
Semua yang ada disitu begitu terkejut, Satya mengepalkan kedua tangannya. Pria itu langsung keluar dan menghubungi Leon untuk membawa Ranga karena Diana masuk rumah sakit. Ia juga mengirim pesan kepada Leon dan Arga karena Senja sudah mengirim lokasinya.
Satya yang ditunggu Ayahnya langsung keluar dari ruangan Ibnu, Sari mengajak suaminya untuk ke rumah sakit. Dua mobil keluar dari area parkir kampus.
"Kasih tahu Arga dan Fifi!" perintah Ayah Nugraha.
"Sudah Yah, Kalau Ranga langsung dijemput Leon," ujar Satya.
Ayah Nugraha mengusap wajahnya kasar dan bertanya."Apa Sasa dan Diana punya masalah, Nak?"
"Satya kurang tahu, Yah." Satya menatap jalan fokus mengemudikan mobilnya karena tidak ingin sesuatu terjadi.
Mobil sudah memasuki parkiran bersamaan mobil Leon, kini mereka langsung menuju ke UGD, Ayah Nugraha mengusap bahu Ranga supaya lebih tenang.
"Senja," kata Ranga.
"Sabar ya Kak, kita berdoa semoga Diana dan janinnya tidak apa-apa," ujar Senja.
Bunda Fifi sudah menangis dipelukan Ferdi, sedangkan yang lainnya terlihat begitu gelisah karena dokter yang menangani Diana belum juga keluar.
Setelah menunggu selama satu jam Faisal keluar dari UGD, ditatapnya Ranga yang terlihat frustasi.
"Bagaimana bini, Gua?" tanya Ranga.
Faisal hanya menarik napas dalam dan menjawab."Untung cepat di bawa ke rumah sakit, telat sedikit saja akibatnya akan fatal."
"Maksud lo apa, hah!" teriak Ranga sambil mencengkram kerah baju Faisal.
"Ranga lo harus sabar, bini lo hanya harus batters," ujar Faisal sambil menghempaskan tangan Ranga dari jas kebesarannya.
"Gue mau lihat Diana," kata Ranga yang akan masuk ruang UGD.
"Sabar Bro, bini lo akan dipindahkan ke ruang rawat baru bisa dijenguk." Faisal mengusap bahu Ranga dan berlalu pergi diikuti Ayah Nugraha dan istrinya.
Ranga akhirnya menunggu sampai Diana dipindahkan ke ruang rawat.
"Senja siapa yang membuat Diana sampai seperti tadi, hah!" seru Ranga.
"Jangan berteriak ke istriku, brengsek." Satya langsung menarik kaos Ranga karena ia tidak terima jika istrinya di bentak.
"Cukup! apa-apaan kalian ini. Dan Kamu Ranga. Kalau bukan karena Senja yang bergerak cepat membawa istrimu entah apa yang akan terjadi," ujar Bunda yang langsung dipeluk oleh Ayah Nugraha.
Tidak lama Diana di pindahkan di ruang rawat VIP sesuai keinginan Ranga.
Satya yang tidak ingin tersulut emosi lagi mengajak istrinya dan anaknya untuk pulang. Walau awalnya Senja menolak, tetapi setelah dibilang tidak baik lama-lama di rumah sakit membawa anak bayi.
__ADS_1
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, selama menempuh perjalanan tidak ada obrolan karena Senja kesal sama suaminya. Namun, sekesal apa pun ia akan menurut dengan Satya.
Setelah tiga puluh menit mobil memasuki halaman kediaman Nugraha. Entah apa yang dipikirkan Satya ia langsung memeluk sang Istri dan memberikan kecupan banyak di wajah Senja.
Bik Ida yang sudah membuka pintu hanya tersenyum melihat kelakuan dari sepasang suami istri itu.
"Bik, tolong jagain Jingga." Satya langsung memberikan Putrinya kepada Bik Ida membuat Senja cemberut.
Satya membalikan badan dan langsung mengangkat sang istri , membuat Senja teriak karena tubuhnya melayang.
"Mas, turunan!" seru Senja kesal.
"Diam, Yang. Nanti kita jatuh berbahaya!" titah Satya.
Senja akhirnya diam, setelah sampai depan kamar Satya meminta istrinya untuk memutar handle pintu.
Perlahan dengan pasti ia merebahkan tubuh sang istri dan langsung menguncinya.
"Jangan marah, tadi aku tidak ingin berkumpul dengan yang lain karena moodku sedang buruk." kata Satya sambil menggigit telinga istrinya gemas.
"Mas!" seru Senja.
"Iya Sayang, apa mau minta lebih," goda Satya dengan senyum mesumnya yang hanya diperlihatkan kepada istrinya.
"Yang, jangan berbohong kita menikah sudah hampir satu tahun lebih. Jadi aku tahu betul bagaimana dengan istriku ini," ucap Satya sambil mengusap wajah putih istrinya.
Senja dibuat mati kutu oleh suaminya, ia sebenarnya takut untuk menolak karena ingat nasehat Nenek Marni jika suami itu tidak hanya kenyang saja di perut. Namun, harus kenyang juga di ranjang.
Senja mengingat itu membayangkan saja jijik jika sampai suaminya menyentuh wanita lain.
"Kenapa melamun, Yang." Satya yang akan bangkit dari tubuh sang istri tiba-tiba tangan Senja sudah melingkarkan kedua tangannya di leher pria yang menjadi Papa untuk anak-anaknya.
Senyum yang tadi pudar kini sudah kembali, Satay begitu antusias saat sang istri memberikan lampu hijau kepadanya.
Siang ini keduanya mengarungi sungai sampai menuju ke ujung untuk memberikan kepuasan untuk saling mencurahkan rasa cinta diantara keduanya.
"Sekali lagi ya!" pinta Satya.
"Aku lelah," jawab Senja.
Wanita itu untuk mengimbangi suaminya yang begitu luar biasa, ia takut jika nanti jadi adik Jingga.
"Mas udah-." Satya langsung membungkam mulut istrinya dengan sentuhan lembut.
Saat sedang asik ponselnya sedari tadi berdering, membuat konsentrasi Satya buruk.
__ADS_1
"Halo, Bun." Satya menjawab tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Kalian kemana?" tanya Bunda dari seberang sana.
"Di rumah," jawab Satya sambil mendesis karena akan sampai.
"Sat, jangan bilang kamu sedang-,"kata-kata Bunda terhenti.
"Bun, nanggung," kata Satya.
"Dasar anak nakal!" seru Bunda yang membuat Satya terkekeh.
Tubuh kekar Satay terkulai di samping sang istri yang terlihat begitu lelah.
****
Di ruang rawat VIP di mana Diana sekarang sedang terkulai lemah.
Bunda yang baru selesai menghubungi Satya karena putranya sudah hampir satu jam tidak ada masuk ruang rawat Diana begitu juga dengan Senja.
"Ada apa Bun?" tanya Arga yang melihat Bundanya uring-uringan itu.
"Satya itu bisa-biasanya Bunda telepon sedang mendesis dan katanya lagi nanggung, dasar anak kurang ajar."Bunda memukulkan tangannya ke udara seakan Satya berada di depannya.
Arga dan Ibnu mendengar itu hanya menahan tawa, karena tidak mengira jika Satya mampu melakukan hal itu saat sedang berbicara ditelpon dengan Bundanya.
"Jadi traveling otak gue," kata Ibnu lirih sedangkan Arga menyugar rambutnya untuk menenangkan sesuatu yang akan meledak.
"Dasar kalian, "kata Bunda yang melihat napas Arga dan Ibnu sudah memburu. Sebagai wanita yang sudah berumah tangga pasti akan paham.
Sari dan Suci saling pandang, melihat itu Bunda meminta kedua pria itu untuk keluar dari ruang rawat Diana.
"Kenapa Bun?" tanya Suci karena bukan hanya suaminya saja yang disuruh keluar, bahkan Ibnu suami Sari juga keluar.
"Jangan dipikirkan," ujar Bunda melihat Sendu Diana yang belum sadar karena obat.
Ranga yang sudah tahu bagaimana kejadiannya hingga istrinya harus dirawat di rumah sakit. Begitu menyesal sudah membentak Senja dan wajar jika Satya begitu marah dengannya.
"Bun, Satya mana?" tanya Ranga.
"Mengantarkan Jingga pulang, Nak. tidak baik anak bayi lama-lama di rumah sakit." Bunda tidak ingin membuat Ranga semakin merasa bersalah.
"Fokuslah kepada istrimu!"
bersambung
__ADS_1