
Ayah Nugraha ingin keluarga dari sahabatnya itu hidup layak, setelah kepergian suaminya.
"Begini Fi, kami ingin kamu buka butik lagi," kata Bunda.
"Apa mereka masih mau membelinya, setelah tahu usaha suamiku.....," Bunda Fifi tidak kuat untuk mengatakannya.
"Insyaallah, niat kita baik," kata Ayah Nugraha.
"Nanti aku fikirkan lagi bagaimananya,"jawab Bunda Fifi.
"Alhamdulillah, kami tunggu kabar baiknya, kata Bunda dan Ayah Nugraha.
Kemudian keduanya pamit, selepas kepergian keluarga Nugraha Diana dan Bundanya saling pandang.
"Bagaimana, Nak?" tanya Bunda.
"Kalau Diana, ya terserah Bunda saja," jawabnya sambil tersenyum.
"Apa kamu tidak keberatan," kata Bunda.
"Insyaallah, enggak Bun," jawab Diana.
Diana itu sebenarnya wanita yang baik sopan dan ramah, tapi karena pergaulan dengan sahabatnya menjadi mempunyai sifat iri dengki terhadap Senja.
Salah satu lubang kelemahan manusia adalah penyakit-penyakit jiwa yang kerap ditunjukkan dalam reaksi sosialnya. Salah satu di antara penyakit yang paling berbahaya adalah penyakit dengki.
Diana dulu begitu iri dengan Senja, iri hati merupakan rasa tidak nyaman atas sebuah kelebihan yang Allah SWT berikan pada orang lain.
Iri hati juga kerap terjadi ketika kelebihan orang lain dianggap sebagai ancaman, saingan, atau halangan bagi diri sendiri untuk memiliki kelebihan yang sama.
Diana kini sadar ia sudah banyak membuang waktunya untuk memikirkan rasa dengki yang selama ini ada pada dirinya, ia ingin berubah.
Semoga dengan kuliah sambil kerja, ia tidak begitu memikirkan hal-hal yang tidak penting untuknya.
Gadis cantik itu juga merasa bersyukur, sahabatnya menjauhi dirinya. Karena tiga tahun berteman dengan mereka, ia merasa menjadi pribadi yang buruk.
Ia berharap Allah SWT mengampuni dosa-dosanya selama ini. Diana membuka koper berisikan beberapa jilbab yang dulu suka dia pakai.
Senyum mengembang dibibirnya, saat ia memakai jilbab pashmina dengan benar.
Bismillah, semoga ini membuat hidupku lebih tenang. Ayah semoga tenang disana, maafkan aku yang belum bisa berbakti. Namun, Diana janji akan jaga Bunda dengan baik.
Tangisnya terdengar begitu pilu, ia menyesali perbuatannya selama ini. Andaikan dulu mendengar apa kata Ayah, untuk menjauhi meraka pasti ini enggak akan terjadi.
Bunda Fifi mendengar suara tangis dari kamar anaknya, segera menghampiri. Ia begitu tertegun melihat putrinya memakai hijab sambil menangis memeluk foto almarhum suaminya.
Air matanya ikut menetes, dipeluknya putrinya dengan erat. Diana makin pecah tangisnya saat menyadari Bundanya memeluknya, Bunda dengan lembut mengusap air mata di pipi putrinya.
"Jangan tangisi lagi, Ayah sudah bahagia disana," kata Bunda sambil tersenyum walau air mata di pipinya.
"Terimakasih Bunda, maafkan Diana," ucapnya.
"Ia sama-sama sayang, anak Bunda cantik MasyaAllah," kata Bunda mengecup kening putrinya.
__ADS_1
"Bunda harus bahagia, kita akan bangkit sama-sama," kata Diana.
"Alhamdulillah, Bunda sudah memutuskan untuk menerima bantuan Om Nugraha," kata Bunda.
"Ia Bun, nanti Diana bantu," jawabnya.
Keduanya saling berpelukan, untuk saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
"Bunda, Diana mau tidur sama Bunda boleh?" tanyanya.
"Boleh sayang, mau dikamar Bunda, atau disini," kata Bunda.
"Di kamar Bunda saja lebih besar kasurnya,"Jawab Diana.
Keduanya jalan beringin menuju kamar Bunda Fifi, wajah Diana terlihat tanpa beban.
"Bunda tolong riddhoi Diana ingin pakai hijab," katanya saat sedang berbaring disamping wanita yang sudah melahirkannya.
"Insyaallah, Nak," jawab Bunda sambil mengusap kepala anaknya.
Kini keduanya sudah tertidur nyenyak, berharap besok pagi masih diberi umur panjang, untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.
*******
Dikediaman Satya.
Senja yang baru terbangun karena merasa perutnya kembali mual, ia berjalan pelan menuju kamar mandi.
Setelah selesai wanita hamil muda itu kini duduk disofa kamar, matanya melihat sekeliling untuk mencari handponenya.
"Pagi Mmy," sapa Satya sambil mengecup kening istrinya.
Satya membuat susu dan roti selai kacang untuk istrinya, kemudian ia memberikan kepada Senja.
"Kenapa Bby, enggak bangunkan Mmy?" tanya Senja sambil menikmati roti dan susu buatan suami.
Sebenarnya Senja kalau mencium susu merasa mual, tapi demi menghargai suaminya ia diam saja.
"Apa masih mual sayang," kata Satya saat melihat istrinya terdiam.
Karena sudah tidak tahan, Senja buru-buru kekamar mandi. Satya segera mengikuti sang istri, ia memijat tengkuk istrinya biar lebih enakan.
"Bby, boleh Mmy minta teh," kata Senja dengan suara lirihnya.
"Ia sayang, tunggu sebentar ya," kata Satya segera menuju lantai bawah.
Bik Ida yang melihat majikannya lari-lari, jadi ikut lari mengejar kedapur. Jangan tanya bik Sum bagaimana, karena latahnya ia ikut berlari juga....
Satya yang sedang bikin teh terkejut, melihat dua artnya berlari kearahnya.
"Ada apa ini? kenapa berlari," tanya Satya.
Bik Ida menoleh kebelakang melihat bik Sum ikut dibelakangnya.
__ADS_1
"Loh.. Sum, kamu kenapa toh..kok ikut lari?" tanya bik Ida.
"Tadi lihat Den Satya lari, terus Ida lari juga, tapi kok aku ikut juga ya," katanya sambil bingung.
Bik Ida langsung menepuk jidatnya, ia lupa kalau temannya latah. sedang Satya hanya menggelengkan kepala.
"Lah..Aden kenapa lari?" tanya Bik Sum.
"Ini, bikin teh buat istri," kata Satya sambil menunjukkan gelas.
Setelah itu, Satya segera meninggalkan kedua artnya. ia segera naik menuju kekamarnya, Senja tersenyum melihat suaminya sudah siap bikin teh.
"Terimakasih ya, Bby," kata Senja sambil mengambil alih gelas dari tangan Satya.
"Ia sayang, Bby ganti baju dulu ya," katanya sambil tersenyum.
Senja hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya, karena sudah dari tadi ingin meminum tehnya.
Setelah rapi Satya segera meminum kopinya, ia duduk disamping Senja yang sedang memainkan handpone.
"Mmy, serius kali," kata Satya karena merasa diabaikan.
"Maaf Bby, Mmy harus izin kalau hari ini enggak masuk," jawabnya.
"Ia sayang, Bby mengerti," jawab Satya tersenyum.
Senja hanya diam, saat ini ia harus mengerjakan tugasnya yang harus dikumpulkan besok. Namun, ia belum punya buku yang akan digunakan untuk, menjadi resumnya.
"Ada apa sayang?" tanya Satya.
"Bby, apa boleh Mmy ke kampus? ini ada tugas resume tapi materinya belum dapat," kata Senja dengan wajah yang cemberut.
Satya menghela nafas panjang, ia tahu istrinya ini gila belajar. Namun, kondisi sekarang ini dia sedang hamil.
"Nanti Bby carikan, insyaallah siang Bby antar ya. yang penting sekarang Mmy jangam keluar rumah dulu," kata Satya.
"Huffff... dasar posesif," gerutu Senja.
Satya hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya, ia memeluk tubuh kecil disampingnya.
"Jangan marah, ini Bby lakukan karena mengkhawatirkan Mmy dan anak kita, sayang," kata Satya sambil menyatukan keningnya dan kening Senja.
"Ia maaf, " jawab Senja tersenyum.
Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍
Vote
Jika suka berikan hadiahnya 🙏
Jangan lupa baca juga karya aku yang lain
🌾 Takdir Cinta Khansa
__ADS_1
🌾 Menikah Muda