
Seperti apa yang direncanakan oleh Yoga, sore ini sepulang dari rumah ayah Nugraha dia langsung membawa istrinya untuk ke Dokter kandungan. Setelah sampai rumah sakit Yoga dan Mentari segera duduk di ruang tunggu, karena kebetulan keduanya dapat antrian yang pertama.
Kini nama mentari dipanggil, Yoga segera menjelaskan sedang program kehamilan. Namun, Allah mempercepat hasilnya.
“Bapak lihat dimonitor itu, kehamilan Ibu kini berumur dua minggu,” kata Dokter wanita itu.
Setelah menjelaskan dan memberi resep kini, Yoga dan mentari keluar dari ruangan Dokter. Yoga sesekali mengusap perut istrinya yang masih rata, akhirnya momen yang dulu sempat ia tinggalkan saat mentari siap melahirkan akan ia hadapi lagi.
“Mas…apa enggak apa-apa kalau kita pulang ke Jakarta?” tanyanya
“Tidak sekarang sayang, setelah 7 hari papa baru kita pulang ya…kasihan Rendy, walau sudah ada Popy sekarang,” jawabnya sambil mengusap punggung tangan istrinya.
Mentari hanya menarik nafas panjang, ingin sekali ia hadir di pernikahan sahabatnya Shinta dan Arnold, tapi rasanya ia tak bisa datang. Semoga sahabatnya bisa mengerti.
“Ayo…sayang,” ajak Yoga saat selesai mengambil obat.
Mentari hanya tersenyum keduanya kini masuk ke mobil, Yoga melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Sanjaya. Saat keduanya baru sampai mentari melihat bik Sum keluar membawa tas.
“Bibik mau kemana?” tanya Mentari.
“Ke rumah Nona Senja,” jawabnya sambil tersenyum.
“Senja-nya mana bik?” tanya Yoga
“Sudah di rumah sana, Mas.” Jawabnya sambil menatap Yoga.
Yoga hanya menarik nafas panjang, mungkin ia hanya ingin berdua saja dengan suaminya, batinnya. Namun, Yoga tidak mengatakan apa-apa. Yoga segera mengajak istrinya masuk ke dalam rumah, tapi saat sampai ruang keluarga keduanya dikejutkan Rendy dan Popy yang tengah berciuman.
Mentari hanya tersenyum, keduanya tidak ingin mengganggu sepasang pengantin baru itu. Yoga segera membersihkan diri sedangkan mentari yang merasa lelah kini memilih tidur di ranjang. Tak lama ia terlelap.
Di ruang keluarga.
Popy merasa malu karena melakukan ciuman di ruang keluarga, takut ada yang melihatnya. Rendy yang gemes segera membawa istrinya ke kamar. Bagaimanapun juga ia lelaki normal yang membutuhkan pelepasan, sekian lama menunggu keduanya bisa melakukan olah raga sore.
“Sayang terimakasih sudah menjaganya untukku, apa masih sakit?” tanyanya sambil mengusap pipi istrinya.
Popy yang tersipu malu mendengarnya, saat suaminya menanyakan apa masih sakit. Setiap wanita pasti akan menjaga kehormatannya untuk suaminya kelak. Itu juga yang ia lakukan, walau selama ini jauh dari orang tuanya Popy selalu menjaganya.
__ADS_1
Di tatapnya suaminya yang kini terlelap di sampingnya ia tersenyum, Popy merasa sedih jujur sampai sekarang ia belum bisa mencintai Rendy seutuhnya. Karena bayangan Satya masih terus ada di setiap ingatannya, tapi ia akan berusaha untuk melupakan pria yang pertama memberi perhatian kepadanya.
Benar apa kata pepatah jika mencintainya, relakan dia bahagia dengan orang yang dicintainya kini. Dan lebih sesaknya Satya kini menjadi ponakannya. Ada pepatah mengatakan dunia tak selebar daun kelor. Mungkin ini sekarang yang ia rasakan.
Popy segera bangun dan menuju kamar mandi, ia tersenyum saat menyerahkan harta yang paling berharga kepada suaminya. Ia berharap Rendy selalu menyayanginya seperti sekarang dan sampai tua nanti.
Selesai membersihkan diri, Popy segera ikut berbaring di samping suaminya, karena badannya merasa sakit-sakit tak lama ia larut dalam mimpi indahnya.
Di kediaman Satya.
Saat ini ia mendapatkan kabar kalau kerja samanya dengan Radit batal, karena tidak menguntungkan bagi grup wijaya. Satya hanya tersenyum sinis, lebih baik ia tidak melakukan kerja sama dengan rivalnya itu.
Ia begitu lelah setiap ada hubungan kerja sama dengan perusahan wijaya semenjak di pegang oleh Radit, yang lebih mengejutkan Satya di undang syukuran pernikahan Mery dan Radit. Dia memutuskan enggak bisa datang jadi menyuruh rangga dan Diana untuk menghadirinya,
Satya berlahan membuka pintu yang tak terkunci, ruang keluarga kosong. Ia kemudian menarik nafas panjang, Satya tidak ingin membawa masalah pekerjaan ke rumah apa lagi sampai istrinya ikut terlibat urusan kantornya.
Setelah Agak tenang pria berbadan tegap itu membuka pintu kamar berlahan-lahan, Senja menoleh saat pintu terbuka. Kemudian ia berdiri dan memeluk suaminya yang baru pulang bertemu dengan Ranga di sebuah kafe.
“Apa ada masalah, Bby?” tanyanya sambil tersenyum.
“jangan di hisap lama-lama, nanti peletnya hilang,” ucapnya sambil mengedipkan matanya ke arah suaminya.
Satya terkekeh mendengarnya istrinya ini begitu tahu bagaimana membuat dirinya bisa kembali membaik suasana hatinya, Satya memeluk istrinya dengan erat . ia begitu sangat mencintai wanita yang kini berada didekapnya.
“Sayang besok sore waktunya kita kontrol kan, semoga anak Abi sehat ya, Nak,” katanya sambil mengecup perut Senja.
“Terimakasih Abi,” jawab senja menirukan suara anak kecil.
Keduanya tertawa lepas bersama, kini Satya memperhatikan lektop yang masih hidup di atas ranjang. Kemudian ia melihatnya kalau istrinya tengah mengerjakan tugas kuliahnya. Senja cemberut saat Satya membaca hasil kerjanya, tapi kemudian Satya mengerutkan dahinya.
“Sayang kamu ngerjain tugas kuliah atau ngerjain desain?” tanya Satya sambil melihat istrinya.
“Hihihi….dua-duanya, Bby.” Jawabnya sambil cengengesan.
Satya hanya tersenyum istrinya ini pandai menggambar, kenapa enggak mau mengambil jurusan desain. Satya duduk sambil memperhatikan desain baju-baju yang lumayan indah kalau buat pemula.
“Ini untuk butik nya tante Fifi?” tanya Satya.
__ADS_1
“Iya, rencananya mau dijahit untuk minggu ini.” Jawabnya.
“Bby…enggak melarang Mmy untuk berkarya, tapi jangan sampai kecapekan karena sekarang bukan hanya Mmy saja yang harus dijaga, ada ini Satya junior yang perlu kita jaga bersama,” ujarnya sambil mengusap punggung tangan Senja.
“Insha’Allah aman, Sayang,” katanya.
Satya hanya menarik nafas panjang istrinya ini paling bisa membuat cara agar dirinya bisa memberikan ijin untuk mulai desain. Namun, Satya membiarkannya saja.
“Bby mikirin apa?” tanyanya sambil duduk di pangkuan suaminya.
“Bby kangen, boleh Abinya menjenguk,” ucapnya dengan suara beratnya.
Senja hanya tersenyum, ia tahu kalau ada masalah yang coba ditutupi suaminya. Namun, Satya belum mau menceritakannya kepadanya. Tangan Satya sudah mulai masuk ke dalam balik baju Senja, wanita itu mencoba menggigit bibir bawahnya untuk menahan supaya tidak mendesah.
Ciuman keduanya semakin menuntut, Satya segera mengangkat istrinya untuk berbaring di ranjang, ia menatap wajah istrinya dengan lekat. Terlihat Senja juga sudah mulai terbawa suasana, Satya mengecup mata dan hidung Senja.
Saat Senja membuka matanya, mata keduanya saling beradu. Entah mengapa Senja merasakan detak jantungnya berdetak dengan cepat, nafas suaminya mulai tidak beraturan. Satya menenggelamkan wajahnya di dada istrinya.
Lagi-lagi Senja dibuat suaminya melakukan olah raga menjelang malam, lelah itulah yang keduanya rasakan sekarang. Satya tersenyum saat ia segera menarik selimut yang menutupi tubuh polos istrinya, hal itu membuat Senja malu dan matanya melotot.
“Ayo….mandi, masih ada waktu untuk sambung lagi olah raganya,” godanya.
“Bby….mesum!” teriaknya sambil melempar guling ke suaminya.
Satya hanya tertawa melihat istrinya yang kesal, jika tadi ia yang kesal karena urusan kerjaan. Namun, kini Istrinya kesal karena keusilannya.
“Sayang ayo mandi,” kata Satya yang membuka handuk di depan istrinya.
Senja pandangan langsung ke arah benda yang mengantung di bawah sana, wanita itu menelan salvianya. Ia segera masuk kamar mandi yang di ikuti oleh Satya.
“Bby jangan seperti itu, nanti kalau tiba-tiba ada yang masuk kamar kita bagaimana?” tanyanya .
“Hanya ada istrinya Bby,” jawabnya.
Kini keduanya berendam, Satya berlahan menggosok punggung istrinya dan sebaliknya keduanya bergantian. Setelah selesai dengan sabar pria berwajah tampan itu membilas tubuh istrinya sesekali tangannya jahil meremas bukit kembar favioritnya.
Setelah selesai mandi keduanya segera bergantian berpakaian, sambil duduk di sofa menunggu azan magrib untuk shalat berjamaah.
__ADS_1