
Pagi ini setelah Senja selesai menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, dia segera keluar kamar menuju dapur untuk membuat sarapan. Senyumnya mengembang tatkala melihat Bunda dan Ibunya sedang mengobrol sambil membuat menu sarapan pagi.
"Pagi Ibu, Bunda," ucap gadis itu sambil menghampiri dua orang wanita yang sangat di sayanginya.
"Pagi sayang," jawab keduanya bersamaan.
"Bunda nanti ikut pulang bareng atau mau kemana dulu?" Tanya Senja yang ikut menyusun makanan yang sudah masak ke meja makan.
Satya dan Ranga yang baru siap lari pagi dengan tersenyum melihat Senja yang sedang menyusun makanan. Ranga segera menuju ke kamarnya sedangkan Satya menghampir Istrinya langsung mengecup bibir Senja dengan cepat.
"Bby, kalau ada yang lihat bagaimana!" Ucap Senja yang terkejut.
"Mmy terlihat seksi kalau sedang marah," goda Satya
"Benarkah!" Ucap Senja sambil mendekatkan wajahnya didepan Satya.
"Sungguh-sungguh mengemaskan," bisik Satya ketelinga Senja sambil menggigit kecil daun telinga Senja.
Senja merasakan ada perasaan yang aneh saat Satya mengigit telinganya tadi, Senja melihat suaminya dengan santai menaiki tangga langsung mengejarnya sambil berterik.
""Bby..., Pengen," teriak Senja membuat Yoga, Ranga dan Ayah Nugraha menoleh ke arah tangga. Sedangkan wajah Satya sudah memerah menahan malu karena semuanya melihat ke arah tangga.
"Wah... sebentar lagi ada yang manggil Kakek," ucap Ayah Nugraha sambil tersenyum menatap dua orang yang sedang menaiki tangga.
Yoga yang merasa malu dengan tingkah anaknya hanya bisa menghela nafas panjang, Ranga hanya mengulum senyumnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Maafkan tingkah Senja tadi," ucap Mentari kepada Bunda Satya.
"Santai saja sayang, Bunda tidak mempermasalahkannya," jawab Bunda sambil tersenyum menatap wajah Mentari yang terlihat sendu.
"Maaf, saya ingat Mama," ucap Mentari sambil mengusap air matanya.
"Anggap Bunda seperti Mamamu juga," kata Bunda yang merasa iba kepada Mentari.
Dikamar Senja.
Satya segera membersihkan diri, setelah itu memakai baju yang sudah di siapkan oleh Senja, Satya melihat istrinya duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Sayang ayo kita turun," ajak Satya.
"Bby, tadi Mmy sudah bilang pengen," ucap Senja sambil mendekatkan diri ke suaminya.
Satya tidak percaya kalau Istrinya benar-benar menginginkannya, Satya memeluk pinggang Senja mencoba memberikan pengertian ke Istrinya.
"Sayang dengarkan Bby baik-baik, bukannya Bby tidak mau. Tapi kita sekarang sedang ditunggu untuk sarapan bersama-sama, siang nanti kita akan pulang ke Surabaya. Jadi kita gunakan waktu yang sedikit ini untuk berkumpul bersama, kalau pengen Bby juga mau sayang, tapi kita harus lihat kondisi suasana ya," jelas Satya dengan pelan supaya Istrinya mau mengerti.
"Baiklah," jawab Senja segera turun di ikuti oleh Satya.
Senja melihat dari tangga semuanya sudah memulai memakan sarapannya, Senja menatap suaminya dengan gelengan.
__ADS_1
Satya tersenyum langsung menghampiri meja makan, "Maaf kami telat," ucap Satya yang langsung menarik kursi untuk Senja dan dirinya.
"Loh..kok sudah?" Tanya Ranga
"Sudah apa?" Tanya Satya balik ke Ranga.
"Bikin cucu untuk Ayah," jawab Ayah Nugraha.
Tiba-tiba Senja langsung tersedak ucapan Ayah, Satya segera memberikannya air ke Istrinya.
"Pelan-pelan sayang," ucap Satya dengan penuh perhatian.
"Bunda jiwa jombloku meleleh," ucap Ranga yang langsung kena cubitan oleh Bunda.
"Makanya cepat cari mantu buat kami," ucap ayah Nugraha.
"Tunggu Bang Arga menikah dulu yah, baru Ranga nanti," jawab Ranga.
Sarapan pagi yang di hiasi dengan candaan terlihat begitu hangat, setelah selesai membersihkan meja makan Senja dan Ibunya menyusul ke ruang tengah sambil membawakan teh hijau untuk semuanya.
"Nanti sampai Surabaya Ayah harap kalian berkunjung ke rumah Kakek Roby," ucap ayah Nugraha mengingatkan anak dan menantunya.
"Ingatlah, jangan pernah memandang sesorang dengan kesalahannya, tapi lihatlah dengan segala kebaikannya," ucap Bunda.
"Insyaallah Bunda," jawab Satya
"Apa kabar sayang," ucap Bunda sambil membalas pelukan Arga.
"Alhamdulillah baik Bunda, Bunda jadi ikut pulang hari ini?" Tanya Arga.
"Ia Nak," jawab Ayah Nugraha sambil tersenyum menatap wajah Arga yang begitu mirip dengan wajah sahabatnya.
Senja menatap Suci sambil tersenyum, setelah itu menatap Arga yang sedang mengobrol dengan suamidan mertuanya.
"Kak Suci," panggil Senja.
"Ia, kenapa?" Tanya suci sambil tersenyum mendekati Senja.
"Kapan-kapan Kak Suci main ke Surabaya ya," jawab Senaj sambil tersenyum.
"Insyaallah dek," jawab Suci tersenyum menatap Senja.
Arga senang melihat kedekatan Senja dan Suci, semoag dirinya benar-benar berjodoh dengan Suci, batin Arga.
Jam sudah menunjukkan tepat jam 1 siang Senja yang sudah bersiap segera turun, menghampir suaminya. Senja sengaja tidka membawa pakaiannya karena biar tidak repot kalau mau menginap lagi di Jakarta.
Mentari menghampirinya anaknya, ada rasa sedih karena harus berpisah dengan Senja, Senja yang mengerti bagaimana perasaan Ibunya segera memeluk Ibu yang sudah melahirkannya.
"Ibu jangan khawatir, Senja akan baik-baik saja," ucap Senja.
__ADS_1
"Ibu percaya, Nak," ucap Mentari sambil melepaskan dan mengusap air matanya yang tidak tau diri keluar begitu saja.
Yoga merasa kasihan melihat istrinya bersedih, tapi ini sudah menjadi takdir kalau anaknya harus mengikuti kemana suaminya akan tinggal.
"Jangan sedih gitu, lihat Suci ikut menangis," ucap Yoga
Senja dan Mentari ikut tersenyum, karena banyak yang menyayanginya. Setelah itu semuanya segera ke Bandara untuk mengantar Satya dan Istrinya, Ayah Nugraha yang tidak jadi ikut hanya tersenyum menanggapi tatapan anaknya.
Tiga mobil keluar beriring-iringan menuju ke Bandara, Senja selama di mobil hanya menyandarkan kepalanya di bahu Satya, sesekali Satya melihat kedepan Arga dan Suci hanya diam.
"Bby, boleh besok saja kita berkunjung ke tempat Kakek?" Tanya Senja ke Satya.
"Boleh sayang, kamu pasti capek ," jawab Satya dengan lembut.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam empat puluh menit mereka sampai di Bandara Sukarno Hatta, semunya turun untuk mengantarkan Senja dan Satya.
"Kamu baik-baik ya, Nak." ucap Bunda sambil memeluk Senja dan bergantian memeluk Satya.
Mentari menghampir Senja dan langsung memeluk anaknya, rasanya kembali berat untuk berpisah dengan Senja.
"Ibu, kita masih bisa bertemu lagi jangan bersedih, kalau Ibu kangen ajak Ayah Surabaya." ucap Senja sambil tersenyum menatap wajah Ibunya yang terlihat sendu.
"Sayang," Yoga mengusap punggung Istrinya dengan lembut.
Mentari yang mengerti hanya tersenyum, menatap lekat wajah suaminya. Ayah Nugraha memberikan kode untuk anaknya supaya segera membawa istri untuk cekin, Satya yang mengerti segera berpamitan kepada kedua mertuanya dan Arga.
"Ingat pesan Ayah, jaga mantu Ayah ya," kata Ayah Nugraha saat berpelukan dengan Satya.
"Ia yah, Satya jalan dulu," jawab Satya.
Senja memeluk Ayah dan Ibu mertuanya dengan tersenyum, setelah keduanya sama-sama masuk ke dalam, dari kaca Senja melambaikan tangan, tapi Satya dengan cepat memeluk pinggang Istrinya untuk segera naik ke atas.
"Bby, jangan mulai deh!" ucap Senja kesal sambil berjalan ke ruang tunggu.
"Nyicil dari sekarang sayang," ucap Satya sambil tersenyum menatap wajah istrinya yang kesal.
"Kita main di kamar mandi pesawat," ucap Senja sambil terkekeh melihat reaksi suaminya.
Satya Langsung melotot dan menyentil hidung Istrinya yang berbicara sembarangan, mana ada yang main di pesawat, batin Satya
"Jangan mikir aneh-aneh sayang," ucap Satya.
"Mmy pernah baca di Novel, Bby." Jawab Senja.
Satya hanya bisa menghembuskan nafas panjang melihat istrinya yang punya hobby baca Novel online, di salah satu aplikasi di handponenya.
Yeyee.... Bby dan Mmy hari ini sudah doubel up ya jangan lupa dukung dengan cara like 👍 dan votenya kalau suka berikan hadiahnya 🙏
...💞 Bby & Mmy 💞...
__ADS_1