PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 143


__ADS_3

DI Surabaya.


Di kediaman Ayah Nugraha  pagi ini dihebohkan oleh Ranga yang pulang dengan keadaan berantakan, semenjak ia menggantikan Satya untuk mengelola perusahan yang di Surabaya pemuda itu saat pulang selalu berantakan rasa lelah dan stres mengurus perusahan sendiri  menjadi beban untuknya.


"Assalamualaikum , Ranga pulang." Ucapnya sambil menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.


"Waalaikumsalam, astagfirullah Den Ranga kenapa!" teriak bik Ida yang sekarang tinggal dengan orang tua Satya semenjak di tinggal ke Jakarta.


Mendengar teriakan Bik Ida Bunda dan Ayah segera menghampirinya, "Ada apa Bik?" tanya Ayah.


"Ini Tuan Den Ranga," katanya sambil menyingkir memberi jalan kepada Tuan dan Nyonyanya.


Ayah Nugraha tersenyum sambil menepuk bahu anaknya dengan lembut, "Masuk kamar sana bersih-bersih dulu, habis itu sarapan," kata Ayah.


"Ayah, Ranga lelah," ucapnya sambil duduk dengan memejamkan matanya.


"Kenapa kamu baru pulang?" tanya Bunda sambil memberikan teh hangat kepada putranya itu.


"Dari bandung, Bun. Cek perusahaan di sana, nanti kalau Satya sudah balik Ranga mau cuti satu bulan buat tidur," ujarnya.


"Buat tidur atau bulan madu, enggak baik anak gadis orang digantung, nanti kalau berpaling nangis-nangis," goda wanita paruh baya itu.


"Benar, Ayah mau kalian sudah menikah selagi Bunda dan Ayah masih sehat dan akan menimang cucu kalian kelak," kata Ayah Nugraha sambil tersenyum.


Ranga hanya tersenyum saat orang tuanya menginginkan cucu dari ketiga anaknya, ada rasa senang saat mereka merestui dirinya dengan Diana. Namun, sampai sekarang yang dipikirkannya setelah menikah akan tinggal dimana.


Ranga pamit hendak ke kamarnya, tidak menunggu lama ia membersihkan badan. Setelah lima belas menit pria itu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Ranga membuka pintu balkon, kini ia hanya memakai kaos santai warna biru tua dan celana pendek warna putih. Ia berdiri sambil menatap taman di belakang rumah keluarga Nugraha.


"Gue enggak bisa gini terus, harus cari rumah untuk keluarga kecilku nanti," kata Ranga bermonolog sendiri.


Pintu kamar terbuka Bik ida tersenyum saat melihat Ranga berdiri sambil memandang taman. " Melamun apa, Den." Kata bik Ida sambil tersenyum.


"Eh Bik, bikin kaget aja," katanya sambil tersenyum.


"Ini sarapan dulu, nanti baru istirahat," katanya dengan tersenyum.


"Bik temani Ranga makan ya," pintanya sambil menampakkan wajah memelasnya.

__ADS_1


Bik Ida tersenyum, ia tahu kalau Ranga tidak suka makan sendiri, wanita itu kini duduk di depan Ranga.


"Menurut Bibi sebaiknya Ranga beli rumah dulu atau menikah?" tanyanya sambil memasukan nasi goréng ke mulutnya.


"Aden mau beli rumah buat tinggal setelah menikah nanti," ucapnya sambil tersenyum.


"Iya, enggak mungkin aku tinggal di sini, Bik." katanya sambil tersenyum.


Bibik Ida diam sesaat, apa sebaiknya ia kasih tahu ke Ranga kalau Tuan Nugraha ingin setelah menikah Ranga tetap tinggal dengannya.


"Den, sebaiknya bicarakan lagi dengan Tuan, bagaimanapun mereka sekarang sudah menjadi orang tua Aden." Jawabnya .


Ranga menghentikan makannya, ia selama ini memang tak pernah dibedakan antara Satya dan dirinya. Namun, ada rasa yang mengganjal hatinya .


"Maksud Bibik Ranga harus kasih tahu Bunda dulu kalau ingin beli Rumah?" tanyanya sambil menaikan alisnya.


"Iya Den, biar mereka merasa dianggap," ucapnya sambil tersenyum.


Ranga hanya menghela nafas panjang, kalau ia minta izin dulu pastinya tidak akan mengizinkannya. Namun, tak ada salahnya minta pendapat keduanya. 


Ranga menghabiskan makannya, kemudian  ia meminum air di gelasnya. Bik Ida pamit kepada anak majikannya itu. Ranga hanya menganggukkan kepalanya.


Akhirnya Ranga keluar dari kamar, karena hari sabtu baik Ayah dan dirinya tidak bekerja. "Bunda," sapanya sambil duduk di samping wanita yang begitu berharga untuk dirinya.


"Bun, apa nikah Ranga diundur dulu ya?" tanyanya.


"Loh kenapa, Sayang? Apa kamu masih ragu untuk menikahinya!" kata Bunda sambil mengusap kepala Ranga dengan lembut.


Ranga menatap wanita yang kini duduk menghadapnya, "Bun, Ranga mau buat beli Rumah dulu uangnya." katanya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Bunda mendengar itu tersenyum, ada rasa bangga di hatinya. "Bunda setuju kalau kamu mau beli rumah untuk keluargamu, tapi ada yang belum kamu tahu, Nak.  Untuk pernikahan mu dan Arga sudah disiapkan oleh Ayahmu."Jawabnya


"Tapi Bun?" Tanyanya, tapi Bunda menggelengkan kepalanya.


"Kalian berdua masih tanggung jawab Ayah dan Bunda, ingat itu dan tolong jangan kecewakan Bunda," katanya sambil memeluk Ranga dengan erat.


Ranga hanya diam saat wanita itu memeluknya, walau dirinya sudah dianggap seperti anak sendiri, Ranga ingin mengeluarkan  biaya  sendiri untuk pernikahannya. Namun, ia takut Ayah dan Bunda tersinggung.


"Jadi rencana mau beli Rumah di mana, Nak?" tanya Bunda sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Besok baru mau lihat-lihat dengan Diana, Bun." Jawabnya sambil tersenyum menatap wajah cantik walau umurnya tidak muda lagi.


Bunda tersenyum, ia terlihat begitu senang," kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk berbagi dengan wanita tua ini ya," katanya sambil terkekeh.


"Siapa bilang Bunda tua, Bunda itu segalanya buat Ranga tanpa kasih sayang  Bunda dan Ayah Ranga dan Kak Arga enggak akan jadi seperti ini," ucapnya sambil berbaring di pangkuan Bunda.


"Udah mau nikah masih manja dengan Bunda, enggak takut kalau Diana cemburu," sahut Ayah Nugraha sambil duduk di samping kanan istrinya.


Mendengar itu Ranga hanya tersenyum, dan Bunda mengusap kepala putranya dengan lembut. "Ayah Bunda kangen dengan Satya dan Senja," kata Bunda.


"Sabar sayang, mereka baru dua minggu di Jakarta," jawab Ayah Nugraha sambil terkekeh karena istrinya yang sekarang manja dengannya.


"Bunda kalau kangen ke Jakarta saja," kata Ranga.


Bugkk


Suara pukulan Ayah ke lengan Putranya, Ranga hanya meringis sambil mengusap lengannya " Ayah sakit," keluhnya.


"Kamu itu suruh Bunda ke Jakarta, terus Ayah sendiri di sini!" ucapnya kesal.


"Sekali-kali sendiri, Yah. biar merasakan bagaimana tidur hanya peluk guling," kelakar Ranga sambil duduk bersandar.


"Ranga, asal kamu tahu Nak. semenjak Ayah menikah dengan Bunda tidak pernah kami berpisah barang semalam juga," ujarnya.


"Sungguh?" tanya Ranga terkejut.


"Iya Nak, apa yang dikatakan Ayah benar. kalau Ayah harus keluar kota pasti Bunda di ajak," ucapnya.


"Wah... udah enggak benar ini, Bunda harus kasih tahu Satya itu," katanya.


"Apa hubungannya dengan Satya?" tanya Ayah.


"Apa Ayah tak tahu, berapa kali ia meninggalkan istrinya yang tengah mengandung anaknya, di tinggal keluar kota dan keluar negeri tanpa pamit!" kata Arga sambil berapi-api.


Deg, Ayah begitu terkejut." Tunggu bukankah waktu itu Satya izin ke Senja?" tanya Ayah.


"Enggak Yah, itulah yang membuat Senja pulang rumah orang tuanya," jawab Ranga.


"Maaf itu salah Bunda," ucap-nya sambil menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Maksud Bunda?" tanya Ayah Nugraha.


"Satay sudah pesan ke Bunda untuk memberitahu istrinya, karena dia pergi mendadak, tapi Bunda tidak sanggup mengatakan kepada Senja." jawabnya sambil meneteskan air matanya.


__ADS_2