PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 68


__ADS_3

Malam ini Yoga akan pulang telat, karena akan ada meeting bulanan. Mentari merasa sepi dirumah , apa lagi semenjak Nenek Wati tidak tinggal lagi bersamanya.


Ia melangkah ke balkon kamarnya, dibukanya pintu kaca yang membatasi. Mentari menatap bintang dimalam yang gelap, ia tidak bisa membayangkan bagaimana dulu suaminya menjalani hidup ini sendiri.


Mentari menghela nafas panjang, pikirannya berselancar mengingat kejadian dibandung. Ia baru tahu kalau selama ini Senja selalu jadi bahan bulian disekolah, tapi dia tidak pernah bercerita .


Mentari merasa dirinya bukan seorang Ibu yang


baik, sampai tidak tahu apa yang terjadi dilingkungan sekolah anaknya. Tanpa terasa air matanya menetes, andai waktu bisa ia putar pastinya ia akan antar jemput anaknya saat pergi dan pulang sekolah.


Jam sudah menunjukkan pukul 1.00, itu artinya hari sebentar lagi pagi. Tiba-tiba Mentari dikejutkan dengan pelukan hangat yang tak asing baginya.


"Kenapa belum tidur sayang, apa kamu tidak sabar menunggu hari ini," goda Yoga.


Mentari membalikkan badannya, keduanya kini saling hadap.


"Ada apa dengan hari ini?" tanya Mentari dengan polosnya.


Yoga tersenyum, rupanya Istrinya lupa kalau hari ini masa suburnya. Dokter menyarankan untuk melakukan saat masa subur.


"Sayang, bukannya hari ini masa subur!" kata Yoga


"Astagfirullah, maaf aku lupa Mas," jawab Mentari dengan malu.


Yoga tersenyum melihat istrinya yang wajahnya mulai memerah.


"Apa tidak baca bukunya?" tanya Yoga .


"Ada baca..kok ," ucap Mentari.


"Coba sekarang jelaskan apa yang sudah kamu baca," tantang Yoga ingin melihat keseriusan Istrinya.


"Baiklah..siapa takut siklus menstruasi adalah rentang dari hari pertama menstruasi sampai hari pertama pada menstruasi berikutnya. Normalnya, siklus menstruasi berlangsung selama 21-35 hari. Namun, rata-rata perempuan memiliki siklus menstruasi selama 28 hari," ucap Mentari.


"Kalau hitungan masa suburnya?" tanya Yoga


"Masa subur perempuan sebenarnya bergantung pada siklus menstruasi yang dimiliki, karena tiap perempuan memiliki siklus menstruasi yang berbeda-beda. Di antara siklus menstruasi ini terdapat masa paling subur perempuan. Jika terjadi pembuahan (saat sel telur bertemu ******) di masa subur ini, maka kehamilan pun akan terjadi," ujar Mentari


"Berarti kalau kita lakukan malam ini akan terjadi," goda Yoga sambil menaikkan alisnya.


"Belum tentu Mas, bisa saja enggak. Namun, jika pembuahan tidak terjadi, sel telur pun akan meluruh dan keluar dari ****** dalam bentuk darah. Inilah mengapa perempuan setiap bulan pasti mengalami menstruasi," kata Mentari lirih.


"Kita yang penting sudah berusaha sayang, tanpa ragu Yoga memulainya.


Mentari hanya bisa pasrah, dengan apa yang diinginkan oleh suaminya. walau sebenarnya ia ragu untuk memilik anak lagi.


Setelah lelah saling melepaskan keduanya tertidur menjelang jam 3.00 dini hari.


Pagi hari sang Surya memancarkan sinarnya, sepasang suami-istri itu masih asik dengan mimpi Indahnya.

__ADS_1


Bel rumah sudah berapa kali berbunyi, tapi sudah satu jam lebih menunggu belum juga ada yang membukakan pintu.


Arga dan Arnold hanya bisa uring-uringan, karena tidak ada respon dari Yoga.


Kedatangan keduanya ingin pamit mau ke Surabaya, entah kenapa Om Nugraha ingin Arnold membawa Nenek dan Suci untuk ikut.


Arga yang tidak mau jauh dari gadis incaran itu mengalah untuk ikut.


Setelah menunggu sekitar dua jam akhirnya pintu dibuka oleh Yoga.


"Lagi ngapain sih..." kata Arga kesal sambil masuk walau belum disuruh Yoga.


Arnold hanya menaikkan bahu, saat Yoga menatapnya. ketiganya kini duduk diruang keluarga.


Mentari yang baru turun tersenyum kearah teman suaminya, kemudian ia kedapur untuk membuat minum dan suguhan kue.


Tak lama Mentari datang, dengan membawa tiga cangkir kopi untuk pria yang asik mengobrol.


Yoga menepuk sofa kosong disampingnya, tak lama Mentari ikut duduk.


"Gue kira lo sudah pulang ke Surabaya," kata Yoga sambil meminum kopinya.


"Insyaallah nanti siang, jawab Arnold.


Yoga hanya tersenyum menanggapi ucapan Arnold, sebenarnya Yoga sangat menyayangkan Arnold tidak mau bergabung dengannya dibagian desain.


Arnold hanya menghela nafas, ia sendiri tidak tahu kenapa Ayah Nugraha menyuruhnya membawa Nenek dan Suci.


"Rencana kemarin seperti itu, tapi tadi Ayah Nugraha hubungi gue untuk ajak Nenek dan Suci," jawab Arnold.


Yoga yang mengerti tujuan besannya itu hanya tersenyum, ia melihat istrinya yang ikut tersenyum.


"Kenapa lo senyum-senyum," sagah Arnol.


"Tidak, lebih baik lo ikuti apa kata Ayah Nugraha." ucap Yoga.


"Besok kalau enggak salah sidang kedua Om Ronald," kata Arga.


"Ia gue pasrah, kalau ia bersalah mau apa lagi," jawab Arnold lesu.


"Maaf untuk kali ini gue enggak bisa bantu," ujar Yoga.


"Ia gue ngerti," jawab Arnold.


Arga merasa iba dengan Arnold, walau dulu dia tidak terlalu dekat dengannya. Namun, bagaimana rasanya kalau orang tua kita harus melalui ini.


Arga mengusap bahu Arnold, memberikan kesabaran kepada sahabatnya.


"Hufff...kenapa gue jadi Melo yak," kata Arnold.

__ADS_1


"Itu manusiawi bro," jawab Arga.


Yoga hanya tersenyum, rupanya Arnold pandai menyembunyikan kesedihannya. Namun, siapa yang tahu isi hatinya saat ini.


Bagaimanapun Ronald adalah Ayahnya, entah apa yang akan dilakukan Arnold nanti saat tahu, kalau Ayahnya yang membuat adik dan Tantenya kecelakaan.


Setelah mereka mengobrol kemudian Arnold dan Arga pamit, setelah kepergian mereka Yoga tersenyum, di belainya rambut panjang Mentari.


"Semoga semua cepat selesai," kata Mentari.


"Sayang, ada yang mau aku bicarakan," kata Yoga.


"Apa Mas, sepertinya serius," kata Mentari.


"Apapun yang terjadi, jangan pernah melakukan hal yang tidak-tidak," kata Yoga.


"Aku enggak mengerti maksudnya," kata Mentari.


Yoga mengemgam kedua tangan Istrinya, ia tahu kalau ini pasti akan sulit untuk diterima isterinya. Namun, pasti kebenarannya akan terungkap.


Yoga takut akan respon Istrinya setelah tahu wanita yang dicintainya segenap hati menghianati Papanya.


"Mas, apa ada yang Mas sembunyikan dariku," ucap Mentari.


Yoga tersenyum, dipeluknya Istrinya dengan erat. Namun, entah mengapa hatinya begitu berat mengatakan yang sebenarnya.


"Maafkan Mas, belum bisa cerita sayang," ucap Yoga.


Mentari menarik nafas panjang, ia merasa suaminya tidak mau terbuka. Mungkin kalau masalah kantor ia tidak apa-apa suaminya tidak cerita, tapi ini sepertinya masalah keluarganya.


"Mas, apa ini ada hubungannya dengan Papa?" tanya Mentari.


"Besok kamu akan tahu sayang," jawab Yoga.


Mentari hanya mendesah, ia heran apa bedanya sekarang sama besok. Yoga yang tahu Istrinya kesal hanya tersenyum.


"Jangan marah sayang, aku paling enggak bisa lihat wanita secantik kamu cuek sama aku," Rayu Yoga.


"Dih... sudah tua juga masih mengombal," sungut Mentari.


Yoga seketika meledak tawanya, ia semakin suka menggangu Istrinya saat kesal.


"Yang..., jangan marah-marah ingat ini masa subur," teriak Yoga supaya Istrinya dengar yang sedang ada di dapur.


"Dasar mesum," umpat Mentari.


Bersambung ya.... jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like 👍 dan votenya kalau suka berikan hadiahnya, kalau tidak suka jangan baca😀 maaf 🙏 canda


Bikin aku semangat buat tamatin ini cerita, kritik apapu aku terima karena aku hanya serpihan debu.

__ADS_1


__ADS_2