PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 128


__ADS_3

Pagi ini entah kenapa senja malas untuk pergi ke kampus, ia hanya ingin tidur saja. Namun, mengingat ada tugas yang seharusnya di kumpul pada hari ini.


Satya yang melihat istrinya hanya menarik selimut merasa heran, lalu menghampiri wanita yang kini tidur.


"Sayang," panggil Satya sambil mengusap kepala istrinya.


"Bby, kok belum pakai bajunya?" Tanyanya sambil menatap wajah suaminya.


"Kenapa?" Tanyanya lagi.


"Hanya malas ke kampus aja?" Jawabnya sambil cengengesan melihat perubahan di wajah Satya.


Mati aku pakai bilang malas, wah …. sepertinya Bby marah. Harus cepat merayu ini kalau enggak bisa ngambek bayi besarku


"Bby, nanti Mmy di antar pak Yanto saja ya," katanya sambil duduk di atas kasur.


Satya hanya berdiri menatap wanita yang baru saja mengatakan malas padanya.


Sepertinya istri kecil ku takut aku marah, lihat wajahnya imut andai enggak ingat apa kata dokter sudah kuterkam dia.


Tak lama Senja masuk kamar mandi, tanpa ia sadari Satya masuk Karena pintu tak di kunci.


"Yah…..Bby kaget tahu!" Teriaknya karena tahu-tahu suaminya sudah diatasnya.


Satya hanya terkekeh mendengarnya, tapi kini ia menatap istrinya intens. 


"Ini yang malas tadi, atau ini," kata Satya sambil mengecup kening dan pipi istrinya.


"Heheh … maaf sayang," ucapnya.


"Kalau lagi hamil malas, nanti anaknya ikut malas juga bagaimana sayang?" tanyanya.


"Mmy, kan sudah minta maaf," gerutunya lirih.


"Baiklah, sekarang kita olahraga pagi buat malasnya hilang dan pergi jauh-jauh," kata Satya.


Senja hanya bisa pasrah saat suaminya melakukan olahraga pagi.


Setelah selesai barulah ke-duanya bersih-bersih.


Satya segera mengajak istrinya untuk sarapan bersama di meja makan yang sudah ada Bunda dan Ayah Nugraha.

__ADS_1


"Om Ranga mana?" tanya Senja dengan polos.


"Sayang ayo habiskan sarapannya," kata Satya .


Bunda hanya tersenyum, ia tahu putranya itu begitu sayang dengan istrinya. Apa lagi, ia harus meninggalkannya nanti selama tiga bulan. ia harus berharap istrinya yang polos itu mau mengerti.


"Hari ini ada kuliah, Nak?" tanya bunda sambil tersenyum.


"Iya ada, Bun," jawab Senja sambil meminum susunya.


Ayah Nugraha yang melihat Satya buru-buru akhir menawarkan diri untuk mengantarkan menyatunya.


"Biar Senja sama Ayah saja,.lagian ayah sudah lama enggak ke kampus," sahut Ayah Nugraha sambil menatap putranya.


"Maaf ya Pa merepotkan," jawab Satya.


Kini Satya pergi ke kantor karena ada meeting pagi dengan investor dari Singapura.


Senja entah kenapa hatinya terasa sesak saat melihat suaminya pergi duluan, kini ia naik ke lantai dua untuk mengambil buku dan tasnya.


Saat Senja turun, tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara Bunda dan ayah di kamar.


"Apa Senja tidak apa-apa kalau di tinggalkan selama itu, apalagi ia sedang hamil, Yah," kata Bunda.


Deg....apa selama ini aku terlalu manja sama suamiku, apa itu suatu kesalahan.


Senja yang tak mau dibilang manja akhirnya bisa naik ojol pergi ke kampus, air matanya menetes mengingat apa yang didengarnya tadi.


Bby kenapa enggak kasih tahu Mmy, kalau Bby akan keluar negeri selama tiga bulan, kenapa aku harus dengar dari mertuaku.


Tanpa terasa ojol yang dinaiki oleh Senja sampai di depan kampus, wanita itu segera masuk dan menuju kelasnya. Dia langsung duduk di samping Sari yang tengah memperhatikannya.


"Lo ... lagi ada masalah?" tanya Sari.


"Enggak ada gue hanya ngantuk," jawabnya sambil tersenyum menatap sahabatnya itu.


"Kalau ada masalah jangan ragu untuk berbagi sama gue ya ...," ucapnya sambil mengusap bahu Senja.


Tanpa terasa kelasnya selesai setelah dua jam mendengarkan suara dosen killernya, Senja memasuki peralatannya dalam tas.


"Ke Kantin Yuk," aja Alan dan Leo.

__ADS_1


"Duluan aja, gue ada perlu," kata Senja sambil keluar kelas berjalan menuju gerbang.


Saat melintasi parkiran, ia melihat mobil mertuanya dan suaminya ada di area kampus, tapi rasa kesalnya masih ada saat semuanya sepertinya membohonginya.


Senja berjalan gontai menuju halte bus tak jauh dari kampusnya, setelah menunggu 10 menit bus yang ditunggunya datang, wanita yang kini sedang hamil itu mematikan handphonenya. Saat ini ia hanya ingin sendiri, tak ingin bertemu dengan orang yang selama ini dia percaya enggak tahunya akan meninggalkan dirinya selama tiga bulan.


Senja menuju danau buatan yang kini tak terawat lagi hingga banyak rumput liar di sekelilingnya, dilihatnya masih ada kursi yang dulu sering digunakan untuk menghabiskan waktu seharian di danau ini.


Senja kini duduk di kursi yang warnanya sudah mulai pudar itu, ia membaringkan tubuhnya menyamping sambil mengusap perutnya yang buncit.


Langit sudah terlihat gelap, tanda hujan akan segera turun membasahi bumi. Namun, tidak untuk wanita yang kini ketiduran di kursi, tanpa sepengetahuannya di rumah Ayah Nugraha sedang panik karena Senja pagi pergi sendiri.


"Kenapa anak itu naik ojek?" kata Ayah Nugraha sambil mengusap wajahnya.


"Mungkin keinginan cucu kita," jawab Bunda ikut mengantarkan suaminya sampai diteras.


Sebenarnya Bunda merasa khawatir, ia takut Senja mendengar apa yang telah ia bicarakan dengan suaminya pagi tadi.


Satya selesai meeting segera menuju ke kampus karena merasa bersalah kepada istrinya, saat sampai kampus sudah ada mobil Ayahnya.


Karena keasyikan mengobrol Satya lupa tujuannya untuk menjemput istrinya, saat ia melihat jam di tangannya ia terkejut.kalau sekarang sudah jam 3 sore.


Satya segera pamit untuk ke kantin biasanya kalau ia lama istrinya akan menunggu dirinya di kantin. Saat sampai di kantin ia tak melihat istrinya, Satya segera menghubungi nomor telepon istrinya.


Sayang kamu dimana? kenapa nomornya nggak aktif, Satya terlihat frustasi...


Tiba-tiba hujan turun deras, saat akan menuju ruangannya Satya melihat Sari yang akan masuk ruangan Ibnu.


"Sari tunggu," katanya sambil melangkah menghampiri sahabat istrinya itu.


"Apa kamu tahu, di mana Senja sekarang?" tanya Satya yang terlihat berantakan.


"Tadi saya ajak ke kantin enggak mau,tapi dia bilang ada perlu," jawab Sari sambil menatap Satya Iba.


Satya yang mendengar itu mengusap wajahnya, ia sekarang tidak tahu istrinya dimana, Satya segera menghubungi Bunda  menanyakannya apa Senja sudah pulang atau belum. Namun, sayangnya jawabannya sama istrinya belum pulang.


Pria itu tidak lupa menghubungi Telepon rumahnya untuk menanyakan sang istri, lagi-lagi jawabannya sama seperti Bundanya.


Suara gemuruh petir menggelegar seakan tahu suasana hati wanita yang masih terpejam di kursi warna hitam itu, Hujan deras mengguyur tubuh mungilnya.


Seulas senyum tersungging di bibirnya, saat-saat seperti ini dulu ia bisa  dan berteriak kencang.

__ADS_1


Aku sudah lama tidak datang, tapi di sambutan petir dan hujan deras. Andai waktu bisa diputar tidak akan mendengarkan apa yang didengarnya tadi pagi.


__ADS_2