
Sore harinya Satya dan Senja yang baru sampai di rumah bundanya langsung masuk rumah, tapi saat sampai di ruang keluarga Senja terkejut.
"Nenek?" panggilnya.
"Assalamualaikum," kata Nenek Wati.
"Walaikumsalam, Nenek apa kabar?" tanyanya sambil memeluk wanita itu penuh kasih.
"Alhamdulillah baik, Nak," jawabnya.
Tak lama datang Bunda dan Suci menghampiri Senja.
"Loh....baru sampai? suamimu mana, Nak?" tanya Bunda sambil meletakkan teh hijau di atas meja.
"Sedang terima telepon, Bun," jawab Senja sambil tersenyum.
Tak lama Satya masuk, ia tertegun saat melihat nenek Wati dan Suci ada dirumah bundanya.
Satya langsung menyalami nenek Wati sambil tersenyum, saat ia kan duduk tiba-tiba ada suara yang tak asing lagi.
"Hai.... Bos," kata Arga.
"Cih.... dasar bucin," ledek Satya.
Arga yang tahu maksud Satya hanya tersenyum, jujur ia tak tega saat Nenek Wati ingin bertemu dengan Om Ronald hanya dengan Suci.
"Bagaimana kabar pengantin baru?" tanya Satya.
"Enggak ada bedanya sama Lo!" cibir Arga.
"Sama-sama bucin enggak usah saling ledek!" kata Senja.
Keduanya langsung saling pandang, sedangkan bunda hanya menggelengkan kepalanya.
"Jadi kapan lo....halalin Suci?" tanya Satya.
"Besok," jawab Arga enteng.
Satya hanya berdecih mendengar apa yang katakan Arga, tapi ia juga mendengar kalau Suci dan Arga akan menikah lebih dulu baru resepsi akan sama-sama dengan Ranga.
Tak lama handphonenya Satya bergetar tanda ada pesan masuk, pria itu segera membukanya.
Saat membaca pesan yang terpampang di layar segi empatnya ia menaikkan alisnya satu.
Senja yang melihat Suaminya terpaku hanya diam, tapi karena rasa keponya wanita itu mendekatkan diri kesuaminya.
"Bby ada apa?" tanya Senja sambil berbisik karena penasaran.
"Killer mau melamar Sari besok sore, dia minta tolong kita untuk hadir," jawab Satya sambil berbisik.
"Woi.....kalian pikir gue kasap mata!" teriak Arga kesal melihat pasangan suami istri itu asik berbisik saat ada dirinya.
"Berisik! Kata Satya dan Senja bersamaan.
__ADS_1
Arga hanya mendengus saat mendengar keduanya menjawabnya dengan kompak, tapi itu kemajuan untuk hubungan sepasang suami-istri yang kini makin terlihat kompak.
"Ada apa sih?" tanya Arga.
"Kepo!" Lagi-lagi pria itu di buat membeo dengan jawaban pasangan di depannya.
Suci datang membawa kue yang baru siap ia bikin dengan Nenek dan Bunda, Arga tersenyum saat melihat kekasihnya datang dengan membawa kue dan teh hangat.
"Silahkan...," kata Suci lembut
"Makasih Sayang," kata Arga sambil menepuk tempat kosong disampingnya.
Suci yang mengerti segera duduk di samping Arga, di ambilkannya kue untuk calon suaminya itu.
Begitu juga dengan Satya dan Senja keduanya saling menyuapi, Ayah Nugraha yang baru menuruni tangga hanya bisa menghela nafas panjang melihat pasangan yang satu sudah halal dan satunya belum itu.
Rasanya ia ingin cepat menikahkan anaknya itu dari pada nanti Arga kilaf, Ayah Nugraha segera bergabung dengan kedua pasangan yang ada di ruang keluarga.
Melihat Ayahnya datang keduanya langsung tersenyum dan memperbaiki sikap duduknya, yang membuat Ayah Nugraha tersenyum.
"Sedang membicarakan apa?" tanya Ayah sambil mengambil bolu yang masih hangat.
"Ayah ingat Ibnu?" tanya Satya sambil meminum tehnya.
"Iya, kenapa dia?" tanyanya lagi.
"Besok mau melamar Sari sahabat Senja," kata Satya.
Ayah Nugraha menatap anak mantunya itu dengan seksama, karena setahu lelaki paruh baya itu Senja hanya punya sahabat Diana.
Senja juga merasa bingung, karena ia juga tidak tahu siapa nama orang tua Sari. Namun, Satya yang melihat istrinya hanya diam pria itu yakin wanita yang kini duduk disampingnya tidak tahu tentang Sari.
Ayah Nugraha yang melihat Senja hanya menggelengkan kepalanya tersenyum, ia bisa menebak kalau benar hanya Diana yang dekat dengannya.
"Sari putri satu-satunya dari Om Erlangga," jawab Satya.
Ayah Nugraha terkejut, pasalnya ia tahu siapa Erlangga. Apa nanti ia akan merestui Ibnu dengan Sari, apakah ia akan ikut besok?
"Kenapa, Yah?" tanya Satya saat melihat perubahan di wajah Ayahnya.
"Besok semoga lancar," kata Ayah Nugraha sambil tersenyum dan menepuk bahu anaknya.
"Amiin," sahut Senja.
******
Pagi harinya di kediaman Erlangga. Sari yang tahu kalau kedua orang tuanya akan datang sebentar lagi merasa tidak tenang, ada rasa takut yang membuncah. Namun, Gadis itu beberapa kali mencoba menenangkan detak jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang.
Suara deruan mobil terdengar berhenti, Sari semakin gugup.
"Assalamualaikum," kata mama Seruni sambil tersenyum melihat anaknya yang terlihat gugup.
"Waalaikumsalam, Mam," jawabnya mencoba setenang mungkin.
__ADS_1
Sari memeluk kedua orang tuanya bergantian, Papa Erlangga tidak mengatakan apa-apa. Namun, ia selalu memperhatikan anaknya.
Sari yang merasa diperhatikan, menjadi gugup.
"Mama mau sarapan atau mau istirahat dulu," kata Sari.
"Jangan gugup, Nak," kata mama Seruni sambil tersenyum.
"Mam, apa Papa marah," bisiknya sambil menunduk karena tidak berani menatap kedua mata pria yang sekarang memperhatikannya.
"Tidak, tapi Papa shock saat mendengar kamu mintak di nikahkan," ujarnya sambil mengusap kepala anaknya.
Sari tersenyum cangung saat Papanya pindah duduk di sampingnya, gadis itu hanya menundukkan kepalanya.
"Siapa dia?" tanya Papa Erlangga sambil mengusap punggung tangan anaknya.
"Ma..... maksudnya?" tanya Sari terlihat gugup.
"Kamu tahu! papa membatalkan proyek besar karena mendengar kamu minta menikah muda, hem!"
"Sari untuk memutuskan membina rumah tangga itu tidak mudah, tapi jika kamu mampu menjalin hubungan antara dua keluarga insyallah itu akan ada jalannya."
Papa Erlangga menatap wajah istrinya, Mama Seruni menarik nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu kepada anak satu-satunya itu.
"Sebenarnya waktu kamu minta menikah mama ada rasa bangga, karena saat Papa dan mama sedang tidak ada di rumah berarti kamu ada yang menjaga," ujarnya sambil tersenyum.
"Siapa dia,Nak?" tanya Papa Erlangga.
"Apa dia bisa datang sekarang?" tanya mama Seruni.
Sari tertegun melihat kedua orang tuanya bergantian, belum sampai ia menjawab pertanyaan papanya mamanya juga sudah melontarkan pertanyaan?
"Sari akan hubungi Mas Ibnu sekarang," ucapnya segera mengambil handphonenya.
Setelah Sari mengirimkan pesan,tak lama Ibnu langsung membalasnya.
"Bagaimana?" tanya Mama sambil tersenyum.
"Mas Ibnu langsung mau ke rumah Mam," jawabnya.
"Bagus, semoga pilihanmu tidak mengecewakan!"
Deg....detak jantung Sari berdetak dengan kencang, bagaimana kalau Orang tuanya tahu nanti kalau ia mempunyai hubungan dengan Dosennya.
"Mama sama papa istirahat bentar," pamitnya kepada putri satu-satunya itu.
Mama Seruni menepuk bahu Sari, setelah itu wanita itu melangkah pergi menuju lantai dua.
Sari merasa frustasi, ia bersandar di sofa. Gadis itu merasa akan mengikuti ujian hidup untuk pertama kalinya, tapi ini ada rasa tak menentu yang ia rasakan.
Rasanya hatiku mau meledak, saat ini juga. Apa yang akan Papa katakan saat tahu kalau calon mantunya sudah tua, eh salah bukan tua tapi dewasa dan matang.
Saat bel rumah berbunyi, gadis itu terperanjat. Namun, ia buru-buru membuka pintu.
__ADS_1
Matanya melotot saat melihat Ibnu datang tak sendiri, melainkan dengan kedua orang tuanya. Di tambah lagi ada Senja dan suaminya.