PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 111


__ADS_3

Ibnu melajukan mobilnya, ia berapa kali mengumpati adik sepupunya itu. Kini ia bingung kemana mencari Sari, karena mobilnya sudah tak terlihat lagi


Pria berwajah tampan itu sudah berapa kali menghubungi nomor handphone kekasihnya tapi tidak diangkat, iya terlihat begitu frustasi.


Ibnu memutar balik mobilnya untuk mencari ke rumah Sari, ia berharap Sari sudah sampai di rumahnya.


Dosen killer itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalan begitu ramai.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mobil yang dikemudikan oleh Ibnu sampai di depan rumah Sari.


Ibnu menarik nafas lega saat melihat mobik milik Sari ada di dalam garasi, dia segera turun untuk menemuinya.


Saat sampai di depan pintu, lelaki itu mengerutkan dahinya karena ia melihat mobil Sari masih menyala.


Ibnu segera menghampiri mobil kekasihnya, kemudian ia langsung masuk. Hal itu membuat Sari terkejut, air matanya masih mengalir di pipinya yang putih.


Melihat wanitanya menangis Ibnu langsung menariknya ke dalam pelukannya, Sari yang masih merasa kesal meronta sekuat mungkin untuk lepas dari pelukan Dosennya. Namun, bukan Ibnu kalau tidak bisa membuat wanitanya tenang.


Kini Sari hanya diam sambil terisak di pelukan Ibnu, pria itu mengusap kepalanya dengan lembut.


Ibnu tersenyum saat mendengar dengkuran dari wanita yang kini bersandar di dadanya, berlahan ia membenarkan posisi Sari agar tak terbangun.


"Gadis nakal, siap marah, nangis sekarang gue di tinggal tidur," ucapnya lirih sambil mencium kening kekasihnya.


Ibnu tersenyum sambil mengusap lembut kepala Sari, ia harus segera menemui kedua orangtuanya Sari.


Bisa gila lama-lama, takut hal tadi terjadi lagi dan akhirnya kilaf. Di carinya nomer Leo, kemudian ia mengirimkan pesan ke adik sepupunya itu.


Gara-gara dia hampir saja dia kehilangan wanita yang membuatnya bisa melanjutkan kehidupan yang penuh warna lagi, Ibnu lebih yakin kalau akan segera menikahi gadis yang kini tidur disampingnya.


Tak lama Ibnu juga menguap karena ia juga biasa bermalas-malasan di waktu weekend, dulu dia tidak ada berniat untuk jalan-jalan menghabiskan waktu seperti yang lainnya. Namun, setelah ia memaksa Sari untuk menjadi kekasihnya ingin rasanya saat weekend bisa menghabisi waktunya hanya berdua saja.


Saat ia akan baru saja terpejam tiba-tiba terdengar suara handphone berdering dari ponsel Sari yang ada di dalam tasnya, Ibnu menatap gadis yang tertidur pulas itu. Ada rasa tak tega untuk membangunkannya, tapi saat ia melihat nama yang tertera di ponsel Sari akhirnya akan memberanikan diri untuk mengangkatnya.


Setelah selesai berbicara dengan Maminya Sari, Ibnu tersenyum. Namun, ia berharap kedua orang tuanya Sari mau merestuinya.


Tanpa terasa hari sudah sore, Sari meregangkan otot-otot tubuhnya kemudian ia tersenyum.


Tapi seketika ia melotot saat melihat dia sampingnya ada Dosen killernya, Sari langsung memperhatikan pakaian.


Kini ia bernafas lega karena pakaiannya masih melekat di tubuhnya.

__ADS_1


Ibnu yang sedari tadi memperhatikan tingkah kekasihnya hanya menggelengkan kepalanya, ia tahu apa yang sekarang dipikirkan oleh kekasihnya itu.


"Apa menurutmu aku akan melakukan hal sebodoh yang kau pikirkan," ucapnya sambil menyentil kening Sari


"Aduh.... Killer sakit," ucapnya yang langsung menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya.


Ibnu langsung melotot mendengarnya, bisa-bisanya wanita yang begitu di cintainya itu masih memanggilnya killer.


"Apa lagi julukan yang kau sematkan untukku, hah?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah Sari.


"Ma....maaf...Pak, eh.....sayang," katanya gugup.


Mendengar itu Ibnu tersenyum tipis, ia begitu gemes melihat wajah Sari yang terlihat pias.


"Kenapa? apa kamu takut kalau aku apa-apain saat tidur tadi!" katanya sambil menatap tajam ke arah Sari.


Sari tidak menjawab, tapi dia hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Bapak sebaiknya pulang," katanya sambil menunduk.


"Jadi kamu sekarang mengusirku!katanya dengan raut wajah dingin.


Ibnu langsung keluar dari mobil dengan wajah datarnya, ia menutup pintu dengan keras membuat Sari terkejut.


"Yah ....marah deh....," katanya sambil menatap Ibnu yang akan membuka pagar.


Sari langsung keluar dari mobilnya, gadis itu segera berlari untuk mengejar Ibnu yang akan masuk mobil.


"Aku mohon jangan begini!" katanya sambil memeluk Ibnu dari belakang.


Ibnu merasakan pungungnya basah, ia menarik nafas panjang. Hatinya begitu sakit saat wanita yang di cintainya menangis.


Ibnu membalikkan badannya, berlahan di hapusnya air mata yang masih mengalir di pipi Sari.


"Husssttt.....jangan menangis, jadi kelihatan jelak" godanya sambil tersenyum mengusap kepala Sari.


"Biarin .... jelek, tapi punya pacar tampan," jawabnya sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ibnu.


Ibnu terkekeh mendengarnya, kini ia membukakan pintu mobil supaya Sari masuk.


Sari hanya menatap pria yang sedang memegang pintu mobilnya, Ibnu mengganguk untuk mempersilahkan wanitanya itu masuk.

__ADS_1


Setelah Sari masuk, ia segera memutari mobilnya kemudian dia duduk di samping Sari.


"Mau kemana, Yang?" tanya Sari sambil tersipu malu saat mengatakan yang kepada Dosennya itu.


Ibnu tersenyum saat mendengarnya, kini pria tampan itu mengemudikan mobilnya sesekali ia menoleh ke arah Sari. Tak jarang pandangan keduanya bertemu. membuat sama-sama tersenyum.


Setelah satu jam mobil melaju, akhirnya Ibnu berhenti di sebuah rumah yang bercat putih kombinasi warna hijau tua, Ibnu mengajak Sari untuk masuk.


"Ini rumah siapa?" tanyanya sambil mengikuti kekasihnya.


"Ini rumah kita saat sudha menikah nantinya," jawabnya sambil menarik tangan Sari untuk menaiki tangga.


Sari hanya mengikutinya saja, ia masih tidak percaya kalau hubungannya dengan Dosennya akan menuju ke pernikahan.


Padahal ia tidak pernah berfikir untuk menikah muda seperti sahabatnya Senja, entah apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tuanya saat tahu dirinya menjalin hubungan dengan pria yang lebih dewasa darinya.


Terbesit pertanyaan pada dirinya sendiri, entah kenapa Dosennya itu membawa hubungannya ke jenjang yang lebih serius.


Pada hal satu bulan saja belum ada, ada rasa khwatir di hati Sari.


Ibnu melihat kekasihnya hanya diam saja merasa bingung.


"Kenapa?" tanyanya menatap wajah Sari dengan lekat.


"Apa Bapak serius dengan ucapan tadi?" tanyanya serius.


"Apa kamu tak yakin? Sari aku tidak pernah bermain-main dengan hubungan kita," katanya dengan serius.


"Tapi saya..." Ucapnya terhenti saat melihat Ibnu mengangkat teleponnya.


"Maaf, tadi apa?" tanyanya lagi.


Sari menarik nafas panjang, ia bingung apa yang harus di katakan ya.


"Maaf saya belum bisa untuk menikah," ucapnya sambil menunduk.


Deg....pria tampan itu terkejut, ia tak percaya akan mendengarkan kata-kata yang begitu menyetil hatinya.


"Baiklah bila itu keputusanmu, ayo aku antar pulang," ucapnya datar.


Sari terpaku mendengarnya, entah mengapa mendengar itu rasanya hubungannya akan berakhir dengan Dosen idola di kampusnya.

__ADS_1


__ADS_2