
Tepatnya jam 2 siang Senja sudah selesai mata pelajaran akhir, saat Senja akan keluar kelas merasa heran melihat di arah gerbang kehebohan para mahasiswi berkerumun.
Senja merasakan handponenya bergetar, dilihatnya nama Om Ranga tertera di layar handphonenya.
"Halo Om," ucap Senja merasa heran kenapa berisik sekali suara di seberang sana.
Tiba-tiba suara teriakan histeris mahasiswi itu membuat heboh, Senja menoleh ke samping seketika matanya melotot saat melihat Satya berjalan acuh menghampirnya.
Satya sampai depan Senja tersenyum, diacaknya rambut Istrinya. Kemudian Satya mengajak Senja masuk sebuah ruangan tak jauh dari ruangan dekan.
"Bby, ini ruangan siapa?" tanya Senja sambil memperhatikan sekeliling.
"Kita disini saja sebentar," ucap Satya sambil duduk di sofa.
"Astagfirullah, Bby kenapa ada foto kita disini?" tanya Senja.
Satya terkekeh melihat reaksi Istrinya, kemudian ia mendekati Istrinya yang sedang memegang foto ketika mereka di pantai.
"Karena ini ruangan Bby," jawab Satya sambil tersenyum.
"What, serius!" kata Senja yang terkejut.
Satya memeluk pinggang Senja dari belakang, baru beberapa jam rasa rindu pada istri kecilnya begitu besar. Pada hal hari ini ada meeting dengan Radit dari grup Wijaya, tapi Satya mengundurnya membuat Ranga kesal karena harus mengubah Schedule Satya.
"Iya sayang, kampus ini milik Ayah dan Om Dika Ayahnya Rania," ucap Satya.
"Wah.... ternyata suamiku sultan," goda Senja sambil tersenyum.
"Ini hanya amanah dari Allah SWT," jawab Satya
"Ia Bby, karena kalau kita meninggal tidak akan membawa harta kita," sahut Senja.
Satya hanya tersenyum, di dudukkan Senja di pangkuannya kemudian Satya menghidupkan lektop mulai mengecek laporan .
"Mmy, Bby suka kalau sedang kerja ditemani begini," kata Satya
"Yang ada Bby enggak jadi kerja," ujar Senja sambil mencubit kedua pipi Satya.
Satya hanya tersenyum sesekali mengecup pipi Istrinya.
Karena sudah bosan menunggu akhirnya Senja ketiduran sambil bersandar di bahu Suaminya, Satya hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang sudah tidur di pangkuannya.
"Senyaman itukah tidur di pangkuan Bby," ucap Satya segera mengangkat tubuh istrinya dan memindahkan di sofa ruangannya.
Tiba-tiba pintu terbuka, Satya hanya melihat sekilas setelah itu melepaskan jasnya untuk menutup tubuh istrinya.
"Kenapa?" tanya Satya tanpa menatap asistennya
"Gila mahasiswi lo itu ya, gue mau keluar mobil saja tunggu mereka masuk kelas dulu!" kata Ranga ketus.
__ADS_1
"Yang penting bini gue enggak seperti itu," jawab Satya santai.
"Gue tahu lo enggak salah pilih," ucap Ranga sambil berdiri mengambil minum dingin di kulkas.
"Cepatlah cari Istri biar lo enggak galau terus," kata Satya.
"Setahu gue lo yang sudah ada istri galau!" jawab Ranga.
"Gue enggak galau , Ga." elak Satya.
"Lalu, tadi apa?" tanya Ranga saat tiba-tiba Satya membatalkan meetingnya.
"Gue kangen, bukan galau," jawab Satya terkekeh.
Ranga hanya bisa komat-kamit mengumpati bos sekaligus sahabatnya itu. Ranga memperhatikan Senja yang tidur nyenyak.
"Semalam berapa ronde, bos. Sampai bini lo kelelahan?" tanya Ranga.
Satya langsung menoleh ke Ranga yang sedang melihat Senja tidur, Kemudian dia langsung melempar pena tempat mengenai kening Ranga.
"Aduh... gile lo sakit tahu," ketus Ranga sambil mengusap keningnya.
"Siapa suruh Lo, perhatikan bini gue," jawab Satya.
Seketika tawa Ranga meledak, membuat ruangan jadi mengema. Satya hanya geleng-geleng melihat Ranga yang sedang menertawakan dirinya.
"Cuma perhatikan saja sudah kena lemparan pena, apa lagi senggolan," kata Ranga.
Ranga langsung pias mendengar ucapan Satya, ia tahu sahabatnya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Satya hanya menyungingkan bibirnya, melihat Ranga terdiam. Satya segera memberikan proposal untuk grup Wijaya kepada Ranga.
"Ini kalau Radit setuju, tapi kalau dia tidak mau batalkan kerja sama kita," kata Satya tegas.
Ranga segera membaca dan mempelajari, proposal yang akan diserahkan ke grup Wijaya yang sekarang di pimpin oleh anaknya Radit.
"Apa lo yakin dia akan menolaknya?" tanya Ranga yang jelas proposal itu sangat menguntungkan untuk Grup Nugraha, tapi merugikan bagi grup Wijaya.
"Kita lihat saja, apa yang akan mereka lakukan setelah membaca proposal ini," jawab Satya sambil tersenyum sinis.
Ranga hanya bisa mengangguk mengikuti perintah dari atasannya, kemudian Ranga segera pamit untuk kembali ke perusahaan.
"Ranga," panggil Satya saat akan menutup pintu ruangan.
Ranga segera membalikkan badannya menatap Satya yang masih fokus ke lektopnya.
"Lo pulang naik taksi aja, bawak sini kunci mobil." kata Satya acuh.
Rangga tidak menjawab hanya mendengus kesal, lalu setelah memberikan kunci mobilnya ke Satya Ranga segera keluar sambil mengerucutkan mulutnya. Satya hanya terkekeh melihat tingkah Ranga, dia menoleh ke Istrinya yang masih tidur nyenyak.
__ADS_1
...💞💞💞💞💞...
Di rumah sakit.
Kakek Roby masih terbaring dengan lemah, komplikasi yang di deritanya membuatnya harus dirawat inap.
Nenek Marni dengan setia menemani Suaminya, pada hal Rendy sudah melarang supaya Mamanya istirahat di rumah.
"Apa kata Dokter tadi Mam?" tanya Rendy yang baru sampai.
"Papa harus dirawat disini lebih lama, mengingat komplikasi jantung yang Papa derita.
Rendy hanya diam, sesekali ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Sebaiknya aku kasih tahu Kak Mentari, Mam." kata Rendy
"Ia Nak, suruh dia datang bersama Yoga." ucap Mama Marni.
"Apa Mama yakin, tidak masalah kalau Mas Yoga ikut?" tanya Rendy menatap wajah wanita yang terlihat lelah itu.
Mama Marni menganguk, perasaan rindu pada anaknya yang dia tahan begitu dalam. Terkadang ingin rasanya pergi meninggalkan Suaminya untuk tinggal bersama putri dan cucunya.
Tetapi sekarang sudah berbeda, Senja sudah menikah dengan laki-laki pilihan Suaminya karena ketamakannya dengan harta dan nama baik keluarga.
Rendy merasa iba melihat Mama Marni yang seharusnya sekarang bisa berkumpul dengan anak dan cucunya harus mengalami berbagai kejadian karena ulah Papanya.
"Mama harus kuat, oh...ia Mam tadi Satya telepon Rendy." kata Randy sambil memijat bahu Mamanya.
"Apa mereka tidak ingin melihat Kakek?" tanya Mama.
"Rencana Senja pulang kuliah mau langsung kesini, tapi Rendy larang." jawab Rendy
Mama Marni langsung menoleh ke samping, ditatapnya wajah anak bungsunya itu dengan seksama.
"Kenapa?" tanya Mama.
"Rendy takut Mama mengusirnya lagi," jawab Rendy tersenyum getir ke arah Mamanya.
"Jangan selalu beranggapan kalau Mama ini jahat," kata Mama sambil menepis tangan Rendy dari bahunya.
"Bukan itu maksud Rendy, Mam." ujar Rendy
Mama hanya diam setelah itu masuk ke ruang rawat Suaminya, Ia terduduk di sofa dan menenggelamkan wajahnya di meja.Tubuhnya bergetar menahan sesak di dada, merasa belum menjadi orang tua yang baik untuk kedua orang anaknya.
Rendy masuk keruangan, dia terkejut melihat tubuh Wanita yang begitu berharga dalam hidupnya bergetar. Rendy menghampir Mamanya kemudian memeluk tubuh wanita hebat yang sudah melahirkannya.
Keduanya menangis saling berpelukan, Rendy beberapa kali meminta maaf kepada Mamanya
karena belum bisa membahagiakannya. Rendy berjanji akan membawa pulang Mentari dan Senja.
__ADS_1
Bersambung.. jangan lupa dukung terus Pengantin Pengganti Ibuku dengan cara like 👍 dan votenya kalau suka berikan hadiahnya.
Ditunggu kritik dan sarannya 💗