
Dibaca kusus malam ya, 🙏
Ibnu memejamkan matanya untuk menahan hasratnya, tapi kalau istrinya kecilnya tidak mau diam malah semakin memutar pinggulnya akhirnya jebol juga pertahanan Ibnu.
Tanpa menunggu lama, pria itu langsung menyerang istrinya yang baru ia nikahi pagi tadi.
Kecupan yang tadinya lembut kini semakin menuntut, keduanya larut dalam angan dan kerinduan.Tangan Ibnu tidak tinggal diam, ia dulu ragu. Namun, sekarang sudah halal jadinya ia tidak takut lagi.
Ibnu mengangkat tubuh isterinya membawanya ke ranjang, tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Sari benar-benar pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
Tanpa perempuan itu sadari kini ia sudah polos seperti bayi baru lahir, Ibnu menghentikan kegiatannya saat mata keduanya beradu.
"Apa kamu siap?" Tanya Ibnu, bukannya dijawab oleh Sari tapi malah ia memukul dada suaminya.
Wanita itu heran dengan suaminya, sudah sejauh ini baru tanya siap atau tidak.
Kini keduanya larut dalam gelombang cinta, nikmatnya surga dunia. Keduanya mengerang bersamaan saat tergulung dalam gelombang yang menghanyutkan.
Air mata Sari mengalir di sudut matanya, melihat itu Ibnu mengecup sudut mata istrinya.
"Terimakasih sudah menjaganya untukku," ucapnya sambil memeluk tubuh istrinya dalam dekapannya.
Kini kedua tertidur karena lelah, sebenarnya Ibnu ingin lagi. Namun, saat melihat istrinya menangis tadi ia tidak tega.Ia rasa besok masih bisa karena itu sekarang sudah menjadi miliknya tidak akan habis atau basi.
Ibnu Yang merasa lelah segera menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya. Kini ia segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, pria itu selesai mandi segera mengambil pakaiannya yang masih ada di dalam koper.
Ibnu menatap wajah istrinya yang tertidur lelap, ia ingat istrinya begitu seksi saat menuju puncak tadi. Namun, ia merasa kasihan saat istrinya kesakitan.
Ibnu juga merasakan punggungnya pedih akibat cakaran istrinya tadi, ia merasa menikahi singa betina.
Ibnu yang merasa lelah segera berbaring di samping istrinya, ia segera masuk ke dalam selimut, tepat di dada istrinya seperti bayi yang sedang menyusu. Tak lama ia terlelap, Keduanya sama-sama mengarungi mimpi yang Indah.
******
Di rumah Satya.
__ADS_1
Pagi ini Senja yang baru siap menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, segera menyiapkan teh hangat untuk suaminya.
Sudah seminggu ini Satya selalu shalat berjamaah di masjid tak jauh dari rumahnya, hal itu didukung penuh oleh istrinya.
Shalat berjamaah adalah fardhu bagi laki-laki baik ketika berada di rumah maupun ketika dalam perjalanan, baik dalam kondisi aman maupun dalam kondisi ketakutan. Hukum shalat berjamaah di masjid fardhu ain bagi laki-laki, tanpa terkecuali.
Shalat berjama’ah wajib dilakukan di masjid, bukan di rumah karena tujuan dibangunnya masjid adalah untuk ditegakkan shalat berjama’ah di dalamnya.
Sangat disayangkan sebagian kaum Muslimin, padahal ia sebagai donatur pembangunan masjid, pengurusnya dan bahkan para ustadznya, tidak melakukan shalat berjama’ah di masjid.
Bagi Senja kalau itu untuk kegiatan positif ia makan mengizinkan suaminya untuk ikut pengajian bapak-bapak di sekitar kompleks rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Satya saat ia sampai rumah, melihat istrinya menyambutnya dan mencium tangannya. Kemudian Satya mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Waalaikumsalam, jawab Senja.
Satya segera menuju ke lantai dua untuk berganti pakaian, Senja Segera membawa teh yang disiapkan tadi.
Satya tersenyum, saat istrinya menyodorkan cangkir berisi teh hangat. Senja segera duduk di samping suaminya, seperti biasa istrinya itu bergelayut manja di lengannya.
Ia tak mau kalau disuruh masuk setengah saja, tapi demi anak yang ada di dalam rahim istri terkadang ia juga melakukannya.
"Bby Minggu depan puasa, apa boleh Mmy pergi ke makam Kakek?" Tanya Senja sambil memeluk suaminya.
"Iya nanti Bby yang antar ya," jawab Satya sambil mengusap kepala istrinya.
Senja tersenyum saat suaminya semakin hari semakin sayang kepadanya, ia benar-benar merasakan perubahan dari Satya Nugraha.
Walau suaminya sekarang menjadi posesif pada dirinya, tapi wanita itu sangat menyukainya. Karena selama ini tidak ada yang memperhatikan dirinya lebih.
Satya yang dulunya begitu acuh padanya, kini balok es itu akhirnya mencair di genggaman Senja.
"Yang, nanti selama bulan Ramadhan, Bby rencana mau ikut tadarus di masjid. Apa Mmy keberatan?" Tanya Satya pelan.
"Enggak kok, Mmy malah suka kalau Bby mau berbaur dengan warga di sini," jawab Senja sambil tersenyum.
__ADS_1
Satya merasa lega, saat istrinya memberikan izin padanya. Wanita itu terkadang terlihat begitu dewasa dari umurnya, tapi terkadang bikin gemes.
Senja terdiam saat mengingat Ibunya, biasa ia akan heboh menyiapkan menu untuk berbuka puasa. Puasa tahun ini keduanya harus terpisah mengikuti suaminya masing-masing.
"Mikirin apa lagi, yang?" Tanya Satya tersenyum saat melihat istrinya hanya menarik nafas panjang.
"Mmy hanya kangen dengan Ibu dan Ayah,* jawanya terlihat sendu.
"Ingat Yang, Ibu juga sedang hamil jadi jangan menyuruh ibu untuk pulang ke Surabaya," ujar Satya.
"Iya ….Bby," jawabnya.
"Bagaimana kalau besok pulang kuliah kamu langsung ketempat bunda saja di antar pak Yanto ya?"
"Benarkah, Bby enggak keberatan kalau Mmy ke rumah bunda," kata Senja dengan mata yang berbinar.
Walau ia tidak bertemu dengan Ibunya, tapi pelukan hangat mertuanya mampu mengobati rasa rindunya kepada Mentari.
Satya begitu gemes melihat istrinya itu, waktu menunjukkan pukul 6:30. Senja segera bersiap begitu juga dengan Satya.
"Hari ini sampai jam berapa, yang?" Tanya Satya.
"Jam 2 baru selesai nantinya," Satya menarik nafas dalam-dalam.
Ada rasa bersalah kepada istrinya, Ranga yang baru mendapatkan laporan tentang siapa yang menabrak Senja waktu di depan kampus saat itu.
Ranga begitu frustasi, ia tidak menyangka kalau Diana tega melakukan itu. Apa lagi nanti seandainya Senja sampai tahu kalau Diana yang melakukan hal percobaan pembunuhan kepadanya dengan cara menabrak istri Satya Nugraha itu.
Satya yang tadinya ingin marah, tapi ia tahan keren bagaimanapun Diana adalah calon istrinya Ranga.
Apa nanti istrinya akan marah, dan benci kepada Diana jika ia tahu itu. Ada rasa ragu saat ia masuk kamarnya, Senja yang berencana untuk membuat sarapan segera memencari bahan di kulkas.
Senja melihat suaminya heran. Satya merasa dirinya merasa bersalah kepada istrinya. Namun, ini demi kebaikannya.
Satya hanya menarik nafas panjang, saat istrinya menyodorkan kopi untuknya. Bukannya ia tak mau, tapi masih kepikiran laporan Ranga kemarin.
__ADS_1
Satya tak ingin istrinya terpuruk kembali, dan tidak memiliki sahabat, ini ia lakukan demi rasa sayangnya kepada istrinya