
Suasana ruangan Yoga Sangat menegangkan, Pak Anwar terlihat sangat pucat. Yoga dengan raut wajah yang sudah memerah menahan Amarah menatap Pak Anwar dengan tajam.
"Siapa Rendy!" teriak Yoga lantang membuat Asisten sekaligus sekertarisnya terkejut, karena pintu tidak benar-benar tertutup.
"Ma...maksudnya apa Pak?" tanya pak Anwar dengan gugup.
"Harusnya pak Anwar tahu, apa maksud saya!" ucap Yoga dengan suara beratnya.
Pak Anwar yang menyadari kalau ini adalah akhir dari segalanya, langsung menghampiri Yoga dengan bersujud minta maaf, dia janji akan memberitahukan segalanya asal dirinya tidak di pecat.
Yoga yang melihat pak Anwar menangis, sebenarnya tidak tega tapi dia harus tegas kepada bawahannya.
"Sekarang ceritakan," kata Yoga sambil membantu pak Anwar untuk berdiri dan duduk di kursi depannya.
Setelah pak Anwar tenang mulai menceritakan kalau dirinya harus melakukan pengelapan uang setiap bulannya, tapi uang itu tidak masuk ke rekeningnya melainkan ke rekening atas nama Rendy.
Yoga menautkan Kedua alisnya, merasa tidak asing dengan nama Rendy, Yoga berdiri menghampiri pak Anwar yang masih terlihat pucat.
"Sudah berapa lama orang yang menyuruh Anda untuk mencurangi saya?" tanya Yoga sambil memasukkan tangannya kedalam kantong celananya.
"Maaf, sudah selama satu tahun ini Pak," jawab Pak Anwar.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Yoga lagi.
"Roby Sanjaya Pak," jawab Pak Anwar.
Yoga mendengar nama mertuanya di sebut hanya tersenyum tipis, lalu yoga melangkah ke arah jendela, melihat suasana luar membuatnya mengingat bagaimana dulu Papa Roby Sanjaya tidak menyukainya.
"Siapa nama lengkap Rendy?" tanya Yoga sambil menaikkan alisnya melihat Pak Anwar.
"Rendy Sanjaya Pak," jawab Pak Anwar.
Yoga mendudukkan badannya di kursi kebesarannya, tangannya memutarkan pena yang dipegangnya.
"Pak Anwar tahu apa resikonya!" ucap Yoga dengan tajam.
"Saya mohon jangan pecat saya Pak, anak-anak saya masih kecil-kecil, dan sekarang istri saya sedang hamil tua," ucap Pak Anwar memohon kepada Yoga.
"Apa Pak Anwar tidak memikirkan sebelumnya, hah!" teriak Yoga lagi.
"Ampun Pak, kalau saya tidak melakukannya, keluarga saya pasti tidak selamat," jawab Pak Anwar sambil mengusap air matanya.
Yoga menarik nafas panjang, mencoba untuk membuat dirinya tenang, Pak Anwar yang melihat Yoga diam semakin bingung.
"Saya bisa tetap memperkerjakan Pak Anwar denagn syarat, hentikan pengelapan dana itu." ucap Yoga.
"Tapi Pak, bagaimana kalau Pak Roby menghubungi saya, dan mengancam keluarga saya." kata Pak Anwar.
"Katakan perusahaan ini sedang oleng," jawab Yoga sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baik Pak," jawab Pak Anwar.
Setelah itu yoga mempersilahkan Pak Anwar keluar dari ruangannya. Setelah Pak Anwar keluar Yoga memanggil sahabat sekaligus sebagai orang kepercayaannya Adrian.
Tak lama pintu terbuka, terlihat Adrian masuk sambil cengengesan.
"Bagaimana Bos?" tanya Adirian
"Mertua gue di balik semua kekacauan ini," jawab Yoga.
Adrian mendengar itu sangat geram, kenapa ada mertua sejahat itu, kalau dia tidak merestui hubungan antara Mentari dan Yoga, harusnya memisahkan bukan menghancurkan usahanya.
"Gue rasa ada yang tidak beres, apa sebelumnya orang tua lo pernah bermasalah dengan Mertua lo?" tanya Adirian.
"Sebelum Ayah meninggal, pernah cerita kalau dulu Ibunya berkerja sebagi sekertaris di perusahaan, tapi gue tidak tahu perusahaan apa." jawab Yoga.
"Ini harus kita selidiki bro," ucap Adrian.
Yoga menarik nafas panjang, bagaimana dirinya menyelidiki, Ibunya saja meninggal saat melahirkannya.
"Gue serahin ke elo ya, sekarang gue harus pulang, Senja akan pulang ke Surabaya malam ini." ucap Yoga sambil mengemasi berkasnya.
"Suaminya enggak jemput?" tanya Adrian.
"Jemput," jawab Yoga singkat.
"Rian, Lo suruh pasang Cctv dan penyadap suara di ruangan pak Anwar." perintah Yoga.
Keduanya keluar sama-sama, sedangkan Yoga langsung menuju lift. Sampai di mobil Adrian tersenyum saat melihat orang yang selalu mengawasinya.
Mobil yoga melaju dengan kecepatan sedang, menuju kediamannya.
Di resort.
Senja yang sudah siap mandi menatap suaminya kesal, karena hari ini saja masih jam 2 siang dirinya sudah mandi empat kali di buat suaminya. Satya yang melihat Istri kecilnya mengerutu hanya tersenyum.
"Jangan marah," ucap Satya sambil memeluk pinggang Istrinya yang masih terlilit handuk.
"Bby, jangan mancing-mancing si otong lagi, pokoknya Mmy enggak mau!" ucap Senja kesal.
"Menolak suami dosa sayang," ucap Satya sambil mengecup kepala Senja yang harum.
"Bby sayang, sekarang mandi ya!" kata Senja sambil mendorong tubuh Satya kekamar mandi.
"Mmy, siap mandi lagi ya," goda Satya sambil mengedipkan matanya.
Senja langsung melotot melihat suaminya, Satya terkekeh dan Langsung menutup pintu kamar mandi. Senja menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan suaminya yang tidak pernah puas.
Setelah lima belas menit Satya selesai membersihkan diri, keluar hanya mengunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Senja menelan ludahnya saat melihat suaminya yang sedang mengeringkan rambut, badan kekar dan dada bidang Satya membuatnya terpesona, di tambah lagi dengan perut datar Satya yang seperti roti sobek, membuat Senja segera mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Satya tersenyum sambil menggeleng, saat mata Senja memperhatikan gerakannya. Satya langsung menghampiri Senja dan menyentil kening istrinya.
"Auh.., Bby sakit," omel Senja.
"Kenapa, hah? apa suamimu sekeren itu." goda Satya yang berdiri sambil tersenyum menggoda.
"Ih...Bby, dasar mesum," jawab Senja, seketika tawa Satya pecah melihat istrinya yang salah tingkah.
"Mmy, kita kerumah Ayah dulu ya," ucap Satya sambil memakai baju di hadapan Senja, sedangkan Senja dengan cepat mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Satya tersenyum melihat istrinya yang masih malu, Satya duduk di samping Senja lalu membisikkan sesuatu, membuat senja langsung memukul bahu Satya.
"Bby kenapa jadi mesum," ucap Senja cemberut.
"Bby hanya minta sekali lagi aja," ucap Satya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Senja.
"Bby...!" teriak Senja sambil berdiri.
Satya hanya tersenyum melihat istrinya yang sedang kesal kepadanya.
"Mmy, Ayah sudah menunggu di rumah," ucap Satya sambil membalas pesan Yoga.
"Ia Bby, eh...Ibu sudah tau siapa Nenek Wati, tapi kata Ibu Senja harus pura-pura tidak mengetahuinya.
"Ia sayang, kita lihat sampai mana Kakek akan merencanakan usahanya untuk memisahkan Ayah dan Ibu." jawab Satya.
"Bby, seandainya Bby di suruh pilih Mmy atau grup Nugraha, mana yang Bby pilih?" tanya Senja.
Satya langsung mengalihkan pandangannya ke Istrinya, yang juga sedang menatapnya.
"Sayang, jangan berpikir terlalu jauh, Kakek tidak akan bisa memisahkan kita, karena sekarang Kakek sedang fokus untuk merebut perusahaan Ayah.
"What? Bby tau dari mana?" tanya Senja yang terkejut.
"Manager keuangan di kantornya Ayah, orang suruhan Kakek sayang," ucap Satya.
"Kakek keterlaluan, ini tak bisa di biarkan!" guman Senja sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Sayang, dengar Bby dulu, kita ikuti rencana Ayah ya, makanya sekarang Ayah menunggu kita di rumah," jawab Satya.
"Ia Bby, ayo kita pulang, kasihan kalau Ayah menunggu lama." ucap Senja yang berdiri hendak keluar kamar.
"Mmy, satu kali aja," goda Satya sambil mengedipkan matanya.
"Bby.., Astagfirullah," ucap Senja langsung pergi keluar kamar.
Satya hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang kesal kepadanya.
Bersambung ya...
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya, 🙏🙏🙏🙏