
Pagi sekitar jam sepuluh lima belas Senja membuka matanya, ia hanya bisa menghela nafas saat suaminya sudah tidak ada di kamar, seingatnya setelah acara mandi bersama yang biasa hanya memakan waktu sekitar lima belas menit menjadi dua jam. Keduanya tidur kembali karena kelelahan.
Senja mendekati balkon kamar yang langsung menghadap ke arah laut, angin mulai terasa saat wanita itu membuka pintu.
Mata Senja melihat suaminya sedang mengobrol dengan seseorang yang tidak terlalu jelas ia lihat.
Senja yang penasaran segera membersihkan badan, dan menganti pakaiannya. wanita itu memoles wajahnya dengan make-up natural, setelah sudah merasa pas dia segera keluar kamar untuk menghampiri suaminya.
Langkah Senja berhenti saat melihat pria yang sedang mengobrol dengan suaminya merupakan orang yang sudah mengikutinya waktu di mall.
Senja yang semakin penasaran akhirnya duduk di belakang Satya dengan membelakangi suaminya.
Senja bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka obrolkan.
"Gue bisa bayar lo lebih mahal dari dia," ucap Satya dingin.
"Sat, gue tau kita berteman, dan lo enggak usah khwatir gue enggak akan celakai Yoga dan Mentari." Jawab Pria yang belum di ketahui Senja siapa.
Senja seketika terkejut, apa maksudnya kenapa Ayah dan Ibunya di singgung, Senja mengepalkan kedua tangannya, dengan cepat Senja mengaktifkan rekaman di ponselnya.
"Apa Lo bisa kasih tahu gue, apa rencananya Kakek Roby?" tanya Satya.
"Oke gue akan kasih tau, tapi setelah itu gue harap lo hati-hati, Karena orang yang lo hadapi orang yang licik, akan menghalalkan segala cara untuk meraih ambisinya," jelas Lelaki itu.
"Langsung saja kepoinnya!" kata Satya datar.
"Kakek Roby ingin menguasai harta grup Nugraha, dengan cara membuat dua pilihan." kata Arnold, lelaki itu adalah Arnold sahabat Satya waktu SMA.
"Apa pilihannya?" tanya Satya.
Arnold tersenyum melihat Satya tidak berubah sama sekali tetap dingin dan datar, sebenarnya Arnold tidak mau menjadi suruhan Kakek Roby, apa lagi harus mengorbankan Neneknya, tapi Arnold lega karena yakin Mentari akan melakukan Nenek Wati dengan baik.
"Gue mau tanya, apa lo mencintainya?" tanya Arnold.
"Waktu gue tahu harus menikahi dengannya, gue takut pernikahan gue ini akan gagal lagi, tapi setelah melewati kebersamaan dengannya, awalnya gue tertarik," ucap Satya sambil senyum-senyum.
"Lo yakin hanya tertarik?" tanya Arnold
"Itu dulu, tapi sekarang Senja segalanya buat gue, gue ingin dia menjadi Ibu dari Anak-anak gue," jawab Satya dengan mantap.
__ADS_1
"Bby..hiks...hiks...," kata Senja yang langsung berhambur ke pelukan Satya.
Satya terkejut, begitu juga dengan Arnold, Satya berharap Senja tidak mendengar pembicaraanya tadi.
"Mmy sejak kapan di sini?" tanya Satya.
Senja langsung menarik kursi dan segera duduk di samping Satya, Senja menatap Arnold dengan tajam, membuat Arnold mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mmy sudah dari tadi Bby, Mmy juga sudah mendengar semuanya." jawab Senja sambil tetap menatap Arnold dengan sinis.
Satya menarik nafas panjang saat melihat istrinya menatap sahabatnya dengan tajam, tapi Satya merasa gemes kepada istrinya saat melihat tanda merah di tengkuk lehernya akibat ulahnya tadi pagi.
"Om, katakan apa yang Kakek inginkan?" tanya Senja dengan ketus.
"Tidak ada Nona," jawab Arnold.
"Cih... ngapain panggil aku Nona!" teriak Senja tidak suka.
Satya langsung memeluk istrinya yang kesal dengan sahabatnya, di usapnya rambut Senja dengan lembut.
"Jangan marah-marah Mmy," ucap Satya lembut.
"Gemana enggak marah Bby, Om bertato ini yang selalu ada di mana kami berlibur dan lebih buruknya Neneknya di suruh mengemis," ucap Senja ketus.
"Maaf Nona, saya bisa jelasin semuanya," jawab Arnold.
Satya yang mendengar ucapan istrinya terkejut, kalau Arnold sampai menyuruh Neneknya mengemis.
"Lo gila bro!" teriak Satya.
"Dengerin penjelasan gue dulu, semua itu Karena Om Roby yang menyuruh, kalau kami tidak menuruti pengobatan adik gue akan di cabut," jawab Arnold.
"Maksudnya apa? adik Om yang mana, setahu Senja Opa Ronal cuma punya Anak Om," ucap Senja.
Arnold menceritakan kalau punya Adik perempuan satu, yang sampai sekarang masih koma karena kecelakaan, Arnold juga menceritakan kalau kemarin sengaja' menyuruh Neneknya untuk mengemis di depan Senaja, semua itu atas saran Kakek Roby.
Senja mendengar cerita Arnold merasa dadanya sangat sesak, apa tidak cukup memberikan penderitaan kepada anak dan cucunya selama ini.
"Katakan Om, apa yang Kakek inginkan lagi dari keluarga Nugraha," tanya Senja.
__ADS_1
"Om Roby ingin Satya memberikan saham Nugraha lima puluh persen, kalau tidak Om Roby akan memisahkan kalian berdua. tidak hanya itu di kantor Yoga sudah ada orang suruhannya yang sekarang memegang jabatan manager keuangan." jawab Arnold.
Satya berusaha menenangkan Senja, badan Senja sudah bergetar menahan tangisnya, tak lama Senja memeluk Satya sambil menangis sesegukan.
"Lebih baik lo kasih tahu Yoga, dan satu lagi tolong jaga Nenek gue," ucap Arnold sambil melangkah pergi meninggalkan Satya dan Senja
"Kenapa Kakek jahat sekali," ucap Senja sambil mengusap air matanya.
"Kita hadapi sama-sama, Bby yakin kalau kita bersatu bisa membuat Kakek melunak," jawab Satya.
"Apa Bby marah dengan Kakek?" tanya Senja.
"Tidak sayang, yang penting hubungan kita baik-baik saja," kata Satya lalu mengecup kening Senja.
"Kapan kita pulang kerumah Bby?" tanya Senja yang sudah rindu dengan Ibu dan Ayahnya.
"Nanti siang ya, Mmy apa itunya masih sakit." bisik Satya ketelinga Senja.
Senja langsung memukul lengan Satya, dengan wajah yang sudah merona, Satya terkekeh melihat istrinya masih malu-malu.
"Dasar mesum!" kesal Senja.
"Sama istri sendiri enggak apa-apa dong Mmy," jawab Satya.
Setelah itu keduanya kembali lagi ke resort, Senja langsung berbaring di kasur karena badannya masih terasa sakit-sakit semua. Sedangkan Satya masih mengutak-atik handphonenya untuk mengirim pesan ke Arga dan Yoga.
Di kantor Yoga.
Yoga yang sedang memeriksa dokumen di atas meja menoleh saat handphonenya berbunyi tanda ada pesan masuk, dilihatnya pesan dari menantunya.
Mata Yoga seketika melebar saat tau kalau manager keuangan di kantornya adalah salah satu orang suruhan mertuanya, tangan Yoga mengepal kenapa dia bisa kecolongan seperti ini.
Yoga segera menghubungi istrinya, tapi sampai sekarang tidak di angkat oleh Menteri, tak lama pintu terbuka, pak Anwar yang menjabat sebagai seorang manager ke uangan merasa terkejut karena tidak biasanya sekertaris Yoga memanggil untuk segera keruangannya CEO.
Pak Anwar sudah duduk di depan Yoga, Yoga hanya diam tanpa menatap wajah pak Anwar, orang yang selama ini di percayanya , tega melakukan pemindahan sejumlah uang kantor ke rekening lain yang atas nama Rendy.
"Siapa Rendy?" tanya Yoga dengan tatapan tajamnya.
Bersambung ya...
__ADS_1
terimakasih yang sudah mengikuti Pengantin Pengganti Ibuku 🙏🙏🙏