PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Tinggal bersama


__ADS_3

Ia juga berharap Satya mau tinggal bersamanya saja, tepi apa anak itu mau itu yang sekarang menjadi masalahnya.


"Bunda, kalau kita Bujuk Satya untuk tinggal di sini saja bagaimana?" tanya Ayah Nugraha.


"Apa anak itu mau, Yah?" tanya Bunda ganti.


Ayah Nugraha duduk di tepi ranjang samping istrinya, ia berharap wanita yang sudah lama menemaninya itu bertahun-tahun kini terlihat begitu sedih. Hatinya begitu sakit, ia akan mencoba membujuk Satya untuk tinggal bersamanya nanti. 


"Kita coba untuk membujuknya," kata Ayah Nugraha dengan senyum mengembang di bibirnya, walaupun ia belum yakin apa Satya mau mengabulkannya.


"Kalau tidak mau jangan dipaksa," kata Bunda sambil mengusap tangan suaminya.


Ayah Nugraha memeluk sang istri, apapun akan ia lakukan untuk membahagiakan bidadarinya itu.


Ayah Nugraha keluar dari kamar, di lihatnya putranya ada di ruang keluarga asik dengan televisi..


"Apa kamu yakin tidak kembali ke kantor?" tanya Ayah Nugraha.


Satya menoleh menatap Ayahnya, pria itu hanya menggelengkan kepalanya. Tak lama Bik Sum datang membawakan teh hangat dan kopi buat dua orang pria beda usia itu. Ada rasa senang saat keduanya terlihat seperti mengobrol seakan adik dan kakak.


"Kenapa senyum-senyum, Bik?" tanya Satya.


"Eh, maaf. Engak ada apa-apa, Den." Bik Sum merasa malu karena ketahuan.


Setelah wanita paruh baya itu pergi, Senja ikut bergabung bersama suami dan mertuanya itu dan bertanya."Bunda mana, Yah?"


"Sedang istirahat, Nak."Ayah Nugraha tersenyum melihat menantunya itu memperhatikan istrinya.


"Nak, ada yang mau ayah bicarakan sama kalian berdua." Ayah Nugraha menatap Senja dan Satya bergantian.


Senja menatap suaminya, tapi pria itu hanya menaikan bahunya saja. Karena ia tidak mengerti apa yang akan dikatakan Ayahnya.


"Nak, Ayah minta kalian tetap tinggal disini!" pinta Ayah Nugraha.


Satya menatap istrinya, Senja hanya tersenyum. Pria itu mengingat obrolannya tadi di kamar dengan istrinya.


"Mas, aku enggak tega tinggalkan Bunda dan Ayah," kata Senja.


"Maksudnya, Yang?" tanya Satya.


Senja menarik napas kasar, giliran diajak ngobrol masalah ginian suaminya itu akan susah menangkap, tapi kalau sudah bisnis dan hal ranjang langsung nyambung.

__ADS_1


"Kita tinggal disini saja, kasihan Bunda dan Ayah. Apalagi Ranga tinggal di rumah barunya sebentar lagi," ujar Senja menjelaskan kepada suaminya.


"Asal kamu nyaman aku nggak masalah, jadi pas lagi pengen, Bunda jagain Jingga," goda Satya.


"Dasar mesum!" sentak Senja mendorong suaminya kemudian ia keluar kamar.


Satya hanya senyum-senyum mengingat kalau istri kesal kalau ia goda masalah ranjang. Ayah Nugraha melihat itu merasa heran karena yang ditanya hanya senyum-senyum.


"Mas!" sentak Senja membuat Satya terkejut.


"Buat kaget aja!" gerutu Satya.


Senja hanya melengos saja, ia kesal karena mertuanya bicara dari tadi didengarkan oleh suaminya itu. 


"Apa?" tanya Satya.


"Apa kalian mau tetap tinggal di sini, sama pria tua ini," kata Ayah Nugraha.


"Siapa bilang tua, Bunda masih kuat," sahut Bunda ikut bergabung untuk menghilangkan ketegangan yang ada, wanita itu tahu kalau suaminya itu sedang membujuk putranya.


Ayah Nugraha tersenyum saat istrinya kesal, karena ia bilang tua tadi. Satya hanya menarik napas panjang karena sang Bunda akan marah jika dikatakan tua itu.


"Bun, kalau enggak tua apa?" tanya Satya.


Ayah Nugraha langsung menengahi apa yang terjadi, supaya tidak ada yang ribut karena ia akan membujuk putra dan menantu dan anaknya.


"Sudah jangan ribut!" Suara Ayah Nugraha langsung menghentikan anak dan ibu itu yang sedang berdebat.


"Bagaimana, Apa kalian mau tinggal di sini?" tanya Ayah Nugraha.


Senja hanya diam, sedangkan Bunda merasa yakin kalau putranya juga tidak akan mau, Satya hanya diam, ia ingin membuat orang tuanya itu menunggu.


Senja yang sudah tidak sabar itu mencubit paha Satya membuat pria itu memekik karena merasa kaget dan rasa sakit di pahanya.


"Sakit, Yang," kata Satya sambil mengusap pahanya yang terasa panas.


"Begini Yah, tadi kami juga sudah mengobrol masalah ini, dan keputusannya kami akan tinggal di sini sama Bunda dan Ayah," kata Senja dengan tersenyum lebar.


Bunda merasa terharu wanita itu langsung memeluk suaminya serta, sedangkan Senja terkejut karena suaminya tiba-tiba memeluknya begitu erat.


"Mas, lepas engap tahu," kata Senja kesal.

__ADS_1


"Lah itu Bunda sama Ayah pelukan enggak engak, malah Bunda senang," jawab Satya.


Senja ingin sekali menendang suaminya itu jika tidak ingat dosa, dan berkata."Lihat Ayah memeluk Bunda dengan lembut, lah kamu kayak mau ikat aku."


Satya tergelak, melihat istrinya yang cemberut itu. Bunda melepaskan pelukannya karena ia begitu bahagia dan terharu sampai tidak menghiraukan anak dan menantunya itu.


"Terimakasih sayang." Bunda memeluk Senja dengan lembut.


"Sama-sama, Bunda, jangan khawatir kami tidak akan meninggalkan Bunda dan Ayah," kata Senja sambil membalas pelukan mertuanya yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri.


"Bun, aku enggak dipeluk!" kata Satya seperti anak kecil merajuk sambil berjalan mendekati dua wanita yang begitu berarti dalam hidupnya itu.


Ayah Nugraha ikut memeluk keluarganya itu penuh haru, sedangkan di dapur Bik Ida dan Sum meneteskan air matanya, ada rasa bahagia yang mereka rasakan saat ini.


Pintu terbuka, Ranga yang terlihat lelah  berjalan gontai dan saat melihat sedang ada yang berkumpul dan berpelukan ia mengernyitkan keningnya.


Ranga langsung memeluk dari belakang tepat di belakang Senja sambi berkata." Gue mau peluk juga."


Satya yang melihat ke arah Ranga, wajahnya memerah melepaskan pelukannya dan mendorong Ranga. Karena tidak bisa menjaga keseimbangan Ranga tersungkur ke lantai sambil mengusap punggungnya.


"Sakit tahu!"gerutu Ranga kesal.


"Makanya jangan peluk bini gua, lo udah ada bini juga!" seru Satya.


"Gue mau ikut pelukan juga kale, Bos!"bela Ranga.


"Sudah, jangan ribut nanti Jingga bangun," ujar Bunda.


Bunda membantu putra bungsunya itu untuk berdiri, dan duduk di sofa. Ranga mengambil tas kerjanya yang tadi ia letakan di sofa dan mulai mengeluarkan berjas yang membutuhkan tanda tangan Satya.


"Ini lo tanda tangan nanti ya!" kata Ranga.


"Besok saja di kantor," kata Satya.


Ranga hanya menarik napas panjang, lalu berkata."Harus sekarang, Bos."


Satya hanya mendengus, pria itu tahu, jika Ranga datang pasti ada yang urgent butuh tanda tangannya. Ia beranjak dari duduknya dan menuju ke ruang kerja tanpa membawa berkas yang dikasih Ranga tadi.


"Ya Allah, sabar!" Ranga meraih berkas yang ditinggalkan Satya begitu saja.


Senja hanya tersenyum getir melihat ulah suaminya itu, sedangkan Ayah Nugraha hanya diam dan merasa lega karena anak dan menantunya mau tinggal bersamanya. 

__ADS_1


"Ranga, Kenapa Diana enggak diajak?" 


bersambung ya.


__ADS_2