
Setelah dirawat selama seminggu, kakek Robi diperbolehkan pulang sore ini.
Semua keluarga menyambut dengan bahagia, begitu juga Mentari dan Yoga. Mentari pulang terlebih dahulu ke rumah untuk mempersiapkan penyambutan kakek Roby.
Senja tidak mau kalah ikuti Ibunya untuk pulang, karena Satya sudah mulai berkerja.
Keduanya berjalan beriringan, melihat itu banyak yang mengira kalau mereka seperti Kakak dan Adik.
Senja yang akan membawa mobil, tapi Mentari tidak mengijinkannya.
"Ibu boleh ya," rayunya .
"Tidak" jawab Mentari dengan tegas.
Senja akhirnya pindah duduk di samping kemudi, Mentari tersenyum melihat anaknya yang merajuk.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, kemudian mobil berhenti di minimarket.
"Kamu tunggu disini sebentar ya, ingat jangan kemana-mana!" sagah Mentari
Senja hanya memutarkan bole matanya jengah, karena Ibunya selalu menganggapnya seperti anak kecil.
Setelah menunggu tiga puluh menit akhirnya Mentari siap belanjanya, ia keluar dengan membawa dua kantong besar.
"Kenapa banyak sekali belanjaannya?" tanya Senja.
"Mau bikin menu sehat, biar Ibu segera punya cucu," jawab Mentari.
"Hah...., kenapa sih orang sibuk kapan kasih cucu!" gerutu Senja.
"Apa kamu tidak ingin punya anak, nanti seperti kita begini," ucap Mentari.
Senja terdiam, ditatapnya wanita cantik yang duduk disampingnya. Ia mulai mencerna ucapan Ibunya, tak lama dia tersenyum.
Diambil handponenya, kemudian dicarinya kontak Bby. Senja mulai menuliskan pesan
💌
Bby, mau punya anak berapa dari Mmy?✔️
Karena tak ada balasan dari suaminya, Senja menatap kearah luar jendela.
Tak terasa mobil sudah memasuki gerbang kediaman Kakek Roby.
Mentari di bantu Senja membawa barang belanjaannya, didapaur pelayan sudah sibuk.
Senja dengan cepat mengambil apron dan langsung memakanya, Mentrari tersenyum geli melihat tingkah anaknya yang mengikuti gaya chef seperti di telivisi.
"Ibu ayo," ajak Senja sambil mengacungkan pisaunya.
Mentari segera bergabung kedapur, keduanya terkadang saling jahil.
Puding buatan Senja sudah siap, tingal menunggu dingin lalu masukkan kekulkas.
Metari memasak menu yang berbeda kali ini, karena kondisi kesehatan Papa Roby yang utama sekarang.
Senja merasa heran kenapa Ibunya memasak nasi merah, pada hal biasanya nasi putih.
"Bu, tumben nasi merah." kata Senja.
"Mulai sekarang kita biasakan makan nasi merah, jadi Kakekmu tidak merasa dibedakan," jawab Mentari.
Senja tidak menjawab hanya mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda Oke.
Tepat jam 16.00 masakannya sudah masak, nanti tingal dipanaskan saja. Kemudian Senja segera masuk kamar untuk membersihkan diri.
__ADS_1
...💞💞💞...
Dikantor Satya.
Satya yang baru siap meeting bersama Ranga merasa lelah, ia langsung menjatuhkan tubuhnya disofa.
Ia ingat sehari ini tidak memberikan kabar kepada istrinya, Senyum mengembang saat mendapat pesan dari Istrinya.
💌
"Bby mau punya anak 10" balas Satya.
💌
Oke dari Mmy cukup dua lainnya kita adopsi," balas Senja
💌
"Tidak, semua dari Mmy," 💖
Satya menunggu lama tidak ada balasan lagi dari Senja.
Satya senyum-senyum sendiri, begitu rindu dengan Istrinya. kemudian dia segera mengambil kunci mobil ingin segera pulang memeluk istrinya.
"Bro mau kemana?" tanya Ranga.
"Pulang, kangen bini," jawab Satya.
Rangga terdiam hanya tersenyum menanggapi ucapan Satya yang sudah hilang dari pandangan.
"Dasar bucin." seragah Ranga.
...💞💞💞...
"Assalamualaikum," ucap Satya yang datang bersama dengan kedua orang tuanya.
"Walaikumsalam, jawab semua serempak.
Mama Marni segera menyambut Bunda dengan senyum bahagia karena sudah lama tidak bertemu.
"Bagaimana sudah enakan?"tanya Ayah Nugraha.
"Kamu tanya atau mau meledekku," ujar Papa Roby.
Keduanya tertawa, hal ini yang sangat dirindukan oleh Ayah Nugraha.
"Gra, andai waktu itu aku mendengar apa katamu, pasti aku akan mengurus anaknya seperti anakku sendiri," kata Papa Roby dengan raut wajah yang sedih.
"Itu sudah berlalu, jangan difikirkan lagi," jawab Ayah Nugraha.
"Ia benar, maafkan segala keegoisanku." ujarnya.
"Tenanglah, semuanya masih bisa diperbaiki. Kita ini sudah tua sebaiknya kita bermain dengan cucu yang sedang diproses," jawab Ayah Nugraha sambil tertawa lepas dengan Papa Roby.
Mentari tersenyum melihat Papanya sudah kembali ceria, begitu juga dengan Mama Marni ada lega dalam dadanya.
Satya yang sedang duduk di samping Yoga hanya diam, pada hal ingin sekali ia memeluk istrinya yang sedang duduk dengan Bundanya.
Satya melihat pesannya pasti belum dibaca karena masih warna abu-abu,
"Lo kenapa?" tanya Yoga yang melihat Satya gelisah.
"Gue pengen peluk bini gue," jawab Satya.
"Astagfirullah, gile lo!" hardik Yoga.
__ADS_1
Satya terkekeh melihat Yoga kesal padanya. Rendy yang duduk tak jauh dari keduanya merasa curiga.
Rendy menghampir keduanya, kemudian duduk di samping Kakak iparnya.
"Om Popy mana?" kok enggak ada." ucap Satya.
"Dia enggak bisa datang, lagi pulang ke Bandung," jawab Rendy
"Kenapa lo enggak ikut?" tanya Yoga.
"Rencan Minggu mau ajak Mas Yoga untuk melamar Popy," ucap Rendy sambil tersenyum malu.
"Alhamdulillah, Insyaallah Mas usahakan ya," jawab Yoga.
"Lo juga ikut Sat, sama bini lo," kata Rendy.
"Rend Papa dan Mama bagaimana?" tanya Yoga.
"Enggak mungkin Papa ikut Mas, " jawab Rendy.
"Apa Kakek sudah tahu, lo mau melamar Popy?" tanya Satya .
"Sudah kemarin di rumah sakit gue sudah kasih tahu, kata Papa ajak Kakak dan Mas jangan lupa bawak ponakanmu." ujar Rendy sambil tersenyum.
"Baiklah," jawab Satya.
"Kita Bawak mobil aja ya, dua mobil saja cukup," ucap Rendy.
"Gue ngikut aja," jawab Satya yang langsung dianggukan oleh Yoga.
"Alhamdulillah berarti sudah fik ya, jangan ada alasan seperti dulu lagi," kata Rendy mengingatkan sahabatnya.
"Ia insyaallah, bawel," ucap Satya.
Yoga hanya tersenyum, masalahnya dulu yang sering membatalkan rencana adalah Satya.
Rendy senyum-senyum sambil memainkan handponenya.
"Dasar bucin," ledak Satya.
"Biarin yang penting hati gue bahagia," jawab Rendy cuek.
"Lo bilang Rendy bucin, kalau elo apa?" tanya Yoga sambil mencibirkan bibirnya.
"Gue...., kalau gue dunia ini milik berdua yang lain hanya ngontrak," jawab Satya sambil tersenyum.
"Lama-lama gue gila dekat-dekat Lo!"caci Yoga.
"Jangan gitu, Ayah," gelak Satya.
"Ya Allah takdir apa ini, kenapa menantu gue elo," cecar Yoga.
"Ayah harus terima kenyataan," ucap Satya.
Satya tersenyum melihat Yoga kalah kalau berdebat dengannya, Satya tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata Senja, keduanya saling curi pandang. kemudahan keduanya tersenyum.
Yoga yang menyadari anak dan mantunya saling curi pandang, hanya geleng-geleng sambil melempar bantal sofa ke arah Satya.
Satya dengan sigap menangkap bantal sofa yang hampir mengenai wajahnya.
"Lama-lama gue pecat Lo dari mertua gue," kesal Satya.
Yoga terkekeh bisa membuat Satya kesal padanya, Satya hanya mendengus melihat Mertuanya.
Bersambung ya...jangan lupa tinggalkan jejak 🙏
__ADS_1