
Sore ini Satya sudah sampai di Bandara Sukarno Hatta setelah menempuh perjalanan selama satu jam tiga puluh menit, Satya keluar mengamati sekeliling saat sedang ingin melangkah menuju taksi, Satya di kejutkan dengan Arga yang berdiri sambil busungkan dada dengan tangan di lipat di dada.
"Perlu tumpangan!" ucap Arga ketus.
"Apa kita saling mengenal," jawab Satya tidak kalah dingin.
Arga hanya mendengus melihat Satya yang datang ke Jakarta tidak memberi tahukan kepadanya, Satya yang melihat sahabatnya atau orang kepercayaannya kesal hanya tersenyum menanggapinya.
"Kemana sekarang kita Bos?" tanya Arga.
"Lo hubungi Yoga, Lo ajak ketemuan tapi suruh Yoga menyamar saat keluar kantor," kata Satya tegas.
"Maksudnya?" tanya Arga yang bingung.
"Harus gue ulangi," jawab Satya.
Arga hanya bisa pasrah segera mengirim pesan kepada Yoga, tak lama yoga membalas kalau satu jam lagi akan sampai kelokasi.
"Oke, perintah sudah saya laksanakan Tuan," ucap Arga.
"Gue tahu, Lo bisa di andalkan," sahut Satya sambil memakai kacamata hitam yang menambah wajah tampannya makin di gilai oleh para wanita yang ada di sekitar kafe.
Arga hanya menggelengkan kepala saat mendengar para wanita itu teriak histeris melihat Satya masuk Kafe. Arga yang mengikuti Satya dari belakang hanya memicingkan matanya ke salah satu wanita yang cuek saat Satya lewat di depan mejanya.
Sesampainya di ruang vip, Satya dan Arga langsung duduk lesehan menghadap ke danau buatan yang terlihat asri. di sekeliling danau di tumbuhi rumput liar yang mengelilingi sekitar pinggir danau.
"Indah," ucap Satya.
"Ia suatu saat gue akan kesini, menembak calon ibu dari anak-anak gue," jawab Arga.
"Selama ini banyak wanita yang dekat sama lo, apa tidak ada satupun yang membuat lo ingin menjadikan mereka Ibu buat anak-anak lo kelak.
"Hah...gue mau, gue yang di buat ngejar to cewek. Bukan cewek yang ngejar-ngejar gue," jawab Arga sambil tersenyum mengingat wanita yang tadi cuek, lain dari yang lain.
"Contohnya?" tanya Satya.
"Senja," jawab Arga, sambil nyengir kuda menatap Satya yang sudah melotot kepadanya.
"Lo mau gue apain!" ucap Satya dingin.
"Ye..elah....santai bro, gue belum selesai ngomong juga," kata Arga.
"Jangan macam-macam," ucap Satya sambil menyesap kopi hitam yang baru di antar oleh pelayan.
"Cuma satu macam saja bos, gue ingin membina rumah tangga. Gue ingin pulang kerja ada istri dan anak di rumah, saat gue pulang kerja mereka menyambut kedatangan gue," kata Arga dengan senyuman yang mengembang membayangkannya.
__ADS_1
"So sweet," sahut Satya tersenyum.
Saat mereka sedang asik dengan obrolannya, pintu di ketuk dari luar, Arga membuka pintu langsung melotot melihat Yoga memakai baju office boy.
"Kenapa puas lo, hah!" ucap Yoga yang kesal karena Arga menyuruhnya menyamar, dan tidak boleh memakai mobil pribadinya.
"Satya," kata Yoga yang kaget melihat menantunya sedang duduk santai sambil menikmati kentang goreng.
"Iya, Ayah mertua," goda Satya sambil tersenyum.
"Basi Lo!" ketus Yoga sambil duduk di depan Satya.
"Tapi mau di hormati sebagai mertua yang paling muda," kata Satya
Arga yang mendengar ucapan Satya langsung tertawa lepas, Arga sangat terhibur dengan kedua sahabatnya itu sejak kuliah. Kalau sudah bertemu pasti ada yang di debatkan, yang lebih membuatnya sekarang tidak habis pikir Satya sekarang menjadi menantu Yoga.
"Yayaya...mertua dan menantu yang unik," sahut Arga yang langsung di tatap tajam oleh Satya dan Yoga.
"Wesss...ampun, jangan main keroyok gitu, gue tahu menantu dan mertua harus kompak," kata Arga sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Yoga yang langsung ke poinnya.
Satya menarik nafas dalam-dalam dan langsung menghembuskan keluar, Satya bingung dari mana akan memulainya.
"Lo taukan selama ini ada yang mengikuti Lo," ucap Satya.
"Jadi lo tahu, kenapa lo harus menyamar untuk datang kesini?" tanya Satya sambil menatap sahabatnya eh salah mertuanya.
"Tunggu, apa ini ada hubungan dengan mertua gue?" tanya Yoga .
"Mertua lo itu Kakeknya Satya," sahut Arga.
Yoga hanya menatap Arga dengan datar. Sedangkan Satya langsung menceritakan tujuannya yang mendadak pergi ke Jakarta, Satya juga memberi tahu Yoga siapa wanita yang ada di rumahnya sekarang. Yoga terlihat begitu panik mendengar kalau Nenek Wati adalah salah satu utusan Mertuanya.
"Gue mau pulang sekarang," kata Yoga yang merasa khawatir dengan anak dan istrinya.
"Lo enggak usah khawatir, anak buah Arga sudah ada yang tingal di samping rumah lo," jawab Satya.
Yoga menarik nafas panjang, ada rasa lega saat mendengar Satya dan Arga sudah menyuruh orang untuk mengawasi rumahnya.
"Angap saja kita tidak tau, kalau orang yang di rumah elo suruhannya Kakek Roby," ucap Satya.
"Jadi gue diam saja, terus kalau ada apa-apa sama anak dan bini gue gemana Sat!" teriak Yoga merasa frustasi.
Satya yang mengerti bagaimana sahabatnya itu hanya diam, sedangkan Arga merasa bingung apa mau Kakek Roby.
__ADS_1
"Gue rasa Kakek tidak akan sampai mencelakai anak dan cucunya," ucap Satya.
"Dia bisa menghalalkan segala cara, Sat." Kata Yoga.
"Jadi bagaimana Maimunah," sahut Arga yang kesal melihat Yoga yang terlalu lemah menghadapi mertuanya.
"Sekarang kita pulang saja, lo bawa mobil enggak?" tanya Satya.
"Mana ada office boy bawak mobil mewah," Ucap Yoga kesal.
"Jadi lo tadi kesini naik apa?" tanya Arga.
"Naik ojek," jawab Yoga.
"Oke, kali ini gue antara lo, eh..bos mau pulang kemana?" tanya Arga ke Satya.
"Ketempat bini gue," jawab Satya.
"Jangan," ucap Yoga yang langsung membuat Satya mendengus tidak suka.
"Kenapa?" tanya Satya.
"Kalau lo kerumah gue, pasti Papa Roby akan tahu." Jawab Yoga, Satya mengangguk setuju.
"Begini setelah Arga antar gue ke kantor, gue telepon Senja akan dijemput Arga bagaimana." Ucap Yoga.
"Oke gue setuju," jawab Arga dan Satya bersamaan.
Tak lama Yoga keluar duluan menuju jalan, setelah itu baru Satya dan Arga. Mata Arga tak hentinya melihat wanita yang sedang asik memainkan jari-jarinya di atas keyboard lektopnya. Satya yang memperhatikan sahabatnya tersenyum.
"Lo dekati dia dulu, cari tahu namanya siapa? dan apa hobi dan kegiatannya," ucap Satya.
Arga tak menjawab Ucap Satya, Arga hanya tersenyum lalu keduanya masuk mobil, mobil berlahan meninggalkan kafe menuju jalan yang di katakan Yoga.
Dari jauh Satya dan Arga melihat Yoga sudah berdiri dengan wajah yang di tekuk, karena sudah hampir lima belas menit menunggu Arga dan Satya.
"Maaf bro, gue lupa kalau lo masih nunggu," ucap Arga sambil tersenyum melihat wajah Yoga yang terlihat kesal padanya.
"Gue sudah hubungi Senja, kalau dia akan pergi diam-diam, tanpa memberi tahu Ibu dan Nenek," ucap Yoga.
"Lo enggak bilang'kan kalau gue ke Jakarta," tanya Satya yang Khwatir kalau istrinya akan marah padanya.
"Kasih tau enggak ya," goda Yoga untuk membalas ke Satya yang sudah membuat dirinya kepanasan menunggu terlalu lama.
Arga terkekeh mendengar ucapannya Yoga yang menurutnya alay. Mobil sudah sampai di dekat kantor Yoga, Yoga segera turun dan memanggil tukang ojek, setelah Yoga sudah masuk ke Perusahaannya Arga segera melajukan mobilnya ke arah rumah Yoga.
__ADS_1
Bersambung ya...
Mohon dukungannya dengan like dan votenya, bila suka berikan hadiahnya 💃💃💃💃