
Arga menatap Satya jengah, kalau persiapan dia sudah dari sebulan sebelum menikah, tapi dia tidak tahu kalau harus membutuhkan salep khusus untuk itu.
"Gue enggak tahu," jawab Arga.
"Bukan hanya dua orang ini saja, Afkar jam juga tanya salep," kata Faisal.
Satya hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia tidak habis pikir dengan dua pengantin baru itu.
Ibnu sedari tadi hanya diam, hingga dia menatap Satya dengan berbeda.
Satya hanya menarik napas panjang sambil berkata," Ke ruang kerja."
Ibnu hanya mengangguk, karena sahabatnya itu tahu dengan kedatangannya ke rumahnya.
Keduanya masuk, tapi Ada Ayah Nugraha di dalam. Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya melihat putra dan sahabatnya masuk ke ruang kerjanya.
"Ada apa?" tanya Ayah Nugraha.
"Tidak, Yah hanya ingin bicara di sini saja," jawab Satya.
Ayah Nugraha hanya mengangguk saja, tapi dia menatap Ibnu merasa iba.
"Ibnu siapa wanita itu?" tanya Ayah Nugraha menatap dekan di kampus milik keluarga Nugraha itu hanya menarik napas panjang.
Ditinggal istrinya saat ini membuat Ibnu terpuruk dan pria itu begitu menyesal.
"Ibnu sebesar apapun cintamu dulu dengan Rahma, tapi tidak seharusnya kamu membedakan dia dengan istrimu Sari," kata Ayah.
Ibnu hanya diam, pertemuannya dengan Desti hanyalah takdir. Dia juga tidak menyangka kalau adik dari mantannya itu sekarang mengajar di kampus yang kini dia kelola karena Ayah Nugraha mempercayainya
Dari dulu dia dengan Desti memang dekat sampai dua hampir lima tahun lebih keduanya tidak pernah komunikasi lagi.
"Ingat Nak, dalam rumah tangga itu yang diperlukan hanya satu komunikasi, jika itu tidak terjalin baik jadi seperti yang kamu alami," kata Ayah Nugraha.
Ibnu hanya menundukkan kepalanya, Satya melihat itu tidak tahu harus berkata apa. Tubuh Ibnu bergetar, ia kembali menangis menyesali perbuatannya.
Ibnu tidak tahu kenapa, saat berbagi dengan Desti ia rasakan masih sama seperti dulu. Pria itu masih menganggap kalau adik dari mantan kekasihnya itu masih seperti dulu gadis kecil yang selalu ceria dan tidak ada yang berubah darinya.
Ibnu mengingat kembali Desti selalu mengirimkan pesan saat dia sudah ada di rumah, hingga Sari yang membaca pesannya saat itu.
Diusapnya Aira matanya sambil berkata," Gue mau cuti dulu, Sat."
"Iya, fokuslah dulu mencari istrimu. Untuk sementara nanti gue yang mengawasi," jawab Satya.
"Ibnu," panggil Ayah Nugraha membuat pria itu menatap pria paruh baya yang sudah banyak sekali membantunya.
__ADS_1
"Iya Yah," jawab Ibnu.
"Ingat selalu tawakal," pesan Ayah Nugraha.
Ibnu hanya mengangguk menanggapi ucapan dari Ayah Nugraha. Pria itu kini keluar bersamaan dengan Satya. Saat sampai ruang keluarga sudah sepi.
"Sudah pada pulang kayaknya," kata Satya.
"Gue juga cabut, bro," kata Ibnu yang langsung di usap bahu sahabatnya itu.
Setelah kepergian Ibnu Satya berjalan menuju ke kamarnya.
Perlahan dibukanya pintu, takut putrinya bangun. Senja yang mendengar pintu terbuka hanya tersenyum melihat suaminya yang berjalan berjinjit.
"Kenapa harus jinjit gitu?" Senja.
"Takut Jingga bangun," jawab Satya.
Senja tertawa terpingkal-pingkal sambil menutup mulutnya. Hal itu membuat Satya hanya tersenyum tipis, karena dia tidak tahu apa yang membuat istrinya tertawa.
"Sudah tertawanya, nanti sakit perutnya, Yang," kata Satya.
Senja hanya terkekeh, sambil mengusap air matanya akibat tertawanya tadi.
"Apa sih yang bikin lucu, yang?" tanya Satya.
Satya dengan senang hati membalas pelukan sang istri sambil berkata, "Yang, pengen!"
Senja mendengar itu langsung melepaskan pelukannya, tapi Satya semakin erat memeluknya. Sekarang suaminya itu lebih suka ngusel-usel ke dadanya, Karena takut pria mesum itu khilaf dengan cepat dicubitnya pinggang suaminya hingga pelukannya terlepas.
"Ih, Sakit yang!" seru Satya sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas.
"Aku takut kamu khilaf, Mas!" kata Senja.
"Apaan sih, ya enggaklah, Yang!" gerutu Satya sambil cemberut.
Senja yang melihat suaminya cemberut hanya tersenyum, entah kenapa suaminya kini kian manja seperti anak kecil.
"Yang, selama Ibnu cuti untuk mencari Sari nanti aku yang sering pantau kampus mungkin seminggu dua kali," kata Satya.
"Boleh, tapi ingat kalau tergoda seperti Ibnu! aku pastikan seumur hidup Mas tidak akan pernah bertemu denganku dan Jingga!" ancam Senja dengan tatapan tajamnya, tapi bagai Satya tatapan itu membuatnya geli dan ingin rasanya dia memeluk istrinya kembali.
"Tidak akan, kamu satu-satunya dalam hati ini," ucap Satya sambil menepuk dadanya dua kali.
"Mas, semoga Sari dan pak dosen segera Bertemu dan kembali lagi seperti dulu, walau ada celah sebelumnya," ujar Senja.
__ADS_1
"Amin, kita doakan yang terbaik untuk mereka, karena yang terbaik bagi kita belum tentu baik untuk pasangan lain, Yang," jelas Satya.
Senja hanya mengangguk, tapi sejujurnya wanita itu penasaran dengan wanita yang membuat Ibnu berubah, tapi dia takut saat bertemu akan hilang kendali melabrak dosen baru yang sedang dekat Ibnu.
"Besok aku akan ke kampus pagi, sama Ibnu," kata Satya.
"Iya, ingat pesanku Mas!" seru Senja.
"Iya, istriku yang cantik paling seksi," ucap Satya sambil mengecup kening, mata, hidung dan terakhir bibir ranum Senja.
Senja segera mendorong tubuh suaminya karena ciuman yang tadinya lembut kian memanas dan menuntut, dia tidak ingin suaminya khilaf.
"Kenapa?" tanya Satya merasa kecewa.
"Maaf," kata Senja menundukan kepalanya.
Satya tersenyum lembut, diraihnya tubuh istrinya kemudian memeluk Senja, ia tahu kalau ibu dari anaknya ini tidak ingin dirinya khilaf.
"Jangan meminta maaf, kamu nggak salah, sayang," kata Satya lembut.
Senja tersenyum, ia begitu bahagia karena suaminya mau mengerti walau kadang selalu minta diperhatikan lebih sekarang.
Senja baru ingat, kalau untuk syukuran nanti membutuhkan bingkisan untuk dibawa pulang oleh ibu-ibu pengajian sekitar lingkungan komplek perumahan Ayah Nugraha.
"Mas, nanti belikan ini boleh!" pinta Senja sambil menunjukan foto di ponselnya.
"Untuk apa ini, Yang?" tanya Satya memperhatikan foto di ponsel istrinya.
"Ini untuk bingkisan, saat ibu-ibu pengajian nanti pulang," jelas Senja.
"Boleh juga, apa kamu sudah tanya stoknya?" tanya Satya.
"Sudah, aku pesan lima ratus picis," jawab Senja.
Satya mengernyitkan keningnya, seingat dia hanya mengundang dua ratus orang saja, kenapa istrinya pesan lebih.
"Yang, enggak kebanyakan?" tanya Satya.
"Enggak dong, Mas. Ini nanti sisanya buat orang kantor juga," jawab Senja sambil tersenyum menatap wajah tampan suaminya.
Satya hanya mengangguk, baginya yang penting bisa digunakan nantinya, tapi yang membuat Satya bingung isi dari bingkisan itu.
"Yang, isi dalamnya apa?" tanya Satya
"Lantunan zikir," jawab Senja santai.
__ADS_1
Satya hanya tersenyum, ia yakin istrinya ada tujuan baik untuk isi dari bingkisan itu.