PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Ferdi mabuk


__ADS_3

Ferdi memesan ruangan Vip, ia tidak ingin diganggu siapapun. Dadanya rasanya  begitu sesak. Ia ingat terakhir  ke tempat lambat ini waktu Mamanya Leon  pergi untuk selamanya. 


Ia begitu menyesal saat itu, tidak pernah memberikan  perhatian kepada istrinya. Ferdi menikahi Vera karena ingin membuat Fifi cemburu. Namun, itu sia- sia karena  wanita itu begitu bahagia  saat dirinya  menikahi  sahabatnya  itu.


Minum pesan Ferdi datang, pria itu langsung meneguknya. Ia akan melupakan  apa yang terjadi barusan ditolak oleh Fifi rasanya begitu sakit.


Ferdi sudah habis lima botol dalam waktu tiga puluh menit, kepalanya  sudah ia letakkan di atas meja, sedangkan  mulutnya meracau memanggil  nama Fifi.


Jam sudah menunjukan  pukul  tiga dini hari, Ferdinand  sudah terkapar  di atas karet. Melihat  itu seorang pelayan  yang mengenalinya segera  menghubungi  asistennya.


"Halo pak Jimmy, ini Tuan besar Ferdinand  mabuk, sekarang  tidak sadarkan diri," kata salah satu pelayan.


"Tolong jaga dulu, sebentar  lagi saya sampai," kata Jimmy. 


Jimmy hanya bisa menarik napas dalam, kalau tidak ingat balas budi rasanya malas sekali harus berurusan dengan orang mabuk.


Jimmy segera  mengemudikan  mobilnya dengan kecepatan  tinggi, malam jalanan Surabaya tidak macet dan terlihat begitu lengan.


Hanya butuh waktu dua puluh lima menit ia sampai depan club tempat langganan ayah angkatnya itu.


Jimmy  langsung  menuju ruangan yang sudah disebutkan  pelayan  tadi, kini ia segera  membuka pintu, matanya langsung  melebar saat melihat ada hampir sepuluh botol yang kosong.


Jimmy  dengan cepat menekan denyut nadi Ferdinand, tubuh pria itu sudah dingin. Dengan cepat ia dibantu oleh pelayan  membawa ayah angkatnya ke mobil, setelah dirasa aman Jimmy  memberikan tips ke pelayan itu lalu melajukan  mobilnya ke rumah sakit terdekat, setelah mengemudi selama dua puluh menit ia menghentikan mobilnya di depan UGD melihat dua orang perawat  langsung membantu Jimmy  untuk mengeluarkan  tubuh Ferdinand  dari mobil dan memindahkan ke atas berangkat.


"Tuan tunggu di sini saja, "kata salah satu perawat menahan Jimmy  untuk ikut masuk.


Jimmy  hanya mengangguk, tetapi terlihat  dari wajahnya  begitu khawatir.


Seorang dokter wanita  keluar dan tersenyum  menatap Jimmy.


"Keluarga dari pasien Tuan Ferdinand?" tanya dokter itu.


"Iya, bagaimana kondisinya?" tanya Jimmy.


Dokter menjelaskan  kalau sampai sekarang  Ferdinand  belum sadar. Namun, ada yang mengkhawatirkan karena lambungnya terluka. Jadi harus dirawat secara insentif.


Jimmy  hanya mengangguk  dan langsung mengurus  ruang rawat untuk Tuan Ferdinand  disebelah ruang rawat  milik Leon.


"Enggak anak dan bapak selalu membuat gue pusing!" seru Jimmy yang sedang  berjalan menuju ruangan  Papa angkatnya itu.


Jimmy keluar sebentar, dilihatnya  kamar rawat milik Leon. Bosnya itu belum tidur atau baru bangun, ia kurang tahu. Namun, akhirnya  ia masuk ruang rawat Leon.

__ADS_1


Melihat pintu terbuka Leon mengernyitkan dahinya. Karena sudah mau subuh asistennya  itu datang ke rumah  sakit.


"Ada apa?" tanya Leon merasa ada sesuatu  yang terjadi.


"Bokap lo mabuk lagi," ujar Jimmy sambil menghempaskan  tubuh lelahnya di sofa.


Leon turun dari ranjang sambil memegang tiang infusnya, ia menghampiri  orang kepercayaan  papanya itu.


"Kenapa bisa, Papa  sudah  lama tidak menjamah barang haram itu, Jim?" tanya Leon.


"Gue juga kagak tau, Bos." Jimmy membuka matanya  dan menatap Leon yang duduk di depannya.


"Tadi Papa  sendiri atau bersama temannya?" tanya Leon.


"Sendiri,  seperti biasa di VIP," jelas Jimmy.


Leon diam, singkatnya tidak ada yang serius dengan urusan kantor, lalu apa yang membuat Papanya sampai menyentuh benda haram itu.


"Sekarang  bagaimana  kondisi, Papa?" tanya Leon.


"Belum sadar, karena hampir habis sepuluh botol," ujar Jimmy.


Leon melebarkan matanya, waktu mabuk hanya satu botol saja harus masuk rumah sakit karena lambungnya sudah terluka, kini habis sepuluh botol.


"Anak buah kita sedang menyelidiki, paling tidak besok pagi sudah ada laporannya," ucap Jimmy.


Leon hanya mengangguk, pria itu menarik napas dalam. Jika hanya karena urusan perusahaan, papanya tidak akan se frustasi ini.


"Gue balik keruangan Papa," pamit Jimmy.


"Iya, maaf repotin lo lagi," kata Leon merasa tidak enak.


"Lo kayak sama siapa  saja," balas  Jimmy  sambil berjalan  keluar ruang  rawat Leon.


Setelah Kepergian  Jimmy, Leon menatap kosong. Pikirannya kemana-mana, karena baru kali ini Papanya  terlihat begitu hancur.


"Apa ini ada hubungannya  dengan Bunda  Fifi, tetapi apa secepat itu," kata Leon lirih sambil menatap ke arah pintu.


****


Di kediaman Bunda Fifi.

__ADS_1


Di ruang yang hanya ada laptop dan beberapa gaun hasil rancangannya, Fifi sedang mengerjakan pesanan milik Senja dan keluarganya. Wanita itu sebisa mungkin untuk konsentrasi, tetapi lagi-lagi teniang kata-kata Ferdi.


Fifi menarik napas dalam, ia enggak habis pikir karena kakak iparnya yang dulu kekasihnya itu masih mencintainya sampai sekarang. Ditatapnya foto yang berada di figura atas meja kerjanya. 


"Mas, aku harus bagaimana?" tanya Fifi ke foto suaminya yang seakan tersenyum menatapnya itu.


Tak lama pintu terbuka, Diana hanya menghela napas karena Bundanya pagi-pagi sudah berada di ruang kerjanya.


"Bunda, apa ada masalah?" tanya Diana karena melihat wanita yang sudah melahirkannya itu terlihat begitu gelisah.


Fifi ragu untuk menceritakan kepada Diana, tetapi kalau tidak sama putrinya sama siapa lagi ia menceritakannya.


"Nak, apa kamu marah kalau Bunda berhubungan dengan pria lagi?" tanya Fifi hati-hati.


Diana terdiam, wanita itu ingat akan Video yang berada di ponsel Kakaknya." Diana ikut saja, jika bunda mau."


Fifi tersenyum merasa lega, tetapi ia juga memikirkan Ranga. Ditatapnya Diana yang sedang melihat beberapa rancangannya.


"Bagaimana dengan suamimu, Nak?" tanya Fifi.


"Bunda, apapun keputusan Bunda aku dan Mas Ranga akan mendukung yang penting Bunda bahagia," ujar Diana sambil memeluk tubuh Bundanya.


Fifi merasa lega, tetapi apa masih ada kesempatan itu, Diana yang melihat Bundanya hanya diam saja tersenyum dan bertanya." Siapa pria yang membuat Bundaku ini gelisah?"


"Papa Ferdinand," jawab Fifi sambil menunduk karena malu.


"Serius, jadi naik ranjang atau turun ranjang itu namanya Bun?" tanya Diana.


"Kamu itu ngomong apa sih, kebanyakan baca novel!"seru Bunda membuat Diana terkekeh.


Diana menceritakan kalau dulu ia dan Ferdinand pernah pacaran dari SMA dan sampai kuliah, hingga kakek sakit dan begitu ingin menikahkan dirinya.


"Kenapa nggak menikah dengan Papa Ferdinand, Bun?" tanya Diana penasaran.


"Ferdi belum siap untuk membina rumah tangga, dan jadilah Bunda menikah dengan Ayahmu," ujar Fifi.


"Kalau Diana yang penting Bunda bahagia, itu tidak masalah mau sama siapa saja," ucap Diana tersenyum.


"Terimakasih, Nak." kata Bunda Fifi.


"Jadi kapan rencananya?" tanya Diana.

__ADS_1


Bersambung ya.....


__ADS_2