
Kini Ibnu memeluk Sari erat, jujur ia sangat merindukan wanita yang ia paksa untuk menjadi pacarnya. Sari menangis terisak di dada bidang kekar lelaki yang tak lain adalah Dosennya sendiri.
“Maaf, bukannya aku enggak mau kabari. Tetapi ada masalah yang membuatku harus segera menyelesaikannya,” ucapnya.
Sari menatap wajah tampan lelaki yang kini masih memeluk pinggangnya, tiba-tiba Ibnu mengecup bibir ranum Sari. Wajah sari seketika memerah, kini ciuman keduanya di rengut oleh lelaki yang sama merengut yang pertama.
“Kenapa?” tanya Ibnu lembut berbeda saat ia sedang membawakan materi di kelasnya.
“Eng…enggak apa-apa,” ucapnya gugup.
“Kamu terlalu mengemaskan, jadi enggak sabar untuk menghalalkannya,” goda Ibnu.
Kata-kata Ibnu membuatnya terpaku…jantungnya berdetak dengan kencang, mau…dong…babang di halalin
sekarang, batin Sari sambil tersenyum.
“Sayang, kenapa melamun?” tanya Ibnu.
“Meleleh adik, Bang.”Kata Sari seketika ia menutup mulut bocornya.
Ibnu terkekeh mendengarnya, wanita ini penuh rasa cinta. Kini ia mengajak Sari untuk masuk dalam mobilnya, Sari yang bingung bagaimana dengan mobilnya enggak mungkin ia tinggalin di sini.
“Mobilnya sebentar lagi ada yang mengantar ke kampus, sekarang kita pacaran dulu,” kata Ibnu sambil tersenyum.
Sari hanya menunduk malu, apa begini rasanya pacaran. Namun, kenapa dia merasa murahantiap bertemu ciuman yang kedua terjadi, batinnya.
Mobil sport yang dikemudikan oleh Ibnu melaju dengan kecepatan sedang, senyum terus terukir di bibir keduanya. Ibnu bisa merasakan bahagia di saat bersama wanita yang kini duduk di sampingnya. Walau lebih muda darinya Sari mau membalas rasa hatinya.
“Pak, kita mau kemana?” tanyanya sambil tersenyum menatap pria di sampingnya.
“Kok panggil pak sih?” tanya Ibnu merasa tak suka.
“Jadi panggil apa?” tanya Sari dengan polos.
Ibnu tersenyum mendengarnya, wanita di sampingnya ini ia rasa belum pernah pacaran.
Mobil berhenti di depan Rumah yang megah, Sari merasa bingung ia dibawa ke rumah siapa saat ini.
“Ayo sayang,” ucap Ibnu sambil mengulurkan tangannya kepada wanita yang kini terlihat bingung.
“Assalamualaikum,” ucap Ibnu sambil membuka pintu yang tak terkunci.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” jawabnya wanita paruh baya yang kini duduk di ruang keluarga dengan lelaki seusianya.
Melihat siapa yang datang Mama Tika langsung berdiri dan memukul Ibnu dengan kemoceng di tangannya, Ibnu terus menghindar sambil teriak. Hal itu membuat Sari tersenyum, ternyata Dosen kilernya punya sisi lain yang lucu.
“Mama cukup….sakit, lihat masak Ibnu di pukul di depan calon istri!” ucapnya kesal sambil mengusap tangan dan bahunya.
“Apa istri? Berapa kamu bayar wanita lagi untuk pura-pura menjadi pacarmu, hah!” teriaknya dengan keras. Ibnu langsung menutup telinga Sari biar enggak sakit.
Seketika mama Tika terdiam saat melihat Sari, wanita yang terlihat natural. Tidak seperti ondel-ondel yang dikenakannya sebelumnya.
“Maaf ya Nak, mama enggak menyambut dengan baik gara-gara manusia satu ini.” Katanya.
“Dan manusia ini anak mama yang paling ganteng,” jawab Ibnu penuh percaya diri.
Mama Tika hanya menatap jengah melihat tingkah anaknya, hal itu membuat Sari tersenyum. Tak lama Ibnu langsung menarik tangan Sari menuju lantai dua, melihat itu Sari terkejut, begitu juga dengan mama Tika.
“Ibnu! mau bawa kemana mantu mama?” tanyanya sambil berteriak.
“Ajak bikin cucu biar cepat di nikahkan.” Jawab Ibnu asal
“Astagfirullah…. anak enggak ada ahlak!”teriak mama Tika.
“Assalamualaikum, Oma.” Ucapnya sambil mencium tangan wanita yang kini menoleh ke arahnya dan Ibnu.
“Waalaikumsalam sayang, kapan kamu sampai?” tanyanya sambil tersenyum mengusap kepala Ibnu, kemudian beralih menatap Sari.
“Ibnu baru sampai, Oma kenalkan ini Sari ibu dari anak-anak Ibnu nanti,” ucapnya.
Deg….detak jantung Sari berdebar saat mendengar apa yang dikatakan lelaki yang kini berdiri di sampingnya.
Oma memperhatikan Sari, kemudian ia beralih menatap Ibnu. Oma merasa kalau wanita di depannya ini lebih cocok jadikan keponakan Ibnu dari pada menjadi calon istrinya.
“Berapa umurmu, Nak?” tanya oma.
“Bulan ini 19 tahun Oma,” jawabnya.
Oma menatap tajam ke arah cucunya, ia enggak habis pikir mengapa ibnu membawa daun muda untuk diperkenalkan kepada keluarganya.
“Oma…, Oma dengar dulu cerita Ibnu. Kami saling mencintai perbedaan umur tidak kami permasalahkan.” Ucapnya sambil menggenggam tangan Sari.
Wanita itu hanya bisa mengangguk sambil menarik nafas dalam-dalam, kenapa semua mengikuti jejaknya menikah dengan yang lebih muda, batinnya
__ADS_1
“Kalau oma terserah kalian saja,” jawabnya sambil tersenyum.
Ibnu tersenyum, saat melihat oma masuk kamar untuk istirahat,” kamu dengarkan dari pihakku sudah merestui hubungan kita,” ucap Ibnu.
“Pak, kapan kita jadiannya ya?” tanya Sari polos.
Ibnu yang gemes segera menarik tangan Sari dan kini keduanya masuk ke dalam kamar, tidak menunggu lama Ibnu langsung menyerang, keduanya hanyut dalam ciuman yang awalnya begitu lembut lama-lama tangan Ibnu mulai mengusap bahu Sari. Sari merasakan adanya gelayaran aneh. Desahan keluar dari mulutnya saat tangan Ibnu meremas sesuatu yang selama ini ia jaga, hal itu membuatnya memejamkan matanya.
Mama Tika kini datang membawa sapu lantai, tak menunggu lama sapu lantai itu langsung mendarat di punggungnya.
“Auh….mama sakit,” teriaknya saat melepaskan ciumannya.
“Dasar anak kurang ajar, ingat ya… mama dan papa tidak pernah mengajarkan kurang ajar kepada anak gadis orang!” teriaknya sambil memukul kaki dan punggung Ibnu.
Setelah merasa lelah, mama Tika berhenti kini ia duduk di tepi kasur, sedangkan Ibnu duduk sambil melepaskan bajunya, melihat itu sari segera memalingkan wajahnya.
“Sari…tolong ambil salep dilaci, Nak.” Katanya.
Sari segera mengambil salep kemudian memberikan kepada mama Tika, melihat itu mama Tika tersenyum.
“Kamu obati, mama capek,” ucapnya.
Ibnu hanya menggeleng melihat mamanya yang sekarang kelelahan, Sari bingung dan merasa gugup. Tapi Ibnu membantu menunjukan kepada wanita yang kini duduk di sampingnya.
Tangan Sari gemetar saat mulai mengoleskan salep ke punggung Ibnu, Entah mengapa dadanya berdegup kencang jika dekat dengan dosen kilernya ini. Ibnu tersenyum saat mendengar detak jantung wanita yang sekarang begitu gugup, ia dapat merasakan tangan Sari saat mengoleskan salep begitu gemetar.
“Sayang, jangan seperti itu, kamu harus membiasakan diri untuk melihatku tak berpakaian,” bisiknya lirih. Namun, ucapannya membuat Sari diam membeku.
Sari menarik nafasnya pelan-pelan, ia mencoba menenangkan dirinya saat ini. Lelaki di depannya ini kalau bicara tidak di saring dulu, membuat jantungnya rasanya mau melompat dari tempatnya.
“Sari kalau sudah kamu temani mama belanja sayang,” katanya sambil berdiri menatap sepasang kekasih di depannya.
“Iya Tante,” jawabnya sambil tersenyum.
“Mam….biarkan Sari disini saja sama Ibnu,” katanya sambil penuh harap.
“Enggak…nanti anak orang kamu rusak sebelum waktunya!” katanya tegas kemudian ia pergi menarik tangan Sari meninggalkan kamar Ibnu.
Ibnu hanya menarik nafas saat melihat Sari dan mamanya pergi meninggalkan dirinya
sendiri di kamar.
__ADS_1