
Senja hanya meringis menahan rasa sakit sedangkan Satya tambah panik, "By, jangan panik ini kata bik Sum kalau sudah hamil tua memang begitu," katanya sambil tersenyum menatap suaminya.
"Apa sudah tidak sakit lagi?" tanya Satya sambil menatap wajah sang istri.
"Tidak By, dia memang suka seperti itu semenjak masuk delapan bulan ini," jawabnya sambil tersenyum menatap suaminya.
Satya merasa lega, jadi selama ini istrinya tidak pernah memberi tahu kalau sering menahan sakit. Ada perasaan bersalah pada dirinya. Pria itu ingin mengatakan kalau tiga minggu lagi ia akan pulang ke Surabaya. Namun, ia takut kalau istrinya tiba-tiba perutnya sakit saat di pesawat nanti.
"Yang," panggilnya sambil mendekatkan tubuhnya dengan istrinya.
"Iya." Jawabnya singkat.
"Tiga minggu lagi kita akan pulang ke Surabaya, apa kamu kuat naik pesawat, kalau enggak kita konsultasi dulu ke Tante Mela," ujarnya sambil menatap sang istri.
"Bukanya tiga bulan?" tanyanya sambil meletakan majalah yang siap dibacanya.
"Iya, tapi Arga udah mau balik," katanya sambil tersenyum.
"Bby maunya nanti lahiran di Jakarta atau di Surabaya."
"Kamu lebih nyaman di mana sayang?" tanyanya.
"Saat lahiran ingin didampingi Ibu," jawabnya sambil tersenyum.
Satya hanya menggeleng melihat tingkah istrinya yang menurutnya begitu lucu itu. Namun minggu depan adalah hari pernikahan Arga dan Suci bersamaan dengan Ranga dan Diana. pria itu khawatir jika nanti istrinya bolak-balik dari Jakarta ke Surabaya.
Senja yang melihat suaminya sepertinya sedang memikirkan sesuatu merasa kasihan, tapi di lain sisi dirinya sangat ingin melahirkan didampingi Ibunya. Dia juga berharap mereka juga ada. Namun, wanita itu tak ingin membebani Bunda untuk ke Jakarta.
Direbahkannya tubuhnya sambil memeluk guling, melihat istrinya ke susahkan saat memeluk guling Satya terkekeh sambil membantunya.
"Bby, apa ada masalah?" tanyanya sambil menatap wajah suaminya yang kini sedang mengusap kepalanya dengan lembut.
Satya tersenyum hangat, istrinya paling peka kepada dirinya. Tetapi sebagai suami siaga untuk istri dan anak yang masih di kandungan tidak boleh egois.
"Dua minggu lagi Ranga dan Diana akan menikah, bersamaan dengan Arga dan Suci," ucapnya.
"Hah, serius. Kenapa Diana waktu telepon enggak kasih tahu!" katanya sambil cemberut.
__ADS_1
"Mungkin di kiranya kamu sudah tahu, sayang." Jawabnya.
"Huff, menyebalkan sekali!" gerutunya.
"Sayang, jangan marah. Mungkin mereka tidak ingin merepotkan kita, apalagi sekarang kita berada di Jakarta," ujar Satya lembut.
"Sayang, kapan kita pulang? kita harus ada di pernikahan mereka." Katanya sambil menatap wajah suaminya yang semakin terlihat tampan di usianya yang semakin matang.
"Besok kita konsultasi dulu ya, sebelum Tante Mela ke Surabaya," jelasnya.
Senja hanya mengangguk tanda setuju, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya yang lain. Apalagi beberapa kali Alan menanyakan kapan dia pulang ke Surabaya.
Senja senyum-senyum membuat suaminya curiga, pasti wanita di sampingnya itu sudah merencanakan sesuatu nantinya. Satya menarik napas panjang, pria itu merasa dadanya sesak banyak sekali yang sekarang harus ia selesaikan.
"Yang, aku ke ruang kerja ya, kamu istirahat saja," pamitnya sambil mengecup kening Senja.
Senja hanya menganggukan kepalanya, ia harus minta persetujuan Ibunya. Wanita itu perlahan keluar dari kamar menuju di mana biasa Ibunya sedang merajut baju bayi.
Mentari mendengar langkah kaki mendekat langsung menghentikan kerajaannya, ia tersenyum saat Senja duduk tak jauh darinya. Melihat anaknya yang sibuk melihat baju dan sepatu bayi yang sudah selesai Mentari hanya menggelengkan kepala saja.
"Ada apa? tumben enggak istirahat!" katanya sambil tersenyum menatap sang putri yang malah menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Benarkah? terus masalahnya apa?" tanyanya.
"Apa kita bisa pergi?"
"Tentu, Ibu sudah konsultasi ke Tante Mela. Ingat sayang jangan jadikan kehamilan mu sesuatu yang menghalangi semuanya. Kamu tahu kita ini tidak sakit, tapi hamil sebagaimana wanita yang ditakdirkan-Nya."
"Kalau kamu merasa takut, sebaiknya ajak Satya untuk konsultasi."
"Iya Bu, tapi besok rencananya. Hari ini Mas Satya akan menyelesaikan kerjaan untuk besok." Jawabnya.
"Hem, sudah tahu kerjaan banyak kenapa enggak balik ke kantor?" tanya Mentari.
"Dari tadi perasaan tidak tenang, kalau kerja dari rumah dia merasa jadi suami yang siaga," ujarnya sambil tersenyum.
Mentari hanya tersenyum, baginya yang penting Satya memperhatikan putrinya saat ini. Terkadang terbesit rasa iri melihat bagaimana menantunya itu memperhatikan istrinya. Bukan berarti suaminya tak memperhatikan dirinya, cuma caranya saja yang berbeda.
__ADS_1
"Ibu harap kalian akan selalu rukun, sayang. Jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin." Pesannya.
Senja menganggukkan kepalanya, hatinya lega karena Ibu dan Ayahnya juga akan hadir saat pernikahan Arga nantinya. Tak lama Bik Sum datang sambil tersenyum menatap ibu dan anak yang sama-sama mengandung itu.
"Ada apa Bik?" tanya Tari sambil menatap wanita paruh baya itu.
"Itu Non, di ruang tamu ada Nak Afkar. Katanya mau minta tanda tangannya Den Satya," jelasnya sambil tersenyum.
"Mas Satya ada di ruang kerjanya, Bik. Bisa tolong panggilkan saja," kata Senja.
"Baik Non, tadi saya kira masih tidur."
Senja hanya tersenyum, ia kemudian membantu ibunya untuk membuat sepatu untuk anaknya nanti. Keduanya terlihat begitu serius hingga tidak menyadari kedatangan Afkar dan Satya.
"Hem."
Kedua wanita hamil itu langsung menoleh ke asal suara, Senja tersenyum begitu juga dengan Mentari.
"Yang, bersiaplah kita akan bertemu dengan Tante Mela. Ibu juga ikut, tadi Ayah pesan akan langsung ke klinik Tante."
"Baiklah," katanya bersamaan.
Afkar hanya kagumi dengan anak dan Ibu yang sama-sama hamil tua itu, Satya melihat asistennya itu senyum-senyum hanya menarik napas dalam. Pria itu sudah biasa karena anak dan ibu bisa sama-sama hamil, dia berharap saat melahirkan tidak sama-sama.
Satya mengajak Afkar untuk menunggu di ruang keluarga saja, keduanya sudah hampir tiga puluh menit menunggu, tapi kedua wanita itu belum ada yang siap. Saat Dia akan beranjak dari tempat duduknya, Senja sudah menuruni tangga. Istrinya semakin terlihat cantik semenjak hamil.
"Kenapa pakai lipstik warna merah?" tanya Satya.
"Ingin saja." Jawabnya sambil berlenggang duduk di samping Afkar.
Melihat itu Satya merasa heran, "Kenapa duduk dekat si jomblo!" ejeknya
"Jomblo, tapi ganteng."
Afkar yang melihat raut wajah Satya sudah menegang, perlahan dia berdiri dan memilih menunggu di mobil. Satya duduk di samping istrinya yang sedang memainkan ponselnya sambil cemberut.
Senja terlihat acuh saja melihat suaminya yang suka ngambek, Satya yang melihat istrinya tidak peka hanya mendengus. Kemudian dia keluar untuk menuju teras.
__ADS_1
"Huff, sepertinya bos masih marah!" kata Afkar lirih