
Hari yang di tunggu-tunggu Ibnu dan Sari akhirnya tiba, di mana Ibnu akan mengucapkan janji sehidup semati kepada Sari di depan keluarga dan sahabatnya.
Suasana di rumah Sari begitu ramai kehadiran sahabatnya dan tetangganya, Sari sudah terlihat cantik dengan balutan gaun pengantinnya, dihiasi jilbab warna yang senada.
Tak lama iring-iringan mobil memasuki gerbang rumah Erlangga. Mempelai pria sudah datang, terlihat wajah tegang Ibnu sedari tadi.
Tak lama papa Erlangga mempersilakan kepada tamunya untuk masuk, Ibnu duduk di samping Mama Tika di kursi yang sudah disediakan.
Ayah Nugraha menjadi saksi dari pihak Ibnu, sedangkan Pak Kusuma saksi dari pihak Sari. Saat pak penghulu masuk ruangan Ibnu semakin tegang, hal itu tak lepas dari perhatian Satya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Satya lirih.
"Gila gue aja sekali seperti ini rasanya, eh...lo dua kali," jawab Ibnu.
Satya melengos saat Ibnu mengatakan hal itu, tapi memang benar beda waktu dia mengucapkan ijab kabul yang pertama dan yang kedua.
Tak lama ijab kabul dimulai, seruan sah dari saksi menandakan Ibnu dan Sari resmi menjadi suami istri.
Kini saatnya sungkeman, kepada kedua orang tua Ibnu maupun Sari, tangis haru mewarnai saat Sari mencium tangan Mama Seruni keduanya terisak.
Tidak berbeda dengan Papa Erlangga, pria itu menangis sampai keluar suara. Ayah Nugraha yang mendengar tangisan sahabatnya itu hanya tersenyum.
Mama Tika tak kuasa menahan tangisnya, saat melihat anaknya akhirnya menikah, Ibnu memeluk wanita yang selalu ada di saat dirinya terpuruk itu.
Acara selanjutnya doa, kemudian para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.
Ada beberapa Dosen yang hadir, mereka mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Saatnya giliran sahabat Sari siapa lagi kalau bukan Alan, Deo dan Leo.
"Selamat ya, Pak," kata Alan dan kemudian pindah mengucapkan selamat kepada Sari.
Leo menatap sepupunya itu dan berganti Sari.
"Selamat semoga cepat kasih gue keponakan," kata Leo kepada Sari dan Ibnu.
"Amin....doakan semoga lancar," jawabnya sambil tersenyum menatap Sari.
Wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu menunduk karena malu.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan sore, tamu undangan dan sahabat sudah pulang, begitu juga dengan orang tua Ibnu.
"Sayang bawa suamimu untuk istirahat," kata mama Seruni sambil mengusap kepala putrinya.
"Iya Mam," jawab Sari.
Sepasang pengantin baru itu kini masuk kedalam kamar, Sari segera menuju meja riasnya. Dibukanya hiasan dan jilbab, di lihatnya suaminya kini sedang berbaring di ranjang.
"Pak..mandi saja duluan, nanti gantian," kata Sari.
Ibnu segera bangun, kini ia duduk di pinggir ranjang sambil melepaskan jasnya. Saat Ibnu hendak membuka kemejanya, Sari buru-buru mengalihkan pandangannya.
Ibnu hanya tersenyum, kini ia segera mengambil handuk yang ada di balkon kamar istrinya.
"Perlu bantuan, yang?" tanya Ibnu.
"Enggak, Pak Ibnu mandi aja," jawab wanita itu.
Ibnu hanya mendengus karena istrinya masih memanggilnya pak, tapi begitu bahagia akhirnya bisa menikahi wanita yang beberapa bulan ini mengisi hatinya.
Ibnu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Sari setelah selesai membersihkan makeup nya segera masuk kamar mandi, ia begitu gerah dan ingin berendam untuk menghilangkan penatnya.
Setelah tiga puluh menit, Sari keluar dari kamar mandi sambil tersenyum saat melihat suaminya sudah tertidur lelap.
Wanita itu segera keluar kamar, karena tidak ingin suaminya terganggu tidurnya. Sari menuju ruang keluarga menghampiri kedua orang tuanya, seperti biasa di akan bergelayutan di lengan mama Seruni.
"Kamu ini sudah punya suami masih manja," kata Papa Erlangga sambil duduk di samping istrinya.
"Sari tidak akan berubah, Pa. Meskipun sudah menikah." Jawabnya sambil berbaring di paha mamanya.
Mama Seruni mengusap kepala putrinya dengan lembut, tanpa terasa Sari terlelap di pangkuan sang Mama.
"Kalau ngantuk kenapa tidak tidur dikamarnya," ucap Papa sambil melihat putrinya yang mulai terdengar mendengkur halus.
"Pa...apa tidak apa kita tinggalkan mereka besok?" tanya Mama Seruni.
__ADS_1
"Nanti kita bicarakan dengan suaminya juga, kerajaan kita makin banyak, Ma. Kalau kita tidak pulang besok akan semakin menumpuk," ujarnya sambil mengecup kening istrinya.
Suara azan magrib berkumandang, Ibnu yang saja terbangun melihat sekeliling kamar mencari sosok istrinya. Namun, tidak ia temukan.
Ibnu segera kamar mandi, saat keluar ia melihat Sari terlihat seperti bangun tidur. Sari dengan mata yang masih mengantuk segera menuju kamar mandi, tapi seketika ia berteriak saat menyadari kalau ada lelaki masuk ke kamarnya.
"Maling...." Teriaknya segera memasang kuda-kuda untuk menyerang.
Ibnu saat membalikkan badan terkejut karena tiba-tiba istrinya menyerangnya, dengan cepat Ibnu menangkis serangan istrinya.
Mama Seruni yang mendengar gaduh di kamar putrinya, saat ia melintasi kamar Sari melihat pintu yang tak tertutup rapat.
"Pa.... tunggu, coba deh dengar seperti suara orang berkelahi," bisik Mama Seruni.
Papa Erlangga segera mendekatkan telinganya di balik pintu, lelaki itu menarik nafas panjang. Didorongnya pintu kamar terlihat gelap, Mama Seruni segera menghidupkan lampu.
"Astagfirullah, berhenti!" teriak Mama Seruni.
"Ini ada maling masuk, Mam," kata Sari yang hendak mau menyerang kembali.
"Kamu lihat siapa dia!" kata Papa Erlangga dengan geram.
Sari segera membalikkan badannya, matanya melebar saat melihat lelaki yang diserangnya barusan. Wanita itu menjadi salah tingkah, ia menunduk malu.
"Kalian ini ya...., pengantin baru kok sambut malam pertama seperti ini" goda Papa Erlangga.
"Sudah-sudah Sari cepat sholat maghrib dulu, Nak," perintah mama Seruni.
Setelah keduanya keluar kamar, Sari menatap wajah suaminya dengan rasa yang menyesal. Ibnu yang masih kesal karena ulah istri yang langsung menyerang dan teriak menyebutnya maling tadi.
Sari segera masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu, kemudian ia shalat maghrib sendiri karena suaminya terlihat masih pakai baju koko selesai sholat.
Ibnu duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, Sari yang sudah siap sholat segera melipat mukena dan sajadahnya.
Kini ia menghampiri Ibnu, duduk di samping suaminya. Ibnu hanya diam saat Sari bergelayut manja di lengannya, karena tidak ada respon dari suaminya Sari langsung duduk di pangkuan Ibnu.
Ibnu tetap tidak bergeming, saat Sari melingkarkan kedua tangannya di lehernya. Pria itu ingin melihat seberapa istrinya bisa meluluhkan hatinya.
__ADS_1
Ibnu begitu ingin tertawa, saat Sari mengusap wajahnya dengan lembut. Bagaimanapun ia lelaki normal, tapi melihat istrinya berusaha mencari perhatikannya Ibnu mulai mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan.
Jantungnya berdetak lebih cepat, saat istrinya mulai menggerakkan posisi duduknya. Membuat Ibnu semakin blingsatan.