PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 93


__ADS_3

Pagi harinya Satya sudah lebih dulu bangun dari istrinya, karena dia harus mengantikan Rendy untuk menjaga Kakek Roby. Pria berbadan tegap itu kini keluar kamar untuk menghubungi Ranga untuk menghandle kantor, kemudian ia mencari pak Yanto.


"Bik Sum, pak Yanto dimana ya?" tanyanya saat melihat bik Sum baru masuk.


"Lagi di belakang Den, apa mau bibik panggilkan," ucpanya .


"Enggak usah Bik, biar saya saja yang kesana," jawabnya sambil tersenyum.


Satya segera melangkahkan kakinya menuju taman belakang, ia melihat pak Yanto tengah merapikan rumput yang sudah mulai panjang.


"Pak," panggilnya sambil tersenyum.


"Eh...iya Nak, ada apa?" tanyanya.


"Tolong nanti jemput mertua saya pesawat jam 7 dia berangkat," ucapanya


"Iya Nak, insyaallah nanti saya jemput," jawabnya.


Setelah itu Satya segera meninggalkan pak Yanto, ia kembali ke kamarnya. Senyum mengembang saat melihat istrinya sudah rapi, kemudian ia memeluk Wanita yang begitu dicintainya itu.


"Sayang," ucapnya sambil mengecup kening istrinya.


"Bby dari mana?" tanyanya sambil melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya.


"Cari pak Yanto untuk menjemput ayah dan ibu di Bandara," jawabnya.


"Bby cepat ganti baju dulu sana, kita harus segera ke rumah sakit," katanya sambil menyisir rambutnya.


"Sayang Bby sudah lama enggak olahraga," ucapnya sambil menatap istrinya penuh harap.


Senja yang tahu maksud suaminya hanya menarik nafas panjang, ia juga bingung harus segera kerumah sakit. Namun, kalau menolak ajakan suaminya takut dosa.


Ditatapnya wajah suaminya yang juga tengah menatapnya di dekat pintu kamar mandi, ada rasa ragu di hatinya.


Satya yang paham akhirnya masuk kamar mandi, ia harus menuntaskan sendiri. Namun, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.


Senyum mengembang dibibirnya saat melihat istrinya sudah memakai handuk kimononya, tanpa menunggu lama Satya segera menutup pintu kamar mandinya.


Olahraga pagi selama satu jampun usai, terlihat raut bahagia di wajah Satya. Namun, tidak untuk istrinya.


Senja yang sudah lelah ingin rasanya ia istirahat, tapi dia harus melihat keadaan kakek Roby. Kini keduanya sedang sarapan pagi, Satya melihat istrinya hanya minum teh merasa heran.


"Sayang kenapa enggak minum susunya," ucapanya sambil menatap wajah intens istrinya.


"Ia nanti siap ini Bby," ucapnya


Satya hanya mengangguk, sampai saat ini ia belum tahu kalau istrinya akan muntah setelah minum susu.


"Sayang, Bby tunggu dimobil," ucapanya sambil berdiri dan meninggalkan istrinya.

__ADS_1


Senja bernafas lega, ia segera membawa susunya kebelakang.


"Bik ini untuk Bibik saja," ucapanya sambil berlalu.


"Ada-ada saja Non Senja, masak aku disuruh minum susu hamil," kata Bik Ida setelah kepergian Nonanya.


Satya tersenyum saat istrinya duduk disampingnya, kemudian dia mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit tempat Kakek Roby dirawat.


Selama diperjalanan hanya ada keheningan, Satya melirik istrinya yang sudah mulai mengantuk.


"Mmy jangan tidur pagi, enggak baik buat ibu hamil," katanya sambil tersenyum.


Senja hanya tersenyum, ia kemudian memperbaik duduknya. Kini mobil sudah sampai didepan rumah sakit, keduanya segera keluar dari mobil dan jalan beringin menuju ruang ICU dimana kakek Roby sedang dirawat.


Satya menaikkan alisnya saat melihat Mery dan Radit ada didekat Rendy, Radit tersenyum menatap Satya dan Senja yang baru sampai.


"Gue ikut prihatin dengan keadaan bokap lo," ucap Radit kepada Rendy.


Rendy tidak menjawab, ia hanya mengangguk menanggapi ucapan dari Radit.


"Om Rendy pulang saja istirahat, biar Senja yang jagain Kakek," katanya sambil menatap Popy dan Rendy.


"Nanti saja, sebentar lagi pasti ayah dan ibumu datang," ucapanya.


Senja hanya mengangguk, kemudian ia dan suaminya duduk di ruang tunggu tak jauh dari Popy.


Radit hanya menarik nafas panjang saat melihat wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu masih memperhatikan mantan suaminya.


"Bro gue pamit ya," ucapanya kepada Rendy dan Satya.


"Iya terimakasih," jawab Satya


Radit segera mengajak Mery untuk segera pergi dari rumah sakit, jujur hatinya perih saat melihat wanita yang akan dinikahinya masih mencintai mantannya.


Setelah kepergian Radit, Satya segera menghampiri Rendy yang duduk sendirian karena Popy sudah pulang duluan.


"Apa ada perkembangan dari kakek?" tanyanya sambil menatap ruang ICU.


"Sejauh ini belum," jawabnya.


Satya hanya diam, keduanya dikejutkan oleh kedatangan Yoga dan Mentari yang baru sampai.


"Apa yang terjadi, kenapa enggak ada yang kasih kabar, hah!" ucapnya kesal, sedih menjadi satu wanita itu hanya menangis saat Rendy menceritakan semuanya.


"Ibu...," terdengar suara lemah memanggilnya.


Mentari mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, air matanya kembali mengalir saat anaknya berdiri didepannya dengan air mata yang berlinang.


Keduanya saling berpelukan untuk saling menguatkan, Rendy yang yang duduk disamping kakaknya ikut meneteskan air matanya. Tidak hanya dirinya ada juga kakaknya yang ikut bersedih dengan apa yang terjadi kepada orangtuanya.

__ADS_1


Satya hanya bisa menghela nafas saat melihat istri dan ibu mertuanya menangis sesenggukan, Yoga menghampir istrinya yang tadi marah saat tahu kalau akan langsung kerumah sakit.


Mentari begitu kecewa dengan suaminya, karena tidak memberi tahu yang sebenarnya terjadi. Senja yang melihat ayahnya datang segera memeluknya, dengan lembut diusapnya kepala putrinya.


Setelah Senja tenang Satya mengajaknya untuk duduk, Yoga mengusap bahu istrinya berharap tidak marah lagi kepadanya.


"Maaf," ucapanya lirih, tapi masih bisa didengar oleh Yoga.


"Iya sayang, maafkan mas juga ya. Kita doakan Papa bisa melewati ini," katanya sambil memeluk tubuh istrinya.


Mentari tubuhnya bergetar menahan sesak didadanya, ia begitu panik saat mendengar papa Roby koma karena jatuh dikamar mandi.


Andai dia bisa merawat papanya sendiri, pasti hal ini tidak akan terjadi. Penyesalan selalu datang belakangan, tapi semua sudah terjadi.


"Maaf kak, aku tidak bisa menjaga Papa dengan baik," ucap Rendy sambil memeluk wanita yang kini duduk disampingnya.


"Kita doakan yang terbaik buat Papa, apapun yang terjadi jangan pernah berubah," ujarnya kepada adiknya.


Mentari ingat betul siang itu papanya menghubunginya untuk mempercepat pernikahan Rendy dan Popy, pria paruh baya itu takut tidak bisa melihat pernikahan anaknya.


"Ren apa kamu mau mengabulkan permintaan papa," ucapnya sambil memegang tangan Adiknya.


"Apa itu Kak?" tanyanya.


Mentari menceritakan kepada semua yang ada disitu, kalau papanya ingin pernikahan adiknya segera dilakukan. Semua yang ada disitu terkejut, apa ini yang di inginkan oleh papa Roby.


"Gue akan suruh seseorang untuk mengurusnya," kata Satya.


"Untuk ijab kabuk kita lakukan di dalam ruang ICU," kata Yoga. Satya menganguk, ia akan minta izin pihak rumah sakit.


Saat orang tua kita sakit, beliau tidak minta apa-apa selain perhatian anak-anaknya. Namun, saat kita sakit pasti apapun akan dilakukan supaya kita cepat sehat kembali.


Begitu juga kita sebagai anaknya, apa yang sudah kita berikan kepada orang tua kita? sayangi dan bahagiakan mereka selagi masih ada.


Peluk sayang buat Bapak dan Mamak🤗


Bersambung ya...jangan lupa dukungannya dengan cara like 👍


Vote


Jika suka berikan hadiahnya 🙏


Jangan lupa baca juga karya aku yang lain


🌾 Takdir Cinta Khansa


🌾 Menikah Muda


✍️ cerpen

__ADS_1


__ADS_2