
Perasaan tak menentu menunggu hasil pemeriksaan Dokter yang belum juga keluar dari ruangan UGD, Nenek Marni menatap Senja dengan tatapan yang berbeda.
"Nenek tidak pernah mengajarkan'mu untuk berbicara kasar dengan orang yang lebih tua darimu," ucap nenek Marni menatap wajah cucunya dengan Intens.
"Maafkan Senja, Nek." Jawab Senja dengan air mata yang berlinang.
Satya mengusap punggung Istrinya, dia juga merasa bersalah karena tidak menyangka kalau Senja akan mengatakan hal yang mampu membuat Kakek Roby menjadi seperti ini.
Rendy yang mendengar ucapan Mamanya hanya menghela nafas panjang, tak seharusnya Mama menyalahkan seutuhnya kepada ponakannya. Namun, dirinya tidak ingin membela salah satu di depan Mamanya.
Tak lama lama Dokter keluar menatap satu-persatu orang yang didepannya.
"Maaf dengan keluarga pasien pak Roby," ucap Dokter.
"Ia Dok, saya anaknya," jawab Rendy.
"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" tanya Mama.
Dokter menghela nafas panjang, menatap wanita dan pemuda yang mengaku sebagi istri dan anaknya dari pasien.
"Pasien terkena serangan jantung, tapi Alhamdulillah sekarang sudah setabil usahakan jangan terlalu berfikir berat yang akan membuat peristiwa tidak menyenangkan tersebut bisa memicu stres, tekanan darah melonjak tiba-tiba, jantung berdetak lebih kencang, sampai memicu serangan jantung.
"Baik Dok," jawab Rendy kemudian menyuruh Senja dan Satya untuk pulang istirahat.
Mama Marni menatap wajah cucunya yang masih terlihat sembab, sebenarnya tidak tega. Namun ini akan lebih baik buat Senja dan suaminya.
"Satya bawak istrimu pulang, untuk sementara jangan temui Kakek dulu," ujar Nenek Marni.
Satya sempat terkejut, tapi keduanya tidak ada pilihan. Senja yang sudah berada di taksi menatap keluar jendela, ada rasa sakit dihatinya saat Nenek melarang untuk menemui Kakek Roby.
Taksi yang ditumpangi Satya dan Senja telah sampai di depan rumah yang terlihat asri, keduanya turun setelah membayar ongkos taksinya.
Satya memeluk bahu Senja sambil berjalan beriringan masuk rumah, bik Sum tersenyum saat melihat siapa yang datang.
"Alhamdulillah, Nona sudah pulang," ucap bik Sum yang menyambut kedatangan Senja dan Satya.
Senja hanya tersenyum lalu pergi masuk kamar, bik Sum dengan sejuta bertanyaan yang menggangu pikirannya. Satya yang melihat bik Sum penuh dengan tanda tanya hanya tersenyum.
"Mmy, kita doakan Kakek tidak apa-apa ya," ucap Satya yang ikut membaringkan tubuhnya disamping Istrinya.
"Bby apa semua salahKu?" tanya Senja sambil menyandarkan kepalanya didada bidang suaminya.
Satya bingung harus jawab apa, disisi lain dirinya ingin memberi tahu ke istrinya kalau bicara kasar dengan Kakek salah. Namun, sepertinya saat itu Senja hanya ingin mengutarakan isi hatinya yang selama ini dipendamnya.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, kita jadikan pelajaran peristiwa tadi. Sehingga kedepannya kita lebih bisa mengendalikan diri kita saat dihadapkan dengan kondisi seperti tadi," jawab Satya.
"Ia Bby," jawab Senja.
"Sayang," panggil Satya.
__ADS_1
"hemm," jawab Senja semakin mempererat pelukannya di tubuh suaminya.
"Kamu melupakan sesuatu,"ujar Satya.
"Tidak ada," jawab Senja.
"Harusnya pagi tadi kamu pergi kuliah," kata Satya
"Astagfirullah Mmy lupa," teriak Senja yang langsung duduk menghadap suaminya.
"Maafkan Bby sayang," ucap Satya sambil mengusap rambut Senja.
"Ia Mmy juga lupa," kata Senja sambil menunduk.
Satya kini memeluk istrinya dengan erat, "Jangan terlalu dipikirkan doakan Kakek cepet sehat." hibur Satya.
Senja tak menjawab, tapi Satya langsung tersenyum ternyata Istrinya sudah tidur dalam pelukannya. Berlahan dibaringkannya wanita yang begitu dicintainya itu diranjang.
Satya segera keluar kamar untuk menuju meja kerjanya, tiba-tiba handphonenya berdering melihat Ayah Nugraha menghubunginya.
"Halo, Assalamualaikum Ayah," sapa Satya
"Walaikumsalam, Nak." jawab Ayah yang diseberang sana.
"Kapan Ayah pulang?" tanya Satya
"Insyaallah hari ini, sekalian Ayah pulang dengan Ranga dan Bunda," ucap Ayah.
"Tidak usah Nak, biar pak Yanto saja yang jemput," ucap Ayah.
"Satya tunggu dirumah Ayah ya, ada yang mau Satya bicarakan," ucap Satya.
"Ya sudahlah, Ayah suda mau masuk pesawat," kata Ayah Nugraha tak lama sambungan terputus.
Satya menarik nafas panjang, sampai sekarang masih bingung dilema melepaskan atau mempertahankan. sebuah keputusan yang susah dipilih.
Satya menghidupkan lektopnya dan mulai mengerjakan pekerjaan yang banyak terbengkalai, Satya memperhatikan laporan yang dikirim lewat email oleh Ranga.
...💞💞💞💞💞...
Di Jakarta
Yoga yang sedang dikantor didampingi oleh istrinya Mentari terlihat begitu serius memperhatikan laporan keuangan yang sempat kacau karena ulah managernya.
"Mas jangan terlalu serius," goda Mentari yang baru kali ini melihat suaminya yang mengkerutkan dahinya berulang kali. Yoga yang terlalu serius tak mendengar ucapan Istrinya.
Mentari yang merasa diacuhkan segera keluar ruangan menuju lantai bawah, Adrian yang melihat istri dari atasannya pergi sendirian merasa ada yang aneh. Namun, Adrian segera menepis prasangka itu karena itu bukan wewenangnya untuk menanyakan kepada Mentari.
Mentari yang sudah sampai di kafe depan kantor Yoga segera memesan makanan karena perutnya sudah mulai lapar, sebentar dilihat handponenya tidak ada pesan ataupun telepon dari suaminya membuatnya semakin kesal.
__ADS_1
Sedangkan Yoga yang tidak menyadari kalau Istrinya sudah tidak ada di ruang kerjanya masih asik dengan kerjaannya. Yoga meregangkan otot-otot tubuhnya karena merasakan pegal di pinggangnya.
"Sayang ayo kita makan si...."ucapan Yoga terpotong saat melihat disofa tidak ada Mentari.
Yoga segera berdiri mencari Istrinya dikamar pribadinya, tapi tidak menemukannya.Yoga mengecek dipantri mini miliknya dan kamar mandi tidak juga menemukan Istrinya, Yoga terlihat begitu frustasi karena Tari pergi tidak memberi tahunya.
Yoga keluar ruangan, saat akan masuk lift Yoga bertemu dengan Adrian.
"Rian, lo lihat bini gue enggak?" tanya Yoga.
Adrian menoleh kearah sahabat sekaligus bosnya itu sambil mengerutkan keningnya.
"Apa dia pergi enggak kasih tahu lo?" tanya balik Adrian.
Lalu keduanya sama-sama masuk lift untuk pergi makan siang, Yoga segera menghubungi nomor telepon Istrinya. Namun, tidak ada jawaban.
"Bagaimana?" tanya Adrian setelah sampai didepan kantor.
"Enggak diangkat," jawab Yoga.
Adrian yang tanpa sengaja mengedarkan pandangannya ke sekeliling, matanya menangkap sosok yang tidak asing. Adrian menyungingkan bibirnya yang melihat istri dari sahabatnya itu sedang duduk di kafe depan kantor suaminya.
"Ayo ikut gue," ajak Adrian.
"Gue cari bini gue dulu," tolak Yoga.
"Bini lo ada di kafe depan," jawab Adrian.
"Shit...! Lo tahu dari tadi," umpat Yoga berdecak kesal.
"Gue baru lihat," jawab Adrian singkat.
Karena kafe tidak terlalu jauh keduanya memilih berjalan kaki menuju kafe diseberang jalan, Yoga mengedarkan pandangannya ke sekeliling meja. Namun, tidak menemukan Istrinya juga.
Adrian yang melihat sahabatnya itu menjadi gemes, Adrian segera menunjuk meja pojok yang menghadap kekantornya.
Yoga langsung tersenyum saat matanya menangkap sosok yang dicarinya dari tadi, Yoga segera menghampiri wanita yang sudah bertahun-tahun selalu dihatinya.
"Sayang," sapa Yoga sambil duduk didepan Mentari.
Mentari yang masih terlihat kesal hanya diam saja sambil menikmati hidangan didepannya. Yoga yang tahu Istrinya kesal padanya hanya bisa menghela nafas berat.
"Dek...," panggil Yoga.
"Sejak kapan Anda menjadi Kakak saya," jawab Mentari ketus.
Yoga terkekeh mendengar jawaban Istrinya, merasa gemes ingin rasanya memeluk kalau tidak didepan umum.
Jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like dan votenya kalau suka berikan hadiahnya 🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa baca juga Takdir Cinta Khansa 2 sudah mulai 🥰