
Setelah dirawat selama satu empat hari Leon diperbolehkan pulang, ia juga begitu bahagia karena Papanya dan Bunda semakin dekat. Hal itu membuat hati pria itu begitu senang. Walaupun boleh diperbolehkan pergi ke kantor oleh sang Papa.
Leon yang merasa kalau ia sudah terlalu lama dalam rumah akhirnya ia keluar mengendarai mobil sportnya sendiri walau beberapa kali kalau dadanya terasa nyeri.
Mobil membelah kemacetan kota Surabaya, pria itu berniat akan mengunjungi kantor Nugraha karena ia begitu penasaran akan berita yang dikatakan oleh adik iparnya Rangga.
Mobil yang dikemudikan oleh Leon sudah sampai di depan kantor grup Nugraha.
Pria itu keluar dari mobil membuat karyawan wanita menatapnya terpana wajah bulenya terlihat karena ia mewarisi dari sang Papa. Walau Ferdinand tinggal di Surabaya, tetapi Papinya yang berasal dari Jerman.
Leon memasuki lobby saat ia akan bertanya kepada resepsionis, melihat Ranga keluar dari lift.
Ranga menautkan kedua alisnya saat melihat Leon berada di kantornya.
"Lo masih sakit, ngapain ke kantor?" tanya Ranga langsung mengajak pria itu untuk naik ke ruangan Satya.
Leon hanya tersenyum, ia tahu adik iparnya itu akan cerewet saat ia datang ke kantor Nugraha.
"Satya ada?" tanya Leon.
"Ada sedang rapat sama manager divisi," jawab Ranga.
Leon hanya mengangguk, kini keduanya sedang berada di ruangannya Satya.
Ranga sibuk dengan laporannya sedangkan Leon tengah sibuk dengan ponselnya sendiri.
"Lo mau laporkan Desti enggak?"tanya Ranga.
Leon hanya tersenyum, dan menjawab," Tanpa gue laporkan Ibnu sudah membuatnya di penjara."
Rangga hanya mengangguk, ia tahu tidak mudah untuk Desti selamat dari hukuman, Tak lama pintu terbuka, Satya menarik napas saat masuk ada Leon dan asistennya.
"Ga, Radit mau ke sini juga, apa sudah di siapkan berkas kerjasamanya?" tanya Satya yang terlihat Formal jika sedang berada di kantor dengan Ranga.
"Sudah Pak, kita tinggal tunggu Pak Radit dan Jimmy untuk datang." Ranga memberikan berkas yang baru ia print kepada Satya.
"Jimmy mau ke sini juga?" tanya Leon.
"Iya, karena katanya kamu harus istirahat dulu, eh, enggak tahunya nongol di mari," kata Ranga.
Leon hanya tersenyum, tak lama sekretaris Satya memberi tahu kalau CEO dari Wijaya dan utusan dari perusahan Leons Star juga sudah hadir.
"Pak Leon mau ikut atau jaga ruangan?" tanya Ranga saat melihat Satya sudah beranjak berdiri.
"Lo kira gue OB," kata Leon kesal.
Kini ketiganya berjalan menuju ke lantai lima di mana ruang meeting berada, Ranga membuka pintu, ia menautkan alisnya saat melihat Radit datang bersama uget.
"Selamat siang, maaf lama menunggu," kata Satya sambil tersenyum.
"Apa kabar mantan suami?" tanya Merry.
__ADS_1
Satya hanya menarik napas, ia memberi kode kepada Ranga untuk langsung memulainya, sedangkan Jimmy terkejut karena Ceo yang ia bilang sedang sakit kini duduk di sampingnya.
Radit mengepalkan tangannya, karena saat istrinya tahu ia akan pergi ke kantor Merry merengek ingin ikut hingga ia dipaksa sang Mama untuk membawanya.
Apa yang ditakutkan Radit terbukti, kalau Merry akan membuat rusuh. Saat meeting semua memperhatikan Satya yang sedang presentasi mengenai apartemen yang akan dibangun, sedangkan Merry senyum-senyum memperhatikan mantan suaminya itu.
Satya walau risi atas apa yang dilakukan wanita itu, sebisa mungkin ia bersikap santai, sedangkan Ranga sedari tadi hanya menahan geram atas apa yang dilakukan si uget.
Setelah satu jam lebih meeting, dan mendapatkan kesepakatan kini yang lain keluar, tinggal Satya yang sedang membereskan berkasnya. Ia tidak menyadari kalau mantan istrinya masuk lagi ke ruangan meeting.
"Kamu enggak berubah, Sayang," kata Merry sambil duduk di tepi meja dekat Satya.
Satya menatap sekilas, lalu ia melanjutkan kerjanya lagi. Pria itu tidak peduli jika di depannya ada orang.
"Apa kamu masih mencintaiku, hingga masih bersikap dingin kepadaku, Sat?" tanya Merry.
"Keluarlah!" usir Satya.
Tanpa keduanya tahu kalau Senja yang baru sampai karena akan pergi untuk menjenguk Nenek Marni dengan kedua mertuanya dan suaminya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Senja bertepuk tangan, membuat Satya dan Merry langsung menoleh ke arah pintu. Satya terlihat panik sedangkan Merry tersenyum mengejek Senja yang kini berjalan menghampiri suaminya.
"Sayang, sudah siap meetingnya?" tanya Senja.
"Yang, aku bisa jelaskan," kata Satya sambil memegang tangan istrinya.
"Hai, Tante kekurangan bahan. Kita ketemu lagi. wow, Anda sedang mengandung, apa itu calon penerus grup Wijaya atau jangan-jangan anak dari pria yang suka kamu goda, kecuali Tuan Satya Nugraha. Asal Anda tahu CEO dari Nugraha ini sudah begitu puas dengan layanan istri kecilnya." Senja sengaja membuat Merry marah kepadanya.
"Saya tidak mengatakan itu, tetapi secara tidak langsung Tante mengatakan sendiri!" seru Senja sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu!" bentak Merry sambil menunjuk ke arah wajah Senja.
"Apa?" tanya Senja dengan berkacak pinggang.
"Kamu bicara tanpa bukti!" tantang Merry.
Senja berjalan mengelilingi Merry yang sedang berdiri dengan wajah yang memerah menatap tajam ke arah Senja.
"Apa Anda mau bukti yang kongkrit?" tanya Senja sambil tersenyum mengejek.
"Apa maksudmu?" tanya Merry terlihat was-was.
"Tidak ada, harusnya Anda beruntung karena Tuan Radit mau menikahi Tante," ujar Senja.
"Ada apa ini?" tanya Radit saat masuk ruangan.
"Wah, kebetulan sekali Anda datang, Tuan." Senja terlihat senang menatap Ceo dari Wijaya itu.
Senja berjalan menghampiri Radit dan memberikan foto seseorang yang tak lain Merry istrinya bersama seseorang yang tidak asing lagi.
Mata Radit menyipit, tetapi kemudian berubah menatap sang istri tajam, Satya yang melihat istrinya terlalu dekat dengan Radit langsung berdiri dengan merengkuh pinggang istrinya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Satya.
"Tadi Tante itu minta bukti yang kongkrit, jadi aku kasih," jawab Senja.
Radit berjalan langsung menghampiri istrinya, setelah itu ia menarik Merry membawanya keluar dari ruang meeting.
"Ada apa?" tanya Ranga yang melihat Radit menarik Merry dengan kasar masuk dalam lift.
Satya tidak menjawab, tetapi ia hanya menaikan bahunya, ditatapnya istrinya intens. Senja hanya tersenyum dan memeluk lengan suaminya.
"Ayah sudah menunggu di ruang kerjamu, Mas." Senja tidak ingin kalau suaminya menanyakan masalah sesuatu dari ponselnya yang dilihat oleh Radit tadi.
"Ingat kamu hutang penjelasan, Yang," bisik Satya sebelum masuk ruangannya.
Senja hanya menarik napas panjang, ia mencoba untuk terlihat santai dan tidak ingin kedua mertuanya curiga kepadanya.
Saat Senja masuk Bunda dan Ayah Nugraha menatapnya intens, seakan mereka tahu apa yang ia lakukan tadi.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Ayah Nugraha.
"Baik," jawab Senja membuat yang lain tertawa.
Satya yang gemes langsung menarik hidung istrinya, keduanya beranjak keluar ruangan mengikut Ayah Nugraha dan Bunda. Ranga yang keluar dari Lift bersama Merry membuat Senja terkejut.
"Ada apa ini, Nak?" tanya Bunda saat melihat putra bungsunya bersama dengan Merry yang tak lain mantan menantunya itu. Satya menatap Merry yang terlihat kacau, hanya bisa menarik napas panjang.
"Ini semua gara-gara wanita murahan itu!" teriak Merry yang langsung menyerang Senja.
Senja dengan muda menarik tangan Merry ke belakang, hingga wanita yang sedang hamil besar itu merintih kesakitan.
"Nak, lepas!" kata Bunda.
Senja yang emosinya sudah tidak bisa ditahan semakin membuat Merry merintih, Satya dengan cepat memeluk istrinya dari belakang sedangkan Ranga dan Bunda langsung menjauhkan Merry yang sudah kesakitan.
"Dasar wanita bar-bar!"teriak Merry.
Senja yang kini dalam pelukan Satya menatap tajam ke arah Merry, melihat itu Ranga langsung membawa si uget masuk lift.
"Sayang, tanah emosimu," bisik Satya.
Senja menarik napas dalam, ia mengusap wajahnya dengan kasar dan berkata."Maaf."
Bunda datang membawakan menantunya air mineral, ia tidak ingin anaknya terkena kasus menyakiti wanita hamil.
"Kita pulang saja, Nak?" tanya Bunda.
"Iya Bun, biar istri Satya tenang dulu," kata Satya.
"Kita pulang juga besok kita perginya, " kata Ayah Nugraha yang merasa iba dengan Senja.
Ayah Nugraha yakin kalau Merry sudah menyinggung menantunya, karena itu Senja berbuat anarkis seperti itu.
__ADS_1