
Setelah Mentari Siap, ia hanya melihat Senja saja di ruang keluarga, "Suamimu mana, sayang."
"Sudah menunggu di mobil, Bu."
Kini keduanya keluar bersamaan, Senja yang melihat Satya masih berwajah masam hanya menghembuskan napasnya.
"Sudah marahnya, tetap Bby yang paling ganteng." Bisiknya sambil menarik tangan Suaminya.
Senyum Satya mengembang, saat mendengar apa yang di bisikan sang istri, entah mengapa pujian sederhana dari Senja membuatnya menjadi begitu senang.
Afkar yang melihat bosnya sudah tersenyum merasa lega, tapi saat Satya akan masuk mobil menatapnya tajam, Pria itu susah payah menelan salivanya saat tatapan Satya begitu menusuk.
Setelah semua sudah masuk, mobil, Afkar mulai mengemudikan meninggalkan kediaman Yoga. Afkar mengemudikan dengan kecepatan sedang, karena dia tahu di belakang isinya orang hamil tua semua.
Selama di perjalanan Satya hanya diam, hal itu membuat Senja harus lebih sabar lagi menghadapi bayi besarnya itu. Tanpa terasa mobil sudah sampai ke klinik Melati. Ketiganya turun kecuali Afkar.
"Ayah sepertinya belum sampai," kata Senja yang tidak melihat mobil Yoga.
"Mungkin sebentar lagi, Sayang." Jawab Tari sambil berjalan mendahului anak dan mantunya.
Senja yang melihat suaminya masih dalam mode ngambek hanya menarik napas dalam, diraihnya kedua pipi Satya dengan lembut. Mata keduanya saling tatap, Senja merasa geli melihat pria manja yang kini sedang di tatapnya.
Cup.
Senja mengecup benda kenyal sekilas, hal itu membuat Satya tersenyum. Dikecupnya kening snag istrinya kemudian keduanya masuk ke klinik. Afkar hanya bisa mengusap dadanya, walau ia belum punya kekasih karena sibuk bekerja pria itu bukan berarti tidak memikirkannya.
Asisten Arga itu mendambakan seorang wanita yang nanti mampu mengurus dirinya dan anak-anaknya kelak. Permintaannya hanya sederhana bisa membahagiakan istri dan anaknya.
Entah kenapa dia teringat akan Hanum OB baru di perusahan, gadis itu menurut saat ia menyuruhnya, tapi selalu diakhiri dengan umpatan kecil untuk dirinya. Baru sekali ini ada wanita yang mengumpati saat wajahnya terlihat dingin.
"Lama-lama gila gue pikirkan masa jomblo yang enggak berakhir ini, masak gue tertarik dengan Hanum gadis tomboy di kantor." Gumannya sambil menatap arah klinik.
Sedangkan di dalam klinik Senja sedang di periksa oleh Dokter Mela, wanita paruh itu tersenyum saat tau siapa yang masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Apa kabar, Nak?" tanyanya sambil memeluk Senja.
"Alhamdulillah sehat, Tante."Jawab Senja sambil duduk di ikuti oleh Satya.
Satya melihat Yoga dan Tari masuk ke ruangan hanya mendengus, ia ingin banyak yang ditanyakan kepada Dokter Mela. Yoga menatap sambil menyeringai , karena ia tahu mantunya itu tidak suka saat sedang memeriksakan istrinya diikuti.
"Jadi siapa dulu yang mau diperiksa?" tanya Dokter Mela sambil tersenyum melihat tingkah Yoga dan Satya.
"Saya dulu," kata Mentari mengedipkan matanya ke Satya dan Senja.
Yoga terkekeh melihat wajah Satya yang terlihat memerah karena kesal, Senja yang tahu Ayah dan Ibunya membuat suaminya kesal hanya tersenyum.
"Sabar By," ucapnya.
Satya tak menjawab, tapi ia hanya memaksakan senyumnya. Senja yang baru menyadari karena tidak ada Afkar menatap suaminya.
"Afkar menunggu di mobil, By?" tanya Senja.
"Kayaknya iya." Jawabnya sambil bersandar di sofa yang ada di ruangan Dokter Mela.
"Tante terimakasih banyak," ucap Mentari sambil tersenyum.
"Sama-sama, Nak. Tante senang kalau kalian masih ingat untuk ke sini," ujarnya sambil tersenyum.
Kini ketiganya keluar menuju ke meja kerja Melati, Yoga hanya menggeleng melihat Satya yang duduk santai sambil bersandar di sofa.
"Senja, ayo kita lihat perkembangan janinnya," Ajak Melati.
Satya dan Senja mengikuti wanita paruh baya itu masuk ruang pemeriksaan di mana sudah ada alat USG dan peralatan lengkap lainnya.
"Baring di sini, Sayang!" titahnya sambil tersenyum.
Dokter Melati mulai mengoleskan jel di perut Senja, tapi sebelumnya ia mengejek tekanan darah dan berat badan Senja. Satya menatap monitor USG di mana terlihat dengan jelas anaknya sedang menggerakkan kedua kakinya.
__ADS_1
"Semua bagus sayang, ketuban cukup, detak jantung normal dan perkembangannya juga ada kemajuan dari bulan kemarin," jelasnya membuat Senja lega begitu juga Satya.
Dokter Mela segera mengeprint hasil USG tadi kemudian memberikan kepada Satya. Pria itu langsung memasukan ke dalam dompetnya.
Kini semua sudah berkumpul di luar, Dokter Mela sedang membuat resep buat kedua wanita hamil itu. Sedangkan Yoga dan Satya seperti biasa ada saja yang membuat keduanya saling ejek.
"Tante, InshaAllah Senja mau ke Surabaya minggu depan," ucapnya sambil tersenyum.
"Enggak apa-apa, Nak. Kondisi janinnya kuat, apalagi sudah mau masuk 32 minggu. Rencana mau lahiran normal apa operasi, Sayang?" tanyanya sambil tersenyum menatap Senja dan Satya bergantian.
"Maunya normal, Tante." Jawab Senja sambil menatap sang suami.
"Kalau mau lahiran normal harus sering-sering dijenguk oleh Ayahnya nanti ya," ujarnya.
"Maksudnya Tante?" tanya Yoga dan Satya serempak.
Mela terkekeh mendengar dua pria itu menanyakan hal yang sensitif di depan istrinya, tapi ini sudah menjadi tugasnya untuk menjelaskan kepada keluarga pasien walaupun itu anak dari sahabatnya sendiri.
"Secara umum, berhubungan badan memang berdampak positif bagi tubuh kita, baik secara fisik maupun mental. Namun, yang harus diketahui, ternyata melakukan hubungan suami istri saat hamil juga memiliki manfaat yang lebih, apalagi bila dilakukan saat menjelang kelahiran."
"Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa melakukan hubungan intim saat hamil khususnya pada bulan-bulan akhir seperti bulan kedelapan dan kesembilan dapat membantu membuka jalan bagi bayi, sehingga dapat memperlancar proses persalinan. Untuk itulah, diharapkan dapat mempertimbangkan melakukan coitus saat kehamilan menjelang kelahiran, karena manfaatnya sangat besar bagi proses persalinan."Jelasnya sambil tersenyum menatap Satya dan Yoga bergantian.
Kedua pria itu terdiam, tapi sedetik kemudian Satya tersenyum dan langsung memeluk Tante Mela mengucapkan terimakasih kepada wanita paruh baya itu, senyum tidak pernah pudar dari bibirnya saat ia tahu kalau harus sering-sering melakukannya dengan istrinya demi memperlancar persalinannya.
Mentari dan Senja menggelengkan kepalanya melihat tingkah Satya, sedangkan Yoga menatap sang istri karena dia tahu waktu lahiran Senja Mentari harus operasi cesar saat itu.
"Tante apa Tari bisa melahirkan normal nantinya?" tanya Tari dengan harap-harap cemas.
"Harusnya bisa, karena jarak yang begitu jauh dari anak pertama dan kedua." Jawab Dokter Mela sambil menatap Senja.
"Jadi bisa Tante, dan bisa sering jenguk sang baby," Sahut Yoga antusias.
"Mas!" teriak Mentari begitu malu dengan sikap suaminya.
__ADS_1
Senja dan Satya hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah Ayahnya yang lebih parah, Yoga hanya menggaruk tengkuknya karena semua mata menatap ke arahnya.
Dokter Melati terkekeh, ia begitu merasa terhibur dengan sikap kedua pasangan yang suami istrinya yang sedang ia tangani ini.