1
Melihat pintu terbuka Leon mengernyitkan dahinya. Karena sudah mau subuh asistennya itu datang ke rumah sakit.
"Ada apa?" tanya Leon merasa ada sesuatu yang terjadi.
"Bokap lo mabuk lagi," ujar Jimmy sambil menghempaskan tubuh lelahnya di sofa.
Leon turun dari ranjang sambil memegang tiang infusnya, ia menghampiri orang kepercayaan papanya itu.
"Kenapa bisa, Papa sudah lama tidak menjamah barang haram itu, Jim?" tanya Leon.
"Gue juga kagak tau, Bos." Jimmy membuka matanya dan menatap Leon yang duduk di depannya.
"Tadi Papa sendiri atau bersama temannya?" tanya Leon.
"Sendiri, seperti biasa di VIP," jelas Jimmy.
Leon diam, singkatnya tidak ada yang serius dengan urusan kantor, lalu apa yang membuat Papanya sampai menyentuh benda haram itu.
"Sekarang bagaimana kondisi, Papa?" tanya Leon.
"Belum sadar, karena hampir habis sepuluh botol," ujar Jimmy.
Leon melebarkan matanya, waktu mabuk hanya satu botol saja harus masuk rumah sakit karena lambungnya sudah terluka, kini habis sepuluh botol.
"Anak buah kita sedang menyelidiki, paling tidak besok pagi sudah ada laporannya," ucap Jimmy.
Leon hanya mengangguk, pria itu menarik napas dalam. Jika hanya karena urusan perusahaan, papanya tidak akan se frustasi ini.
"Gue balik keruangan Papa," pamit Jimmy.
"Iya, maaf repotin lo lagi," kata Leon merasa tidak enak.
"Lo kayak sama siapa saja," balas Jimmy sambil berjalan keluar ruang rawat Leon.
Setelah Kepergian Jimmy, Leon menatap kosong. Pikirannya kemana-mana, karena baru kali ini Papanya terlihat begitu hancur.
"Apa ini ada hubungannya dengan Bunda Fifi, tetapi apa secepat itu," kata Leon lirih sambil menatap ke arah pintu.
****
Di kediaman Bunda Fifi.
__ADS_1
Di ruang yang hanya ada laptop dan beberapa gaun hasil rancangannya, Fifi sedang mengerjakan pesanan milik Senja dan keluarganya. Wanita itu sebisa mungkin untuk konsentrasi, tetapi lagi-lagi teniang kata-kata Ferdi.
Fifi menarik napas dalam, ia enggak habis pikir karena kakak iparnya yang dulu kekasihnya itu masih mencintainya sampai sekarang. Ditatapnya foto yang berada di figura atas meja kerjanya.
"Mas, aku harus bagaimana?" tanya Fifi ke foto suaminya yang seakan tersenyum menatapnya itu.
Tak lama pintu terbuka, Diana hanya menghela napas karena Bundanya pagi-pagi sudah berada di ruang kerjanya.
"Bunda, apa ada masalah?" tanya Diana karena melihat wanita yang sudah melahirkannya itu terlihat begitu gelisah.
Fifi ragu untuk menceritakan kepada Diana, tetapi kalau tidak sama putrinya sama siapa lagi ia menceritakannya.
"Nak, apa kamu marah kalau Bunda berhubungan dengan pria lagi?" tanya Fifi hati-hati.
Diana terdiam, wanita itu ingat akan Video yang berada di ponsel Kakaknya." Diana ikut saja, jika bunda mau."
Fifi tersenyum merasa lega, tetapi ia juga memikirkan Ranga. Ditatapnya Diana yang sedang melihat beberapa rancangannya.
"Bagaimana dengan suamimu, Nak?" tanya Fifi.
"Bunda, apapun keputusan Bunda aku dan Mas Ranga akan mendukung yang penting Bunda bahagia," ujar Diana sambil memeluk tubuh Bundanya.
Fifi merasa lega, tetapi apa masih ada kesempatan itu, Diana yang melihat Bundanya hanya diam saja tersenyum dan bertanya." Siapa pria yang membuat Bundaku ini gelisah?"
"Papa Ferdinand," jawab Fifi sambil menunduk karena malu.
"Serius, jadi naik ranjang atau turun ranjang itu namanya Bun?" tanya Diana.
"Kamu itu ngomong apa sih, kebanyakan baca novel!"seru Bunda membuat Diana terkekeh.
Diana menceritakan kalau dulu ia dan Ferdinand pernah pacaran dari SMA dan sampai kuliah, hingga kakek sakit dan begitu ingin menikahkan dirinya.
"Kenapa nggak menikah dengan Papa Ferdinand, Bun?" tanya Diana penasaran.
"Ferdi belum siap untuk membina rumah tangga, dan jadilah Bunda menikah dengan Ayahmu," ujar Fifi.
"Kalau Diana yang penting Bunda bahagia, itu tidak masalah mau sama siapa saja," ucap Diana tersenyum.
"Terimakasih, Nak." kata Bunda Fifi.
"Jadi kapan rencananya?" tanya Diana.
__ADS_1
Bersambung ya.....