PENGANTIN PENGGANTI IBUKU

PENGANTIN PENGGANTI IBUKU
Episode 72


__ADS_3

Malam ini suasana dirumah Kakek Roby begitu berbeda, ada rasa kehangatan didalamnya. Senja yang datang sejak sore tadi sudah sibuk dengan Popy dan art lainnya, mereka sedang menyiapkan menu yang berbeda.


Taman belakang sudah dirubah seperti akan ada makan besar, Senja memutuskan malam ini untuk bakar-bakar. Ia sudah menyiapkan Ayam, sosis dan Ikan.


Rendy dari awal yang semangat membantu, kini ia harus keluar ke mini market untuk membeli saus.


Popy hanya tersenyum, melihat calon suaminya itu cemberut.


"Kalau mau bantu harus ikhlas, bos," katanya.


"Ini udah ikhlas lo... yang," jawab Rendy sambil berlalu.


Senja hanya tersenyum, Omnya itu maunya menempel terus sama Popy. Keduanya kini sedang duduk diruang keluarga, tak lama Satya datang dengan cemberut menghampir Istrinya.


"Kenapa enggak bangunin!" Satya dengan kesal, padahal sebenarnya ia khawatir karena Istrinya pergi duluan.


"Maaf, tadi Bby terlihat capek," jawab Senja.


Popy segera pergi meninggalkan sepasang bucin itu diruang keluarga, ia menuju ketaman belakang dimana para art sedang menyiapkan bara api.


"Kenapa dibelakang ramai?" tanya Satya


"Oh...itu kita mau bakar ayam," jawab Senja.


Setya hanya diam menanggapi ucapan istrinya, kemudian ia pergi ketaman belakang.


Semuanya terlihat sangat sibuk di belakang, Senja melihat suaminya ketaman segera mengikutinya.


Kini keduanya duduk di tikar yang sudah disiapkan, tak lama datang Ayah Nugraha beserta rombongan yang lain.


"Wah ini sangat luar biasa, sudah lama tidak ada acara makan sambil bakar-bakar seperti ini" kata Ayah Nugraha.


Kakek Robby tersenyum melihat tingkah Ayah Nugraha, kemudian keduanya ikut duduk di samping Satya.


Ranga yang baru datang, langsung bergabung dengan Arga untuk ikut bakar-bakar. Rendy dan Popy ikut juga menyiapkan bumbu disamping Arga.

__ADS_1


Mereka semua terlihat begitu bahagia, seperti tidak ada beban di bahunya.


"Jangan melamun," kata Ayah Nugraha saat melihat Papa Roby menatap orang yang berkumpul di dekat bara.


"Dulu mereka sering melakukan acara bakar-bakar, tapi semenjak Mentari memutuskan menikah dengan Yoga diusia muda....," Papa Roby diam, ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya.


Ayah Nugraha melihat itu, mengusap bahu Papa Roby. Ia berharap Sahabatnya itu benar-benar berubah, tapi sangat terlihat ada kepedihan dari sorot matanya.


"Percayalah Mentari dan Yoga sekarang sudah bahagia, sekarang kita pikirkan adalah bermain dengan cucu kita nanti," kata Ayah Nugraha.


"Cucuku tersayang sudah tinggal di rumah Satya, harapanku hanya pada Rendy," ucap Papa Roby.


"Nikahkan mereka secepatnya," kata Ayah Nugraha sambil tertawa.


"Kamu ini! aku tidak mau memaksa mereka lagi. Biarkan keduanya memutuskan kehidupan mereka sendiri." ujar Papa Roby.


Papa Robby tidak mau melakukan kesalahan yang sama kepada Rendy, cukup ia dulu melakukan kesalahan kepada Mentari dan Yoga.


Jika mengingat dulu bagaimana ia begitu egois, saat mengetahui kalau Yoga adalah anak dari wanita yang dicintainya.


Sekarang ia begitu menyesali, andaikan waktu bisa diulang mungkin ia tidak akan bermain api dengan sekertarisnya.


Penyesalan memang selalu datang terlambat, seperti yang dirasakan oleh Papa Roby. Ia begitu menyesali dengan apa yang sudah ia lakukan, lebih menyakitkan lagi Marni sengaja membuat Mentari dan Yoga menderita.


Istrinya melakukan itu untuk membalas dendam atas apa yang dulu Kakek Roby lakukan padanya. Marni tidak perduli walau Mentari adalah darah dagingnya.


Papa Roby merasa bersyukur, karena Allah SWT masih memberikan umur panjang padanya. Dia masih bisa memperbaiki kesalahannya dimasa lalu, tapi memang tak mudah untuk Yoga dan Mentari menjalankan bahtera rumah tangganya dulu.


Hampir saja Papa Roby memisahkan Pasangan yang saling mencintai, karena rasa bencinya yang kepanjangan kepada Ibunya Yoga.


"Astagfirullah, melamun lagi," kata Ayah Nugraha membuyarkan lamunan Papa Roby.


Papa Roby yang terkejut hanya mendengus, tapi hal itu membuat Ayah Nugraha tertawa. Tak lama datang Angkasa bergabung dengan keduanya.


Kini mereka mengobrol tentang kedepannya nanti, Angkasa yang memerlukan pekerjaan ditawari oleh Papa Roby untuk menjadi asistennya.

__ADS_1


Namun, Angkasa menolaknya, karena ia akan fokus untuk penyembuhan istrinya Melati.


Papa Robby tidak marah saat Angkasa menolaknya, tapi ia masih memberikan kesempatan kepada Angkasa untuk menjadi asistennya. Tentunya setelah Istrinya sudah bisa berjalan kembali.


Sementara di bagian konsumsi, Ranga begitu heboh dengan Rendy.


"Lo kira-kira dong...kasih bumbunya, itu pakai sendok," kata Rendy yang kesal kepada Ranga, karena sahabatnya itu langsung menumpahkan bumbu dari mangkuk ke atas ayam yang tengah dipanggang olehnya.


Kehebohan tidak berhenti sampai disitu, saat Satya hendak membalikkan sosis yang ia bakar buat Istrinya, Arnold datang langsung mengambil sosis yang sudah masak itu pakai garpu.


"Arnold...," teriak Satya segera mengejar sahabatnya yang hendak lari.


Arga hanya tertawa melihat keduanya kejar-kejaran berebut sosis, Satya mengumpat tidak jelas. Kemudian Satya mencari sosis didalam wadah, tapi sayang sudah habis.


Satya melirik ke Istrinya yang sedang duduk dengan Bunda dan Tante Mela, karena tidak ingin mengecewakan Istrinya ia keluar untuk membeli sosis.


Kini giliran Arga yang membantu Arnold untuk membakar Ikan yang tinggal sedikit lagi, tak berapa lama semua siap.


Bagian konsumsi telah selesai membakar semua ayam dan ikan, Kini saatnya mereka menikmati hidangan.


Satya yang baru datang tertegun, melihat semua sudah berkumpul menikmati hidangan. Namun, ia segera kedapur di rumah Kakek Roby untuk membuat sosis bakar buat Istrinya.


Setelah 10 menit ia sudah selesai, kemudian ia ikut bergabung duduk disamping istrinya. Senja yang melihat suaminya datang membawa sosis bakar begitu senang, karena ia sangat ingin makan sosis bakar dari tadi.


Satya tersenyum melihat Senja makan begitu lahap, tapi ia menatap tajam ke Arnold. Semua tingkah Satya itu tidak lepas dari perhatian Ayah Nugraha.


Keduanya selalu seperti itu, saat SMA juga. Namun, baik Satya maupun Arnold saling melindungi satu dangan yang lainnya.


Bunda yang melihat suaminya memperhatikan Satya dan Senja jadi terkekeh, karena Satya begitu manja kepada istrinya. Senja yang sedang menyuapi suaminya, tidak perduli dengan obrolan sekitarnya.


Bunda membawakan ayam bakar madu untuk Ayah Nugraha, melihat itu suaminya tersenyum. Bunda juga membawa ikan untuk Kakek Roby, semua makan dengan lahap.


Mereka merasa seperti waktu jaman kuliah, yang kurang hanya Mentari dan Yoga. Namun, Arga mengirimkan video ke sahabatnya itu. Yoga menitip salam untuk semuanya, karena tidak bisa ikut berkumpul.


Rendy yang melihat senyum yang dipaksakan oleh Papanya merasa iba, kini keluarganyan tengah hancur.

__ADS_1


Bersambung...jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2