
Senja langsung menoleh ke arah ruang keluarga di mana suaminya selalu menatapnya, wanita itu menatap Satya yang sedang menatapnya. Dengan iseng Senja mengedipkan matanya ke suaminya melihat itu Satya mengulum senyum.
Bunda hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suami istri itu, tidak lama Satya beranjak dari duduknya untuk menghampiri istrinya dan berkata."Bun, pinjam menantu Bunda dulu."
Satya langsung mengangkat tubuh sang istri, melihat hal itu yang lain hanya menggelengkan kepala, sedangkan Yoga dibuat menganga atas tingkah menantu dan anaknya.
"Mau kemana?' tanya Arga yang melihat Senja di gendong Satya.
"Buat adik Jingga," jawab Satya sambil naik ke lantai dua.
"Astagfirullah punya mantu gitu amat," ujar Yoga
"Satya kena virus Senja," sahut Ayah Nugraha yang membuat Ranga dan Arga langsung tergelak pasalnya pria yang sudah dianggap Ayahnya sendiri itu baru kali ini berkomentar ke Satya.
"Ayah besok Arga buatkan piagam," kata Arga.
"Piagam dalam rangka apa?" tanya Bunda sambil membawa kopi buat anak-anaknya.
"Piagam Ayah, mengomentari sikap Satya yang bucin, Bun," jawab Ranga.
Bunda langsung menatap suaminya, senyum mengempang di bibir wanita yang masih terlihat cantik walau umur sudah tidak muda lagi itu.
"Ayah, mau digendong juga kayak Senja," kata Bunda sambil tersenyum malu.
Yoga yang sedang minum kopi langsung menyembur ke wajah Arga membuat pria itu mengumpat kepada Yoga.
"Lo kira-kira kenapa!" seru Arga mengusap wajahnya yang terkena semburan air kopi.
Bunda dan Ayah Nugraha langsung tergelak begitu juga Ranga karena melihat Yoga dan Arga. Arga langsung beranjak arah kamar mandi yang berada tidak jauh dari keluarga untuk mencuci mukanya.
"Sorry gue kaget," kata Yoga saat Arga kembali duduk, tapi agak jauh dari Yoga.
Arga tidak menjawab masih terlihat wajah yang begitu kesal. Tidak lama Suci memanggil semuanya untuk makan bersama karena hidangan sudah berada di atas meja makan.
"Pasangan bucin nggak dipanggil," kata Popy yang baru datang.
"Enggak usah paling lagi nanggung,' sahut Arga.
"Mas!"seru Suci yang melihat suaminya kalau bicara tidak di filter.
Akhirnya mereka makan tanpa Satya dan Senja karena tidak ingin mengganggu kedua pasangan yang masih selalu seperti pengantin baru itu.
****
Di kamar Senja.
Satya meminta sang istri untuk membuka pintu, dilihatnya Jingga tidur begitu nyenyak. Perlahan membaringkan tubuh istrinya.
"Kenapa selalu menggodaku, hem?" tanya Satya.
__ADS_1
Senja tersenyum dan menjawab."Karena hanya aku yang bisa membuatnya bangun."
Satya langsung tergelak istri polosnya kini sudah pintar, tidak seperti apa yang orang pikirkan keduanya kini duduk di balkon kamar menikmati waktu berdua.
"Mas," panggil Senja sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Hem," jawab Satya mengusap rambut panjang sang istri.
"Aku tahu sekarang banyak yang sedang Mas pikirkan, berbagilah padaku," kata Senja.
Satya menatap lekat netra indah milik istrinya. Entah kenapa lidahnya menjadi kelu untuk menanyakan tentang Ilham.
"Sayang apa kamu bisa ceritakan tentang sahabatnya Ilham?" tanya Satya lembut.
Senja menarik napas dalam, bukan ia tidak mau cerita. Namun, ada rasa ragu karena sahabatnya itu tidak pernah menghubunginya sampai sekarang.
"Mas, Ilham itu dari TK kami sekelas terus saat SD juga, hingga SMP kami dipisah kelas ia mengamuk kepada wali kelas dan tidak peduli Ilham tetap duduk satu kelas dengan Senja." ujar Senja.
"Apa guru mengabulkannya?' tanya Satya.
"Iya, akhirnya guru mengalah karena tahu jika Ilham terlihat beberapa kali selalu melindungi aku dari bulian Diana dan Sasa." kata Senja
Satya mengangguk mengerti dan bertanya." Lalu Yogi?"
"Yogi anaknya pendiam, ia tidak pernah mau bergabung, anak itu akan selalu mengintip saat kami sedang bermain di halaman." Senja tersenyum mengingat Yogi yang pendiam,.
Satya menatap istrinya, ia yakin sakit kepala istrinya sudah sembuh karena istrinya biasa saja.
"Tidak, dulu terakhir cek up sudah sembuh, cuma jangan sampai kebentur," ujar Senja.
Satya tersenyum ada rasa lega, ia akan memberi tahu kepada istrinya kalau sahabatnya sudah tiada saat kecelakaan itu terjadi.
"Sebelum kecelakaan apa ada yang terjadi sebelumnya?" tanya Satya.
Senja menatap suaminya penuh curiga, hal itu membuat Satya hanya menarik napas dalam lalu ia menceritakan kepada istrinya apa yang ia temukan di kamar Yoga dan kamar Sasa.
Mata Senja melotot kalau ada jenazah Sasa di kamar memakai gaun pengantin. Wanita itu bergidik negeri dan menatap suaminya dan bertanya."Mas, rekam apa yang aku katakan, siapa tahu itu berguna."
"Berguna maksudnya?" tanya Satya.
"Banyak yang Ilham ceritakan kepadaku seminggu sebelum kecelakaan," ujar Senja.
"Tunggu aku hubungi Leon dulu, atau besok saja bagaimana?" tanya Satya.
"iya, aku juga sekarang sudah lapar, "kata Senja mengusap perutnya.
Satya terkekeh, ia menggandeng tangan sang istri sebelum keluar Satya mengunci pintu balkon kamar dan Senja membawa putrinya karena takut apa yang terjadi di rumah mertuanya terulang lagi.
Keduanya menuruni tangga membuat orang yang sedang mengobrol di ruang keluarga menatap ke arahnya.
__ADS_1
Senja menghampiri Ayahnya dan berkata."Jingga sama Kakek dulu."
Yoga hanya menarik napas saat putrinya mengatakan Kakek kepadanya, sedangkan Ayah Nugraha tersenyum.
"Bunda mana, Yah?" tanya Senja kepada Ayah mertuanya.
"Istirahat, Nak," jawab Ayah Nugraha.
Senja hanya ber oh ria saja, wanita itu berjalan menuju ke ruang makan. Dilihatnya suaminya sedang makan dengan lahap.
"Lapar banget, Mas?" tanya Senja.
Satya hanya tersenyum tipis, pria itu dari siang belum makan karena rasa ingin tahunya untuk mencari sahabat istrinya yang sudah dikatakan meninggal.
Keduanya makan begitu lahap, setelah selesai Satya dan Senja bergabung dengan yang lainnya.
Jingga sudah terlelap di pangkuan sang Kakek, Yoga yang baru tahu dari besannya apa yang terjadi sebenarnya menatap intens sang putri.
"Ayah, jangan lihatin terus. Ingat ini anak Ayah," canda Senja membuat Yoga mendengus kesal.
"Dasar anak durhaka," cibir Ranga membuat Senja tergelak.
Yoga merasakan dadanya sesak, di balik senyum ceria Senja ada sesuatu yang ditutupinya. Rasa bersalah yang selama ini ia rasakan karena dari kecil sampai dewasa dirinya tidak pernah ada di samping putrinya itu.
"Jadi apa Rencana kalian nanti?" tanya Yoga.
"Anak buah Leon sedang menyelidikinya, "jawab Satya.
Rendy hanya terdiam pria itu kini berpindah duduk di samping kakak iparnya, hal itu membuat Yoga dan Ayah Nugraha merasa heran dan bertanya."Lo kenapa?"
"Dari pulang dari apartemen Sasa perasaan gue ada yang ngikutin." Rendy langsung bergidik ngeri sambil melihat arah belakangnya.
"Ngapain lo ke sana?" tanya Yoga.
"Lihat Sasa pakai gaun pengantin, "sahut Satya.
"Sat udah! gue dari semalam nggak bisa tidur!" seru Rendy menatap Satya kesal.
"Nanti tidur sama Senja saja, Om. Kayak dulu kalau Om takut," kata Senja santai.
Satya menatap istrinya tidak percaya, sedangkan Rendy terlihat senang karena dulu saat ia takut tidur sendiri pasti ada ponakannya yang bisa membuatnya tidur nyenyak.
"Boleh ya, Sat?" tanya Rendy.
Satya tidak menjawab. Namun, tatapannya tajam ke arah Omnya itu dan menjawab."Enggak!"
"Ya udah nanti tidur sama Kak Mentari saja," kata Rendy pasrah.
"Enak saja itu bini gue," sahut Yoga tidak terima.
__ADS_1
Rendy menatap Satya dan Yoga bergantian, wajahnya terlihat sedih karena ia benar-benar takut akan bayangan wajah Sasa yang selalu membayanginya.
bersambung ya...