
Pagi ini Satya akan mulai bekerja di kantornya di Jakarta, asisten Arga yang sekarang akan menjadi asistennya selama ia berada di Jakarta. Afkar Radithya, pria muda yang umurnya dua puluh lima tahun itu yang kini menjadi tangan kanan Arga semenjak tiga tahun.
Afkar sekarang sudah di rumah Yoga untuk menjemput Satya, pria yang terlihat dingin dan datar itu hanya berdiri di samping mobil berwarna hitam. Tak lama keluar sepasang suami istri menghampirinya sambil tersenyum. Afkar hanya menundukkan kepalanya dan tak lupa membukakan mobil untuk tuannya.
"Sayang, Bby kerja dulu ya. Jaga baik-baik anak kita." Ujarnya sambil mengecup kening Senja.
Afkar yang melihat adegan romantis Tuanya hanya bisa menarik nafas dalam, jiwa jomblonya seakan-akan meronta-ronta.
Setelah mobil suaminya tak terlihat lagi, barulah Senja masuk rumah dan naik ke lantai dua menuju kamarnya. Wanita itu merasa ngantuk dan ingin tidur selama suaminya pergi bekerja.
Mentari yang akan mengantar Yoga pergi ke kantor mencari anaknya yang tak terlihat di ruang keluarga. Yoga yang melihat istrinya merasa heran.
"Cari siapa?" tanya Yoga saat ia mau masuk ke dalam mobil.
"Senja." Jawabnya singkat.
Setelah salam dan mengecup kening sang istri Yoga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantornya. Sedangkan Mentari mencari putrinya di kamarnya.
Wanita yang sedang mengandung itu kini sudah berdiri di depan pintu kamar putrinya, di ketuknya perlahan sambil memanggil putrinya. Namun, tak ada sahutan juga dari pemilik kamar.
Mentari membuka pintu, ternyata tak di kuncinya. Ibu satu anak itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Senja tidur lagi.
"Sayang, ayo bangun. masih pagi jangan tidur," katanya sambil mengoyongkan bahu anaknya.
"Ibu. jangan ganggu. Aku ngantuk," jawabnya sambil menarik selimut yang di buka oleh Mentari.
Tak lama bik Sum datang yang tak sengaja melewati kamar Senja, " Ada apa ini, Non?" tanyanya yang melihat dua wanita hamil tarik-tarikan Selimut.
"Ini Bik masih pagi udah tidur lagi," jawab Mentari dengan kesal kepada anaknya.
"Jangan atuh, Non Senja tidur pagi itu tidak boleh karena bikin badan lemes." jawab Bik Sum.
"Maksudnya?" tanya mentari yang terkejut.
"Saya dulu juga di larang tidur pagi sama orang tua saya, Nyonya." Kata Bik Sum.
__ADS_1
Senja yang sudah duduk menatap wanita paruh baya itu dengan intens. "Karena kerjaan saya belum selesai," jawabnya sambil terkekeh melihat ekspresi kedua majikannya itu.
"Bibi! enggak lucu ah..." Jawab Senja sambil pergi bersama Ibunya keluar kamar.
Mentari mengajak anaknya untuk duduk di taman belakang rumahnya, keduanya kini bersantai sedangkan suaminya sedang sibuk berkerja di kantornya masing-masing.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel Senja, tanda ada pesan masuk wanita itu tersenyum saat mendapat pesan dari sahabatnya Sari akan ikut suaminya seminar ke Jakarta. Keduanya berjanji untuk bertemu. Ternyata tempat menginap Sari dan Ibnu di Hotel milik keluarga Nugraha.
Senja yang tidak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya sore ini hendak menemui suaminya, tapi ia bingung apa alasannya berkunjung ke kantor. Senyum mengembang saat dia mendapatkan ide untuk mengantarkan makan siang untuk Satya.
Senja segera pergi ke dapur di mana ada Bik Sum yang sedang menyiapkan makan siang, "Bik, Senja bantu ya?" tanyanya sambil tersenyum kepada wanita paruh baya itu.
"Biar Bibi saja, Non." jawabnya sambil tersenyum.
"Bik aku mau antar makan siang ke Mas Satya," katanya sambil tersenyum.
"Mau di masakin apa, Non?" tanyanya sambil menatap Nonanya yang terlihat sedang berpikir.
"Samain aja sama makan siang kita, Bik." Jawabnya.
Setelah satu jam menunggu akhirnya menu makan siang selesai dan sebagian sudah di masukan ke dalam tempat bekal untuk di bawa Senja ke kantor suaminya.
"Sudah siap ya, Bik?" tanyanya sambil menuruni tangga.
"Alhamdulillah siap, Non." Jawabnya sambil tersenyum. Melihat penampilan Senja yang memakai baju agak terbuka bagian lengannya, Bik merasa was-was apa lagi Nonanya itu terlihat cantik siang ini.
Senja segera pamit kepada wanita paruh baya itu dan Ibunya, tapi sebelum pergi Mentari memanggil Senja.
"Sayang, apa suamimu enggak marah pakai baju yang terbuka begitu?" tanyanya sambil memperhatikan penampilan Anaknya.
"Baju ini yang paling longgar di perut Senja, Bu." Jawabnya.
Mentari hanya mengangguk mendengar alasan anaknya, setelah itu Senja naik mobil di antar sopir Ibunya Pak Wawan. Senyum selalu mengembang di sudut bibirnya mana kala membayangkan wajah suaminya terkejut atas kedatangannya, wanita itu sudah tak sabar untuk sampai kantor suaminya.
Jam menujukan pukul 11:30, dimana sebentar lagi suaminya akan jam makan siang. Mobil yang di kemudikan oleh Pak Wawan sampai di parkiran khusus. Senja yang ingin pulang bersama suaminya menyuruh sopir Ibunya untuk pulang lebih dulu.
__ADS_1
Setelah turun dari mobil Senja merapikan bajunya terlebih dahulu barulah ia berjalan menuju lobby kantor suaminya.
Saat sampai di lobby Senja segera mendatangi resepsionis yang terlihat makeupnya menor itu.
"Permisi Kak, apa Pak Satya-nya ada?" tanya Senja sambil tersenyum kepada wanita yang menatapnya seakan-akan mengejeknya.
"Maaf, apa Anda sudah janji dengan beliau?" tanyanya balik.
"Belum Mbak, bilang saja Pak Satya ruangannya di lantai berapa?" tanya Senja lagi.
"Pak Satya-nya sedang ada meeting." jawabnya ketus.
Senja hanya tersenyum seramah mungkin, ia tak ingin membuat malu suaminya kalau sampai dirinya terbawa emosi. Wanita di depannya yang bernama Clara itu terlihat menatapnya sinis sambil memperhatikannya dari atas sampai bawah.
Clara berbisik kepada teman sebelahnya dengan pelan, tapi masih bisa di dengarkan oleh Senja.
"Paling-paling Wanita murahan yang ingin minta pertanggung jawaban dari bos," lirihnya.
Senja yang mendengar itu mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang sedari tadi di tahannya. Wanita yang sedang hamil enam bulan itu tanpa di suruh duduk dia pergi ke arah sofa.
Istri Satya Nugraha itu kini duduk sambil memijat kakinya yang rasanya pegal, dia ingin menghubungi suaminya. Namun, nantinya bukan kejutan lagi. Dia segera mengirimkan pesan kepada Arga.
Senja
Kak, senja sedang di lobby kantor kakak, rencana ingin membuat kejutan untuk Mas Satya. Bisa bantu Kak?
Senja melihat pesannya langsung terentang dua tersenyum, tak lama ada pesan dari Arga.
Arga
Senja kamu tunggu di lobby sebentar lagi Afkar akan menjemput mu, maaf atas kurang ramahnya karyawan kakak.
Saat Senja sedang memasukan handponenya tak lama ada yang menyapanya dengan sopan dan minta maaf kepada istri Tuannya itu atas sikap Clara tadi.
Kini keduanya masuk dalam lift menuju lantai 18 ruangan suaminya, selama di lift keduanya hanya diam. Namun, entah kenapa Afkar mengagumi wanita di sampingnya sekarang.
__ADS_1
Hayo...loh...ada apa gerangan?