PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 42


__ADS_3

Siang ini cuaca di Surabaya terlihat cerah, setelah menempuh perjalanan satu jam tiga puluh menit. Akhirnya Senja dan Satya sampai kota kelahirannya.


"Bby, Mmy rasanya ingin cepat sampai rumah, kangen dengan bik Sum dan bik Ida," ucap Senja setelah turun dari pesawat, keduanya jalan beriringan menuju bagasi.


Satya hanya tersenyum menanggapi ucapan Senja, sampai di tempat pengambilan barang Satya melihat istrinya cemberut melihat banyak wanita yang memandangnya dengan pandangan menggoda.


"Jangan cemberut, hanya Mmy yang di sini," kata Satya sambil memegang dadanya.


"Makasih Bby sayang," ucap Senja sambil memberikan kecupan di pipi suaminya, membuat yang melihatnya jadi iri.


Satya yang terkejut dengan serangan Istrinya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Setelah selesai Satya segera keluar menemui pak Yanto, keduanya masuk mobil. pak Yanto menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah kemacetan di siang hari kota Surabaya.


Selama di perjalanan Senja yang sudah lelah tertidur sambil bersandar di bahu Satya.


"Bagaimana kabar Ibu, pak?" tanya Satya menayakan kabar istri pak Yanto yang terkena stroke.


"Alhamdulillah Den, sudah lebih baik dari sebelumnya." jawab pak Yanto merasa senang atas perhatian yang di berikan majikannya.


Setelah menempuh perjalanan 45 menit mobil memasuki rumah yang sudah dua Minggu Satya tinggalkan.


Senja terbagun saat mobil berhenti di halaman rumah yang tidak asing lagi menurunya, Dia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Satya terkekeh yang sudah membuka pintu mobil menunggu Istrinya keluar.


"Bby....," ucap Senja manja.


"Ayo keluar, lihat bik Sum sudah menunggu," ucap Satya sambil menunjuk bik Sum yang melangkah menghampirnya.


Senja tersenyum segera keluar dari mobil langsung berhambur memeluk wanita yang sudah merawatnya dari kecil, bik Sum yang tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya langsung tersungkur saat Senja tiba-tiba memeluknya.


Satya yang mendengar teriakkan bik Sum dan Senja terkejut saat melihat badan Senja menimpa bik Sum.


"Astagfirullah Mmy!" kata Satya kemudian membantu Istri dan bik Sum berdiri.


Senja masih tertawa melihat rambut bik Sum yang penuh dengan daun kering. Satya langsung menyentil kening istrinya bukannya membantu bik Sum, Senja asik dengan tawanya.


"Bik, maafkan Senja ya," ucap Satya sambil melepaskan daun kering yang menempel di rambut putih bik Sum.


"Cie...cie.... romantis nie...," goda Senja kemudian membantu suaminya mengambil daun di rambut bik Sum.


Satya hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan ledekan Senja. Setelah selesai ketiganya masuk ke rumah, Senja dan Satya menuju ke kamarnya.


"Mau kemana?" tanya Satya saat melihat Senja masuk kekamarnya dulu.


"Mau mandi Bby sayang," jawab Senja


Satya langsung mengendong Senja membawanya ke kamarnya, Senja yang terkejut hanya bisa pasrah saat Satya memasukkan tubuhnya dibathtub.


Satya menyatukan keningnya dengan kening Senja keduanya saling pandang, Senja memejamkan matanya saat merasakan air dingin yang mulai membasahi tubuhnya.


Satya tersenyum melihat istrinya sudah merasakan dinginnya air yang sudah memenuhi bathtub, Satya meraba bibir indah milik istrinya dengan jarinya.

__ADS_1


"Bby," ucap Senja yang sudah merasakan sentuhan dari suaminya, keduanya larut dalam mahligai surga dunia, hingga merasa hanyut dalam lautan cinta untuk saling memenuhi kebutuhan masing-masing.


Setelah selesai mandi keduanya beristirahat karena merasa sangat lelah setelah perjalanan yang sangat jauh ditambah oleh raga siang tadi dikamar mandi.


Di Jakarta.


Setelah selesai mengantarkan anaknya, Mentari ikut suaminya ke kantor untuk mengambil dokumen yang akan di kerjakan di rumah. Yoga melihat istrinya yang gelisah dari tadi segera menghampirinya.


"Sayang," ucap Yoga sambil duduk di samping Mentari.


"Mas, kenapa Senja belum juga kasih kabar?" tanya Mentari.


"Mungkin mereka sedang istirahat, pasti sangat leleh," jawab Yoga.


"Tapikan harusnya memberikan kabar terlebih dahulu, apa dia tidak tahu sudah membuat Ibunya ini khawatir," gerutu Mentari yang terlihat kesal.


"Sayang bagaimana kalau kita kasih Adik saja buat Senja, jadi kita tidak akan kesepian lagi," ujar Yoga sambil mengedipkan matanya ke arah Istrinya.


Mentari menatap suaminya seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Mana mungkin umur yang sudah kepala ketiga, dirinya mempunyai anak kembali.


"Mas Tari ini sudah tidak muda lagi, lagian Senja sudah menikah apa dia tidak malu kalau punya Adik," ucap Mentari sambil menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kalau kita setelah ini pergi konsultasi!" ajak Yoga.


Mentari menarik nafas dalam-dalam, melihat suaminya begitu ingin menambah momongan tidak tega untuk bilang tidak.


"Ia Mas, kita pergi," jawab Mentari sambil tersenyum bahagia.


Mobil yang di kemudikan oleh Yoga sampai rumah sakit, Mentari merasakan jantungnya berdebar kencang saat berjalan beriringan dengan suaminya.


Yoga yang merasakan tangan Istrinya dingin, segera menggemgamnya dengan erat sambil tersenyum menatap wajah istrinya.


"Kenapa?" tanya Yoga.


"Maaf, Tari nervous Mas," jawab Mentari malu-malu.


Yoga terhenyak mendengar jawaban Istrinya sektika langkahnya berhenti, merasa heran melihat istrinya bukannya dulu waktu hamil Senja juga sering ke Dokter.


"Sayang, katakan kenapa?" tanya Yoga sambil memegang kedua bahu Mentari.


"Mas, maaf a...aku," ucap Mentari gugup


"Jangan di paksakan kalau kamu ragu!" kata Yoga sambil tersenyum.


"Tapi...," ucap Mentari langsung di hentikan Yoga dengan menempelkan jarinya di bibir Istrinya.


Yoga membawa Mentari ke arah di mana mobilnya terparkir.


"Mas...!" kata Mentari sambil menahan air matanya.

__ADS_1


Mentari tahu kalau suaminya kecewa kepadanya, tapi tetap memperlihatkan seakan baik-baik saja. Yoga yang melihat istrinya tidak segera masuk mobil tersenyum.


"Ayo masuk, jangan terlalu di pikirkan," ujar Yoga


Mentari segera menutup pintu mobil, membuat Yoga menaikkan alisnya heran. Tiba-tiba tangan Yoga ditarik untuk kembali masuk menuju ruang Dokter kandungan.


Keduanya duduk di ruang tunggu sama-sama diam, tidak ada yang berbicara hanya terdengar sayup-sayup Ibu-ibu yang lain mengobrol. Yoga menarik nafas panjang melihat istrinya yang sedang melamun.


"Sayang," kata Yoga menyadarkan Istrinya dari lamunannya.


"Ia Mas, kenapa?" tanya Mentari


"Kalau masih ragu kita pul..." ucap Yoga langsung terpotong saat nama Mentari di panggil oleh Suster.


Yoga dan Mentari masuk keruangan Dokter yang bernama Intan.


"Selamat sore Bapak dan Ibu, dengan Ibu Mentari?" tanya Dokter Intan dengan tersenyum ramah.


"Ia Dok," jawab Mentari.


"Maaf sebelumnya ada keluhan apa?" tanya Dokter Intan lagi.


Yoga yang melihat istrinya seperti kebingungan segera mengutarakan keinginannya.


"Begini Dok, kami ingin konsultasi untuk menambah momongan," ucap Yoga.


Dokter Intan tersenyum melihat sepasang suami istri yang akan menambah momongan, terlihat seperti pengantin baru. Dokter Intan melihat data Mentari.


"Anaknya sudah besar ya,Bu."


"Ia Dok," jawab Mentari malu-malu.


"Ibu santai saja, Jangan gugup sama saya," kata Dokter Intan.


"Maaf," jawab Mentari.


"Begini ya Bu, Ibu yang hamil berusia di atas usia 30 tahun kemungkinan juga berisiko melahirkan bayi prematur atau bayi dengan berat badan rendah. Selain itu, terdapat peningkatan risiko lain, seperti plasenta previa, preeklamsia, dan pecah ketuban." ujar Dokter Intan.


"Apa itu berarti Istri saya tidak bisa hamil lagi?" tanya Yoga.


"Bisa mari Bu, saya periksa dan untuk Bapak silahkan ikuti suster itu ya," ucap Dokter Intan.


Setelah satu jam menjalani pemeriksaan keduany kini tengah duduk di kafe depan rumah sakit. Mentari menatap wajah suaminya dengan intens, berlahan memegang tangan Yoga.


"Mas, semoga hasil tesnya tidak mengecewakan," ucap Mentari.


"Setidaknya kita sudah berusaha," jawab Yoga sambil tersenyum.


Bersambung ya...

__ADS_1


Jangan lupa dukung Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like dan votenya, di tunggu kritik dan sarannya 🙏


__ADS_2