PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Senja panik


__ADS_3

Suci tersenyum, wajah wanita berseri karena ibu satu anak itu akan mengajaknya. Arga ikut bahagia saat senyum manis terbuat dari bibir istrinya.


"Lain kali aja ya!" pinta Arga.


Suci menatap suaminya merasa tidak suka."Kok gitu."


Arga tersenyum menatap istrinya dan berkata."Kita bulan madu aja lagi selagi masih libur."


Suci menatap suaminya tidak percaya membuatnya malu karena mengatakan itu di depan mertuanya dengan geram ia berkata."Mas!"


Arga terkekeh mendengar istrinya yang memekik, sedangkan Ayah Nugraha dan istrinya tersenyum. Berbeda dengan Senja, wanita itu merasa tidak enak jika nanti harus membatalkan untuk berkumpul bersama sahabatnya.


Kerasan Senja itu terbaca oleh Mertuanya, Bunda merasa kalau sikap putranya itu terlalu berlebihan karena Senja masih begitu muda. Ia rasa jika menantunya itu masih  ingin bebas saat ini.


"Nak, nanti pergi sama Bunda saja, sekalian kita membeli pakaian Jingga," ujar Bunda.


Mendengar itu mata Senja berbinar, senyum menangis mengembang di bibirnya membuat semua yang ada di ruang keluarga tersenyum dan lega.


"Bun, tapi Mas Satya bagaimana?" tanya Senja.


"Itu menjadi urusan Ayah, Sayang," jawab Ayah Nugraha sambil tersenyum.


Senja mengangguk menyetujuinya, waktu sudah menunjukan pukul sembilan lewat. Bunda meminta menantunya untuk bersiap, sedangkan Jingga digendong oleh Kakeknya.


Setelah lima belas menit Senja terlihat menuruni tangga, Arga dan Suci tersenyum melihat penampilan Senja, wanita itu terlihat santai dengan rambut diikat seperti ekor kuda dan kaos oblong lengan panjang warna biru tua dan celana Jean warna senada.


"Satya pasti ngamuk ;lihat penampilan istrinya," kata Arga.


Suci dan Ayah Nugraha menatap Arga, kemudian keduanya beralih menatap Senja yang berjalan menghampirinya.


"Kenapa harus marah, gayanya santai dan sopan?" tanya Suci.


Arga tersenyum dan berkata."Lihat Senja, gayanya seperti anak SMA."


Suci mulai menyadari, jika Senja memakai sepatu warna putih. ia  baru sadar jika baju yang dipakai Senja sama dengan punya Jingga.


"Ayo kita berangkat," kata Bunda.


Senja mengikuti mertuanya berjalan dengan menggendong Jingga, sedangkan Pak Yanto memasukan kereta dorong milik Jingga ke bagasi mobil.


"Ayah sudah kasih tahu Mas Satya?" tanya Senja saat melihat Mertuanya duduk di depan samping Pak Yanto.

__ADS_1


"Sudah mungkin sekarang sudah di kampus," jawab Ayah Nugraha.


Senja hanya mengernyitkan keningnya, wanita itu menarik napas dalam. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, setelah tiga puluh lima menit mobil memasuki kampus.


"Ayo Ayah antar." Ayah Nugraha keluar dari mobil diikuti Senja.


"Bunda enggak ikut?" tanya Senja.


"Bunda tunggu di sini saja," jawab Bunda sambil mencium pipi gembul cucunya.


Senja dan Ayah Nugraha berjalan beriringan, wanita itu tidak sengaja melihat Sasa dan gengnya menatapnya sinis. Tidak lama ia berjalan dan memeluk lengan Ayah mertuanya. Walau sudah biasa bagi mertuanya. Namun, tidak bagi Sasa.


"Yah, bentar lagi pasti aku dibilang simpanan sugar Daddy," ucap Senja tertawa.


Ayah Nugraha yang sudah tahu sifat menantunya itu hanya tersenyum, saat keduanya sampai lorong tiba-tiba kening Senja di sentil seseorang membuat langkahnya terhenti.


Senja menatap suaminya sambil mengusap keningnya."Mas sakit."


"Kamu istri nakal, lihat semua orang lihatin kamu keluar dari mobil mewah sama Ayah, malah sengaja peluk lengan yang mempunyai kampus." Satya menggelengkan kepalanya sementara Ibnu hanya tersenyum melihat sahabatnya itu kesal sama istrinya.


"Iya maaf," kata Senja kini memeluk lengan suaminya erat dan berkata."Pak Ibnu mau aku peluk juga."


"Senja." Mata Senja melebar saat melihat Sari dan Diana menghampirinya.


"Ayo masuk ruangan dulu," ajak Ibnu karena menjadi perhatian mahasiswa lain.


"Kami nggak bisa lama-lama, karena Bunda menunggu di mobil," ucap Senja.


Senja melihat wajah kecewa dari Sari dan Diana, karena rencananya akan jalan bertiga. Namun, kedua sahabatnya itu memaklumi Senja seorang Ibu yang memiliki anak kecil.


"Nggak apa-apa lain kali saja," jawab Diana dan Sari bersamaan.


Senja langsung pamit sedangkan suaminya dan mertuanya akan tinggal di kampus karena ada rapat bulanan. sesampai di mobil Senja di hentikan oleh Sasa, Yeni dan Diah.


Senja menatap ketiga wanita yang menatapnya rendah. Saat ia akan membuka mobil tiba-tiba tangannya dicekal oleh Sasa dengan kasar.


"Jadi kamu mau masuk kampus lagi, sudah menjadi menantu dari pemilik kampus jangan sombong!" kata Sasa tidak suka.


Senja hanya diam, ditatapnya Sasa yang kian menatap marah karena wanita itu tidak marah kepadanya. Bunda yang melihat menantunya diganggu mahasiswa lain hendak keluar ia urungkan saat melihat Sari dan Diana menghampiri menantunya.


"Sasa! cukup. Kamu tidak takut apa jika suami Senja bisa berbuat lebih!" seru Diana.

__ADS_1


"Jangan ikut campur!" teriak Sasa mendorong tubuh Diana hingga wanita itu mundur beberapa langkah. Namun, nahasnya Diana  tidak bisa mengimbangi tubuhnya akhirnya jatuh dengan posisi terduduk.


"Diana!" teriak Senja dan Sari.


"Auh, sakit, "kata Diana memegang perutnya.


Senja berlari membantu Diana untuk berdiri, matanya melotot saat melihat ada darah di kaki Diana."Astagfirullah darah!" 


"Kita bawa ke rumah sakit!" seru Diah sudah membantu Senja memapah Diana.


Pak Yanto langsung membantu Senja membawa Diana ke mobil, Senja duduk di depan sambil memangku Jingga sedangkan Bunda memeluk Diana erat.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Senja langsung menghubungi suaminya. Namun, tidak diangkat. Wanita itu yakin jika Sari akan memberitahu suaminya.


Sementara di area parkir, Sari begitu geram dan marah kepada Sasa dan berkata."Puas kamu Sasa, Diana itu sedang - Ah...."


Sari langsung berjalan buru-buru ke ruangan suaminya, ia tidak peduli kalau Ibnu sedang meeting. Sampai depan ruangan dibukanya pintu dengan kasar. Semua mata menatap Sari, Ibnu membulatkan matanya melihat istrinya yang membuat rapat berhenti.


"Ada apa?" Ibnu memeluk tubuh istrinya yang terlihat shock dan napas yang memburu.


"Diana," kata Sari sambil menangis.


"Ada apa dengan Diana?" tanya Satya.


"Diana pendarahan sekarang dibawa ke rumah sakit oleh Senja," jawab Sari sambil mengusap air matanya.


Ayah Nugraha mendengar itu langsung berdiri, dan meminta Satya untuk menyusul. Ibnu membawa istrinya untuk duduk dan memberikan air mineral.


Satya melanjutkan rapatnya dengan Pak Bambang mengenai penukaran mahasiswa dan beasiswa untuk yang berprestasi. Meeting selesai, Sari yang melihat Pak Bambang akan keluar memanggilnya."Pak Bambang."


"Iya," jawab Pak Bambang membalikan tubuhnya.


"Kali ini Sasa tidak bisa dimaafkan, Pak. Wanita itu jahat, sudah mendorong Diana hingga pendarahan."Sari mengatakan itu sambil terus menangis.


Semua yang ada disitu begitu terkejut, Satya mengepalkan kedua tangannya. Pria itu langsung keluar dan menghubungi Leon untuk membawa Ranga karena Diana masuk rumah sakit. Ia juga mengirim pesan kepada Leon dan Arga karena Senja sudah mengirim lokasinya.


Satya yang ditunggu Ayahnya langsung keluar dari ruangan Ibnu, Sari mengajak suaminya untuk ke rumah sakit. Dua mobil keluar dari area parkir kampus.


"Kasih tahu Arga dan Fifi!" perintah Ayah Nugraha.


"Sudah Yah, Kalau Ranga langsung dijemput Leon," ujar Satya.

__ADS_1


Ayah Nugraha mengusap wajahnya kasar dan bertanya."Apa Sasa dan Diana punya masalah, Nak?"


Bersambung ya...


__ADS_2